Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part XVI

Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

 

Setelah semalam gak bisa tidur, meski sudah jungkir balik, jempalitan cari posisi yg nyaman mengurangi dingin tetep saja mau gak mau kami harus bangun. Mentari bangun lebih dahulu, menggeliat ke angkasa dengan pedar sinar yg menembus lobang-lobang selter yg kami tempati malam itu. Perlahan udara menghangat, embun menguap ke udara tumbuhan kembali berfotosintesis menyiapkan sarapan pagi pagi segenap mahkluk di bumi. Kami menggeliat bangun, meskipun sempat ada kelakuan konyol diantara kami, berpelukan eh bukan pelukan, lebih kepada penyiksaan demi kehangatan. Hahaha

Satu persatu dari kami bangun, bukan makan atau minum yg kami cari tapi Counterpain. Sepertinya otot-otot kaki dan bahu lebih butuh nutrisi ketimbang perut yg sedari malam belum terisi. Cerita tadi malam kembali terulang bak episode sinetron yg tak kelar tayang. Ada banyak kejadian yg aku dan Eddy lewatkan, tentang bagaimana teman-teman diatas sana berjuang menentukan arah. Tendang bagaimana Ira yg terkena ranjau darat. Tentang bagaimana mereka saling menguatkan.

Aku dan Eddy yg mendengar Ira, Sofi dan Nanda berikisah, hanya bisa tersenyum tanpa bisa membantah. Bagi ku dan Eddy ada rasa penyesalan yg mendalam ketika tidak menjadi bagian dari resah gelisah teman-teman waktu itu. Ketika si Cahyo yg hampir masuk jurang, untung ada sofi yg menjadi pendamping bisa mencegah aksi nekad cahyo yg patah hati. Eh. Ada pula yg harus bertukar emosi, karena sama-sama keras kepala, untung gak bertukar hati. Cerita tentang perjuangan Faiz dan teman-teman yg mencoba menggali sungai kering untuk mendapatkan sedikit air. Aku merasakan ketidak nyamanan mereka membangun camp darurat untuk menyelamatkan teman-teman yg lainnya.. I am proud of you gaess, thank for your action to safe my team and my sisters.

Ada rasa bersalah telah melibatkan teman-teman dalam keadaan yg antah berantah seperti ini. Keadaan tidak sebagaimana yg diharapankan dan direncanakan, membuat semua harus berjuang hingga ke batas maksimal kemampuan. Aku mengharapankan mereka memiliki rasa maaf pada kami yg tak menghadirkan keindahan dalam pendakian yg lebih sering tertutup kabut kelabu ketimbang awan biru. Tak ada yg lebih spesial dari pendakian kali ini selain mengantarkan kalian pulang ke pelukan orang tua dengan membawa kabar baik. Izinkanlah kami mengawal kalian untuk turun di jalur pendakian yg akan mengantarkan ke basecamp lawang.

Udara yg semakin menghangat memberikan kami sedikit energi untuk bergerak, sekedar menyiapkan minuman hangat. Tak ada lagi logistik instan yg bisa di masak, center logistik yg ku bawa hanya menyisakan bumbu-bumbu dan makaan olahan, seperti sarden, kornet. Ahh terlalu ribet jika harus mengolah makanan seperti itu dengan waktu yg mempet, apa lagi tidak ada beras. Ehh bukan gak ada beras, berasnya ada hanya berbau. Kami biasa mencuci beras terlebih dahulu sebelum dibawa naik, untuk mengurangi konsumsi air di pendakian. Beras yg dicuci itu lantas di jemur hingga kering, baru di masukan kedalam wadah, nah mungkin kemarin beras tersebut belum kering ketika di masukan ke dalam wadah, itu lah yg menyebabkan berasnya menjadi bau.

Akhirnyaaa kami buat sarapan seadanya, berkreasi dengan tepung bumbu, kerupuk serta bumbu pecel, jadi lah makanan entah apa namanya. Hahaha

Pukul 08.00, Cahyo dan rekan-rekan yg tadi malam ngecamp di atas  sampai di selter pos 2. Bahagia sekali aku melihat wajah mereka yg penuh senyum meski dalam keadaan letih. Ku tanya satu persatu keadaan mereka, hanya untuk memastikan mereka baik-baik saja dan masih mempunyai motivasi untuk turun dan pulang. Ira, Nanda dan Sofi segera menyuguhkan sarapan yg kami buat untuk teman-teman yg baru datang, tak lupa juga air minum karena itu yg paling mereka butuhkan.

“Istirahat dulu sebentar di sini, aku sama Eddy ambil air dulu buat bekal turun.” Kata ku pada mereka.

“nand, Webbing panjang manaa?” Aku minta webbing panjang kepada Nanda.

Belajar dari pengalaman mengambil air tadi malam, kali ini aku membawa webbing untuk memudahkan perjalanan ke sumber mata air. Setidaknya cahaya mentari sudah menyinari perjalanan pagi ini, kami tak harus meraba dalam gelap malam dan tak harus memburu waktu untuk segera sampai ke sumber mata air. Aku, Eddy dan Sofi bisa sedikit menikmati perjalanan ke sumber mata air, yg pagi ini sudah terlihat plang nya dari kejauhan, terlihat pula ilalang yg menutupi jalur pendakian, tingginya hampir setingi tubuh kami. Hamparan perbukitan sabana yg tadi malam menjadi medan pendakian terlihat membentang luas menyerupai gundukan-gundukan negara teletubies.

“masih jauh mas,?” tanya Sofi kepada ku.

“Enggak kok, bukit sebelah sana, nanti naik satu bukit baru kelihatan plangnya. ” Jawab ku sambil terus berjalan di depan Sofi. Sofi memang gak bisa berdiam diri, ingin selalu terlibat dalam berbagai situasi. Pagi ini pun demikian, wanita berhijab ini memutuskan untuk mengikuti aku dan Eddy mencari air. Ia bosan jika hanya berdiam diri tanpa melakukan sesuatu, meskipun saat itu tubuhnya tak lagi fit. Traking pole sudah menjadi bagian dari langkah kaki nya yg tak lagi gesit.

“Kalau pegel kamu tunggu di sini aja, sumber airnya ada di bawah bukit sebelah sana.” Ujar ku kepada sofi ketika kami sampai di puncak bukit pertama.

Ku tinggalkan Sofi yg sedang menikmati pemandangan sekitar untuk menyusul Eddy yg berjalan duluan. Hamparan perbukitan dengan permadani ilalang yg hijau kekuning-kungingan membentang luas. Terbayang bagaimana jalur yg kami lewati tadi malam, apa yg terlihat kadang sulit untuk di jalani. Belum lagi jika kami harus melewati jalur alternatif yg berada di sebelah kanan. Tanjakan terjal sudah menunggu sebagai satu satu nya jalan yg akan mengantarkan ke pos 3. Memang jarak tempuh menjadi lebih pendek, tapi mungkin akan menjadi lebih menyiksa buat kami kami yg sudah mulai kehilangan rasa.

Eddy turun lebih dahulu ke sumber mata air, aku menyusul setelah ku ikatkan webbing pada sebuah batang pohon di tepian jalur. Gemercik air mengalir melewati celah-celah batu sehingga membentuk seperti aliran sungai kecil. Tumbuhan menyerupai bambu tumbuh menjadi peneduh di sekitaran sumber air. Aku mengapresiasi para pendaki yg pernah mengambil air di sini, nyaris tak ada sampah peninggalan manusia yg berserakan. Tak seperti sumber air di tempat lain dan di pegunungan lain, pasti di temukan sisa-sisa keangkuhan mahkluk hidup bernama manusia.

Jika nanti, pohon yg terakhir sudah di tebang, ikan terakhir sudah di pancing, dan mata air terakhir sudah tak mengalir, manusia mungkin baru sadar bahwa uang takan membuat manusia hidup.

Setelah botol kosong penuh terisi air, Aku dan Eddy bergegas kembali mendaki tebing terjal. Untung kali ini dipermudah dengan adanya webding yg tadi kami bawa. Tanah yg sedikit gembur tak lagi licin, mungkin air sisa hujan dan embun malam tadi sudah menyerap ke tanah atau bahkan menguap ke udara. Perlahan tapi pasti kami melangkah kan kaki meninggalakn sumber mata air yg memberikan pertolongan sejak kemarin. Sumber air yg akan selalu menjadi menjadi kenangan paling berharga yg tak tergantikan. Bahkan mungkin sulit untuk di lupakan, ahh. Dibanyak tempat orang bercerita tentang bagaimana mereka menggapai puncak,  tapi kita akan lebih banyak bercerita tentang bagaimana kita ke puncak lalu turun hingga kita kehabisan air untuk minum.

Diatas bukit Sofi menunggu sendiri sambil duduk di atas batu besar.

“Jalan nya turun kebawah sana mas?” tanya sofi.

“iyaa, ” Jawab ku

“Terjal bgt.” Kata sofi

“Yaa lumayan lah, makanya tadi bawa webbing, tapi treknya sudah gak selicin malam tadi.” Jawab ku.

Setelah beristirahat sejenak, kami pun kembali ke selter dengan membawa beberapa botol air, sebagai bekal untuk turun hingga ke basecamp. Beberapa teman-sudah mulai mengemasi barang-barangnya dan bersiap untuk turun. Aku dan Eddy pun lantas turut berbenah, menggulung kembali sleeping bag yg tadi malam di gunakan untuk tidur, mengemas logistik yg tersisa dan peralatan masak ke dalam keril.

“Mas, kami turun duluan yaahh, guyur-guyur,.” Kata salah seorang dari tim Palanus.

“iyaa, duluan aja, hati-hati” Kata ku, sembari packing beberapa perlatan.

Diselter yg menjadi tempat istirahat kami malam itu kini hanya menyisakan enam orang, Aku, Eddy dan Nanda yg sedang berkemas, serta 3 orang pendaki tadi malam yg masih tidur di dalam tenda mereka. Ira dan Sofi turun lebih dahulu bersama teman-teman yg lain. Aku, Eddy dan Nanda sengaja mengambil jeda waktu agak lama agar kami bisa turun dengan sedikit berlari dan mengurangi banyak stop untuk menunggu.

 

Kemeja abu-abu berlist merah yg sebelumnya ku jemur kembali ku kenakan. Sepatu yg masih basah akibat hujan dan perjalanan malam tadi pun turun serta ku kenakan, sementara gaiter yg menjadi korban harus ku lepas dari sepatu dan ku simpan di dalam keril. Eddy dan Nanda pun bersiap dengan pakaian tempur nya, yg sudah sejak beberapa hari kemarin tak di ganti. Mungkin kalau di masukin ke dalam kolam ikan, ikanya bisa pada mabok kali yaakkk.. hahaha

“mas, kami permisi turun duluan.. terimakasih yaa bantuanya.. ” Kami berpamitan sambil berjabat tangan kepada 3 orang pendaki yg tadi malam memberikan bantuan. Hari ini mereka berencana untuk naik ke puncak Arjuno yg berjarak sekitar 7 jam dari selter pos 2 ini. Sementara kami harus turun ke basecamp lawang yg berjarak sekitar 3 jam.

Perjalanan Turun ke Basecamp Lawang
Ngantri, memberi kesempatan untuk yg nanjak lewat terlebih dahulu. Foto : Frans

Aku berjalan didepan sementara Nanda dan Eddy mengikuti ku di belakang. Dengan lutut yg tidak dalam kondisi baik, aku lebih memilih untuk berhati hati berpijak. Salah pijakan bisa fatal bagi kesehatan lutut ku yg memang sudah sering mengalami cidera. Dengan setengah berlari kami menuruni jalan tanah yg masih licin, melewati beberapa peninggalan kegiatan penghijauan yg di lakukan kelompok pecinta alam. Awal nya kami kira tim yg turun lebih dahulu sudah jauh meninggalkan kami, sebab menurut perhitungan ku sudah 30menit kami berpisah dari selter pos 2. Tapi baru 5 menit kami turun dari basecamp kami milihat oji berjalan pelan sendiri. Nahh lhoooooo….

Sejenak langkah kami terhenti. Aku dan Nanda clingak-clinguk saling bertatap muka. “pertandaa ini” batin kami dalam hati. Maksudnya adalah kami harus membawa pasien lagi ketika kami harus buru-buru sampai basecamp untuk dapat membatalkan tiket kereta api. Tapi apa boleh buat, suatu kewajiban bagi kami untuk tidak meninggalkan teman kami di belakang.

“Kenapa ji?” aku bertanya pada Oji, yg terlihat kesulitan berjalan.

“Kaki ku sakit mas.” Jawab Oji pelan, seperti merasa bersalah.

“Sakit dimananya.?” Aku mencoba mencari tau sakit yg dialami Oji agar aku bisa mendiaknosa penyebabnya, dan memberikan solusi untuk meringankan rasa sakit.

“Di ujung-ujung jarinya mas.” Kata Oji.

“Ohh. Ya udah, buka sepatu mu, pakai sendal ajaa.. Sepatu mu ngepas banget yaa sama kaki mu.? Kalau gak biasa turun pake sepatu yaa wajar kalau sakit ujung kakinya. Apa lagi kalau sepatunya ngepas bgt.” Ucapku

“Bawa mas, iaa lepas aja kali yaa sepatunya, pake sendal.” Oji lalu kemudian melepas sepatunya, dan mengambil sendal yg ada di dalam keril.

“Sepatunya di gantung aja di luar keril, gak muat kalau di masukin” Saran ku kepada Oji yg kesulitan memasukan sepatunya kedalam keril.

Aku, Nanda dan Eddy duduk di rerumputan sembari menunggu Oji mengganti sepatu dengan sendal. Sementara Nanda dan Eddy terlihat senyum-senyum, seolah menasehati diri mereka sendiri untuk bersabar lagi. Hahaha. Setelah Oji selesai dengan urusannya, kami kembali bersiap melanjutkan perjalanan.

“Udah lebih enak pake sendal?” Tanya ku kepada Oji

“Lebih mendingan mas.” Jawab Oji

‘Ya sudah, duluannn.’ Kata ku.

Aku, Nanda dan Eddy sengaja memberikan jarak cukup jauh kepada Oji yg berjanan lebih dulu.

“Sabar yaa Nand, kita bawa pasien lagi. hahaha” kata ku pada Nanda.

“hahhaa sudah biasa kita bawa pasien mas…” Kata Nanda.

“Gila nya kok gak ada yg nemenin Oji di belakang, yaahh,, hadeh bener-bener parah yg di depan.” Nanda berkomentar rada sentimen.

“yaa mungkin karena mereka mikir, di belakang masih ada kita. Makanya gak ada yg nemenin Oji.” Aku mencoba positif thingking, toh emang nyatanya begitu..

“Iya juga sih” kata Nanda.

Kami tak ingin berspekulasi lebih jauh dan saling menyalahkan. Toh gak ada untung nya di saat sperti ini, hal seperti ini bukan untuk di gunakan sebagai alasan untuk saling menyalahkan tapi untuk saling intropeksi diri. Bukankah kesalahan orang lain bisa dijadikan pengalaman bagi kita untuk tidak melakukan kesalahan yg sama.?

Tiga pasang kaki anak manusia kembali melangkah santai dipayungi mentari yg bersinar terik. Hembusan angin pegunungan sesekali membelai pelan tumbuhan yg sedang berfoto sentesis. Tak lama kemudian kami berhasil menyusul Arif, Sri, Popy, dan Faiz yg berjalan pelan.

“Udah nyusul ajaaa mas,” Kata Popy.

Senyuman manis khas Popy semakin menjadi zat adiktif bagi Nanda. Senyum yg tercipta dari Popy seolah bagai mentari pagi, sederhana, lembut dan penuh harapan, lelaki mana yg gak luluh sama senyum nya Popy apa lagi Nanda, yg rela jatuh bangun naik turun hanya untuk melihat seuntai senyum dari Mojang Bogor ini. Hahhaa

Coba Popy senyum dikit… 🙂

Ku nyalakan handphone lantas ku pilih aplikasi pemutar musik. Tak ada lagi yg ingin ku dengar selain Home yg dinyanyikan Michle Buble. Setelah itu biarlah aplikasi menshufle nya sendiri, memainkan musik yg ia kehendaki sebagai penghilang kesunyian perjalanan kami..

Another airplane

Another sunny place

I’m lucky I know

But I wanna go home

Mmm, I got to go home

 

  • Michale Bubble

 

Perjalanan turun dari Pos 2 ke Basecamp memang tak seterjal dari Puncak ke Pos 2. Trek yg lebih sering di dominasi tanah licin, semak belukar dan jalan yg landai membuat kami tak begitu kesulitan melewatinya. Hanya saja tetap harus berhati-hati, sebab tanah liat yg masih lembah dan berlumut bisa jadi arena prosotan yg menyakitkan.

“Ish kepala mu kenapa?” tanya ku pada Faiz, ketika aku melihat di kepalanya terdapat noda merah seperti darah.

“GPP kok mas, ini cuma warna merah dari buah tadi.  hehehe” Ujar Faiz dengan candaan yg gak lucu..

Ditempat datar sembari beristirahat Nanda buka suara.

“Kalau becanda jangan yg aneh aneh lah, kepala di kasi kayak gitu. Ntr kalau begitu beneran baru tau rasa. ” Kata  Nanda memperingatkan si Faiz.

“Ia mas, maaf, gak lagi-lagi deh.” Kata Faiz.

Uhukkk… Aku hanya bisa senyum-senyum melihat salah satu anggota ku menunjukan sebuah kemajuan berpikir dan kedewasaan emosi. Mungkin ia sudah lebih sering mendaki, dan banyak kejadian yg menyadarkan pemikiranya. Hingga aku tak harus lagi banyak berkata untuk membuat ia mengerti. Good Boy, mendaki itu bukan Cuma menggapai puncak, tapi mendewasakan diri..
Teman-teman yg lain sudah berada jauh di depan, tak lagi terlihat rupanya apa lagi batang hidungnya. Mereka seperti punya tenaga ekstra ketika jalan turun dan harus melewati perkebunan warga. Oji pun demikian, setelah mengganti sepatunya dengan sendal ia berjalan tanpa henti, setelah mendahului Arif, Sri, Popy dan Faiz, kini ia mencoba mengejar tim yg berjalan lebih dahulu. Semoga aja tuh anak gak nyasar, mengingat ketika sudah memasuki ladang penduduk biasanya banyak sekali persimpangan-persimpangan yg membingungkan.

Aku, Nanda dan Eddy masih menjadi penjaga barisan terakhir. Sejak dari Pos dua tadi kami berjalan berkelompok, sembari karoke dengan suara sumbang menirukan musik yg keluar dari handphone ku. Mulai dari lagu lawas sampai lagu  baru kami nyanyikan, sekedar pengalih rasa letih tapi menjadi benalu bagi telingat yg tak ingin mendengar suara dungu.

Perjuangan belum usai, bahkan ketika kita jarak ke basecamp itu hanya tinggal beberapa jam perjalanan lagi. Tak ada yg ingin mendapat salam perpisahan konyol dari sebuah trek pendakian, bahkan bagi kami yg sering kali naik turun di jalur yg memang mengesalkan. Tanah liat yg licin menjadi medan terakhir yg harus kami lewati sebelum masuk ke perkebunan teh. Beberapa teman terpaksa mencicipi kerasnya tanah sewaktu terpeleset, termasuk aku. Dan yg paling mengenaskan adalah Sri, yg jatuh dengan agedan paling menyedihkan, parahnya lagi, teman-teman yg menyaksikan malah tertawa bahkan sempat memvideo kejadian itu.. Duh, teman macam apa kaliannn, temanya jatuh malah diketawaain.. hahahha Btw. Selamat buat Sri yg mendapat salam perpisahan dari trek Lawang Gunung Arjuno. Hiihihih

Bisik-bisik angin mengabarkan akan turun hujan yg cukup deras, sementara awan hitam bergemuruh di atas. Ada perang antara Thor dan Locki, seprti di film Avengers. Haha. Kami masih harus melewati perkembunan teh seluas 1.114 Hektar untuk sampai di basecamp. Disinilah kamu bakal bosen dengan keindahan kebun teh, sejauh mata memandang hanya warna hijau bak permadani yg membentang.

“mas, jangan lihat ke bawah mas, please..” Kata Faiz memperingatkan ku.

“Kenapa?” Aku yg penasaran, mencoba menyusul Faiz yg tengah duduk di persimpangan bersama Popy.

Buseetttt.. Ternyata ada jalan menurun yg lurus yg tak terlihat ujungnya karena tertutup kabut. Aku menghela nafas lalu kemudian beristirhat sejenak mengambil nafas dan mencoba mencari lagu yg pas untuk ku nyanyikan sewaktu melewati perjalanan membosankan itu.

Aku, Eddy dan Nanda mengambil ancang-ancang sebelum turun dengan ritme jalan cepat untuk mengurangi beban di puncak yg kian terasa berat. Kami meninggalkan Sri, Arif, Popy dan Faiz, kali ini kami merasa sudah berada di daerah yg aman untuk meninggalkan mereka yg memang berjalan pelan. Sebab kami harus bergerak cepat untuk sampai ke basecamp agar dapat membatalkan kereta yg sudah tidak keburu lagi di kejar.

“nanti sampe bawah cari ojek buat Sri, dan yg lainya, kasian mereka kalau harus sampe ketinggalan kereta nanti” kata ku kepada Eddy.

‘iya kalau ada Ojek’ kata Eddy.

Perjalanan menurun yg teramat panjang itu akhirnya memaksa 3 anak manusia ini menyerah, di pertengahan jalan dengan nafas terengah-engah mereka bersandar pada bak penampungan air di tepi jalan.

“mau mas???” Kata Nanda, yg menawarkan energen tanpa di sedu..

“sialll, masih nyimpen energen dia. bagii” kata ku

Jadilah kami berbagi satu bungkus energen bertiga tanpa di sedu. Dalam keadaan seperti ini jangan kan energen, pucuk daun teh aja di cemilin kok .. hahaha

“Gilaa, luas bener kebun tehnya…” Batin kami dalam hati. Entah dimana akhir dari perjalanan menyusuri perkebunan seluas ini, setelah belok ke kanan, lantas kami harus berbelok ke kanan lagi mengikuti tanda plastik kuning hitam yg di ikat di batang pohon. Sepanjang perjalanan tak banyak kami berpapasan dengan pekerja kebun teh seperti di Film petualangan Sherina. Hanya beberapa orang pekerja laki-laki yg membawa gergaji mesin di atas motornya yg kami lihat. Sepertinya mereka habis memotong pohon-pohon teh yg sudah tidak produktif lagi..

“Ojekkk manaa ojekk” Kata ku,

“Emangnya Sindorooo” kata Eddy..

“nand, mau ngojek gak?” Tanya ku pada Nanda

“ogahh, jatuh harga diri ku..” kata Nanda sinis..

Hahhaa

 

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

One thought on “Turun”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *