38 jam lost in Jogja.

Menikmati Jogja lantai 1, live music, kulineran, dan trotoar jalan.

Hari ini aku kedatangan tamu, tamu yg jauh dari belahan bumi bagian barat. Dua orang pria yg membawakan peralatan mendaki ku yg sebelumnya sempat terbawa oleh mereka ketika pendakian Arjuno beberapa waktu lalu. Sebenarnya cuma peralatan sederhana, hanya satu buah kompor, satu panci rice cooker, satu buah matras, satu buah deker, satu buah centong nasi yg terbuat dari kayu. Semua peralatan itu jika di total secara materi mungkin tak lebih dari 500 ribu rupiah. Lagi pula mereka bisa saja mengirimkan peralatan tersebut melaui jasa pengiriman paket. Tapi terimakasih banyak, sudah berkenan menghantarnya kembali ke basecamp..

Sabtu pagi,

Bus jurusan Bogor – Yogyakarta merepat di terminal Giwangan Yogyakarta. Didalamnya turut pula dua orang laki-laki, yg sengaja meliburkan diri atau bolos setengah hari dari kerjanya. Memutuskan diri untuk menjejakan kaki di kota istimewa ini. Kedua laki-laki tersebut kompak mengenakan celana dryfit khas pendaki gunung, menyandang daypack yg salah satunya berisikan matras tni berwarna hitam. Keduanya memang tak mirip, bukan anak kembar sih, dan bukan pula terlahir dari rahim ibu yg sama. Sepintas mungkin orang-orang melihat lelaki yg perposture tinggi, kurus, serta menggunakan kaca mata sebagai alat bantu pengelihatanya mirip Harry Potter (kalau di lihat dari monas pake sedotan minuman) ini namanya Cahyo tapi kami lebih sering memanggilnya om Yo. Laki-laki satunya berperawakan lebih gempal tidak terlalu tinggi, asli sunda hingga namanya amat familiar dan telah mendunia, sebut saja pria satu ini Kang Asep. Keduanya rela menempuh perjalanan belasan jam dari Bogor ke Yogya, hanya untuk suatu alasan sederhana,menjaga mosi saling percaya dan bertanggung jawab.

Asep dan Cahyo, memang sengaja berniat datang ke Jogja untuk sekedar mengembalikan peralatan ku. Yaa setidaknya sepengakuan mereka kepada ku begitu, gak tau deh kalau mereka punya niat lain.. haha.. yg jelas, teman-teman di Bogor bilangnya, mereka ke Jogja Cuma mau numpang tidur dan makan aja di basecampnya semut summit.. hahah. Tapi kalau itu anggapan tim Bogor, tentu salah besar. Tak pernah ada tamu yg bisa tidur nyanyak jika bertamu ke basecampnya semut summit. Moto kami, jangan biarkan tamu istirahat dengan tenang. Kwkwkw

Memang tak ada rencana khusus dari kedua anak manusia itu untuk sekedar menikmati jogja. Si cahyo, hanya penasaran untuk mengunjungi tempat latihanya Sheila On 7, dan si Asep lagi pengen bgt nobar bersama Fans nya Arsenal di salah satu cafΓ© di sekitaran Timoho. Sebab mereka tak berencana berlama-lama di jogja, 38jam sejak menginjakan kaki pertama kali di bumi jogja, mereka harus segera bergentayangan di kreta untuk pulang lagi ke Jakarta. Maklum, tujuanya mereka kan sederhana mengembalikan peratalan bukan buat liburan.

Tapi rasanya tak afdol kalau ke jogja gak kemana-mana. kalau ke jogja itu musti pamer sama mereka yg pernah ngatain kalian, kalau ke jogja itu cuma numpang makan dan tidur.. Mereka mah salah besar. Sebab kami selalu makan dan jarang tidur. Dan Ini lah sepenggal cerita di 38 jam lost in Jogja. πŸ˜€

 

Malioboro itu hanya 2KM Kawan.

Mailoboro memang menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan yg datang ke Jogja. Sejak dahulu kala, malioboro telah menjadi saksi bisu miliyaran kenangan siapapun yg berkunjung ke Jogja, setiap emperan ruko seakan punya cerita nya masing-masing tentang kenangan, atapun tentang genangan. Dan kekuatan magnet malioboro pula lah yg menarik ku untuk membawa tamu-tamu istimewa ini treking sepanjang 2 km, dari Gedung Kantor Pos Besar 0Km sampai ke Stasiun Tugu Yogya.

Malam itu langit cerah, bintang kelap kelip di angkasa tidak seperti beberapa malam terakhir yg lebih memilih bersembunyi di balik awan hitam. Aku, Cahyo dan Sofi melangkah kan kaki bersama ratusan pasang kaki lainya di pedestarian Malioboro yg kini semakin cantik, setelah berbenah. Marmer granit menjadi lantai bagi pejalan kaki yg semakin leluasa berseliweran di sepanjang jalan, tak ada lagi kendaraan bermotor yg parkir di trotoar seperti beberapa waktu lalu, kini sisi timur jalan malioboro menyulap dirinya untuk memanjakan para pejalan.

Kursi-kursi kayu seolah tak pernah berhenti menjadi penghentian mereka yg lelah berjalan, untuk sekedar duduk mengistirahatkan tubuh, atau berpose cantik. Malioboro kini sudah berani berujuk gagah dengan Dago. Ornamen kerajinan seniman-seninam jogja juga semakin gagah memamerkan kreatifitasnya, menghidupkan kesan jogja itu serba bisa.

Musik menggema di sekitaran kawasan Malioboro, seniman angklung unjuk kebolehan di tengah-tengah kerumunan wisatawan. Yaahh, seperti ini lah kawasan mailoboro sekarang, Jogja tak pernah berhenti menebar racun kerinduan. Setelah 2KM kami berjalanan, tiba saat nya untuk sejenak mengistirahatkan kaki. Tubuh kami berlabuh pada angkringan kopi joss, bertenda biru di kawasan jalan mangkubumi, tepatnya di sisi utara stasiun Tugu Yogyakarta.

Kali ini Jogja mencoba berkreasi dengan menu kulinernya, Kopi Joss. Tahun pertama tinggal di jogja aku tidak megerti apa yg dimaksud dengan kopi joss, aku bukan maniak kopi dan bukan pula penikmat kopi. Lambung ku terlalu rapuh terhadap rasa pahit, bagiku hidup sudah pahit kenapa lagi harus memaksukan yg pahit ke dalam tubuh. Tapi rasanya tak afdol jika tak mengajak teman-teman yg berkunjung ke jogja untuk tidak menikmati nuansa kaki lima kota Jogja dengan menikmati angkringan dan kopi joss nya.

Aku, Cahyo dan Sofi duduk melingkar di hamparan tikar di atas trotoar jalan Mangkubumi, salah satu kawasan paling padat wisatawan di Jogja. Deretan warung angkringan penjaja minuman traditional sampai minuman sasetan berjajar menggugah selera kuliner wisatawan. Tak muluk-muluk yg mereka suguhkan bukan spageti, burger atau pun junk food khas eropa lainya. Sekedar nasi kucing, kopi hitam, kopi susu, wedang jahe, ronde, dan lain-lain, tentu dilengkapi dengan cemilan khas indonesia, Gorengan.

Seperti biasa meskipun ini temanya ngopi tapi tetap saja yg ku pesan adalah Susu. Begitupun Sofi dan Cahyo, yg kompak memesan Es tape. Asep sendiri masih dalam perjalanan ke tempat kami, setelah arsenal kalah di pertandingan bola, sepertinya ia enggan berlama-lama nobar. Hahahah.

Cemilanya, roti bakar. Ahhhh… Entah kenapa kami sepertinya terhipnotis dengan aneka menu yg di tawarkan, hingga tak bisa memilih mana yg layak pesan. Eehh sebentar, maksudnya, semua makanan di sini layak pesan dan makan. Tapi saat itu kami memesan roti bakar, ah bukan roti bakar bandung. Ini hanya roti tawar yg di gosongkan di atas penggorengan lalu di beri coklat. Semacam cemilan iseng yg sering pendaki gunung kreasikan dengan nestingnya.. Kalian pasti pernah, kalau belum pernah, berarti kalian bukan anak gunung. Hahaha

Roti Bakar Angkringan..
Roti Bakar Angkringan..

Semakin malam jogja hari itu semakin ramai, suara peluit dan teriakan tukang parkir bersahut-sahutan mengatur kendaraan. Seorang bapak-bapak berumur kira-kira 40an, beratraksi dengan 3 buah ring besinya, menunjukan trik trik ilusi yg sempat membuat kami terpana, semakin lama semakin sulit yg ia tunjukan dan semakin pusing saya di buatnya. Ini bukan pertunjukan kelas mewah di arena sirkus, ini adalah orang-orang kreatif yg mencoba mencari rupiah dari keahlian mereka. Jogja sudah terlalu banyak pengamen, mulai dari suara yg merdu hingga suara yg aahhhh lebih parah dari suara ku ketika flu. Butuh inovasi dan kreatifitas untuk dapat bersaing merebut simpati orang lain ini. Jogja adalah ranah merebut simpati untuk mendapat kerinduan.

Menjelang malam kami bergegas pulang, tamu ku seperti nya sudah mulai lelah dan butuh beristirahat. Kembali kami harus menelusuri jalan malioboro sepanjang 2KM untuk sampai di tempat kami memarkirkan kendaraan, 0KM.

Wajah malioboro kini berubah, bak sinderela yg akan menjadi gadis biasa selepas tengah malam. Begitu pula malioboro, selepas pukul 10.00 malam biasanya jalanan yg ramai di pagari pedagang pernak pernik khas jogja, akan berganti rupa dengan penjaja kuliner. Mungkin semakin malam jogja semakin membuat pengunjungnya baper, eh laper. Ratusan pedangang souvenir berganti rupa menjadi puluhan pedagang makanan, beberapa kelompok pengamen kelas menengah unjuk kebolehan menyajikan live musik layaknya di kafe, malam yg cerah tanpa rintik air hujan, trotoar jalan malioboro berubah menjadi panggung dadakan, studio foto outdoor dan tempat nongkrong yg panjang.

Bergegas kami pulang sebelum tengah malam, sebab kami Β tak ingin berubah wujud seperti cinderella, dan meninggalkan sendal butut kami di sini, lantas berharap ada wanita cantik yg berkenan mengembalikanya.. ahh Dongeng macam apa ini… Mari kita pulang, sebab perjalanan besok akan lebih menyenangkan, akan ku bawa mereka bermain di Jogja lantai 2.

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *