Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part V

Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Mentari masih nyaman bersembunyi di balik awan kelabu, sementara air masih begitu rindu pada tanah ibu pertiwi, perlahan pasti membahasi rerumputan, dedaunan, jalanan dan apapun yang berada di bawah awan kelabu. 3 pasang langkah anak manusia bergerak menyisir sisi terminal Arjosari, menghiraukan rintik gerimis yang membasahi. Diamati satu persatu mobil elf yang terparkir di depan warung pinggir terminal.

“kemana mas, ? Semeru…?” Tanya salah seorang pemilik mobil efl dari depan pintu warung.

“ke Tretes mas,.’ Jawab ku sekenanya.

“Berapa orang?” Si bapak berprawakan sedang itu kembali mengajukan pertanyaan.

“sekitar 14 orang lah pak.”

“emmm.. bisa, ayooo dimana teman-temanyaaa?”

“yang di sini baru 5 orang, sisanya masih masih dalam perjalan ke Stasiun Malang,. Berapa yaa pak, kalau sampai ke Tretes.?” Aku menjawab sembari membuka penawaran harga carteran.

Mencarter kendaraan untuk sampai di basecamp adalah salah satu pilihan paling efektif dari pada harus estafet. Karena lebih hemat waktu, dan lebih nyaman, apa lagi harus berhenti di beberapa tempat.

“Mari marii, kita ngobrol di warung ajaa. Hujan, santai sajaa.. ” ujar bapak itu sembari mempersilahkan kami untuk duduk di depan warung tempat mereka nongkrong.

“14 orang yaa.. ?? ehhh,,, 400 lah kalau sampai tretes,.. ” ujar bapak tersebut.

“400, sampai ke basecamp yaa pak?” aku bertanya seraya memastikan, untuk mengantisipasi kami di oper oper ke kendaraan lainya.

“iyaa, 400 sampai basecamp.”

Aku sejenak menghitung lagi mencoba menghubungkan antara efisiensi dan efektifitas dengan harga yang di tawarkan bapak tersebut. Perjalanan dari Arjosari ke Basecamp Pendakian Arjuno di Tretes membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 jam. Jika tidak menggunakan kendaraan carteran, maka kami harus menggunakan angkutan umum, arjosari – ke terminal pandaan dengan menggunakan bus jurusan Malang – Surabaya, lalu melanjutkan perjalanan dari Terminal Pandaan ke Tretes dengan mencarter angkot atau pun ojek. Jika di hitung biaya transportasinya kurang lebih habis sekitar 25-40 ribu. Sementara jika menggunakan elf carteran dari Arjosari ke Tretes biayanya 400 ribu, jika di bagi 14 orang maka satu orangnya cukup iuran 28.500.

Jadi secara hitungan kaum penganut paham iritisme, naik elf carteran jauh lebih murah dari pada harus estafet, apa lagi nanti harus menjemput rekan-rekan di Stasiun Malang terlebih dahulu, serta mampir di pasar lawang untuk belanja.

“Oke deh pak, Kami ambil barang dulu nanti ke mari lagi..” Resmilah sudah, elf tersebut kami carter.

Sementara itu di dalam kereta Mataremaja, entah apa yang dikerjakan Palanus. Mungkin mereka sedang berpikir “kapan sampai ke Malang” karena sudah 12 jam lebih mereka berada di dalam kereta, gak mandi, dan pasti lah mereka lapar. Terakhir aku dapat kabar, dua statiun lagi mereka sampai di Stasiun Malang kota. Artinya aku dan tim harus sudah bergerak menuju Stasiun Malang menjemput mereka, agar mereka tidak lama menunggu. Menunggu itu membosankan gaess, meskipun kita tahu yang kita tunggu sedang berusaha tepat waktu.

Mobil elf berwarna merah dengan bapak sopir yang kira-kira berumur lima puluhan melaju santai menelusuri jalanan Malang menuju Stasiun Malang. Ini jam semrawut, semua orang berebut jalanan untuk dapat sampai ke  tujuan tepat waktu, lampu lalu lintas seolah tak berdaya mengatur kendaraan, jumlah petugas Satlantas tak sebanding dengan jumlah pelanggar lalu lintas, sehingga mereka lebih terkesan pasrah, ngatur yang mau di atur yang tidak mau di atur resiko tanggung sendiri.

Sebelum jam 9 pagi mobil elf sudah parkir di bahu jalan yang memang di jadikan lahan parkir stasiun Malang. Aku dan Ira turun mencari teman-teman dari Bogor. Telpon genggam ku berdering tanda seseorang sedang memanggil, “Nci Calling” bgitu nama yang tertera di layar telpon. Ia mengabarkan bahwa sudah sampai di Stasiun, aku pun bergegas berjalan menuju pintu keluar stasiun, menerawang wujud-wujud yang mungkin ku kenal. Segerombolan anak muda yang sudah lama tak jumpa, orang-orang asing yang disatukan oleh keistimawaan alam Indonesia.

Samar samar ku lihat Kang Asep, Cahyo, Arip di antara kerumunan orang yang lalu lalang. Berpasang mata mengawasi kami cemas, seolah kami komplotan orang yang di usir dari kosan karena nunggak tiga bulan. Tapi masa bodoh lah apa kata orang, kami hanya mengikuti kata Hati dan Titah Tuhan. Ku sapa mereka salah satu, jabat tangan, peluk mesra layaknya seorang kk yang lama tak jumpa pada adiknya. Pada wajah asing yang baru pertama kali ku jumpa, ku perkenal kan diri dan begitu pun mereka. Sedang asik bertemu sapa, ternyata antrian di pintu keluar sudah mengular, biang kerok pembuat macetnya adalah kami yang membawa tas segede kulkas. Sebelum satpol pp datang menggusur kami memilih kabur.

Satu persatu keril di susun di dalam mobil efl, penuh sesak di paksakan harus muat. Manusia sekali lagi harus mengalah duduk berhimpit2an, tak apalah biar terlihat seperti sahabat dekat.  Sementara aku dan Ira duduk di kursi depan di samping pak supir yang mengendalikan stir mobil,. Mobil melaju santai meninggalkan stasiun Malang  menuju Tretes.

“Pak, nanti mampir di pasar dulu yah, mau belanja logistik sebentar..” Begitu pesan ku pada pask sopir yang kalem dan pendiam, mungkin beliau fokus sama tugasnya mengantarkan kami dengan selamat sampai di tujuan.

“Ia, nanti belanja di pasar Lawang aja, lebih lengkap, kalau mau beli sayuran juga ada. ” Begitu kata pak sopir.

“Oke pak.” Jawab ku singkat.

Syura, Popy dan Sri yg ngegembel di depan toko, Pasar Lawang. Foto : Nanda
Syura, Popy dan Sri yg ngegembel di depan toko, Pasar Lawang. Foto : Nanda

Pertemuan ini seperti ajang reunian antara Semut Summit dan Palanus. Tak heran jika bahagia mereka seperti habis menang lotre. Aku yang duduk di depan hanya tersenyum sembari mendengarkan candaan mereka, menatap ke jalanan yang ramai, menikmati liuk-liuk pengemudi kendaraan yang berseliweran. Ira pun yang duduk di samping ku hanya diam sesekali menanyakan tentang Palanus.

Begitulah mereka kalau sudah ketemu, rada pekok dan kadang malu-maluin, tapi mereka asik-asik” Begitu kata ku pada Ira.

Dipendakian kali ini bukan seperti kita naik ke Lawu kemarin yang cuma bertiga, sekarang saatnya kamu belajar mandiri jika ingin benar-benar menikmati hobi menjadi pendaki. Aku memang mas mu, aku punya kewajiban menjaga mu, tapi kalau terus-terusan kamu dijagain, dimanjain kapan kamu mulai belajar mandirinya? Ini lah saatnya kamu belajar, sekarang aku gak cuma bawa kamu aja, tapi mereka semua tanggung jawab ku, jadi nanti sewaktu pendakian aku gak bisa kalau harus selalu dekat dan bantuin kamu ina ini itu. Aku baru akan turun tangan bantuin kamu kalau emang itu bener-bener urgent, sama seperti yg lainya. Selebihnya kamu harus belajar memenuhi kebutuhan mu sendiri, belajar berproses mandiri. Begitu pesan ku sama Ira, sewaktu mobil merah tua itu melaju ke pasar lawang, pelan tapi pasti.

Perjalanan masih panjang, tapi suasana sudah gemuruh riuh. Sudah lama aku merindukan suasana keakraban seperti ini, tawa lepas, canda bebas, dan guyonan yang tak berkualitas dari teman-teman ku. You know.? Tertawa dan tangis yang paling tulus adalah yang manusia lakukan ketika bersama dengan sahabatnya bukan ketika mereka nonton komedi atau drama korea, tapi ketika mereka menjadi apa adanya tanpa membedakan satu dengan lainya.

 

 

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

2 thoughts on “Terminal dan Stasiun”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *