Part IV

Pendakian Gunung Sumbing Via Desa Butuh, Kaliangkrik

“Badai pasti berlalu, tapi entah sampai kapan aku harus menunggu”

 

Rintik air yg semula mungil mulai mengganas berubah sebesar biji kacang hijau yg seolah berjatuhan dari langit. Bergegas aku dan Eddy mengemas tubuh dalam balutan rain coat meskipun tak banyak membantu sebab hujan lebih dahulu membuat basah apa yg kami kenakan. Perjalanan semakin seru, layak untuk di jadikan iklan deterjen bubuk dengan taksline “berani kotor itu baik”. Hampir dua jam kami bergerak mencari keberadaan pos 4, atau pos pohon tunggal. Dua orang teman seperjalanan mulai lelah dan resah. Kombinasi hujan dan trek tanah menanjak tak henti memang menjadi musuh utama bagi psikologi pendaki. Kadang kita sendiri bertanya-tanya, harus sampai kapan kita melewati jalanan seperti ini?

2 jam lebih beberapa menit kami sampai di pos 4 Pohon Tunggal Gunung Sumbing Via Kaliangkrik, setelah melewati banyak perbukitan, beberapa anak sungai dan banyak sekali tanjakan. Rupanya semesta tak mengizinkan kami untuk berleha-leha meski hanya sebentar saja, angin kencang dan hujan deras seolah murka pada sang bumi. Angin dengan angkuh menerbangkan segala sesuatu yg tak kuat berpijak, bahkan dengan angkuh memisahkan dedaunan dari dekapan sang pohon. Sementara hujan dengan leluasanya membasahi apapun yg berada di bawah awan hitam. Tak terkecuali kami yg baru saja tiba  dan belum siap menghadapi hujan yg keroyokan.

Dibawah rinai hujan yg turun dan terpaaan angin yg merajalela kami terpaksa harus bergegas mendirikan tenda. Tak ada waktu untuk joget india muter-muter di pohon lalu menari dan bernyanyi, seolah tak terjadi apa-apa hanya ada gembira meski nestapa. Semesta sedang PMS sepertinya, labil tak bisa di tebak apa maunya. Sebentar-sebentar manis dan bermanja, sebentar-sebentar murka meluluhlantakan apa yg ada di hadapanya.

Mendirikan tenda dalam kondisi badai butuh stategi dan teknik tingkat tinggi, agar tenda dapat berdiri tanpa mematahan satupun tulang rusuknya, eh framenya. Ini kedua kalinya aku dan eddy harus menghadapi badai di Sumbing, beberapa waktu lalu kami di hantam angin kencang yg menerbangkan pasir di Pos Pastan Jalur Garung, meskipun cuaca cukup cerah saat itu, tapi angin yg sangat kencang berhasil memaksa kami untuk turun tidak melanjutkan perjalanan ke puncak.

Tenda Consina Magnum 4 ku berdiri meskipun sempoyongan di hajar badai, untung lah tenda ini double layer meminimalkan bagian dalam terkena kondensasi. Apa lagi dari sisi teknis tenda tipe ini di bangun dengan mendirikan layer luarnya terlebih dahulu lalu kemudian bagian inner nya, jadi ketika tenda harus di dirikan dalam keadaan hujan bagian inner dapat di aman kan terlebih dahulu baru kemudian didirikan setelah tenda dan layer luarnya terbentuk.

Suasana Dalam tenda
Selamat Makann,

Butuh waktu kurang dari 10 menit untuk kami mendirikan tenda disaat badai seperti ini. Bagian tersulit adalah berpacu dengan keadaan yg undercontrol, kecepatan dan kekuatan angin yg tak konsisten mendorong-dorong tenda agar mengangkasa bersama nya, entah kemana. Untunglah aku sudah membekali tenda ku dengan pasak-pasak beton ukuran 15-20cm, yg dapat menghujam meskipun tanah keras sekalipun. Meskipun tenda sudah berdiri dan di ikat pada pasak-pasak yg menghujam bumi, tetap saja angin kencang dan hujan berhasil memaksa aku dan eddy keluar dari tenda bebarapa kali untuk membenahi pasak yg tercabut dari tempatnya menghujam.

“Mass,, kami numpang di tenda nya, boleh?” Ucap salah satu dari dua orang pendaki asal UII.

“Oh iyaa mas, kesini ajaa..” Saut ku dari dalam tenda.

Tak lama dua orang laki-laki masuk ke dalam tenda ku. ahh aku lupa nama mereka siapa, yg aku inget mereka adalah pendaki asal jogja. Mereka gagal mendirikan tenda monodome kapasitas 2 orang. Beberapa frame nya patah, sementara mereka sudah tidak kuat menghadapi badai yg menerjang-nerjang dan dingin yg menyerang.

Hujan dan angin di luar makin menjadi-jadi, entah pada siapa semesta murka. Udara dingin menjalar ke dalam tenda, semilir angin yg masuk melalui pori-pori lapisan tenda membelai kulit yg terbungkus pakaian basah, menciptakan efek dingin. Aku mengambil kompor lalu kemudian menyalakanya, lantas ku tuang air kedalam nesting kemudian ku panaskan di atas api kompor yg menyala. Ku sedu teh tarik di dalam gelas dengan air yg sudah panas, satu gelas ku berikan pada dua tamu ku, satu gelas lagi ku nikmati bersama eddy. Tak lupa roti marie susu menjadi cemilan spesial pun ku suguhkan pada mereka.

“lawu gimana ya Edd??, temen temen disana gimana?” Tanya ku pada Eddy.

“gak tau, semoga aja gak badai.. Hari ini kan mereka naik?”

“iya, harusnya kalau mereka konsisten, hari ini bisa sampai di pos 3, meskipun dengan keadaan hujan sekalipun.” jawab ku

Kami di Sumbing tapi pikiran kami menyebrang jauh ke Lawu, sebab ada 3 anak cucu Hawa yg sedang menjalankan misi mereka di sana. “Kalian kalau mau ke sumbing berangkat aja, kami mau belajar mandiri, gak usah di backup” gitu kata nya. Jelas bukan tipe kami untuk lepas tangan begitu, tetap aja kami kwatir, terlebih kami tau sejauh mana skill mereka. Tapi apa hendak di kata, ratusan kilo kami terpisah, hanya lantunan doa semoga tim KCP di mudahkan pendakianya.

Menjelang sore emosi sang semesta sedikit mereda. Hujan sudah tak lagi begitu deras mengguyur, tapi angin tetap pada kehendaknya bertiup kesana kemari. Dua tamu ku sepertinya ragu untuk bermalam bersama kami, sebab tenda ku udah penuh sesak, dan tak mungkin kami harus menaruh barang-barang di luar tenda dalam keadaan begini. Akhirnya ku tawarkan bantuan untuk membenahi frame tenda mereka yg patah.

“emang bisa mas di benerin?” Tanya mereka.

“Bisa mas, sekedar untuk emergency sih bisa, tapi setelah turun musti di benerin sebelum di bawa naik lagi tendanya.” ucapku.

“iya mas, kemarin gak di cek dulu sih tendanya, harusnya bagus.” Mereka menjawab

“Eh,, kalau gak salah aku bawa frame cadangan,.. tapi mana yahh.. Liyat gak Edd” aku bertanya pada Eddy, sebab biasanya aku selalu membawa frame cadangan, sebagai antisipasi frame tenda ku patah. Setelah di ubek-ubek isi tenda ku, ternyata framenya gak ku bawa.. hihi

“Ya sudah mas, mana frame tendanya, sini saya benerin.” Ucapku, sore ini aku merangkap menjadi tukang reparasi tenda..

Datanglah beberapa frame yg sudah terlepas dari karet nya, beberapa di antaranya pecah dan patah. Frame berbahan karbon memang saring kali mengalami nasib seperti ini, biasanya akibat kelalaian pemasangan tenda ataupun tidak kuat menahan gempuran angin.

Aku ambil Emergency Tools dari dalam keril, kotak kecil yg biasanya berisi benang jahit, benang nilon untuk jahit sepatu, jarum jahit, kunci dan gembok, lilin, kabel tis, pisau lipat, gunting, isolasi, peniti dan korek api. Sebenarnya untuk membenahi frame yg pecah, cukup membutuhkan isolasi hitam yg biasa digunakan untuk isolasi kabel listrik. Caranya cukup membalut frame yg pecah tersebut dengan isolasi, frame akan kembali bulat dan dapat di gunakan. Sementara jika mengakali frame yg patah biasa menggunakan peralatan pisau untuk membuat “tulang” atau kayu kecil yg berguna untuk menyambung frame, prinsipnya sama seperti giv yang di gunakan untuk pertolongan patah tulang. Hal yg sering terjadi di gunung tapi sedikit sekali pendaki yg tau cara mengatasinya.

Setelah frame tenda tersebut di reparasi, kedua pendaki tersebut mencoba kembali mendirikan tenda mereka yg luluh lantah. Angin masih garang menganggu tim mendirikan tenda, tak ingin mereka gagal lagi aku turut andil membantu mendirikan tenda. Dibawah rinai hujan rintik-rintik dan angin kencang kami bekerjasama mendirikan tenda, menambatkan beberapa rafia menyerupai jaring laba-laba, agar flyshet terbentang sempurna. Tak berapa lama berdirilah tenda monodome berflyshet kuning tepat di depan tenda ku. Menghadap ke arah timur, berharap cuaca cerah agar kami dapat melihat merapi dan merbabu yg berdiri gagah.

Awan Hitam
Awan Hitam di Langit Gunung Sumbing.

Sore seperti di lewati begitu saja, tak ada tanda mentari terbenam, sore terlewat langsung menjadi gelap dan malam. Tak banyak yg bisa kami lakukan, hanya menunggu di dalam tenda menghabiskan waktu menanti badai reda. Malam masih muda, suara tawa dan cerita bertebaran tanpa raga dari tenda tetangga. Sumbing malam itu benar-benar dingin, temometer tenda ku nyaris mendekati nol derajat, ahh ini dingin karena basah dan angin. Sepanjang malam hanya ada deru angin yg menabrak-nabrak tenda, sesekali kilatan cahaya berkedip dan rintik air turun menyapa semesta. Tak banyak yg bisa di lakukan pada malam itu, selain menghangat di dalam tenda dan di pelukan sleeping bag sembari berharap subuh nanti semesta berbaik hati memberi jeda untuk kami mendaki ke puncak Sejati.

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *