hay hay,  udah lama gak coret-coret ini blog, bingung mau nulis apaan? emm..

emm..

Gegara liyat satu postingan di istagram tentang tingkah pendaki, mendadak gw jadi kangen sama patner pendakian gw. Gimana kalau kita gibahin aja tuh orang ya, kangen setenda sama tuh anak.. haha

Dalam karir pendakian gw, ada satu orang yang selalu ada, menemani saat gundah, saat sepi, saat senang, dan ketawa saat gw jatuh. Ya, itu lah teman, kadang bahagia banget kalau liyat temannya menderita, tapi gak tau deh kenapa kadang ditertawakan teman itu gak bikin kesal dari pada di ketawain sama setan.

Eddy waktu masih Newbie.. kwkwkw

Gw kenalin dulu nih orang yang sudah sepertiga hidupnya mengenal gw. Namanya Eddy Tri Mahardika panggil aja Eddy, emm instagramnya gak tau, soalnya sering ganti-ganti. Setau Gw sih masih jomblo, rajin patah hati soalnya, atau terlalu mencintai diri sendiri. Asli klaten, network engginer di salah satu perusahaan provider. Kulit putih, kurus tinggi, pendiem mungkin karena malu kalau diajak ngomong bahasa jawanya masih medok. hehe

Emm,, Gw lupa kok bisa melibatkan dia dalam kegiatan pendakian,? yang jelas sih waktu itu kami satu kelas, satu kampus. Tapi yang pasti pendakian perdana sama nih orang adalah ndaki Gunung Api Purba, Nglanggeran, Wonosari Yogyakarta..

Itu lho, yg ada di lagunya Pakde Didi Kempot..

Ademe gunung merapi purba
Melu krungu swaramu ngomongke opo
Ademe gunung merapi purba
Sing neng langgran Wonosari Yogjokarto

Janjine lungane ra nganti suwe suwe
Pamit esuk lungane ra nganti sore
Janjine lungo ra nganti semene suwene
Nganti kapan tak enteni sak tekane

Nah setelah pendakian itu kami bertekad untuk membentuk sebuah tim, yang mana target tim itu adalah mendaki Mahameru. Meskipun saat itu hanya ada 5 orang, kami membentuk tim “Semut Summit” dan akhirnya juga bikin seragam lho, ya cuma 5 orang. Ada, Gw, Eddy, Yogo, Aden, Tika (satu-satunya cewek di tim kami) Saat itu kami berpikir bahwa Mahameru itu bukan perkara mudah. Jadi kami pun mulai merencakan kegiatan pendukung yang membiasakan kami untuk mengahadapi alam Semeru.

Eddy waktu mulai Pro

Pendakian demi pendakian terlaksana, mulai dari Pedakian Gunung Merbabu, Merapi, Lawu. Namun hanya Gw dan Eddy yang menginjakan kaki dan berfoto dengan Memoriam Soe Hok Gie di Puncak Semeru, sementara anggota yang lainya mulai vakum untuk mendaki karena kesibukan.

Memang diantara anggota Semut Summit lainya, hanya aku dan Eddy yg sering mendaki. Entah sudah berapa kali kami bertualangan bersama. Beragam suka dan duka pernah kami lewati, terik, hujan, badai sudah kami nikmati. Begitu banyak perjalanan yang membuat kami semakin teguh belajar bagaimana cara beradaptasi dengan perjalanan pendakian.

Gw akan selalu menanyakan kesiapannya ketika akan mendaki, kalau dia siap, gw juga siap dan  pasti berangkat. Jika salah satu tidak siap, maka perjalanan pun akan dibatalkan atau tidak di lanjutkan. Dia adalah teman yang selalu gw libatkan untuk berdiskusi membuat rencana perjalanan dan pendakian, karena tanpanya gw bukan apa-apa, separuh langkah gw tuh adalah dia. Gw bisa mendaki meski hanya berdua sama dia, tapi entah kenapa meskipun beramai, gw merasa kehilangan kalau mendaki tanpa dia.

Udah Pro nih… Naik Gunung Mana aja mah hayuukk…

Pernah suatu ketika di pendakian ke Gunung Merapi, kami terpisah karena melewati jalur yang berbeda. Cuma berharap bisa bertemu di pasar burbah waktu itu, tapi setelah di pasar Bubrah dan keliling mencari, gw gak nemu tuh anak. Karena gw yakin dia dalam kondisi aman, karena gw tau di keril dia ada tenda, serta logistik yang cukup buat dua hari,  di keril gw dan tim pun demikian. Bahkan makanan yang enak-enak ada di dia semua waktu itu. Selain itu gw yakin dia bersama dengan pendaki lain, karena sebelum berpisah gw melihat dia bareng dan bercengkrama dengan rombongan lain, dan itu lah yg membuat konsentrasi kami antar rombongan menjadi buyar dan terpisah. Setelah dari sunset ke sunset gak ketemu sama tuh anak, gw dan tim turun, dannnn gak tauu gimana, gw nemuin tuh anak dengan santainya berbaring di pinggir trek sambil merem.

Yang bikin gw heran, tuh orang masih santai dan nyomot cemilan gw dan bilang gak ada cemilan. Uhhh rasanya pengen gw masukin tuh kepalanya ke dalam keril dia yang isinya logistik yang ternyata gak di cek sama dia.. ahh becanda tuh anak, tapi gw bersyukur dia selamat dan sehat-sehat.

Banyak kejadian yang kami lewati bersama, entah konyol ataupun serius tapi semua berakhir dramatis dan bikin kangen jika di kenang. Dia adalah patner yang bisa menempatkan dirinya dimana pun dia dibutuhkan, menjadi perintis ataupun menjadi sweper, logistik ataupun peralatan. Berbeda pendapat sama dia? ahh sering banget, tapi yaa itu lah dia, mungkin hanya dia yang bisa menyanggah dan membatalkan keputusan ku sewaktu pendakian. Tapi entah kenapa aku gak pernah bisa marah sama dia, meskipun kadang bikin jengkel dan heranya aku pun sepakat dengan pendapatnya. haha

Bagaimanapun dia orang yang menurut ku tidak takut apa lagi dengan hal ghoib. Beberapa kali kami mengalami kejadian mistis, dia seolah santai mengadapinya dan menurut ku itu yang membentuk phiscologi ku pun santai menghadapi gangguan seperti itu. Bukan hal aneh bagi pendaki ketika mendengar, melihat, atau merasakan sesuatu energi dari dimensi lain sewaktu kegiatan atau berada di tempat yang memiliki mitos dan cerita-cerita mistis. Dia adalah orang paling santai dalam menghadapi itu semua. Tapi ketika dia sudah diam aja, sedikit bicara selama pendakian, jangan mendesaknya dengan pertanyaan ada apa? dan kenapa? lebih baik positif thingking dan konsentrasi dengan jalur. Jika kamu peka maka kamu pun akan merasakan apa yang dia rasakan, dan gw sering mengalamani demikian, namun gw adalah tipikal orang yang berpikir logis, jadi ya hal hal mistis itu hanya sekedar lewat dan diomongin di waktu yang tepat. lu bukan indigo kan ed?

Tiba-tiba ada genangan di mata… 

Gw Kangen masa sulit waktu tengah malam harus jungkir balik turun dari Arjuno untuk mencari air. Pengalaman pahit tapi bikin kangen. Waktu itu dengan yakinya dia bilang “Kita harus duluan sampai ke pos 2 cari air”  Dan setelah itu dia berlari meninggalkan tim yang mulai putus asa menelusuri padang sabana dan bukit yang tak ada habisnya. Sementara 1 liter air terakhir telah habis di bagi. Aku ingat bagaimana kami berlarian dijalan setapak yang nyaris tertutup ilalang, sehabis hujan yang membuatnya seolah seperti prosotan.

Sesekali kami terjatuh, sesekali pula kami berhenti dan berdiskusi, menertawakan lawan yang terjatuh seolah itu perlombaan, haha konyoll.. Kami lupa akan bahaya waktu itu. Dalam jeda istirahat kami melihat ke belakang saling bertanya “mereka gimana? masih sanggup gak ya?” bahkan pertanyaan itu kadang tak pernah terjawab, mengambang. Seperti haus yang tak hilang meski menyesapi sarung tangan yang basah.

Kami lupa betapa bahaya nya perjalanan malam itu, mungkin itu lah perjalanan paling bahaya yang pernah kami lakukan. Lebih menyeramkan dari pada menyusuri hutan tropis Rinjani Via Senaru Malam hari, atau ndaki Lawu tengah malam.

Belasan kali terjatuh sampe nyaris kepala gw beradu kuat dengan batu, kaki terkilir, nafas tersengal seakan sirna sampai kami berhenti sejenak menjelang pondok pos 2 dan meliat sosok putih. Untung akal sehat kami masih jalan waktu itu, setelah mendekat perlahan ternyata hanya  karung pasir sisa pembangunan selter. Lagi lagi entah kenapa akal sehat kami waktu itu mengalahkan rasa takut.

Kalau di film setan-setan, siapa sih yang gak ketakutan, udah lari-larian di dalam hutan, lelah, dehidrasi, tersesat sana sini, tiba-tiba ketemu sosok putih dan sebuah pondok apa lagi cuacanya gerimis rintik-rintik. Pas banget kan shoting film setan. Tapi saat itu boro2 ngerekam atau pun foto-foto meskipun di tas gw ada kamera, yang ada kami malah sibuk tawaf muterin tuh gubuk mungkin lebih dari 7 kali kami muterin tuh gubuk mencari petunjuk mata air atau sumber air, dan hasilnya nihil.

Hingga akhirnya kami memutuskan untuk berpencar mencari di dua tempat yang berbeda, Eddy menelusuri jalur atas sementara aku menelusuri sungai mati. Arhhh, gw gak tau kenapa otak gw tak merespon bahaya waktu itu, padahal hal dalam kondisi seperti itu sangat berbahaya sekali menelusuri diluar jalur pendakian. Pesan gw waktu itu, sering-sering teriak dan  bertanya satu sama lain, kalau tidak ada jawaban segera balik. Jangan sampai kehilangan komunikasi.

Pencarian itu nihil, sampai gw harus meninum air genangan yang ada jentik-jentiknya di cekungan batu yang ada di dasar sungai mati. Sampai akhirnya kami sadar, hanya kepada NYA lah kita meminta pertolongan. Disaat gw terduduk menghadap kompor yg menyala untuk menghangatkan tubuh, Eddy mesih terdiam dan mondar mandir mengamati isi selter. Tanpa sepatah kata, kami terdiam hingga akhirnya..

“ada suara orang naik” ucap Eddy.

Sementara aku masih terdiam karena aku mendengar ada suara dari arah yg berbeda.

“ada yg turun” Ucap gw sambil tetap memandang api yg menari.

“naikk” balas eddy

“coba dengar’ kata gw..

Kami terdiam sejenak, mencerna suara-suara yang masuk ketelinga kami.

“Nanda Turun, Lu susul Nanda. Gw turun nyusul yg naik mana tau dia punya info Sumber mata air” Ucap gw sambil bergegas keluar selter dan Eddy Pun demikian.

Akhirnya benar Allah mengirimkan 3 orang pendaki dari basecamp, dan Nanda (nah ini nanti kita Gibahin juga) yg nyusul memastikan kami baik-baik saja. Berkat ketiga pendaki yang naik dari basecamp lah kami jadi tau letak sumber mata air di tempat tersebut, yang ternyata ada di dua bukit sebelah barat. Gw dan Eddy sebenarnya sudah tau bahwa di pos 2 itu ada sumber air tapi di dasar jurang, tapi gak tau di sisi sebelah mana. Pada saat itu gw dan eddy sudah menelurusi radius 300meter dari gubuk tersebut tapi gak nemu petunjuk.

Berkat foto peta jalur pendakian yang di tunjukan oleh pendaki yg dari basecamp itu akhirnya kami sampailah ke jurang yang memberikan tanda bahwa ada air yang mengalir di bawahnya. Kami mengabaikan peringatan pendaki tersebut bahwa untuk kesana itu berbahaya. Yapp, bagi gw dan eddy waktu itu safety first, kami siap menuruni tebing. Sementara Nanda yg waktu itu juga baru sampai, gw suruh nunggu di pondok bersama pendaki itu, tak lupa berpesan kalau sampai pagi kami gak balik, tolong di cek..hehe

Setelah malamnya kami berhasil membawa sekitar 10liter air yg langsung di distribusikan oleh Nanda dan Eddy ke teman-teman yang masih berjibaku turun. Sementara gw menyiapkan tempat buat mereka kalau mereka turun lagi lagian malam itu cidera lutut dan engkel gw sudah sampai batas maksimalnya. Malam itu Eddy dan Nanda Turun lagi beserta dua anggota tim jogja.

Nah ini Nanda dan Eddy, dua patner beda watak… Coba tebak Tuaan yg mana?? Komen di bawah ya .. haha

Paginya gw dan eddy balik lagi ke jurang yang sama untuk mengambil air, entah kenapa pagi itu terasa lebih sulit menurungi tebing curam itu meskipun di bantu webing. Sementara waktu malam harinya semuanya mudah saja bahkan turun dengan lompat-lompatan, dan kami pun baru tau ternyata tadi malam itu kami nuruni jurang yg dalam buat ngambil air, dan ya spooky bgt tempatnya, gw dan eddy sempat mikir ini adalah sumber air yang juga di minum oleh hewan-hewan di gunung ini. Makany kami gak berlama-lama, takut ada kucing besar yang mengintai. hahaha,  Itu pengalaman paling bodorrrr yang pernah aku dan Eddy alami..

Gw sama Eddy sudah melewati banyak hal selama pendakian. mulai hal logis dan tak logis. Mulai dari hal ringan sampe hal yang sulit. Gw bukan orang yang tangguh, gw adalah orang yang ceroboh, sementara dia adalah orang yang terliti. Gw orang yang paling kotor dan aktif selama ndaki, sementara dia pendaki yang bersih, mungkin Gw lebih tau banyak hal tapi ia yang menyempurnakan pengetahuan Gw. Mungkin gw yang ngambil keputusan, tapi ia yang memberi masukan. Tanpa nya gw bukan siapa-siapa, tapi bersamanya kami bisa melakukan yang tak kami kira sebelumnya. Gw pernah tanpa nya dengan banyak orang, tapi nyatanya gw terkapar. Gw pernah berdua bersamanya tapi Gw merasa lebih dari bersama banyak orang.

🙂

Terimakasih sudah menjaga gw selama bertualang, jejak-jejak digital yg tersimpan hanya seuprit dari banyak perjalanan hebat dari Jogja hingga di Trawangan, dari kaki gunung api purba hingga ke singgasana Dwi Anjani.

teringat saat kita bersama
lalui badai nan kelam,kita tetap berjalan
dimanakah kini engkau kini teman
menghilang ditelan malam
tak kunjung datang

dimanakah kau berada
dimanakah kau kini

kurindukan arti dirimu kawan
saling berbagi
indahnya mimpi kita
kurindukan arti dirimu kawan
lalaui bersama
menebus dingin malam

Pass Band “Arti Kawan” Special Song For You..

di Ruang Sunyi,

Tirta Hardi Pranata,

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *