Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part Ix

Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

 

Pagi datang lebih cepat dari pada biasa, langit lebih cerah dengan banyak warna biru sedikit jingga. Udara segar senantiasa mengisi relung paru-paru, mentari memancar cerah menghilangkan gundah dan melupakan keluh kesah perjalanan kemarin. Hari ini adalah tujuan baru, perjuangan baru, dan kita hanya butuh satu langkah awal, dan terus mendaki, satu langkah lagi, lagi, lagi dan lagi hingga kita lupa telah seberapa tinggi mendaki.

Pagi itu, aku tak terlalu ingin mengabadikan terbitnya sang mentari, hangat sleeping bag memeluk ku erat biar dingin tak menganggu. Teman-teman diluar sana sudah lebih dahulu bangun, lalu kemudian aku menyusul keluar dari tenda, seperti nya di luar asik sekali menikmati mentari. Beberapa orang dari kami mempersiapkan sarapan pagi, menu nya nasi putih, spageti dan telur dadar. Lumayanlah buat menambah energi untuk perjalanan sampai ke Pondokan.

Eddy masih melungker di dalam tenda berselimut sleepingbag hitam yang hangat tak perduli apa yg di lakukan teman-temanya diluat. Muncul ide iseng aku dan nanda untuk menarik eddy keluar tenda lengkap bersama dengan sleepingbag nya. Waktu di Argopuro  Eddy pernah di bangunkan dari tidur dengan cara pengasapan. Yaa waktu itu, bara sisa api unggun masih menyala, Eddy dan Arif masih tidur di dalam tenda sementara mentari sudah mulai meninggi, aku tau mereka lelah tapi kami harus segera berbenah, al hasil di kumpulkan lah rumput-rumput basah dan diletakan di atas bara api unggun hingga mengepulkan asap. Asap pun kami kipas-kipas ke arah tenda yang di tempati Arif dan Eddy, sontak mereka kebangun karena pengap terpapar asap dalam tenda.. Kejam yaah,,?? Hihihi kata iklan itu  “makin dekat makin nekat.” Begitu lah sahabat, meskipun kadang rese, nyebelin, tapi justru itu yg mendekatkan.

Saparan pagi yg tak biasa, karena aku tak biasa sarapan pagi sebenarnya, tapi tetap harus makan. Kami kembali berkumpul melingkari hidangan sarapan seadanya, senikmatnya. Selebihnya tak banyak kata yg keluar dari mulut kami yg memang sudah di sumpal dengan makanan, sesekali guyon agar tak sepi. Bagi Nanda, tak ada yg lebih indah dari mentari pagi ini selain senyumnya Popy. Duh Popy, senyum mu membuat mentari cemburu, lantas negmbek di balik kabut.

Kami punya batas waktu hingga pukul 09.00 setiap paginya untuk packing, membongkar tenda, mengisi cadangan air, dan menyiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan. Selesai makan aku bergegas mengemasi barang-barang yg ada dalam tenda. Flysheet aku bentang di atas hamparan tanah lapang, barang-barang yg di dalam tenda segera di keluarkan dan di taruh di atasnya. Ketika tenda sudah kosong,  segera tenda di robohkan. Rekor ku sama Eddy packing 5 menit kurang untuk membongkar tenda hingga rapi siap di bawa, sementara mendirikannya butuh sekitar 5 menit untuk tenda berdiri, dan 10 menit untuk tenda sempurna bersama pasak yg terpasang kencang, (tergantung kondisi medan juga).

Setelah semua barang siap, baru lah satu persatu dipacking di dalam keril sesuai dengan pembagian nya masing masing, keril perlengkapan, logistik, dan center logistik. Pukul 7.30 Semut Summit sudah ready untuk berangkat, namun tidak demikian dengan Tim Palanus yg masih kerepotan dengan packing. Beberapa tenda masih berdiri tegak, sementara yg lain sibuk memasukan perlengkapan ke keril masing-masing. Aku sama nanda agak jengkel dengan cara mereka packing, yaa sudah sambil bercanda kami bongkar aja tenda yg masih berdiri, bermaksud membantu mereka packing tenda. Gitu lhoooo…”Robohkaaan tendaaanyaaaaaaaaa…. ” teriak aku dan Nanda yg semangat betul kalau soal mengahancurkan. biar cepat. hehe

Sekedar tips untuk kalian pembaca bagaimana mensiasati packing agar lebih cepat. Pertama, tentu kita harus tau dalu teknik packing yg baik itu bagaimana, yaitu dengan meletakan barang yg jarang digunakan di bagian bawah, atau mulai dari barang yg paling ringan. Biasa saya packing di mulai dari SB dibagian bawah, kemudian baju ganti, tenda, baru peralatan logistik dan air, kompor dan gas, makanan ringan, baru yg bagian atas adalah jas hujan headlamp, emergency kit, dan peralatan kecil lainya berada dibagian atas keril, sementara matras saya masukan kedalam keril untuk membentuk keril.

Packing itu seni, seni menata dan membentuk keril. Jika packingnya bener, keril dapat berdiri gak jatuh, itu menandakan bahwa keril tersebut seimbang. Keril yg tidak seimbang dalam penataan barang di dalamnya, akan membuat tumpuan keril tidak nyaman, terutama di bagian bahu dan pinggang. Makanya keril itu di ciptakan beberapa tali pengikat ke tubuh, di pinggang dan di dada, serta ada tali yg biasa di tarik ke depan. Semuanya berfungsi untuk mengatur  tumpuan keril, jika capek di pundak bisa di arahkan ke pinggang, jika pegel pingganya bisa di tarik biar lebih ke depan dan ke punggung. Begettoooooo

#baca aturan pakai.. hahhaa

Setelah sekian lama menunggu tim bergerak satu persatu meninggalkan tanah lapang pos dua. Melangkah membelakangi mentari mendaki tumpukan batu yg setia menjadi tumpuan kaki. Sesekali dari kami harus merelakan di salip beberapa tim yg memang punya tenaga dan kecepatan memumpuni, yaa maklum lah kami tim cc rendah, truck disel  yg merayap pelan meski dengan perseling paling rendah.

Sesekali awan kelabu menyingkir membuka cakrawala langit biru di angkasa, seketika itu pula terik mentari berkuasa meraba