Tak terasa sudah 11 tahun melewati masa itu, tak terasa sudah selama itu pula aku tak paham aneka sandi yg di ajarkan. Mungkin aku yg lupa atau mungkin aku tak mengamalkanya. Aku hanya tahu tepuk pramuka dan lagu di sini senang di sana senang. Seragam coklat dengan atribut lengkap yg hampir setiap akhir pekan melekat pun kini entah kemana rimbanya. Atribut kebanggaan masa sekolah berganti dengan atribut kebebasan masa kuliah. Baret coklat, kini terganti dengan topi komando, celana coklat kini berganti celana cargo, dulu belajar morse kini belajar untuk bertahan hidup. Dulu kemah di buper sekarang berbivak di hutan, gunung dan pantai. Dulu pramuka sekarang pendaki.

Pelantikan Penegak Bantara Anggota Pramuka SMK N 1 Kuala Tungkal.

Waktu berlalu dan masa berganti, jaman berubah dan hidup terus berjalan. Kini setelah 9 tahun melepas semua emblem yg melekat di atribut coklat itu, aku kembali. Bukan untuk mengulang memakai baret coklat, seragam coklat dengan segala pernak pernik nya. Tapi aku kembali untuk mengenang semua nya. Mengenang bagaimana rasanya di bentak karena tak bisa hormat, di caci karena balik kanan tapi malah balik kiri, di hardik dengan keras karena malas, di perintah hadap serong kiri karena tak mengindahkan instruksi. Panas hujan bukan rintangan untuk berdiri tegap tanpa mengeluh peluh, karena semangat kebersamaan itu lebih meneduhkan. Orang bilang aku berkulit hitam tapi aku masa bodoh dengan kata orang, cowok tak apa berkulit legam tapi syarat pengalaman, sebab cowok harus punya cerita bukan punya banyak gaya.

Aku ingat saat pertama kali terjebak pada dilematika pasukan jarang mandi ini. Semua karena terpaksa. Yaa terpaksa melengkapi jumlah personil untuk ikut lomba yg kurang anggota. Tanpa bekal apa apa, hanya bangga pernah kabur dari latihan pertama sewaktu SD, karena kakak pelatih yg galak dan setelah itu trauma. Tapi Semua keterpaksaan itu menjadi kebiasaan, menikmati setiap perjalanan yg panjang dan melelahkan, but it is a begin for the real adventure.

Ujian sandi pramuka calon penegak bantara, SMK N 1 Kuala Tungkal.

Aku tak pernah berhasrat untuk kemah di cibubur, tak pernah sekalipun tersirat pesan ingin mendirikan tenda di sana, seperti kebanyakan rekan-rekan ku waktu itu. Tak pernah pula ingin menjadi bagian dari dewan kerja baret coklat dengan segala tanda pangkat dan jabatan di bajunya, yg berat akan tanggung jawab. Sebab aku terlalu sadar diri bahwa jabatan itu bukan untuk di junjung dan menjadi bahan membanggakan diri untuk di sanjung. Lagi pula aku tak pernah berjanji untuk menghabiskan sisa waktu di satu organisasi dan mati tanpa pernah mencoba hal yg lain, tapi aku berjanji demi kehormatan ku untuk mengamalkan 10 darma yg bisa ku hapal, setelah pancasila, rukun iman dan rukun islam.

Jika kalian bertanya apa yg menyenangkan selama berseragam coklat, mungkin adalah pengalaman pertama di Sungai Gelam. Itulah awal keikut sertaan ku tanpa embel2 apapun dan pemicu semangat untuk berkegiatan yg lebih ektrim, dan kala itu Gn. Merapi adalah target ku. Jauh sebelum ku jejakan kaki di gunung yg konon tempat bersemayam nya maklampir itu, banyak yg harus ku lalui dengan baret coklat.

Prosesi Pelantikan Penegak Bantara Anggota Pramuka, SMK N 1 Kuala Tungkal.

Sering kali ku habiskan akhir pekan berada di buper hanya untuk gotong royong membangun mushola atau fasilitas buper. Sesekali pun ketika sedang musim penerimaan anggota baru turut serta melakukan pemerosesan di sekolah tetangga, tak tidur semalaman hanya untuk menguji mental para anggota baru yg mengincar bantara. Atau menghabiskan sore di polres latihan bersama bayangkara. Jika ingin di takar berdasarkan emblem dan simbol-simbol yg melekat di seragam, entah tinggal berapa bagian seragam yg terlihat. Tapi semua itu luput dari pencapaian, entah, aku tak begitu tertarik dengan ragam atribut warna warni dan simbol-simbol aneka rupa. Aku selalu menikmati setiap kegiatan tanpa tertarik pada sebuah imblan, bagaimana pun, menurut ku setiap proses itu selalu menarik untuk di ceritakan.

Sembilan tahun berlalu tanpa baret dan seragam coklat, menghilang di tengah rimba belantara dan akhir nya kembali lagi menyaksikan mereka yg berjibaku demi sebuah atribut di pundak yg berlabel Bantara. Demi sebuah pengakuan bahwa penggalang telah menjadi penegak, peralihan dari anak anak menjadi dewasa yg bijak. Berdiri tegak untuk mengamalkan darma nya. Ku pikir aku telah ketinggalan jaman selama petualangan di tengah rimba. Namun ketika kembali aku merasa masih berada di waktu yg sama, tak banyak yg berubah meskipun telah puluhan purnama. Masih pada bumi pertiwi kau bersimpuh merendah, tetaplah membumi meski kau punya sayap untuk terbang tinggi. Pramuka itu hanya wadah untuk mawas diri, agar tak sibuk dengan fantasi tanpa prestasi. Seragam coklat itu bukan untuk di banggakan, embel-embel yg tersemat bukan untuk di sanjung tapi di pertanggung jawabkan. Tetaplah rendah hati, pantang terbang ketika di puji, pantang mundur ketika di caci.

Bersyukur adalah salah satu ucapan terimakasih kepada Tuhan atas hasil yg tak pernah berkhiatan pada proses.

Di ujung kisah nanti, kelak sikap dewasa akan menyadarkan bahwa semua yg di kenakan hanya akan menempel di kulit untuk sementara. kelak semua warna dan tanda kecakapan itu hanya simbol yg terlihat oleh mata, ketika semua telah terlepas dari tubuh maka semua kembali sama. Kecuali dharma yg di amalkan, janji yg di tepati, taqwa yg di jalan kan serta perbuatan yg di lakukan yang akan selalu membekas di relung hati setiap insan.

 

Desembar di Kuala Tungkal, Sembari sarapan. Tirta Hardi Pranata

 

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *