Seindah-indahnya senja, ia hanya sementara dan akan berakhir gelap.

Sekali lagi, menjadi bagian dari pengalaman orang lain itu adalah hal yang menyenangkan, bagi ku yang tak bisa membenci negeri ini. Dan senja kala itu adalah saksi bagaimana keceriaan anak manusia menikmati hidupnya, menikmati hasil jerih payahnya sendiri, hanya untuk menikmati secercah senja yang tak biasa di jumpai.

Seolah kita bosan menjadi buruh, bagai sapi yang selalu diperah dan bagai kuda yang selalu bekerja menarik kereta, atau kita jengah seperti kerbau di sawah. Akan ada sibuk jika terus menurut, tapi pasti akan ada jeda, seperti diantara siang dan malam selalu ada senja. Kita bukan mesin atau lebah pekerja, siang malam mencari nectar demi memperkaya sang ratu lebah yang duduk manis di sarangnya. Yupps, kita adalah manusia dan jeda adalah kesempatan kita untuk menjadi selayaknya manusia.

Ini week end, cukup sudah bicara tentang optimasi, instalasi, registrasi form, berita acara instalasi, ahh orang pajak pun pengen menikmati liburnya, computer pun pengen menikmati shutdownnya.

Kaki ini sudah tak sabar melangkah, karena hakikatnya adalah demikian. Kemana,? ah itu urusan belakangan, biarkan angin akhir pekan meniupkan raga yang kesepian ini ketempat-tempat indah di bumi pertiwi. Nan jauh di pelosok desa terpencil, yang sepi dari hingar bingar kota, pasir putih dan gemuruh ombaknya mengundang untuk jamuan kecil di penguhujung senja.

Lantas kaki-kaki anak manusia itu meninggalkan kota nya yang berisik, mencari suara-suara dari pasir yang berbisik. Pantai, pasir putih, air, ombak, tenda dan teman adalah paket komplit menghabiskan akhir pekan. Tak perduli harus konvoi bermotor 3 jam dari kota, serta harus trakcing 45 menit, melewati sawah, kebun, dan tebing karang untuk sampai dipenghujung daratan. Kami bukan Rangga yang lari kehutan lalu ke pantai, kami jalan kaki kok, gak kuat kalau harus lari. Apa lagi si Sekar, kasian, dirinya aja sudah berat, belum lagi di tambah beban hidupnya, jangan bayangkan bagaimana beratnya jika ia harus berlari. πŸ˜€

Hari itu aku sendiri harus membawa paket kombo, dalam keril ku lengkap berisi peralat mendaki 2 buah tenda, nesting, kompor, cookingset, matras, gas, peralatan makan, logistik, tripod, serta selempang ku berisi peralatan photography. Beratt.?? Ahh sekali lagi jika aku di timbang beserta isi keril ku, mungkin beratnya takan melebihi berat sekar dan beban hidupnya.. #maaf yaa sekar. (Peace)

Sebenarnya ini acara piknik kantor, acara ala kadarnya, sekedar numpang pindah tempat tidur. Katanya udah bosan tidur di rumah atau di kosan, pengen ngerasain tidur di tenda. Jadilah acara dadakan seperti ini, camping ceria di Pantai Greweng. Ada 11 orang yang berpartisipasi, semua anak kantoran penikmat jalan-jalan, kurang hiburan dan kurang piknik katanya.

Pantai Greweng berlokasi di sebelah selatan kota Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Salah satu pantai di ujung timur, setelah Pantai Wedi Ombo. Pasir putih, serta sungai mengalir yang seolah membelah pantai menjadi dua bagian adalah ciri khas dari Pantai Greweng. Gemuruh ombak keras dari laut selatan tak henti mencoba mengikis tebing terjal yang mengapit pantai di sisi kiri dan kanan. Tak ada musik berdentum, tak ada televisi dan acara-acara pembodohan nya, sebab Perusahaan Listrik Negara seperti nya enggan mengantarkan energinya ke tempat terpencil seperti ini. Tapi aku bersyukur akan keadaan yang demikian. Sebab perjalanan panjang ku, peluh dan ekspetasi ku tentang pantai yang sunyi terbayar sudah di Greweng,

4 tenda sudah berdiri menghadap ke arah alas perapian yang memang sudah disediakan pengelola agar sisa pembakaran tidak merusak pasir. Sementara yang lain sibuk bermain air menghabiskan waktu sore, aku dan beberapa teman harus naik lagi ke desa terdekat, kembali berjalan kaki melewati tebing, sawah dan kebun jati masyarakat sekitar, tujuannya adalah mengambil nasi dan kayu bakar di rumah teman ku yang berada di desa terdekat. Sebenarnya, di pantai ada penjual kayu bakar tapi aku lebih suka memanfaatkan teman ku, merepotkan teman itu adalah bagian dari silaturahmi. Hahaha.

Nasi dua bakul, satu ikat kayu bakar, es teh di suguhkan oleh Ella. Gadis mungil dan cantik itu adalah temanΒ  ku dari kantor yang lama, karena dulu kami dekat maka repot-merepotkan adalah hal yang biasa bagi kami. Jadi gak perlu jaim, jika harus berhadapan dengan gadis cantik pegawai kelurah ini. Hahaha

Perjalanan pulang ke pantai sangat singkat meskipun perginya ke rumah Ella sempat nyasar. Hahaha, tapi tetap lah β€œBeban” masih enggan pergi dari pundak ku. Sebab aku harus mikul kayu bakar dari parkiran ke pantai yang track nya seperti ku sebutkan diatas. Capek,? Pasttiii.. Tapi menikmati capek itu indah kawan, apa lagi capek mu itu untuk membahagiakan yang lain. Duhhhh rasanya seperti menikmati senja di bukit parang ndok, sambil menikmati coklat panas dan gorengan..

Pantai Greweng, Wonosari

Sementara itu di pantai, teman teman sedang menikmati gemuruh air laut, bermain bola, berlarian seolah mereka kembali ke masa kecil. Ku pandangi mereka dari kejauhan, seperti orang tua yang sedang menikmati anaknya bahagia. Kwkwkwkw. Aku sendiri kurang suka untuk bermain air di pantai, aku lebih senang menikmati pantai tanpa harus basah. Aku lebih memilih mengambil kamera dan mengabadikan kebahagiaan mereka di penghujung hari. Putih pasir pantai berubah keemasan memantulkan semburat jingga di langit. Sementara mentari terus terbenam di ufuk barat seperti tengelam di laut selatan. Bersama gelap yang menyongsong malam teman-teman menjauh dari tepian samudra bebersih diri lantas menikmati keadaan.

Kayu mulai di tumpuk dan api mulai dinyalakan, berkombinasilah kedua nya meciptakan kehangatan dan cahaya syahdu di malam gelap yang mendung dan sedikit bintang. Ayam yang sengaja sudah disiapkan untuk di bakar di api unggun pun di keluarkan dari wadahnya, ku potong beberapa bagian dan di panggang di atas bara api unggun. Ini lah aktifitas inti dari camping ceria di pantai malam ini, bakar ayam dan makan bersama. Di kota tentu sangat mudah menemukan warung makan yang menjual ayam bakar, tapi jika cuma sekedar membeli banyak orang yang bisa. Ayam bakar ataupun makanan sekedarnya hanyalah pelantara pengakrab silaturahmi, pantai pasir dan ombak adalah tempat dimana sekelompok manusia melepaskan pelana yang berada di pundaknya, melupakan cambuk dan dera keseharianya yg bagai kuda. Melupakan hidup yang jemu dan menikmati yang syahdu.

Baca juga : Camping di Pantai Jungwok

Makan bersama seperti ini mendadak bikin amnesia yang punya program diet, padahal hanya mie instan, ayam bakar dan nasi putih di tambah sambal balado yang bikin makan lebih berselera. Maunya makan terus, selama masih ada stok dan masih ada teman yang ngunyah pokoknya ikut makan. Sampai ayam hanya menyisakan tulang, dan nasi dalam bakul habis tertuang. Sekali lagi kami bersyukur atas teman yang mau di repotkan, terimakasih Ela, Ibu dan adiknya Ela yang sudah menyiapkan kayu bakar dan nasi nya buat kami. Allhamdulillah nasinya yang dikira kebanyakan, habis juga di sikat teman-teman yang kelaperan.

Malam terasa lama sekali berlalu, tak seperti di kota semua serba terburu-buru. Sementara kami yang biasa menghabiskan malam lebih cepat bingung harus berbuat apa, berkali kali sudah kartu di kocok ulang dan bergantian teman yang berjongkok, meskipun menyenangkan, tetap saja lama-lama membosankan, apa lagi kalah mulu.. kan sedih..

Ternyata awan cemburu pada kami yang sedang bermain kartu, hingga ia menurunkan bala tentara ratusan ribu rintik hujan menerjang di kombinasi dengan angin yang bertiup kencang memporak-porandakan tenda yang tak terpasak sempurna. Arena permainan segera bubar, para tentara sergap menyelamatkan markasnya dari amukan semesta. Tenda yang sudah terpasang harus dirubah posisi agar dapat terpasang flysheet guna menahan air agar tidak menyusup ke pori-pori kain tenda dan membasahi apa yang ada di dalamnya. Kecemburuan semesta yang sesaat berhasil membubarkan kemesraan kami dan menyelamatkan saya dari hukuman jongkok karena kalah main kartu. hahahahaha

Tak ada lagi yang bisa kami lakukan untuk menghabiskan malam. Tidur cepat bukan pilihan bijak, sebab jarang-jarang kami mendapatkan kesempatan seperti ini. Menikmati ranting-ranting yang berdetak, daun daun yang berbisik, gelombang yang bergemuruh serta bintang yang sesekali mengintip dibalik awan hitam. Aku rebahkan diri diatas pasir lembab, ku tatap awan gelap biar ku pergoki bintang yang sedang mengintip.Β  Teman-teman yang lain pun melakukan hal yang sama, handphone yang kita tak lagi pada fungsinya untuk komunikasi di jadikan alat pendendang musik-musik santai ala pantai. Eh musik galau dink.

Lirih-lirih suara teman-teman mengikuti irama lirik lagu yang di putar. Nyaris tak bisa ku lihat wujud mereka ada dimana, sebab semesta benar-benar gelap. Lama kami menikmati keadaan seperti itu, hingga akhirnya satu persatu dari kami tertidur, di atas pasir. Sementara itu pantai di sudut lain, beberapa kelompok orang camping baru saja tiba dan mendirikan tenda, selebihnya hanya laut yang berani berisik. Aku tertidur lelap, hingga akhirnya dingin memaksa ku pindah kedalam tenda di sepertiga malam.

Taukah kalian mentari terbit lebih pagi jika kita sedang liburan. Sama seperti yang kurasa saat itu, tak terasa sudah pagi, dan aku selalu parno sama pagi. Sebab pagi menandakan aku harus bangun lebih pagi, mandi dan berangkat menjadi kuli lagi. Piknik sudah usai, waktunya berkemas dari dunia imajinasi yang santai kayak di pantai, besok senin dan kita harus kembali ke dunia nyata.

Selamat berjumpa para penikmat senja yang sementara. Kesunyian akan selalu menanti kita yang kesepian dalam keramaian..

Share This:

One thought on “Senja di Pantai Greweng”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *