Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part VI

Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

 

Aku akan bercerita sedikit tentang sekelompok anak muda yang menamakan dirinya Semut Summit. Pakaianya khas berwarna merah hati dikombinasi abu-abu, kemeja lapangan lengan panjang yang lebih sering di gulung, bukan flanel yang seperti identitas pegiat alam. Bordiran bendera merah putih tersandang di lengan kanan atas mengingatkan bahwa bangganya mereka lahir di Indonesia, logo semut hitam yang sedang menatap tingginya gunung terpajang besar di bagian belakang, tagline nya “Bersama Menggapai Asa”. Aku lah yang menciptakan semut summit, sebagai identitas kelompok yang tadinya berlima sekarang hanya tinggal berdua. Sebab yang lain lebih dahulu memutuskan menanggalkan kemejanya menikmati hidup di bawah 3000mdpl. Sementara aku dan Eddy masih sesekali menyempatakan diri mengunjungi cantigi di tanah yang tinggi. Kami tak lebih dari dua ekor semut yang mencoba bersahabat dengan kura-kura.

Semut Summit dari kiri ke kanan, Eddy, Sofy, Nanda, Ira, Frans
Semut Summit dari kiri ke kanan, Eddy, Sofy, Nanda, Ira, Frans

Bertemu teman baru di pendakian adalah hal biasa, bahkan tak jarang sebagian dari mereka menemukan jodohnya di gunung. Begitu lah pertemuan Semut Summit dan Palanus yang menyimbolkan diri mereka berupa kura-kura. Tak sengaja di suatu pagi di Puncak Sindoro, sehabis badai, ketika mentari mulai menggeliat naik memanaskan arena pendakian, gerombolan kura-kura ini naik. Mengucap sukur menginjakan kaki di Puncak Sindoro, sementara aku, eddy dan nanda sedari pagi sudah naik turun bersembunyi dari angin dan embun yang dingin. Riuh mereka memutar kembali memori ku jauh masa silam, memutar kenangan-kenangan bersama sekelompok semut yang menggapai puncak. Heboh, norak, aneh begitulah yang mereka lalukan hari itu di Puncak Sindoro.

Ku tawarkan bekal roti ku pada mereka, seketika roti habis tak tersisa selain bungkusnya berwarna merah bersama remukannya. Sungguh perbuatan terpuji, tidak menyia2kan rezeki. -____-!! Sejak saat itu, kami turun bersama ke pos 4 di jalur pendakian sindoro, salah satu area terlarang buat area camp karena berada di area terbuka. Tapi ahh, sekali lagi mereka mengingatkan ku sewaktu dengan santainya bikin tenda di pertinggan Puncak Syarif, Gunung Merbabu “Punya nyawa berapa kalian ngecamp di sini?” begitu kata pendaki yang menemui kami.

Dari kiri ke kanan, Arif, Dika, Asep, Sri, Syura, Poppy, Faiz, Oji, Cahyo
Dari kiri ke kanan, Arif, Dika, Asep, Sri, Syura, Poppy, Faiz, Oji, Cahyo

Palanus sendiri adalah mahasiswa Universitas Nusa Bangsa, Bogor, yang bertemu karena hobi yang sama. Entah bagaimana ceritanya bisa bersama, mungkin ketika sedang duduk di kantin, salah satu dari anggota wanita menjatuhkan bukunya, dan beberapa orang pria bergegas membantu si gadis cantik bak Sinderella. Lalu kemudian bertukar cerita, dan jadilah cerita romansa.. Ehh bukan begitu, lebih baik tanyakan saja pada mereka. Yang pasti mereka adalah orang-orang tenaga kontrak yang tak terikat, siapa saja yg ingin naik, hayuukk naik, kemana, kapan itu urusan nanti yang penting cuti.

Sindoro, Sumbing, Arjuno, Merbabu, sudah kami daki bersama, hingga aku tau betul mengapa logo mereka kura-kura. Bagi ku sendiri mendaki bukan sebuah lomba, bahkan kura-kura pun bisa mendaki, tapi jangan minta mereka cepat, tapi ku yakin persentase keselamatan kura-kura lebih tinggi dari pada keselamatan kuda jika harus mendaki.. toh semua orang punya karakter berbeda, tak perlu di paksa sama, yang penting bisa diajak kerjasama.

Kali ini Semut dan Kura-kura bertemu kembali, berkolaborasi lagi setelah terakhir melewati belantara Argoupuro nan panjang. Ini pendakian pelajaran bagi Semut dan Kura-kura, karena tanggung jawab mereka lebih dari sekedar keselamatan mereka sendiri, tapi juga sahabat-sahabat mereka yang baru pertama ikut kolaborasi gila ini.

Di bawah langit di atas bumi semua manusia punya hak yang sama atas alam yang indah. Tak ada larangan bagi siapapun turut serta mendaki gunung dan mencintai negeri ini melalui keindahanya. Persahabatan pun bukan tentang bendera yang sama, suku yang sama, agama yang sama, tapi persahabatan pencinta alam diikat oleh rasa yang sama, rasa cinta pada negeri ini, pada semesta dan rasa cinta pada Pencipta Semesta.

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

5 thoughts on “Semut feat Kura-kura”

  1. Pingback: Air – @Za_prans

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *