Ketika kau datang aku sedang duduk sendiri.

Menikmati kesendirian ku tanpa apa -apa tanpa siapa-siapa,

Hanya aku, sendiri.

Tanpa keramaian, tanpa kesakitan, mungkin tanpa perasaan.

Germuruh lautan silih berganti berkumandang,

Camar-camar terbang silih berganti menghias langit berteman angin,

Tapi karang tetap lah diam

Menyembunyikan rasa, mungkin ia kesepian.

Andai saja kau tau bagaimana rupa ku,

Bagaimana rasaku, mungkin langit akan menangis dan rintik hujan kan menghibur ku.

Gejolak rasa menggebu bagai angin yg meniupkan butiran embun ke tepian.

Riak ombak ramai, seolah pertanda kebebasan,.

JauhΒ  di dalam sana ada sisi gelap yg tak terjamah cahaya.

Menyimpan puing-puing sisa permukaan yg tenggelam,

Sisa sisa perasaan yg terbawa gelombang berharap di lupakan.

Jauh di dalam sana, ada suara yg ingin di dengar,

Dari balik kegelapan Samudra.

Suara yg tak pernah tersampaikan ke permukaan,

Sebab karang angkuh tak pernah bergeming, meski ribuan kali diteriyaki sang ombak.

Aku duduk sendiri berteman sepi,

Menikmati bisik bisik angin dari Samudra luas,

Menyamakan rasa antara jiwa dan Samudra,

Ketika kau datang sebenarnya aku tak sedang diam,

Hati ku bergemuruh bak ombak, meski raga ku diam.

Aku tak ingin berteriak kepada mu, seperti ombak meneriaki karang.

biar rasa ini tetap sunyi, bersembunyi di dalam lautan.

Di lubuk hati paling dalam, tempat segala rahasia tersimpan rapi nan sepi.

 

 

_ Suatu hari di Pantai Jungwok, Yogyakarta. _

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *