Cerita Pendakian Gungun Arjuno, Part XVII

Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

 

Gemuruh guntur bersaut-sautan dilangit, awan hitam penanda hujan begerombol menuntup Puncak Arjuno. Sementara angin berhembus kencang menerbangkan dedaunan kering yg tak kuat lagi bertahan pada ranting. Kami terus mempercepat langkah menuju basecamp, berharap masih cukup waktu untuk membatalkan tiket kereta untuk pulang.

“Mana basecampnya Edd?” Tanya ku pada Eddy.

“Gak tau,, coba tanya ke orang ” kata Eddy.

Nanda bergerak lebih cepat ke arah pos satpam, menanyakan letak basecamp..

“Pak, arah basecamp kemana yaa?” Tanya Nanda ke satpam penjaga Perkebunan Teh.

“Ouhhh sama masnya yg tadi yaah, nanti belok kanan sekitar 300an meter.” Kata Bapak Satpam penjaga kebun teh.

“Terimakasih pak” jawab kami serentah sembari melangkah meninggalkan perkebunan teh yg luas.

“PT. PERKEBUNAN NUSANTRA XII” wajar ajaa kalau perkebunan ini sangat luas, PT. PERKEBUNAN NUSANTARA adalah sebuah perusahan BUMN. Andai ajaa kami punya waktu lebih lamaa, mungkin akan ku buka kompor dan mencoba membuat teh dari pucuk daun teh pilihan, langsung di kebun teh.. hahahhaa

“300 Meter orang sini biasanya 3KM buat kita brooo” Ucap ku kepada Eddy dan Nanda.

“hahahaha iyaa, kayak di Argo, 2 KM ternyata 6 jam perjalanan” Kata Nanda.

Nanda lagii sok eksis di kebun teh. Foto : Frans
Nanda lagii sok eksis di kebun teh. Foto : Frans

Kami berjalanan mengikuti jalan aspal yg berliku dan menurun. Rumah-rumah yg berada di kiri dan kanan jalan kami perhatian satu persatu mencari petunjuk Basecamp. Setelah 15 menit berjalan barulah kami sampai di basecamp yg berada di sebalah kanan jalan. Basecamp Pendakian Gunung Arjuno Via Lawang, berupa bangunan permanen dua lantai. Lantai dasar berupa ruangan seperti garasi dengan pagar besarnya, serta ada ruangan petugas berukuran kecil. Lantai dua berupa bangunan yg lebih menyerupai kamar-kamar kos, mungkin itu penginapan.

Dika, Syura, Oji sampai lebih dahulu ke basecamp, mereka sedang beristirahat sembari menikmati gorengan hangat. Aku, Eddy dan Nanda yg baru saja tiba langsung menurunkan keril dan menyandarkanya ke dinding. Gorengan hangat kami comot dari dalam kresek dan menikmatinya. Bergegas aku mencari handphone, berharap mendapatkan jaringan internet.

Aku keluar dari basecamp karena di dalam sulit sekali mendapatkan signal yg stabil. Kadang aku mengutuki jaringan telekomunikasi di negeri ini yg sulit sekali masuk ke desa-desa. Tapi percuma mengutuki nya, sama aja aku mengutuki kerjaan ku sendiri.. hihihi. Alhasil aku harus lebih bersabar dengan keterbatasan jaringan, masih ada 15 menit untuk membatalkan tiket kereta api.

Tak ada satupun orangpun di basecamp lawang, tak ada penjaga nya hanya ada kelompok ku. Aku berdiri di pos ronda di samping basecamp, rintik-rintik hujan mulai turun membasahi aspal yg hitam memudar. Berkali-kali aku mencoba mengakses website PT.KAI namun gagal loading. Selain itu ku coba mencari tukang ojek, namun tak ada orang bisa ku tanya, entah mengapa kampung ini sepi seperti tak berpenghuni.

Setelah beberapa kali aku mencoba browsing dengan menggunakan tetringan dari handphone sofi dan ira, baru lah aku dan teman-teman harus menerima kenyataan. Kami kembali harus merelakan tiket kereta hangus tanpa bisa di batalkan. Peraturan pembatalan tiket kereta api salah satunya adalah harus ke Stasiun perwakilan Derah Operasi nya, untuk Malang berada di Stasiun Malang. Sementara jarak dari basecamp ke St. Malang itu sekitar 2 jam perjalanan. Tiket kereta tidak bisa di batalkan melalui sistem online, karena butuh fotocopy ktp dan mengisi form pembatalan, untuk return uang tiket. Ribet banget deh.. ya sudahlah, tidak keburu juga jika kami harus mengejar pembatalan tiket ke statiun malang. Sebab sekarang sudah pukul 01.05 sementara kereta kami dari surabaya berangkat pukul 01.30. Jadi apa boleh buat, lebih baik di ihklaskan. Sama seperti kejadian di Argopuro tempo lalu.

Ya sudah,.. Fix, kami batal Pulang dengan kereta. Tapi kami bisa pulang dengan bis, untuk itu kami harus kembali ke terminal Arjosari Malang, mencari bis tujuan Jogja. Aku berpikir bagaimana cara menyelamatkan tim bogor agar tidak sampai ketinggalan kereta. Direncakan mereka akan berangkat dari St. Malang dengan kereta Mataremaja pukul 17.00, berarti masih ada waktu sekitar 3,5 jam lagi untuk sampai di sana. Sementara rombongan Arif, Sri, Popy, dan Faiz belum juga sampai di basecamp.

Penjual perabot rumah tangga berhenti tepat beberapa meter dari pos ronda tempat ku berdiam diri. Beberapa orang ibu-ibu keluar dari rumah mendekat ke arah penjual perabot yg sedang memarkirkan sepeda motornya. Seorang pria kira-kira berumur 30an berjalan dari sebuah rumah di samping basecamp ke arah penjual perabot. Aku bertanya kepada lelaki itu yg sedang mengisap sebatang rokok, sembari memaikan handphonenya.

“Mas, mau tanya… Disini ada kendaraan yg bisa nganter sampe ke Malang gak ya?” Aku bertanya kepada bapak tersebut.

“mas nya baru turun?” Bapak tersebut balik bertanya pada ku.

“Iya mas, kami naik dari Tretes ini baru turun..” Aku menjawab

“Sudah lapor sama basecamp tretes?”

“sudah, tadi saya sudah sms ke basecamp tretes kalau sudah turun di basecamp lawang.” Jawab ku menjelaskan.

“Ohh.. berapa orang?” Bapak itu kembali bertanya, seperti mengintrogasi ku.

“ada 14 orang, beberapa  masih di perjalanan turun, baru sampai kebun teh.”

“Biasanya sih pendaki pada nyarter kendaraan mas, kalau mau ke Malang. Kalu masnya mau nanti saya hub yg punya mobil.” Ujar bapak itu.

“Iya pak, gpp. Bisa tolong hub.. Kira-kira berapa yaa pak ongkosnya?” jawab ku.

“nanti coba saya hub dulu, mas nya nego sendiri ajaa nanti biar enak.” Kata bapak itu..

“Okee pak, terimakasih… ”

Bapak itu pun kembali ke kerumanan ibu-ibu yg sedang memilih-milih perabot rumah tangga. Tak begitu lama menunggu datanglah seorang pria lainya dengan mengendarai sepeda motor.

“ini mas sopir mobilnyaa.. nego aja..” Ucap Pria yg pertama.

“iya mas, begini kami mau ke Malang, ke Arjosari baru ke St. Malang. Karena sebagian naik bis ke Jogja, sebagian lagi naik kereta.” aku bercerita kepada sopir mobinya.

“Keretanya jam berapa mas?” Kata bapak itu balik tanya.

“Jam 5 sore.”

“emm.. Bisa mas.. ” Kata si bapak.

“Ongkosnya berapa yaa mas?”

“terserah masnya ajaa berapa?” Jawab si bapak sopir.

“waaa,, gak gitu lah mas. kami gak tau tarif nya, gak enak kalau kemurahan kan bapaknya nyari duit.” kata ku.

“450 gimana mas.?” kata bapak itu.

“emm.. gak bisa kurang pak, 350 lah yaa.” aku menawar.

“ya sudah 400 ajaa, pass biar sama-sama enak.” Kata bapak itu lagi.. ini seperti tawar-menawar yg basa-basi..

Aku bertanya kepada perwakilan teman-teman dari Bogor.

“ya sudah mas, gpp” kata Dhika.

“ya sudah mas, 400.. Tapi nanti mampir ke Arjosari dulu ya” ucapku deal

“Siap mas, berangkat sekarang ya saya ambil mobil dulu.” Kata pak sopir.

Awan semakin kelabu, hujan yg semula  rintik-rintik kecil kini sudah semakin membesar dan lebih sering. Jalan aspal dan rerumputan resmi sudah basah oleh rahmat Sang Kuasa. Aku mulai mengkhawatir kan tim terakhir yg belum terlihat berjalan mendekat ke arah basecamp.

“mas, itu Faiz naik ojek turun…. ” kata Sofi

“manaa?” Aku kaget dan bertanya pada Sofi.

“Lah tadi, ku kira mas Frans tau. Faiz da da kok tadi. ” Sofi menjelaskan kepada ku.

“Coba hub Faiz, kemana dia.” Aku meminta Sofi menghubungi faiz.

“Ini mas, Faiz nyari angkot dan ke St. Malang, naik ojek.” Kata Sofi.

Nah lhoooo,.. Seketika Emosi ku mendekat ke ubun-ubun, ingin rasanya ku lampiaskan amarah ku. Betapa kecewanya aku saat itu, bukan tentang personal tapi lebih pada ketidakpekaan teman-teman untuk mau berdiskusi dan berkomunikasi. Aku dan yg lain sudah menunggu di basecamp yg ku rasa mereka punya kemampuan untuk sampai ke tempat ini. Lantas setidaknya bertanya dulu, “bagaimana selanjutnya?” bukan mengambil keputusan sendiri seperti ini dari belakang. Bergerak sendiri inisiatif sendiri. Aku tidak menyalahkan mereka berinisiatif, tapi setidaknya di komunikasikan.

“yang lain mana?” Aku bertanya pada orang-orang yg ad di basecamp.

“pada di warung atas kayak nya mas.”

“haisss.. gak niat pulang apa, sudah di kasi tau kumpul di basecamp malah nongkrong di warung.” Ujar ku kesal.

Aku tak ingin amarah ku berimbas pada mereka yg tak salah. Ku putuskan untuk berjalan naik ke arah warung di dekat gerbang perkebunan teh. Dibawah rintik hujan aku mencoba menenangkan hati yg sudah bergemuruh, mendinginkan kepala yg sudah mengebul pengen pecah.

“Faiz kemana,?” aku bertanya kepada Popy dan Syura yg sedang duduk di warung menikmati gorengan.

“Pergi mas, ke Statiun, sambil cari mobil kayaknya, tadi arif yg nyuruh” Kata Popy.

“Coba hub Faiz,!” Ujar ku ketus kepada Popy, yg terdiam pucat menatap ku.

Dari kejauhan aku melihat Arif sedang mendampingi Sri turun mendekat ke arah warung. Melihat Sri yg sudah hampir tak berdaya, dan Arif yg sejak awal berjuang mendampingi  Sri ada perasaan tak tega jika harus berdebat pada nya. Tapi apa boleh buat, sampaikan kebenaran itu walaupun menyakitkan.

“Faiz kemana Rif?” tanya ku pada Arif yg baru saja menghentikan langkahnya di warung. Sementara Sri berdiri meneduh di teras warung dengan wajah yg kelu.

“Faiz ke bawah cari angkot, sekalian ke stasiun nyetak tiket takut gak keburu. ” Jawab Arif.

“Kenapa gak ngomong sama temen-teman di bawah. Sudah ku bilang ngumpul di basecamp, kalian malah di sini, gimana mau tau informasi.  Kami di bawah sejak tadi sudah nungguin kaliaan. Sudah di beliin gorengan banyak sama Nanda.  Mobil sudah siap dari tadi untuk nganter ke Malang, perjalanan dari sini ke Malang paling enggak dua jam kalau gak macet..Sekarang yg di bawah lagi repacking, misahin barang-barang yg mau di bawa ke bogor dan ke jogja.. Jangan kira aku gak mikirin kalian yaa, tim Jogja sudah gak bisa batalin tiket kereta, dan sekarang kami mencoba menyelamatkan tim kalian biar gak senasib sama kami. Tapi kalian kayaknya gak paham. Sekarang kalau mau pulang, turun. Mobil sudah nunggu. ” Kata ku pada Arif, dan rekan rekan yg berada di warung, Sri, Popy, Oji, dan Syura.

Selepas mengeluarkan unek-unek ku pada mereka yg di warung, aku balik badan meninggalkan mereka. Menelusuri  jalan aspal yg basah sambil berhujan-hujanan. Kali ini aku ingin bertidak tak perduli pada mereka, tak perduli pada teh panas yg belum sempat di sruput oleh Syura, tak perduli pada Arif yg lelah sehabis menyusul Sri meskipun dengan meminjam motor penduduk, tak perduli pada hati Sri yg bergemuruh merasa bersalah pada kami, yg aku ingin lakukan adalah bertidak acuh pada semua. Aku marah,? Yaa aku marah, tapi aku marah karena aku perduli sama kalian. I will always do the best for you, if you are trust me..

Sesampainya di basecamp Sri menangis tersedu di dampingi Popy dan Syura. Sementara yg lain sibuk berbenah mempersiapkan keril agar dapat di angkut  ke mobil.

“Hey, kenapa??” tanya ku lembut pada Sri yg mewek tesedu..

Sri hanya menggelengkan kepala nya..

“Minum dulu, nih ada gorengan, makannn..” Aku menawarkan minum dan gorengan pada Sri, yg masih tersedu sedu tapi sudah bisa senyum karena di ledekin temen-temen.

Aku bangkit, menyelesaikan pekerjaan ku. Beberapa keril yg sudah siap, segera di pindahkan ke dalam mobil kapsul, pak sopir menata keril seukuran anak umur 6 tahun itu di dalam mobil. Setelah semua barang tertata, satu persatu dari kami masuk ke dalam mobil yg akan mengantarkan kami ke Malang. Perlahan mobil membawa kami meninggalkan Basecamp lawang di bawah rinai hujan.

Ku tatap jalanan di luar sana dari jendela mobil yg sengaja ku buka sebagai vantilasi udara. Gunung Arjuno yg sore itu terlihat berselimut kabut tebal, seakan mengucapkan selamat tinggal pada kami. Mobil terus menderu melewati jalanan yg berliku, sementara hujan masih setia menemai perjalanan yg sendu.

Ku sesapi dalam-dalam udara pegunungan Arjuno Welirang yg ku tinggalkan. Bersama linangan air yg mengalir dari awan hitam ku sampaikan salam perpisahan pada kenangan, pada tanah basah, ilalang liar, Edelweiss, cemara dan cantigi gunung. Perjalanan kami telah usai, cukup sudah bagi diri ini menimba pengalaman sejak pertama kali menginjakan kaki hingga melangkah pergi. Andai kami punya waktu lebih lama, ingin kami untai kisah yg indah. Tapi kami hanyalah manusia yg hanya bisa berencana. Semesta selalu punya jalan ceritanya sendiri, seperti angin yg tak pernah dapat kita tebak kemana ia akan berhembus.Terimakasih semesta, terimakasih Arjuno Welirang untuk semua pelajaran yg amat berharga kali ini. Sampai ketemu kembali.

Aku palingkan wajah ku ke arah teman-teman yg berada di samping dan di belakang ku, wajah mereka tak bisa menyembunyikan lelah hingga mereka tertidur di tempatnya masing – masing. Terimakasih teman, telah menjadi bagian dari sebuah pengalaman yg tak terlupakan. Sejarah itu pasti dan tak boleh hilang, kalian adalah bagian dari sejarah seorang anak manusia seperti ku. Dari mu aku belajar banyak hal, dari kalian aku memahami arti pertemanan.  Maaf untuk semua salah ku yg menyusahkan kalian, yg masih kekanak-kanan dalam memimpin kalian. Terimakasih sudah menjadi bagian dari cerita indah di hidup ku ini. Semoga semesta berkanan mempertemukan kita lagi, untuk belajar sesuatu yg lain.

 

Salam Hormat dari ku.

Yogyakarta, 15 Februari 2017

 

ttd

Tirta Hardi Pranata.

 

Cerita Lengkapnya. :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

4 thoughts on “Pulang”

  1. Pingback: Air – @Za_prans

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *