Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part I

Draft must Be Print and We have to go

 

Setelah turun dari hargo dumilah, belum terpikir lagi untuk melangkahkan kaki di ketinggian. Semua kembali datar, menjalani rutinitas seperti biasa, bangun, kerja, makan, tidur, bangun, kerja, makan, tidur, dan berulang kembali berhari-hari, bermingu minggu, seperti roda delman yang berputar di aspal panas yang membosankan.

Seperti biasa, senin – jumat aku selalu datang telat ke kantor, kalau ada agenda penting baru tepat waktu. Karena waktu itu teramat berharga, sayang ajaah kalau pagi-pagi sampe kantor, Cuma ngopi terus ngobrol, gak produktif. #alibi… hahaha Rutinitas kerja selalu saja sibuk mengemas frekuensi jaringan 5Ghz yang semakin sulit bertarung di udara.

Air, udara, tanah dan semesta itu milik Tuhan, diberikan gratis, gak pake dp, tapi di tangan manusia, semua tak lagi gratis. Pipis pun musti bayar..apa lagi frekuensi, yang seolah mereka yang punya. Puyeng lama-lama ngotak ngatik, frekuensi, ambil alat yang lebih canggih aja dari gudang, toh ini era siapa kuat dia menang, bukan siapa sabar di sayang pacar..

Rencana naik ke Arjuno Welirang, masih anget anget tai ayam. Bau,.!! >_<  (jadi inget si Ira yang megang tai hewan liar di Arjuno) hahahaha #nantidituliskronologinya.  Kembali ke cerita semula, Palanus udah pesan tiket kereta #katanya. Tapi tentang, gimana, gimana nya masih seperti kacamata kuda kena embun, gak jelas, ngawang, dan entah mau di bawa kemana nanti pendaki-pendakinya.

Lagi fokus baca draf pendakian Arjuno Welirang dibuat, tiba tiba si Bos nyeletuk  “Kamu mau naik,?” -____-!! “iya pak” berharap gak dikasi agenda keluar kota pas H.

“kapan?”

“Awal desember pak, nanti saya cuti, boleh?”

“iya” jawab Pak Menager, lalu kemudian berkibarlah bendera kebebasan di puncak tower tertinggi, bertuliskan “ARJUNOOO, I am Coming, ye ye yee.. lalalalalal…” mendadak lupa sama kerjaan, malah pokus bikin rencana pendakian. Ini penting, penting bgt… Kenapa.? Nah ini jawabanya

Mendaki bukan sekedar berani atau tidak, kuat atau tidak, pengalaman atau engak. Mendaki gunung lebih dari sekedar berjalan naik melewati jalan setapak, dan pohon cemara, seperti lagu anak-anak tahun 90an. Ada beberapa tahapan yang memang harus di persiapkan, Planing,  Riset, Hike Planing, Hiking.

Logistik Pendakian ke Gunung Arjuno. Foto : Frans
Logistik Pendakian ke Gunung Arjuno. Foto : Frans

#ribet yaahh? Gak ribet sih sebenarnya, kalau ada yang tanya sama saya kok musti begitu amat aturan di Semut Summit,? Saya cuma bisa jawab “saya hanya tidak mau mati konyol, dengan mengabaikan standart pendakian, bagi saya safety first, lebih baik komplit dari pada kekurangan di gunung.” Gitu.

Planing adalah tahapan awal berisikan, tempat, waktu, crew. Misalnya, pendakian ke Gunung Arjuno kali ini, pada tahap planing, tim harus menentukan kapan waktu pendakian, berapa lama pendakian, dan berapa minimal dan maksimal anggota yang akan ikut. Hal ini akan berkaitan dengan berapa banyak jumlah tenda, logistik, dan peralatan lainya yang harus di persiapkan.

Kemudian tahap selanjutnya adalah Riset, riset sendiri sangat di perlukan untuk mengetahui kondisi wilayah, jalur pendakian, serta keadaaan gunung yang akan di daki. Riset sangat menentukan kesiapan tim baik dari segi logistik dan timing, pada tahap ini pendaki di tuntut harus mengetahui moda transportasi yang dapat di gunakan untuk sampai ke basecampe, ataupun pun untuk turun dari basecamp, termasuk transportasi alternatif. Selain itu pendaki juga harus mengetahui lebih detail mengenai jalur pendakian, letak pos, letak sumber air, karakteristik jalur pendakian, jarak antar pos, serta lokasi camp area.

Jika semua telah di dapat maka pendaki bisa melanjutkan ke tahap hikeplan, di sini lah rencana awal dan data yang di kumpulkan diolah agar pendakian bisa dikondisikan sesuai dengan rencana. Pada tahap hikeplan, pendaki mulai menyusun skema perjalanan, dimulai dari tampat asal hingga sampai basecampe, lalu menentukan timing pendakian, menentukan lokasi camp, menentukan waktu sumit, dan menentukan waktu turun, sampai waktu pulang. Selain itu pendaki juga dapat menyesuaikan logistik yang akan di bawa, terutama air, jika terdapat sumber air pendaki bisa mengisi persediaan air, jika tidak maka sangat di perlukan management air yang bagus.

Ketiga hal tersebut lah yang selalu di pelajari, di cari solusinya, diperhitungkan berdasarkan kalkulator pengalaman, semakin sering mendaki maka akan semakin paham bagaimana mengatur waktu, kapan harus jalan, kapan harus istirahat, kapan harus ngemil dan kapan harus minum, kapan nikah.??? Ndaki mulu… -______-!! #abaikanpertanyaan terakhir

Untuk pendakian Arjuno Welirang desember mendatang, cukup pusing aku dibuatnya, makan tak nyenyak, tidur tak kenyang, #kebalik yah?, kan lagi pusing. Soalnya aku tidak sedang menyiapkan pendakian 2-4 orang, tapi 15 orang, dan ada kemungkinan nambah,? Modaarrrr.. Aku seperti menyalahi SOP yang kubuat sendiri, aku dan semut sumit punya aturan, dimana pendakian paling banyak itu adalah 7 orang yang dibagi dalam dua tim, dan paling sedikit itu adalah 2 orang. Tapi ini 15 orang, sebenarnya yang banyak itu Tim Palanus, 11 orang. Semut Sumit hanya 5 orang, yang mau nambah lagi mohon maaf dengan sangat, tiket sold out.

Draf planing yang sudah di buat pun, hanya berisi aturan demikian, dan parahnya aku harus kembali memikirkan ulang, mendaur ulang kemungkinan dan solusi-solusi, mengantisipasi kejadian dari A – Z. Sebab kabar yang terdengar, 11 orang tim palanus, ada beberapa yang belum pernah mendaki, yang berpengalaman pun hanya beberapa. Arif, Sri, Eca, yang direncakan ikut serta sudah pernah ikut bareng aku dan Semut Sumit mendaki Argopuro 7 hari, jadi setidaknya mereka paham bagaimana aturan main di Semut Sumit untuk pendakian long days. Serta aku paham betul bagaimana kondisi fisik, dan ritme mereka mendaki. Pokok e, selowww tenan..

Eddy, menghilang entah kemana. di BBM gak di baca, di Whatsapp pending, di telpon mailbox. Alhasil, ngubungi si Vi**n kali aja di bisa atau punya kontak Eddy yg baru, ternyata bener Eddy ganti nomor, ku kira di telan kura-kura tuh anak. Setelah dapat kontak Eddy yg baru, baru salah menanyakan kesiapanya untuk ndaki ke Arjuno Welirang. Ku ceritakan semua kondisi dan jumlah pendaki yang ikut serta. Kalau Eddy siap, aku siap, kalau dia enggak aku juga enggak. #kokgitu.? Yaa iyalah, namanya juga Soulmate, naik bareng turun bareng, kalau keren sendiri mah gak seru. Hahahaha #sokyess

“Gimana? Siap,? ” Tanya ku..

“Siap, ayoo” jawab Eddy singkat dan sangat menyakitkan, sudah ngetik panjang-panjang nyarinya susah2, di tanya jawabanya singkat bgt.

“Oke, kita prepare. Dua minggu lagi kita meeting bikin hikeplan sama tim yang lain.”

“Oke”

Tuh dijawab gitu doank.. -_____-!!

 

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

4 thoughts on “Planing”

  1. Pingback: Air – @Za_prans

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *