Museum Manusia Purba Sangiran

The Homeland of Javaman

 

Beranda yg menghadap ke arah hamparan hijau rerumputan dan pepohonan adalah tempat favorit ku menikmati jeda. Entah mengapa dari tempat ini aku selalu menikmati kedekatan ku pada semesta, pada angin, pada air, pada udara dan pada kalian.

“Pah, week end besok kita gak camping lagi?” tanya Arga kepada diri ku. Anak kecil satu ini emang tidak bisa berdiam diri, mengingatkan ku ada doa-doa yg sering ku panjatkan dulu pada Sang Pencipta.

“emm kayaknya enggak deh, cuacanya lagi gak mendukung.” Jawab ku sambil membaca buku di beranda rumah, menikmati rintik air dari langit sembari menikmati secangkir teh hangat tanpa gula karena sudah manis berkat racikan mamahnya Arga yg manis. eh..

“Gimana kalau kita ke museum.?” Tiba tiba bidadari berparas manis yg keluar dari dapur memberikan usul, rupanya mamah Arga baru saja membuatkan kami bakwan jagung. Pantes aja dari tadi aku dicuekin, dibiarin meratapi air sendiri.

“haa ide bagus itu… gimana,? Arga mau.?” Jawab ku sambal mencomot bakwan panas dari atas piring..

huah huah huaah.. panasss..

“makanyaa kalau makan itu bismillah dulu, pelan pelan, baru juga turun dari panci udah di comot ajaa.. ” ucap bidadari ku rada sinis, sementara Arga tertawa cekikikan.

“Ke museum Kereta Api sudah, Ke Museum Pesawat terbang juga sudah. Ke mana lagi mah?” Jawab Arga.

“Kita ke museum Manusia Purba aja, kan keren tuh ngelihat manusia jaman dulu..” Mamahnya Arga kembali menjadi navigasi liburan kami kali ini.

“Berangkaatttt…!!!!!” Jawab aku dan arga serentak, sembari mengepalkan tangan dan mengangkatnya ke atas.

Candaan dan diskusi sore itu semakin meriah. Semantara hujan menghadirkan nuansa sendu pada semesta, air yg turun membasi rerumputan hijau di perkarangan rumah sederhana. Pohon mangga yg tak berbuah menari nari mengikuti tiupan angin lembut. Sementara gemercik air, gesekan daun dan ranting mengalunkan nada paling syahdu di alam semesta. Tak terasa semesta menunjukan kodrat rotasinya, menghadirkan gelap untuk segenap makhluknya beristirhat.

…………….

Mentari baru saja menguapkan embun sisa dingin tadi malam. Sementara sinarnya menerobos celah celah ventilasi dan menembus kaca jendela. Kami bergegas meninggalkan rumah mewah yg di batasi dengan irigasi persawahan. Rumah mewah bagi kami adalah rumah yg setiap pagi akan selalu tercium bau tanah basah, bau rumput hijau dan gemicik air dari irigasi persawahan. Rumah yg ketika kami membuka jendela, kami dapat melihat warna hijau dari hamparan bibit padi yg baru di tanam, burung-burung terbang sambil bercuii cuit menyanyikan kebebasanya.

Konstruksi Jembatan di Museum Manusia Purba Sangiran
Konstruksi Jembatan di Museum Manusia Purba Sangiran

Museum Purbakala Sangiran

1 Jam 30 Menit perjalanan dari Yogyakarta untuk dapat tiba di Museum yg telah menjadi salah satu warisan budaya dan diakui oleh UNESCO ini. Terletak di Desa Kalijambe, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Sangiran merupakan salah satu museum arkeologi, di dalamnya kita akan mendapatkan informasi mengenai pola kehidupan manusia purbakala.

“Woaaa Keren, ada Tulang dinosaurusnya.” Ucap Arga ketika memasuki gerbang Museum Purbakala Sangiran.

“Selamat Pagi Pak, berapa orang.?” Tanya petugas tiket di pintu masuk.

“3 orang mbak..” Jawab ku.

“Semua 20 Ribu. ” Petugas tersebut menyerahkan tiket masuk untuk 3 orang, dan satu tiket parkir untuk kendaraan roda empat.

“Terimakasih mbak.” Ucapku sambal melanju ke tempat parkir.

“Tuh kan Ga, kalau jalan jalanya ke tempat begini itu lebih murah, dapat ilmu, dari pada kamu ke main di timezone atau ke mall, 20 ribu Cuma dapat popcorn kecil sama satu fanta doank.. tekor papah cari uang. hahaha”

Aku memang selalu mengajak Arga untuk berlibur ketempat yg memang memberikanya nilai kehidupan. Museum, Alam, Hutan, Gunung, Sungai, Goa, ataupun ketempat yg memang akan menambah wawasan pengetahuanya. Sesekali pernah ku ajak Arga berlibur seperti anak kota, bermain di Timezone, ataupun nonton. Tapi Arga sendiri yg merasa bosan. Katanya, permainan yg udah disetting sama yg bikin itu membosankan pah, kita gak bebas mengatur apa yg kita mau. Begitu katanya, siapa yg ngajarin, tuh anak ngomong begitu? Ohh pasti papahnya. hahaha

Baca juga : River Tubing, Kali Pring Kuning, Karanganyar

Aku memarkirkan mobil berwarna hitam yg kami gunakan di bawah pohon beringin besar. Untung lah ini masih pagi, masih sepi pengunjung hingga kami masih dengan mudah mencari tempat untuk mengistirahakan si badak besi ini.

Tubuh manusia purba berdiri mematung di halaman parkir. Replika manusia purba yg entah dari mana para ilmuan itu dapat mengimajinasikan bahwa manusia purba begitu wujudnya.

“Pah, emang manusia purba itu tinggi tinggi yah. Kayak raksasa gitu.” Tanya si Arga.

“Yaa papah gak tau, coba aja tanya sama cucunya.. kali aja cucu nya tau..”

“Emang siapa cucunya pah?”

“tuh… ” aku melirikan mata kea rah mamahnya Arga, dannn….

Aduhhhh… mendaratlah cubitan kepiting betina di pinggang ku..

“sakit tau’ mah” aku meringis mengelus ngelus pinggang.

“lagian ngajarin anaknya gak bener… rasaiin.. ” cetus bidadari ku dengan muka sinisnya, aahh kamu cakep deh kalau lagi marah gitu. Chchchchc

“Arga, jangan dengerin papa mu yah, dan jangan mau kalau di kasi tau yg aneh2..”

Aku dan arga tertawa bego, melihat satu-satunya wanita yg kami kagumi ngomel ngomel sendiri. Wanita yg tegas, dan kadang juga cadas, perhatianya seperti mentari dan rembulan. Menerangi ketika kami membutuhkan cahaya, menenangkan ketika kami butuh pelukan.

Ukuran manusia purba itu lebih besar dari manusia jaman sekarang. Semakin lama manusia itu semakin kecil Ga. Kamu pernah papah ceritain kan tentang Nabi Adam. Nah Nabi Adam itu tingginya 27 meter lebih, itu setara dengan gedung lima lantai.

“ouh begitu yaa pah.” Kata Arga.

Teori Evolusi Manusia
Teori Evolusi Manusia

Memasuki Museum Purabakala Sangiran tak ubahnya memasuki Lorong-lorong masa lalu. Diawali dengan lapisan tanah berusia jutaan tahun. Serta konstruksi jembatan yg di desain menyerupai tulang rusuk hewan raksasa. Didalam museum ini terdapat banyak sekali fosil-fosil hewan purba, seperti mamud, manusia purba dan lain lain.

Pada tahun 1891 untuk pertama kalinya fosil rahang Manusia Jawa (Homo erectus paleojavanicus) di temukan wilayah Situs Sangiran, tepatnya di Trinil. Fosil ini kemudian diberi nama Pithecanthropus erectus oleh Eugène Dubois. Penemuan itu selanjutnya menjadi pemicu di lakukanya penggalian fosil di wilayah Sangiran, yg disinyalir merupakan lokasi terkuburnya banyak bukti kehidupan manusia purba.

“Kok Papah tau?” Tanya Arga.

“ini baca di sini,. Heheheh ” Aku mejawab sembari menunjukan kepada Arga tentang monitor interaktif yg bisa di gunakan oleh pengunjung untuk mengakses informasi mengenai fosil yg tertera di etalase.

Pantesssss….!!!! Arga dan mamahnya gak jadi kagum deh.. hahhaa

Kami berjalan dari Auditorium satu ke auditorium lainya. Tak hanya fosil yg di perlihatkan oleh pengelola museum ini, tapi juga replica manusia purba. Emm yang aku bilang sih rada menyeramkan.

“Mah, kenapa manusia purba itu nama Homo.?” Tanya arga kepada mamahnya yg tengah melihat diorama kehidupan manusia purba.

“Homo itu Bahasa latin Arga, yg artinya Manusia. Karena peneliti tidak mengetahui nama-namanya manusia purba itu. Makanya di sebut Homo, misalnya Homo Erectus Paleojavanicus itu Artinya kera yg menyerupai manusia yg di temukan atau pernah hidup di pulau jawa.. adalagi  Australopithecu nah kalau yg ini kera yg menyerupai manusia yg di temukan di wilayah Selatan, karena Autralis itu artinya selatan, emm kalau sekarang bisa disebut Autralia, begitu Arga,.. Arga paham?” Tanya mamahnya yg semangat memeberikan pengetahuan baru pada anaknya.

“Paham Mah.”

Aku bidik kamera ku ke arah dua mahkluk luar biasa yg kini mengisi hari ku dengan hal baru. Memang manusia tak ada yg sempurna, tapi kebersamaan dalam memahami kekurangan adalah cara untuk saling menyempuranakan. Setidaknya aku belajar banyak dari apa yg pernah ku alami, dan kini aku jalani.

Dalam hati ku berguman, terimakasih Engkau telah menghadirkan bidadari yg indah dalam hidup ku Ya Allah. Kau hadirkan guru terbaik bagi anak ku.

Rupanya sikap ku yg dari tadi memperhatikan mereka tertangkap basah oleh sosok wanita yg sedang menggandeng anakku. Senyum manis mengembang dari bibir mungilnya, seolah menantang ku sembari berkata. “Emang kamu doank yg sok pinter? Aku juga bisa tauuu. 😛 ”

Ckreeekkkk

Dapet satu frame foto Arga dan mamahnya lagi senyum di deket nenek moyangnya. Hahahhaa

Museum ini juga menjelaskan tentang evolusi Darwin. Darwin berteori bahwa nenek monyang manusia adalah kera yg kemudian berevolusi menjadi manusia modern hingga saat ini. Tentu teori ini banyak perdebatan. Terori Darwin ini pada dasarnya mengacu pada penemuan penemuan tulang belulang hewan dan kera purba. Dari penemuan penemuan ini Darwin menarik kesimpulan bahwa secara bertahap Kera mengalami perbaikan biologis selama berjuta juta tahun. Hal ini perkuat lagi oleh adanya kemiripan antara DNA manusia dan DNA kera hingga secara logis teori yg di cetuskan oleh Charles Darwin  Pada tahun 1859, buku The Origin of Species dianggap masuk akal.

Manusia Purba
Mikirin masa depan.

“Pah bener ya nenek moyang manusia itu Kera.?” Tanya Arga kepada ku yg sedang asik membaca teori Darwin yg tercetak besar di dinding auditorium.

“Kalau papah sih gak yakin, nenek moyang papah itu Nabi Adam.”

“Kenapa begitu Pah.?”

“Emm, Kita itu manusia Arga dan manusia yg pertama kali diciptakan Allah itu adalah Nabi Adam, Nabi Adam itu diciptakan Allah dari tanah, nah penciptakaan Nabi Adam ini ada disemua kitab Agama yg ada di dunia Ga. Nah ketika Nabi Adam di ciptakan semua Mahluk di dunia ini sujud kepada Nabi adam, Karena Nabi Adam adalah Mahkluk yg paling dimuliakan oleh Allah. Nabi Adam memiliki kesempurnaan yg gak dimiliki oleh mahkluk sebelumnya yg di ciptakan Allah, jadi Nabi adam itu lebih sempurna dari malaikat sekalipun. Nabi adam itu mahkluk yg beradab, mahkluk yg mempunyai kecerdasan, derajat Nabi Adam itu lebih tinggi dari pada mahluk lainya, makanya semua pada sujud sama Nabi Adam, kecuali iblis.”

“Kenapa pah kok iblis gak ikut sujud?”

“Iblis gak mau sujud ke Nabi Adam Karena Iblis sombong, Iblis itu diciptakan dari Api, sementara Nabi Adam dari tanah, api merasa lebih kuat dari tanah makanya iblis gak mau sujud sama Adam..”

“Ohh bgitu, terus Adam itu kayak kera?.”

“ya enggak donk.. Nabi adam itu ganteng, kayak papah.. hehehe”

Aduuuuhhhh.. tiba tiba pinggang ku di cubit lagi oleh capit kepiting.

“iyaa iyaah, kan becanda mah… galak baget sih.. ” ucapku sambal manyun..

“papah lanjutin yah Ga.. Jadi nenek moyang papah itu Adalah Nabi Adam, dan orang yg agamnya lain pun demikian, karena kan Nabi Adam yg diciptakan Allah pertama kali. Setelah Nabi Adam diciptakan, lalu Allah menciptakan Hawa wanita pertama. Nah beda dengan Nabi Adam, Hawa di ciptakan dari tulang rusuk Adam. Setelah tinggal di surga beberapa lama, Adam dan Hawa di turunkan Allah ke bumi, nah hiduplah mereka berdua di bumi. Kemudian Hawa melahirkan anak-anak, anaknya ngelahirin anak lagi, begitu seterusnya sampai banyak kayak sekarang. Nah begitu lah nenek moyang manusia menurut papah.”

“kok Charles Darwin bilang Nenek moyang manusia itu kera, pah..?”

“Nah Charles Darwin ngomong begitu karena dia percaya dengan penelitian, dia meneliti tulang kera, tulang monyet, tulang manusia.. Tapi kan dia sendiri gak hidup dari jaman nabi adam, makanya gak tau pasti. Dia hanya mengira ngira, papah aja kalau ketemu tengkorak, masih bingung itu tengkorang manusia atau tengkorak monyet. Ntr kalau papah bilang itu tengkorak manusia, salah,.  Jadi om Darwin itu masih belajar Ga, dan ilmuan ilmuan itu juga masih belajar, masih mencari tahu bener gak manusia itu dulunya kera. Atau hanya bentuk nya aja yg sama. Kan begitu anak ku…”

“makanya kamu juga harus belajar biar pinter yah,..” Aku mengangkat tangan seraya mengajak Toss kepada Arga

“Ocee Pah.” Pookkkk.. suara telapak tangan ku dan telapak tangan Arga bertemu di udara.

Kami duduk menikmati orang-orang yg berlalu lalang menikmati koleksi tulang belulang yg terpajang. Aku tak pernah berpikir nenek moyang ku adalah seekor kera. Bagaimana mungkin kera berevolusi menjadi wanita secantik dan seanggun dirinya, yg kini berada di sebelah anak ku, menatapku dengan senyum manis dari bibir berlipstik merah muda yg menyisakan remah remah snack yg habis ia kunyah.

Aku hanya berpikir, seandainya aku adalah Adam mungkin aku akan bahagia mempunya waktu lebih lama menikmati surga dan dunia Bersama Hawa. Bersama nya.

“Udah ayoo kita cari makan,.. udah siang, habis sholat kita pulang yaah..” Ujar anak cucu hawa yg dari tadi mengamati ku memberikan ilmu pada anaknya.

“Ayooooo..” Jawab kami kompak.

Kami melangkah kan kaki lebih ringan setelah banyak hal kami pelajari. Terikmentari di luar auditorium begitu menyilaukan, kami menelusuri lorong sambil bergandengan tangan. Sesekali bercanda tetang apa yg kami lihat, dan sesekali pula kami mengabadikan diri dengan kamera.

Generasi setelah kita harusnya lebih baik. Itu lah makna sesungguhnya dari sebuah evolusi manusia.

 

 

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *