Beberapa waktu media sosial tengah heboh dengan beberapa isu terkait adanya ojek di jalur pendakian Gunung Argopuro. Bukan, bukan tentang tarif ojek yg menurut kabar Rp. 350.000 sampai sabana Cikasur, tapi  kok bisa ada ojek disana? Pertanyaan ini ternyata berlanjut dengan wacana pembukaan lahan oleh pemerintah setempat yg bertujuan membuka akses kendaraan untuk menuju wilayah sabana Cikasur.

Aku cerita sedikit tentang Argopuro sebatas pengetahuan dan pengalaman ku mendaki Argopuro beberapa tahun lalu. Sebelum adanya ojek yg seliweran seperti saat ini.

Argopuro Waktu itu.

Tenang, sunyi, sepi hanya ada suara binatang hutan yg bercengkrama, suara-suara yg ramai tanpa terlihat wujud dan rupanya. Suara asing yg tak kami mengerti maksud nyanyian mereka, hanya lagu sheila on 7 dan beberapa band indonesia yg ku mengerti maksudnya meskipun itu dilantunkan oleh suara-suara sumbang teman sependakian kala itu. Argopuro benar-benar sepi ketika kami mendaki.

Melintasi Sabana Gunung Argopuro

Basecamp Bremi tempat pak Arifin adalah tempat dimana kaki kami mengawali langkah melintas hutan dan gunung yg terkenal dengan trek terpanjang di Pulau Jawa ini. 7 Orang anak manusia dengan tas keril penuh, berisi dua buah tenda, logistik dan peralatan pedakian lainya, hanya 7 orang itu pula yg beberapa hari terakhir mendaftarkan diri mendaki Gunung Argopuro melalui Jalur Bremi. Sepi, tak seperti gunung lainya yg mungkin sudah ratusan bahkan ribuan orang hilir mudik di basecamp. Karena sangat sepi, kami pun masih bisa berleha-leha mendengar cerita Pak Arifin yg juga bertugas sebagai ranger Argopuro ini. Banyak yg beliau ceritakan kepada kami tentang jalur Argopuro yg……… aahhh, aku tak ingin mendengarnya saat itu, aku ingin merasakanya sendiri. Hingga cerita tentang proses penyelamatan survivor yg pernah tersesat di Argopuro berhari-hari. Kami menyimak dengan seksama, dengan kidmat sebab bisa saja cerita-cerita itu adalah masukan bagi kami untuk mengambil keputusan disaat mengalami hal yg tidak diinginkan nantinya.

Tujuan kami hari itu tak muluk-muluk, hanya ingin bermalam di Danau Taman Hidup. Menikmati semangkuk makanan hangat dan mencium aroma rumput basah di pagi hari. Tapi perjalanan dari Desa Bremi (basecemp Pak Arifin) hingga ke Danau Taman Hidup ternyata tak sesuai yg kami banyakan, biasanya dari basecamp hingga ke puncak itu hanya butuh waktu 7-9 jam, tapi kami sudah berjalan hampir 12 jam, belum juga sampai ke Danau Taman Hidup. Pos Pendakian,?? Ahh setahu ku kami hanya melewati pos tanpa plang menjelang memasuki hutan pinus. Sebelum memasuki hutan pinus, kami berhenti sebentar mengistirahatkan bahu yg tak terasa sudah berjam-jam memanggul keril 80L full pack.

Melintasi Sabana Argopuro yang silih berganti..

Bising suara binatang hutan begitu ramai tak lagi berbisik-bisik. Mereka lah penghuni hutan ribuan pohon pinus yg menjulang tinggi itu. Lelehan getah pinus tampak mengkilap, mengeras di batang-batang pohon pinus tak bertuan. Trek yg menanjak perlahan memang asik untuk di tahlukan tapi suasana sedikit asing, dengan roman-roman dingin, lembab, sepi dan kadang membuat kuduk merinding hingga kami sering-sering merapatkan barisan. Sesekali kami berdendang mengusir sepi, beradu vocal dengan jangkrik atau serangga-serangga hutan yg tak tau dimana studionya. Entah sudah berapa ribu langkah kaki kami ayunkan, melintas hutan yg tak tahu ujungnya dimana dan seberapa jauh lagi kami sampai ke Danau Taman Hidup, tak ada petunjuk arah, tak ada tanda panah, hanya ada jalan setapak dan ceceran sampah bungkus permen yg menjadi petunjuk kami bahwa pernah ada manusia lewat. Selebihnya tak ada apa2.

Lah gak ada Ojek?

“Ojekkkk?, emang gak ada waktu itu?”

Pak Arifin tidak sama sekali menawarkan kami untuk ngojek aja, karena mungkin tidak ada ojek. Meskipun menjelang memasuki hutan trek bisa dilalui kendaraan roda dua. Tapi ahh, aku bersyukur waktu itu gak ada ojek, baik yg online maupun ojek pengkolan. Sebab pendaki itu jalan kaki, bukan naik ojek. Tapi tetap saja suara yg bikin kami jengkel saat itu adalah suara deru mesin motor.

Kami saling pandang, seolah saling meyakinkan bahwa suara-suara kendaraan itu benar mendekat. Ahh mungkin itu petugas sedang evakuasi, pikir kami begitu. Sebab dahulu aku sempat melihat petugas mengevakuasi pendaki yg tidak bisa berjalan dengan menggunakan motor trail di Lawu via cemoro sewu. Tapi kok, makin lama semakin banyak suara kendaraanya, Kami berhenti sejenak di jalan setapak yg tak mungkin orang berjalan bersebelahan.

Bising mesin itu meraung-raung semakin mendekat, hingga tampaklah wujud nya yg berupa motor trail, dan….. DAAAMMM…. ini bukan evakuasi, ini konvoi motor trail. Ketika mereka dengan senyum tanpa dosa mengucapkan permisi aku hanya membalas dengan tatapan tajam dan wajah merah padam, seraya manahan emosi untuk tidak memaki. Bahkan ketika beberapa dari mereka jatuh terperosok pun aku enggan untuk membantu, jangan kan membantu hati ku riuh dengan sumpah serapah… Dosaa.?? biarlahh.. Semoga doa jahat ku buat mereka jera dikemudian hari. Otak ku terus berpikir,  bagaimana mereka bisa sampai masuk ke kawasan Argopuro? dan mau kemana tujuan mereka? Kaki ku lemas, ketika terbayang jika rombongan ini sampai ke Taman Hidup, tak lucu rasanya hutan hening sepi akan berubah menjadi arena pasar malam dengan suara roda gila yg berputar-putar memekakkan telinga.

Rombongan Motor Trail melintas di Jalur pendakian Argopuro.

Pendakian Gunung Argopuro memang melelahkan, butuh waktu setidaknya 5 hari untuk perjalanan dari basecamp, puncak to basecamp. Tapi itu indahnya Argopuro, perjalanan panjang itu adalah pembelajaran, setiap pendaki harusnya sadar diri sebelum memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Puncak Rengganis untuk dapat memperisapkan fisik, kemampuan, dan wawasan cinta alam. Bukan sekedar tertarik akan bentangan sabana Argopuro ataupun indahnya Danau Taman Hidup saja lantas melakukan pendakian tanpa mempersiapkan diri.

5 hari perjalanan kami baru camping bareng pendaki lain, itupun di sabana lonceng. Sebelum-sebelumnya hanya tenda kami berdiri berkelompok, di Danau Taman Hidup, di Cemara Lima. Tersesat merupakan hal biasa kami hadapi saat itu, sebab tingginya semak belukar yg menutup jalur lebih tinggi dari kami. Jalan setapak yg hanya sejengkal tak ubahnya seperti jalan hilir mudik babi hutan, yg beberapa kali mengantarkan kami ke sarang mereka. Nyaris tak ada petunjuk arah, tak ada peta jalur pendakian. Hanya bekal peta karya tangan pak arifin yg menjadi acuan perjalanan di tambah GPS yg sempat berputar-putar hilang arah sewaktu bergerak naik dari taman hidup menuju cemoro lima. Untunglah bertemu dengan rekan-rekan dari UGM yg baru turun, dan memberikan koordinat cemoro lima, puncak, dll.

Memang kegiatan mendaki sedang naik daun, banyak pendaki hanya berbekal handphone salfy untuk perjalanan. Sekedar punya stok untuk ganti Dp atau profil picture, nyatanya mendirikan tenda saja tak bisa. Total satu minggu kami berjalan dari Basecamp Bremi hingga ke Basecamp Baderan, melintasi lebatnya hutan, indahnya sabana sampai bosan berbaringan. 7 hari dengan rata-rata 10 jam perjalanan perhari, sumpaah deh jangan tanya gimana bau nya kaos kaki waktu itu. Mandi?? pengen rasanya menyegarkan diri ketika melihat air jernih mengalir di Cikasur dan Cisentor, tapi kami urungkan tak ingin air menjadi keruh dan tercemar karena itu adalah salah satu sumber air untuk pendaki ataupun hewan sekitar.

 

Benar jika tidak di ajurkan untuk melakukan perjalanan pada malam hari di Argopuro. Sebab malam adalah salah satu waktu yg paling mencekam di sana. Hingga kini kami tak tahu hewan apa yg menggerung dan bergerak di balik rerumputan waktu itu, yg kami dengar hanya suara-suara mengerung dan gesekan semak seperti ada yg bergerak menyentuhnya. Aku pun tak tahu milik siapa sorot mata tajam dari atas pohon yg sekelebat lantas hilang. Mungkinkan itu Panthera Pardus Melas yg sedang bersantai di dahan, atau sedang mengincar buruanya. Aku hanya tahu kepakan sayap besar yg melompat dari atas pohon, meskipun sklebat dalam remang rembulan, lantas hilang di balik luasnya rumput sabana tak bernama itu. Ya Itu Merak. Merak Argopuro, merak liar yg kini sedang protes akan pembangunan jalan menuju habitatnya.

Jika hutan-hutan itu terus diexploitasi, jalan setapak itu diperlebar kendaraan-kendaraan mudah berlalu lalang. Lantas Argopuro yg mistis tentang ikan segede bus yg ada di Taman Hidup, tentang kecantkan Dewi Rengganis dan bala pasukanya perlahan akan menjadi dongeng belaka. Ada yg pernah berkata pada ku begini. “Seandainya surga dapat di tempuh dengan berjalan kaki meskipun puluhan tahun, tentu banyak orang yg rela melakukan perjalanan itu, hanya untuk memetak-metak keindahannya dan menikmatinya sendiri. Tapi untunglah surga itu hanya di capai setelah kematian, tak ada yg kembali setelah mati dan menggambarkan surga, jikapun ada tentu yg hidup pun akan berpikir ulang untuk turut mati.. sebab mereka akan berpikir amal ibadahanya belum tentu cukup mengantarnya ke surga. kecuali bagi mereka yg serakah

Eddy melintas di rawa pinggir danau taman hidup gunung argopuro

Namun Tuhan ternyata memang baik hati, dipercikanya kepingan-kepingan surga itu dibumi pertiwi ini. Tapi karena banyak manusia yg serakah, merasa berhak mengekploitasi demi uang dan foto selfy, kepingan surga ini dipetak petak dan di tarif seperti toilet umum. Kelak anak cucu kita mungkin hanya akan mendengar cerita tentang sabana luas yg pernah di jadikan landasan pesawat dan markas penjajah di waktu perjuangan kemerdekaan. Namun semenjak para penjajah itu pergi tempat itu kembali sunyi sepi, menyisakan onggokan batu bata, dan bangunan tua yg termakan usia. Sungai yg mengalir jernih di dekatnya menjadi sumber kehidupan dan tempat bermain satwa liar. Sabana yg dulunya juga di fungsikan sebagai bandara kini menjadi tempat pertunjukan sang merak jantan memikat betina. Hutanya gelap menyimpan seribu misteri pasukan-pasukan tak kasat mata penjaga sang dewi. Hanya gerungan dan bisik-bisik semak yg mengabarkan mereka sedang memperhatikan. Semua itu kelak akan hilang semenjak “penjajah” berkedok wisatawan itu datang lagi, dengan tongkat-tongkat selfi dan sampah yg mereka tinggalkan.

Seperti indahnya ranukumbolo yg terancam tercemar, sabana oro-oro ombo yg kini seperti tempat nongkrong dengan penjaja gorengan. Akan ada raungan mesin yg menggantikan auman Panthera Pardus Melas, merak-merak akan lebih jauh pergi menghindari riuh pendaki yg silih berganti.

Jika pohon-pohon pengehasil oksigen itu semakin tergusur baru manusia akan merasakan sesaknya bernafas oleh karbon dioksida yg tak teruai.

 

Yogyakarta, di tulis diatas meja Kantor yg membosankan,

Tirta Hardi Pranata 

 

 

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *