Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part II

Manusia hanya bisa berencana, pada akhirnya Tuhan yang menentukan

Seperti biasa aku selalu dan harus selalu berdiskusi dengan tim ku, terkait planing, dan opsi-opsi pendakian lainnya. Dengan begitu aku berharap agar semua anggota tim lebih siap dan paham apa yang harus dilakukan di lapangan nantinya. Apa lagi untuk pendakian long days and sort time seperti pendakian kali ini. Pembagian tugas dan action di lapangan sangat penting, agar beberapa kegiatan dapat dilakukan secara bersamaan untuk menghemat waktu.

Sehabis makan-makan di acara ulang tahun Fatin, yang katanya berumur 3 tahun. Aku dan Eddy segera merapat ke tempat yang telah di sepakati bersama. Nanda dan Sofy ternyata sudah lebih duhulu mengambil tempat di sudut tepi kolam, untung saja mereka belum pesan minum atau makan. Aku ajak aja mereka pergi, hahaha, kok? Saat itu sedang ada pertandingan sepak bola, dan caffe tersebut lagi mengadakan nonton bareng, berisik bgt sehingga harus berbicara dengan volume yang sedikit tinggi. Aku tak nyaman dengan keramaian seperti itu, lantas ku ajak mereka pindah ke Ngeban coffe, kenapa ngeban?

Aku suka suasana ngeban coffe yang serupa perkebunan luas, dengan meja meja kecil yg di sediakan untuk pengunjung yg senang duduk lesehan, atau kandang sapi dengan kursi panjang bagi mereka yg ingin menyandarkan bahu letihnya. Dihalaman yg luas tumbuh beberapa pohon tinggi sebagai payung alami dari terik mentari dikala siang atau sore hari, udara disini cukup dingin apa lagi ketika malam semakin larut, meski tanpa pendingin udara seperti cafe-cafe yg kini mulai meniru kelas masyarakat eropa. Aku lebih suka kesunyian, bagiku bisik angin itu adalah suara paling syahdu dan dingin malam adalah pelukan paling mesra dari semesta.

Kami berempat duduk lesehan beralas tikar lusuh melingkari meja kecil seukuran meja belajar, lalu ku buka laptop untuk membaca planing pendakian. Sementara Eddy, Nanda dan Sofi, berbincang sembari menanti pesanan mereka datang. Meeting belum di mulai karena masih menanti ibu pejabat yang biasa telat, sementara minuman yang tadinya hangat kini sudah mulai dingin terbawa suasana malam yang semakin larut. Susu jahe ku menyisakan seperempat gelas, baru lah Ira datang besama temannya, maklum orang sibuk agenda padat, setelah memesan sajen barulah meeting kami buka, secara kidmat.

Assalamualaikum Wr. Wb, ku buka meeting Semut Sumit untuk pendakian Arjuno welirang, kami membicarakan banyak hal, dan di mulai dari draf planing. Dari tim Jogja fix akan berangkat dengan 5 anggota, tidak ada penambahan anggota lagi, karena 15 orang termasuk tim Palanus itu sudah terlalu banyak menurut kami. Dengan 5 orang anggota, kami membawa 2 buah tenda, 2 buah kompor, 1 buah nesting, 2 buah cookingset, 1 flyshet, 1 matras almunium foil, 5 matras TNI, 7 tabung gas, p3k, emergency kit, surival kits, dll.  Untuk logistik, kami membawa beras, telur, sarden, kerupuk, energen, susu, teh, gula, dll, standar pendakian. Sementara sayurnya kami akan beli di Malang biar tidak layu sebelum di masak, rencanya akan masak sop, pecel, dan sayur asem. Logistik diperkirakan cukup untuk pendakian 4 hari 4 malam. Ditambah lagi logistik dari tim Palanus nantinya, yang sampai saat ini aku gak tahu sudah sejauh mana persiapakan mereka. Untuk perlengkapan memang sengaja di lebihkan, agar tim Palanus tidak perlu repot-repot membawa peralatan berat dari Bogor.

Meeting tidak hanya membahas tentang perut, tapi juga tentang keberangkatan sampai dengan pulang lagi ke Jogja. Ira sangat berharap berangkat dan pulang menggunakan kereta api, katanya lebih seru. Hahaha, belum ngerasain sih dia gimana rasanya naik kereta api kelas ekonomi untuk perjalanan jauh. Namun aku memberikan opsi berangkat menggunakan Bis Jogja Malang, karena beberapa pertimbangan. Seperti, waktu tiba di Malang, kenyamanan, dan ketersediaan angkutan itu sendiri. Untuk pulang masih menjadi PR, jika menurut ku sendiri, aku lebih senang menggunakan bis, karena lebih nyaman dan bisa pesan tiket on the spot di hari H, tidak dengan kereta yang harus memesan jauh-jauh hari agar tidak kehabisan tiket.

Traveling itu selain membahagiakan diri sendiri juga membuat orang lain bahagia dan memberikan pengalaman baru bagi orang lain, that’s my point. Alhasil perjalanan pulang sepakat untuk mencari tiket kreta yang tersedia, karena di turun di Lawang dan dekat dengan stasiun, mungkin bisa di kondisikan untuk menggunakan kereta sewaktu pulang. Setelah di cek sana sini, ternyata sulit sekali untuk mencari timing keberangkatan kereta yang bisa menyesuaikan sama waktu perkiraan sampai basecamp. SNanda juga mencoba menghubungi rekanya Jokampala si Cak (cak siapa yaahh??) pokoknya yang berlogat madura. Namun hasil nya juga nihil. Sampai meeting dibubarkan pun transportasi untuk kepulangan masih menjadi PR kami semua.

Inti dari pertemuan malam di tempat sunyi itu adalah, akan dibuat rekening bersama dimana nantinya saldo yang terkumpul hasil dari iuran rekan-rekan akan digunakan untuk keperluan perjalanan, seperti tiket, simaksi, dan logistik. Selain itu disepakati pula bahwa untuk peralatan pendakian, h-5 sudah ada wujud dan datanya di kos saya, (sementara di jadikan gudang) dan H-4 tim akan berkumpul lagi untuk belanja logsitik, sisa hari hari berikutnya akan dimanfaatkan untuk melengkapi barang-barang remeh-temen yang mungkin tercecer atau kelupaan.

Semenjak habis meeting tersebut kami mulai intents berkomunikasi melalui media whatsapp, baik berdiskusi mengenai pendakian ataupun sekedar berbagi banyolan ra mutu. Selain di dunia maya, tim Semut Summit juga lebih sering mengunjungi kosan saya, dengan niat jelek untuk berantakin kamar yang sudah seperti gudang penyimpanan.

Sementara itu di negeri barat nanjauh disana tim palanus juga sudah belanja logistik, aku tau karena ketika aku minta update persiapa mereka, eh mereka malah mengirimkan struk belanjaan… -____-!! Benar-benar anak gunung, gak mau repot. Padahal bukan itu yang ku mau, aku hanya minta data peralatan dan logsitk yang telah di rencanakan dan listnya yang sudah ataupun yang belum ada. Itu ajaahh,.. Sebab jika Palanus kesulitan membawa perkap ataupun logsitik, toh tim Semut Sumit masih punya banyak space yg bisa di isi.

Ringan sama di jinjing, berat sama di pikull.. bukankah begitu nenek moyang kita mengajarkan makna gotong royong. Hanya saja manusia sekarang gengsinya lebih gede dari simpati nya.

Ahh syudahlah mungkin mereka lupa bagaimana memanfaatkan teman, #eh

 

 

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

4 thoughts on “Meeting Semut Sumit”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *