“Gunung mana lagi yang mau kamu daki.?” tanya seorang teman pada ku.

“Emm… mungkin, merapi lagi, merbabu lagi, lawu lagi, sindoro lagi,  atau Gunung Gede Pangrango” jawab ku..

“Kenapa suka naik gunung? gak kepantai atau tempat wisata” tanya nya lagi.

“hehe..” aku hanya tersenyum..

 

dan ini aku jawab.

 

Banyak orang yang yang mencintai hidupnya dan memanjakan raganya. Ketika banyak orang sibuk berjudi di Las Vegas ada banyak orang yang tengah mengais makan  Ethiopia. Dan ketika orang lain tengah terlelap masih ada gerombolan-gerombolan kecil yang tengah merayap dalam gelap. Kadang menahan lapar, dingin,  gerombolan yang keluar dari nyamanya kamar, hangatnya selimut, bertaruh nyawa untuk keindahan dan terkadang aku berada di gerombolan itu.

Rasanya sudah lama aku tak berkunjung ke taman langit Mu, apa kabar bintang-bintang disana. meski kadang ku lihat mereka berjatuhan tapi tetap saja tak terhitung jumlahnya. Terakhir kali kita bertemu kita saling melepas rindu, bercengkrama dalam gelap melaui celah celah pohon cemara yg menjulang. hai bintang, apakah disana kau merindu ku.?

Tapi tetep aku masih sering naik turun Gunung Api Purba Nglanggeran kok, walupun sendirian, bagi ku teman setia adalah gunung, dedaunan, angin tanah dan krikil, oh iya awan juga. bulan dan bintang juga. Mereka tak pernah bohong untuk menemani, menunggu dan manyapa. terkadang manusia membutuhkan waktu sendiri untuk dirinya menikmati kebebasan.

Kadang pula manusia butuh kehidupan lain untuk membuat hidupnya sedikit berbeda dalam menikmati kebebasan. sepertihalnya ketika orang lain terlelap tidur, kami menerobos gelap, ketika hujan menerpa kami bercengkrama di dalam tenda. Ketika pagi menyapa kami berzikir menyebut kuasa Nya. mengagumi ciptaaNya. Sebenarnya alasan paling konyol ketika aku ditanya sesama teman waktu mendaki, “Kenapa capek2 naik gunung?” adalah karena aku hanya ingin makan mie instant, minum coklat, sama lihat bintang dan bulan, sunset dan sunrise bareng kalian aja. Makan mie di burjo sudah terlalu biasa, tapi makan mie bareng kalian di depan tenda menghadap api unggun kecil, dipayungi bintang-bintang, bermandi cahaya bulan. itu luar biasa indahnyaa..

Aku dan mereka bukanlah MAPALA, tapi aku dan mereka adalah manusia biasa yang sedang belajar menjaga rasa mencintai alam negeri ini sepenuh hati. karena bagi kami pendakian bukanlah ikatan organisasi tapi ikatan perasaan antara manusia dan Sang Ilahi.

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *