Mesjid Agung Jawa Tengah, Semarang.

 Jika berkunjung ke berbagai kota, baik dalam rangka tugas ataupun hanya sekedar menikmati wisatanya,  sebisa mungkin aku selalu menyempatkan diri untuk singgah di salah satu mesjid yang menjadi icon kota tersebut. Sama halnya ketika beberapa waktu lalu main ke Semarang, aku menyempatkan diri untuk beribadah di Mesjid Agung Jawa Tengah. Salah satu mesjid yang berarsitektur gaya jawa, dan romawi ini sangat hits di Instagram. Makanya tak heran jika banyak orang menjadi kan mesjid ini salah satu tempat wisata religi.

Mesjid Agung Jawa Tengah memang bukan termasuk mesjid lama dan bersejarah di Indonesia. Jika dibandingkan Mesjid Agung Demak ataupun Mesjid Kudus yang memiliki sejarah dalam perkembangan islam. Mesjid yang di bangun di salah satu petak tanah wakaf Masjid Besar Kauman Semarang ini mulai di bangun pada september 2002 dan baru diresmikan pada tahun 2006.

Mesjid Agung jawa tengah malam hari

Jika dilihat dari ketinggian, mesjid ini terlihat seperti mesjid-mesjid di Jawa, dengan atap berbentuk limas. Namun jika dilihat lebih dekat, mesjid ini akan terasa lebih besar, halamanya sangat luas, asri dan cukup nyaman bagi pengunjung. Ketika masuk di halaman tampak lah kemegahan Mesjid Agung Jawa Tengah.

Pilar-pilar besar menyerupai bangunan koloseum di roma menjadi salah satu daya tarik tersendiri mesjid ini. Dibagian bangunan menyerupai koloseum itu terukir kaligrafi ayat suci Alquran, dengan berpaduan warna putih dan ungu. Benar, sungguh Allah  itu mencintai ke indahan.

Menara tinggi menjulang setinggi 99 meter di sebbalah timur menjelang memasuki area mesjid. Namanya menara Al Husna,terdisi dari 19 lantai, lantai 1 untuk Studio Radio DAIS MAJT, lantai 2 untuk museum Perkembangan Islam Jawa Tengah, Lantai 18 rumah makan berputar, lantai 19 Gardu pandang kota Semarang dan lantai 19 Tempat rukyat al-hilal. Dari Lantai 19 ini kita dapat menyaksikkan keindahan mesjid Agung Jawa Tengan dan kota Semarang.

6 pilar raksasa yang berada diserambi mesjid adalah tiang penyangga payung-payung raksasa, seperti di masjid madinah. Payung itu hanya dibuka pada kegiatan ibadah tertentu, dimana jaamaahnya melebihi kapasitas ruangan mesjid. Sebenarnaya aku pengin sekali melihat payung payung raksasa itu bermekaran seperti bunga, tapi berhubung saat  kesana itu hari minggu, maka payung payung itu hanya seperti kuncup bunga tulip di kala senja.

Sunset di mesjid agung jawa tengah

 

Anak anak kecil berlarian di serambi mesjid yg luas beralaskan keramik berukuran besar, luasnya kira-kira 6 kali lapangan futsal. Tiba-tiba aku ingat sewaktu ku kecil yg juga suka berlari-larian di mesjid, tapi di daam mesjid, sampe kana marah orang. Hahahaha. Tapi aku jadi ingat perkataan seorang ulama, “jangan marah sama anak-anak kecil yg berlari-larian di mesjid, suatu saat mereka akan ketika mereka dewasa mereka akan rajin ke mesjid” begitu.

Sehabis sholat magrib, aku mencoba naik ke menara Al husna. Dengan membayar Rp. 5000, kita sudah dapat mengakses ke lantai lantai atas. Melihat dari bangunan Mesjid Agung Jawa Tengah dari ketinggian dan melihat suasana malam kota Semarang. Hembusan angin laut lumayan terasa ketika berada di atas menara, bagi yang takut ketinggian mungkin akan merasakan sedikit pusing dan mual-mual. Tapi tidak ada salahnya mencoba sensasi seperti petugas rukhaytul hilal, melihat bintang dan kota sSmarang menggunakan terporong yang memang sudah di sediakan.

Jadi jika datang ke Semarang, jangan inget sama lumpia nya saja. Karena banyak tempat keren di Semarang yg menunjukan bahwa kita itu bangsa yg di satukan oleh perbedaan.. Sampai ketemu di perjalanan saya selanjutnya.. byee

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *