Gegegap gempita suara petasan beradu di telinga, mengiringi suara kumandang takbir yg tak henti bersahut-sahutan. Pemerintah telah menetapkan hari perayaan idul Fitri dan pertanda tidak ada lagi tarawih ataupun sahur di tahun ini. Ramadhan telah usai, apakah semua kembali ke fitrahnya, suci lahir batin.? Entahlah.

“Pah, kita lebaran dimana?”

“Ke rumah kakek nenek aja gimana?”

“Okeee.. Di sini temen-temen kakak sudah pada mudik, sepi pah gak ada temenya”

“Iya,”

“Kenapa mereka pada mudik sih pah, gak lebaran di sini aja?”

“Karena mereka punya saudara, punya kampung halaman, dan mereka juga mau liburan, bosen donk di sini terus”

“Kampung halaman kita di mana?”

“dimana yaa? Kampung halaman itu dimana kita dulu di lahirkan dan di besarkan. Kakak kan dilahirkan dan di besarkan di Jogja, ya kampung halaman kakak di Jogja, kalau papah, kampung halaman nya di Jambi, karena papah lahir di sana, sekolah di sana, dan bapak ibu papah ada tinggal di sana, jadi yaa kampung halaman papah disana.”

“Jadi kita mudik ke Jambi pah? Naik pesawat atau naik mobil?”

“naik pesawat aja yah, biar cepet, kalau naik mobil lama, macet juga.. kapan-kapan deh kita mudik ke jambi naik mobill.. biar kakak ngerasin nyebrangi selat sunda naik kapal fery. Gimana?”

“Okeee siapppp komandan. hahaa”

 

Mudik???

Tradisi yg lumrah di lakukan ketika menjelang idul fitri selalu saja membuat kota besar sedikit lengang dan kampung kampung menjadi lebih meriah berkat kedatangan orang-orang kota. Dan lebaran kali ini aku tidak mudik ke kampung ku..

Jarak kini hanya hitungan angka, sebab teknologi dapat memangkas jarak begitu singkat, Tak perlu 2 hari untuk bisa menatap orang tua ku di Jambi sana, cukup beberapa detik aku bisa memandang wajah mereka mesti tak bisa menjabat dan mencium kedua nya. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Maaf anak mu tak pak pulah pah..

Esensi mudik adalah pulang dan kembali lagi, kalau hanya pulang tanpa kembali itu namanya minggat. Berjumpa dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga di kampung halaman adalah goals dari mudik itu sendiri, jangan rusak silaturahmi dengan pertanyaan-pertanyaan yg menyinggung perasaaan, “kapan nikah?, itu lho temen mu anaknya udah dua, kamu calonyaa kok gak di bawa, masih jomblo yaa?”, “udah lulus belum,? Perasaan udah 6 tahun kuliah, anak tante aja 4 tahun udah lulus, sekarang udah kerja di tempat papahnya”, “kerja dimana, kenapa gak kerja di sini aja, yaa bantu bantu om mu lah di perusahaanya.” Atau… sibuk dengan segala modrenitas kota yg kalian bawa ke kampong halaman. Please, tatap muka dan ngobrol bersama teman sebaya itu lebih asik daripada menatap layar ponsel pintar mu sambil main mobile legend.. Cobalah dengar bunyi dentuman petasan atau belajar membuat Meriam bamboo bersama anak-anak desa, itu jauh lebih menyenangkan dari pada menyumbat telinga mu dengan headset dan asik menikmati dentuman music sendiri.

Mudik itu bukan tentang perkara jalan-jalan, tapi tentang silaturahmi. Kembali mengunjungi kampung halaman itu berarti menilik kembali kenangan masa silam, dimana kamu di besarkan oleh orang-orang yg menyayangi mu, oleh pergaulan di zaman yg asikk, dimana sandal jepit bisa menjadi permainan menarik menjelang ke masjid. Orang-orang tua akan kembali bercerita tentang kenakalan mu semasa kecil, tentang manga nya yg kamu sodok sewaktu ronda sahur. Atau tentang tempat nongkrong favorit mu semasa sekolah. Mudik itu menyenangkan, sebab mudik itu seperti perjalanan ke masa lalu.

Mungkin jika kembali ke kampong halaman saat ini, tak banyak hal yg bisa kita lakukan selain mengenang, sebab jaman telah berubah.. Seperti kata Om Iwan,

 

Di depan masjid

Samping rumah wakil pak lurah

Tempat dulu kami bermain

Mengisi cerahnya hari

 

Namun sebentar lagi

Angkuh tembok pabrik berdiri

Satu persatu sahabat pergi

Dan tak kan pernah kembali

 

Pada akhirnya banyak dari kita mengawali kunjungan di kampung halaman adalah ke makam, tempat dimana kakek, nenek, ayah, ibu atau kerabat kita telah bersemayam, mudik untuk selama-lamanya, mudik sesungguhnya adalah mudik ke Surga, tempat dimana Ayah dan Ibunda seluruh umat manusia itu berasal.

Semoga Idul Fitri tahun ini menjadikan kita muslim yg lebih bertaqwa, bermartabat, bermanfaat untuk kehidupan kedepan yg lebih baik..

Setiap Perjalanan itu adalah proses belajar memperbaiki diri,. Foto | Tirta Hardi Pranata, Loc | Kalimati Gn. Semeru

Selamat idul fitri, Minal Aa’idin Wal Faa’iziin, aqobbalallohu Minna wa Minkum. Mohon maaf lahir .

Yk, Idul Fitri 1439 H

Tirta Hardi Pranata

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *