Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part VII

Sejauh apapun tujuan, kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

 

Mobil efl merah meraung ketika hendak memasuki wilayah Tretes. Tretes merupakan daerah wisata pegunungan yang termasuk ke dalam Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Semakin tinggi mobil menanjak, semakin terasa sejuk udara yg membelai kulit. Elf merah pun harus bersabar meraung dengan perseneling rendah agar kuat menanjak di jalan yang beliku.

Aku terus memperhatikan GPS sebagai petunjuk lokasi basecamp, belum ada sekalipun dari kami yang pernah sampai di basecampe Tretes. Komplotan yg dari tadi berisik mulai membisu, entah mabuk atau sedang berpikir “mana basecampnya?”, sabar gaesss bentar lagi sampai kok, aku berguman dalam hati mengucap salam pada semesta dan penghuninya. Semoga mereka berkenan menyambut dengan sambutan hangat.

Pukul 11.00 Wib, Elf merah sudah terparkir di halaman Pos Perizinan Pendakian Gunung Arjuno, Tretes. Suasana khas pegunungan segera menyambut kami, pohon rimbun, udara sejuk, cuitan burung bergantian seolah menyanyikan lagu selamat datang. Satu persatu dari kami turun, dan segera menurunkan keril yg dari tadi menyesaki mobil, menaruhnya di pinggir jalan sebelum nanti akan di pindahkan ke dalam basecamp.

Segera ku urus simaksi pendakian, agar rekan-rekan yg muslim dapat segera besiap-siap melaksanakan kewajiban sholat jumat nya. Di Pos perizinan yg kurang lebih berukuran 3 x 6 meter itu, kami diminta mengisi daftar pengunjung, dan menyerahkan identitas diri untuk di data.  Mata ku menjelajahi setiap sudut ruang pos pendakian, hingga akhirnya menemukan sebuah pemberitahuan mengenai tarif pendakian gunung Arjuno. “15.000/hari” begitulah kira-kira, tulisan dengan font ukuran besar yg di cetak di atas kertas hvs  terpajang di dinding bersama dengan peta Gunung Arjuno.

“naik gunung makin mahal ajaaa ” aku berguman sambil menghitung-hitung uang. Aku gak mau kejadian seperti di Argopuro terulang kembali, waktu itu kami bertujuh mengeluarkan uang sekitar Rp.700.000 untuk pendakian Gunung Argopuro selama 5 hari. Setelah di hitung-hitung untuk pendakian Arjuno kami harus merogoh kocek sebesar Rp.45.000/ orang untuk 3 hari pendakian.

Simaksi pendakian gunung saat ini tidak lagi murah seperti dahulu, mendaki seolah tidak lagi hobi kaum berkasta rendah. Tapi sudah menjadi hobi kaum bermodal tebal. Tapi sayangnya kadang uang saja tidak cukup untuk menyelamatkan kita di gunung, butuh lebih dari sekedar “pengen ndaki dan punya uang” tapi juga paham bagaimana aturan mendaki.

Meskipun Simaksi mahal, pendaki harus lah tetap melaporakan diri ke pos perizinan setempat. Selain untuk mendata jumlah pendaki, hal itu berguna juga untuk memantau kegiatan pendakian jika terjadi sesuatu yg tidak di inginkan. Jadi patuhilah aturan yg sudah ditetapkan oleh petugas, demi kenyamanan dan keselamatan kalian sendiri juga.

Setelah selesai mengurus simaksi kami mulai memasukan barang-barang kami ke dalam pos pendakian. Sementara yg lain repacking karena masih ada beberapa perlengkapan dan logistik yang belum di packing, terutama sayuran dan air minum yg tadi di beli di pasar lawang. Sebenarnya repacking seperti ini tidak perlu lagi di lakukan jika semua logistik dan peralatan sudah di siapkan sejak awal. Tapi yaa terkadang pemikiran orang itu berbeda, jadi bongkarlah semuaa. Ku minta rekan-rekan yg tidak sholat jumat untuk packing, sementara yg lain segera bersiap ke mesjid untuk mendengarkan siraman rohani dari sang khotib. Seraya memohon kepada Sang Kuasa Pencipta Semesta agar senantiasa memberikan kemudahan, keselamatan, bimbingan dalam perjalanan kami nantinya..

Sepulang dari sholat jumat, ternyata kondisi basecamp lebih semerawut. Alat-alat pendakian, logistik dan lain-lainnya berserakan dimana mana, Palanus seolah kebingunang harus packing bagaimana, sementara keril mereka sudah tidak dapat lagi disempali. Keril Semut Summit yg memang sudah siap sejak di kosan ku, terpaksa harus kebagian limpahan barang-barang dan peralatan yg tercecer. Aku selalu mengingatkan tim ku untuk packing sebaik mungkin sebelum berangkat, sangat ku hindari belanja di dalam perjalanan, pasti akan ada implikasi dari kegiatan tersebut. Kebanyak pendaki awam memang memilih untuk mempersiapkan semua nya di basecamp, seringnya air minum. Alasanya sederhana, jika bawa air minum dari rumah, berat dan males ngangkatnya. Iyaa itu benar, tapi kebanyakan dari mereka lupa menyisakan space di kerilnya untuk air yg akan mereka bawa, hingga menyebabkan keril over load. Belum lagi waktu yg tebuang untuk packing ulang di basecamp. Aku selalu menata keril ku dari rumah, sebab dengan begitu aku bisa lebih tenang, sembari mengingat di mana aku letakan masing masing barang.

Setelah beberapa barang berhasil dipaksa masuk kedalam keril, kami memperiapkan diri dengan kostum pendakian. Mengencangkan tali sepatu, menutup kepala dengan topi, mencoba menimbang-nimbang berat keril masing-masing. Aku yg sudah siap sejak tadi memerpersiapkan kamera untuk mengabadikan moment di pos pendakian. Satu dua dan beberapa kali jepretan kamera berbunyi. Sekedar pengingat bahwa kami pernah berada di tempat ini untuk satu tujuan bersama.

Semut Summit dan Palanus sudah ready dengan perlatan nya masing masing, sementara langit juga sudah siap untuk menurunkan rintik-rintik hujanya. Tak ingin berlama-lama, karena memang sudah sedikit molor dari jadwal yg seharusnya. Aku kumpulkan semua anggota tim di halaman pos pendakian, berdiri membentuk lingkaran. Mulai lah ritual yg memang harus dilakukan sebelum pendakian, brefing dan doa.

Ku perkenalkan Anggota Semut Summit satu persatu kepada Palanus, dan palanus pun demikian. Selebihnya ku jelaskan tentang pendakian ini, dimana setiap  hari memang kami harus punya target yg ingin dicapai, dan untuk hari pertama, ku targetkan untuk ngecamp di pos 2 Kop-kopan. Tim akan camp di pos 2 kop-kopan sebab disana ada sumber air, yg akan memudahkan kami untuk melakukan aktifitas masak memasak, selebihnya aku menjelaskan tentang aturan pendakian yg seharusnya mereka sudah tau.

Semut Summit dan Palanus. Foto : Tirta Hardi Pranata
Semut Summit dan Palanus. Foto : Tirta Hardi Pranata

Terakhir, kami panjatkan doa kehadiran Tuhan Segenap Makhluk Hidup di semesta ini. Tidak muluk-muluk ingin ku, hanya dapat pulang tanpa kurang sesuatu apapun. Selebihnya Engkau Maha Mengetahui apa yg terbaik buat kami, bantulah aku bersama teman-teman ku berprasangka baik terhadap titah Mu pada langkah kami hari ini, esok dan seterusnya, agar kami tak terus-menerus mengeluh. Bantulah kami belajar memahami yg ada di hadapan kami, bersyukur atas semua yg terjadi, baik dan buruk selalu ada pelajaran yg dapat kami ambil. Ya Tuhan ku, bantu kami untuk saling menjaga, melindungi, saling menguatkan. Terimakasih atas kesempatan yg tlah Engkau berikan sampai saat ini, atas teman-teman yg baik atas pengalaman yg luar biasa.

Bersama mentari yg masih disembunyikan langit kelabu, kami melangkahkan kaki dengan kenyakinan. Ku tatap sekali lagi jalanan yg akan dilalui, melihat rekan-rekan yg sudah lebih dahulu meninggalakan ku di belakang. Ku langkahkan kaki meninggalkan basecamp seraya berucap lirih “Selamat berjuang teman, Assalamualaikum Semesta, tunjukan keajaiban mu..”

 

 

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

2 thoughts on “Langkah Pertama”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *