Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part III

Do or Do Not, there is no try – Yoda-

 

Ini hari minggu, 4 hari menjelang keberangkatan. Setengah hari sudah kami muter-muter di swalayan untuk belanja logistik, sambil dorong-dorong troly dan di liyatin emak-emak sinis. Logistik dikumpulkan dikamar kos ku yang sudah kayak mau buka warung kelontong. Tapi selalu saja kami merasa masih ada aja yang kurang. Tapi apa?? berkali kali aku bertanya sama Eddy, Nanda dan Sofi yang mereka sendiri tak pernah bisa menjawabnya, karena sama-sama bingung.  Setelah berisitirahat sebentar tim kembali berpencar, keluar masuk toko outdoor mencari beberapa perlengkapan ndaki yang kurang, dan tentu nyari yang murah dan dapat diskon. Hahaha

5 buah keril berukuran 60L dan 80L udah disiapkan sebagai tempat logistik nantinya. Sengaja aku dan tim membawa keril, sebab kapasitas keril jauh lebih besar dari pada daypack biasa, ini dimaksudkan agar barang-barang tidak ada yang berada di luar keril, aku ingin semua barang bisa masuk ke keril termasuk barang-barang tidak terduga nantinya. Salah satu cara safety saat pendakian adalah tidak menggantung barang-barang diluar keril, atau tidak menjinjing perlatan lainya. kecuali tas jinjing, buat emak-emak yg ngebet pengen ndaki.  Banyak pendaki yang merasa lebih enak menggunakan daypack, namun sleeping bag, tenda, dan matras di tenteng begitu saja atau di iket-iket dengan rafia di ranselnya. Tentu hal seperti itu akan menyulitkan pergerakan tangan ketika mendaki  di medan yang sulit. Belum lagi fungsi sleeping bag adalah untuk menjaga kehangat tubuh saat tidur, bayangkan ketika hujan, sleepingbag dan tenda yang di jinjing tadi basah, kan amsyong banget buat tidur. Jadi, belajarlah safety dari hal yg sederhana ya gaess. ^__^

Selepas magrib hingga malam, aku dan tim Semut Summit mengemas peralatan pendakian dan logistik kedalam 5 buah keril. Kelima keril tersebut di bagi menjadi 3 kelompok, 2 sebagai pembawa peralatan pendakian termasuk tenda, 1 keril sebagai peralatan masak dan makanan berat, 1 keril untuk center logistik, dan 1 lagi untuk center cemilan pendakian. Ini dimaksudkan agar nantinya, ketika akan memasak atunpun bongkar pasang tenda lebih cepat karena tertata lebih praktis. Eddy dan Nanda kebagian membawa tenda, aku kebagian membawa peralatan masak dan center logistik berat, sofi pun demikian, sementara ira yang masih dianggap anak bawang membawa cemilan yang lebih ringan.

Hujan turun lebih sering, tak perduli siang ataupun malam, seolah air sedang sangat rindu pada rumput dan  tanah sementara awan tak mampu lagi untuk membendungnya. Situs perkiraan cuaca seolah di permainkan oleh semesta, perkiraan mereka lebih sering meleset dan tak tentu arah. Ini masih di kota, gimana nanti di gunung, yang cuaca akan bertingkah seperti wanita, susah di tebak.

Hingga saat ini, belum ada kabar pasti tentang siapa dan sudah berapa siap tim Palanus. Ini bukan tentang piknik di pantai, atau camcer (camping ceria) di Cibubur yang dekat dengan peradaban. Tapi ini gunung, ribuan meter di atas permukaan laut, dan puluhan kilometer dari desa terdekat, berjam-jam perjalanan, berhari hari di hutan. Mendaki gunung itu seperti menaklukan hati perempuan, jika tidak siap dengan kepastian, jangan memberi mereka harapan dan bayang-banyang. Eyaaaa…

Malam itu aku benar-benar lelah, nyaris tak ada akhir pekan dibulan november dan desember. Aku hanya butuh waktu seharian saja merebahkan diri di kasur, males-malesan seperti beruang yang sedang hibernasi. Beberapa hari terakhir tidur ku pun masih berpikir, mencari opsi terbaik jika planing-planing yang direncakan gagal. Sialnya tim semut summit adalah manusia kalong semua, kalau belum jam 1 malam belum pada pulang dari kosan, beberapa kali eddy harus terpaksa nginep di tempat ku karena gerbang kosnya sudah di kunci sama penjaga kos… #kayak kos cewek ajaah jam 9 malam dah di kunci.. 😛

Belum sempat merebahkan diri di kasur, mata kembali harus di paksa membaca sesuatu yang mengejutkan. Pusing kepala yang sudah 6 keliling karena bebearapa hari terakhir di paksa berkerja dalam tempo tinggi, kini harus bertambah satu, jadi tujuh keliling, karena handphone yg berdering rupanya mengabarkan sebuah berita yang kurang mengenakan, sebuah cerita yang menjawab resah selama ini.

“kak, palanus kemungkinan berangkat tanpa leader, dan ketika leader gak berangkat maka akan ada satu lagi yang gak berangkat” begitu isi pesan singkat yang aku terima.

Nah loooo…. Sudah mendekati hari H masih ada hal-hal kayak gini, rahasia-rahasiaan.. Beneran deh aku benci banget sama komunikasi yang di intrupsi, atau sama hal yang dipaksa baik-baik saja namun dibalik itu semua ada keburukan yang disembunyikan. Mending main petak umpet ajaa deh gak usah naik gunung kalau masih suka sembunyi dan rahasia-rahasiaan.

Ini bukan menyepelekan, meragukan, ataupun tidak percaya. Jika mendaki untuk diri sendiri tentu silahkan saja, berangkat semaunya, bertindak sesukanya, tapi tapii tapii… ah syudahlah, aku sedang males untuk mengulang attention ku yang sebelumnya, kata orang “lebih baik memahat patung dari pada berbicara pada patung agar ia mengerti”

H-1

Dikamar kos yang biasanya sepi, hanya ada beberapa foto ukuran A3 terpajang di dinding kamar, ring bola bakset, dan anyaman bambu berbentuk jaring, aksesoris sisa pameran beberapa tahun lalu ku buat sebagai sarang laba-laba. Selepas fisihing packing, ke empat orang anggota tim semut summit duduk santai berbincang memantapkan planingnya.

Aku masih mencoba berpikir tentang solusi dan merombak beberapa planing yang sudah di persiapkan sebelumnya akibat ketidak pastian, bahkan ketika besok sudah harus berangkat masih ada anggota palanus yang menanyakan masih mungkin kah semut summit mengikut sertakan seorang lagi yang pengen ikut. Tensi ku sudah tinggi, sementara aku harus menjaga suasana agar tidak berpengaruh pada psikologis tim ku, cuma istigfar dalam hati yang bisa ku lakukan guna meredakan amarah. Ku jawab singkat  aja, “kalau mau ikut, silahkan suruh aja temen mu cari kendaraan dan persiapan sendiri. Tim ku sudah packing, tinggal berangkat”

Jujur saja aku bukan tidak ingin mengajak orang lain untuk menambah pengalaman, tapi tolong kondisikan keadaan dan ikuti aturan mainnya, kareana ini bukan sekedar main di mall. Melangkahkan kaki mu masuk kedalam belantara semesta berarti harus siap segala kemungkinanya, dan kemungkinan terburuk itu adalah pulang tinggal nama. Keinginan itu setidaknya harus sepadan dengan pengetahuan dengan kemampuan. Lebih baik bobok cantik di rumah dari pada menangis minta turun karena gak kuat naik lagi setelah pos 2.

Aku tidak pernah bisa menyembunyikan rahasia dari tim ku, bagi ku kejujuran yang pahit jauh lebih berharga dari pada kebohongan yang manis. Sementara aku itu resah harus memberitahu anggota tim ku atau tidak tentang kondisi tim Palanus. Tapi demi kebaikan bersama, lebih baik mengantisipasi hal paling buruk untuk belajar waspada di kemudian hari. Lantas tercurahlah semua keresahan dan rahasia yang beberapa hari ini ku pikirkan sendiri.

“Teman-temen, saya sampaikan sesuatu yang menurut saya penting, terkait pendakian kita besok bersama Tim Palanus. ”

Aku dapat kabar bahwa kemungkinan Tim Palanus berangkat tidak dengan leader mereka, dan kemungkinan pula akan ada pergantian personil ataupun pengurangan. Aku pun baru dapat kabar beberapa hari yang lalu, dan sampai saat ini masih mencoba mencari kepastian, belum ada yg dapat mengkonfirmasi informasi tersebut.

Aku paham betul bagaimana personil tim Palanus, dan aku rasa Semut Summit pun demikian. Sindoro, Merbabu, Argopuro, cukup bagi kami memahami mereka. Lantas tanpa Hanjar, siapa lagi yg bisa menghandle mereka.?

Anggota tim yang lain kaget, dan bertanya tanya siapa yang akan menggantikan Hanjar memimpin tim Palanus.? Ranting, Pohon, atau Daun, ahh ketiganya sama saja,..

Suasana hening, kamar yang kecil kembali senyap, biarkan mereka menerawang dalam imajinasi dan pertanyaan-pertanyaan mereka.

Aku mau, kita, Semut Summit bekerja maksimal.

Aku rasa Semut Summit sudah fix 98% untuk ke Arjuno, ada ataupun gak ada Palanus kita tetap akan berangkat dengan apa yang sudah kita siapkan. Tapi, berhubung pendakian ini masih pendakian bersama, setidaknya sampai saat ini.  Jadi aku mau tim kita siap membackup tim Palanus. Kalau mereka tidak bisa menjaga  nyawa kita, kita yang akan menjaga nyawa mereka, kalau mereka tidak bisa membantu kita, kita yang akan membantu mereka. Aku hanya ingin timku kompak, solid, aku gak mau kita yang merepotkan mereka, kalau mereka yang merepotkan anggap saja biasa, karena kita biasa di repotkan. Selain kesiapan cuma doa dan teman yang menjadi penolong kita.

Bismillah, besok kita berangkat.. Pulang dan Istirahatlah..

 

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *