Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part XI

Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

 

Temen-temen bangun dengan sedikit bermalas-malasan, tak perlu buru-buru memburu matahari seperti yg direncanakan. Summit ke Welirang akhirnya di batal kan, setelah tadi malam tim berdiskusi panjang. Sepakat untuk menganggap puncak itu hanya bonus, bahkan setinggi apapun gunung yg kamu daki, puncak tetap lah di Bogor. 😀

Ahh bukan, bukan ituuu….. Tepi keputusan untuk tidak muncak ke Gunung Welirang lebih dikarenakan, mempertimbangkan timing dan kondisi fisik teman-teman. Perjalanan selama dua hari ini cukup menjadikan bahan evaluasi, mengingat perjalanan ke puncak welirang bukanlah perkara mudah. Meskipun jarak dari Pondokan ke Puncak Welirang itu sekitar 6 jam lagi. Tapi 6 jam itu bukan waktu yg sebentar, apa lagi untuk sebuah  pendakian dengan medan yang lumayan ektrim.

Oleh sebab itu schedule ke Puncak Welirang dibatalkan.. Hiksss.. Sedih, bimbang. Jujur ini keputusan paling sulit, apa lagi ketika melihat raut wajah mereka satu persatu. Dalam hati pasti ada ambisi untuk dapat mengijakan kaki di puncak sana, walau hanya beberapa menit saja. Tapi keputusan ini harus diambil dengan bijak, ada yg lebih penting dari puncak. Yaitu, kebersamaan. “Berangkat bareng, pulang bareng, susah bareng, seneng bareng, sedih sendiri, karena kami akan menghiburmu biar kamu jadi senang.”

Jika pendakian ini bukan tentang kebersamaan, mungkin Semut Summit sudah bergegas sejak tengah malam untuk ke Puncak Welirang. Tapi apa lah artinya sebuah puncak, hanya sebatas kenangan in frame, yg tak dapat di uangkan. Bukan seberapa tinggi gunung yg sudah kamu daki, bukan seberapa banyak gunung yg berhasil kamu tahklukan. Semesta mengajarkan lebih dari apa yg ada di puncak gunung. Jika level pendakian mu masih sebatas ambisi pribadi, maka hilang sudah namanya Empati. Kita manusia, ambisi pribadi  hanya kan menimbulkan jarak antara antipati dan simpati semakin tipis tak terlihat dan akhirnya memudarkan rasa manusiawi, hingga tak bisa lagi membedakan mana teman, mana lawan.

Sekali lagi, ini bukan tentang pendakian ku, pendakian mu, pendakian Semut Summit, pendakian Palanus, pendakian mereka, ini adalah pendakian kita. Kita adalah bagian dari sebuah rencana yg tertata bagai jalan berbatu yg di susun hingga mengantarkan kita ke tempat ini. Jadi, apapun yg dilakukan, yg kita perbuat adalah untuk sebuah puncak yg lebih tinggi dari puncak Welirang itu sendiri, yaitu rasa kebersamaan, kemanusiaan. Inget, kita Indonesia, segala keputusan harus diambil berdasarkan hasil musyarawarah yg mufakat, untuk tercapai suatu tujuan, bersatu di dalam kebhinekaan. Uhukkk..

Mari.. bangun pemuda pemudi… Sudah pagii, ada  yg mau bikinin aku kopi.? Hahahha

Oji, Ira, Sofi dan Nanda lagi senam pagi di basecamp pondokan.
Oji, Ira, Sofi dan Nanda lagi senam pagi di basecamp pondokan. Foto : Tirta Hardi Pranata

Seperti biasa, sarapan packing, dan senam pagi. Agenda rutinitas dari kaum nomaden yg tak jelas, kosan tak ada, hidup berpindah-pindah dari tanah lapang ke tanah lapang yg lain. Emmm, entah kenapa kita seperti kembali ke jaman kolonial, apakah kita sudah bosan dengan jaman modren.? hahaha kadang aku suka bingung sendiri sambil bertanya. Kalau di surga nanti semua nya serba ada, serba nyaman, dan semua permintaan kita di kabulkan. Sepertinya aku bakal bosen di surga, terus aku mau minta satu hal lagi sama Tuhan. “ya Tuhan, kembalikan aku ke dunia, dan ketika aku mati, balikan lagi aku ke surga, aku bisa minta dikembalikan kedunia lagi, begitu seterusnya” 😀

Eh buruuuaannn,, udah siang nih, mau berangkat jam berapa,.. Bongkar tenda, sampahnya kumpulin bawa turun, jangan bawa mantan. #upsss.. seketika hujan turun tanpa aba aba, gara-gara ngomongin mantan nih. Lantas flysheet yg tadi udah rapi di buka kembali, untuk melindungi keril dan teman-teman yg menunggu penggurusan satu tenda lagi. Perjalanan pun harus molor 2 jam dari jam 9 yg sudah di jadwalkan. Alamaakkk. Sampai puncak arjuno jam berapa nih?

Sembari menunggu beberapa petugas satpol pp menggusur sebuah tenda warna kuning yg berada di samping jalur pendakian, beberapa teman eksis mengabadikan diri dengan tongkat sakti yg mereka sebut jurus selfi. Instruktur senam pun ambil posisi, mengajak para lansia untuk sedikit meregangkan otot mereka. Aku?? Ahh, ambill kameraa, mengabadikan mereka yg sibuk sendiri.

Lembah Kidang, Gunung Arjuno Jawa Timur. Foto : Tirta Hardi Pranata
Lembah Kidang, Gunung Arjuno Jawa Timur. Foto : Tirta Hardi Pranata

Hampir tengah hari setelah hujan berhenti, kami baru mulai bergerak meninggalkan pondokan, tempat kami berbagi cerita malam tadi. Melipir pinggiran bukit, hingga sampai ke sabana yg hijau royo-royo, andai memilihara kambing di sini mungkin gemuk tuh kambing, rumput yg segar sehabis di siram air hujan, berwarna hijau memanjakan kambing, eh memanjakan mata. Disinilah naluri kehewanan manusia bermain, begitu lihat rumput hijau di sabana mereka seperti kambing yg melihat rumput hijau membentang, pengenyaa berlarian, loncat-loncat kegirangan, guling-guling di sabana. Duhhh yaa Tuhan, bahagia sekali melihat kambing-kambing ini berlarian, eh melihat teman-teman ini kegirangan.. hihih

Ayoo buruan, pakai batiknya, udah siang nih.. Katanya mau foto keluarga. Keluarga yg dibesarkan oleh semesta yg sama. Eyaaa..

All Team, pendaki Arjuno
All Team, pendaki Arjuno : Foto : Tirta Hardi Pranata

Dengan memakai batik, menutupi atribut tim yg dikenakan adalah bagian dari kita untuk tidak saling mengedepankan ego, dan melupakan kotak dan sekat yg mengatasnamakan pribadi, ataupun golongan tertentu. Karena kita dibesarkan oleh semesta yg sama, mari bersama-sama kita berjalan berdampingan, eh gak bisa, jalan setapak broo, berdekatan ajaa, jangan jauh jauh,, nanti kangen.. eh.. haha.  Bersama ke puncak yg kalian sadar kali ini kita ke puncak hanya untuk numpang lewat,. Karena jalur turun Lewat Lawang, dan harus melewati puncak Arjuno. Jadi yaaa benar, puncak itu hanyaa bonus sebuah perjalanan. Hahaha

Ira ngambek gak di ajak Selfi
Ira ngambek gak di ajak Selfi. Foto : Tirta Hardi  Pranata

 

Cekrekk, cekreekk, cekreeekkk… Udah yookk, lanjut … Perjalanan masih panjang,.. Kami kembali bergegas mempersiapkan atribut perang, me reload amunisi yg sudah hampir habis, karena hanya menyisakan beberapa botol air aja. Sementara perjalanan masih panjang, dan tidak ada lagi sumber air selama perjalanan dari lembah kidang, ke pos 2 jalur Lawang, perjalanan yg akan memakan waktu kurang lebih  10 jam perjalanan. Untuk itu kami harus mengisi full tank lagi keril kami dengan air yg mengalir di sudut lembah kijang.

Melompat Lebih tinggi
Melompat Lebih tinggi. Foto : Nanda

Air mengalir dari arah bukit, jalur pendakian, cukup jernih dingin dan menyegarkan. Beberapa pendaki juga tengah mengisi persediaan air mereka disana. Air di pegunungan memang lebih menyegarkan dari pada air dalam kemasan yg biasa kita beli di swalayan. Setelah botol kosong kembali penuh dengan air, kami bersiap melanjutkan perjalanan.

Byuuuuuuuurrrrrrr…. Tiba-tiba hujan kembali datang, temen-temen kocar kacir memenyembunyikan peralatan dari air, dan segera memakai jubah pelindung hujan yg warna warni.. Taraaaaannggg, kami berubah lagi jadi power ranger. Pendakian di akhir tahun memang lebih banyak di warnai dengan aneka model jas hujan yg dikenakan para pendaki. Hal lumarah, karena memang sedang musim rindu antara air dan rerumputan. Hujan itu rahmat, ia lah yg membuat tanah ibu pertiwi ini hijau, dengan aneka keragayam hayatinya. Bayangkan jika tanah ini tidak di guyur hujan, mauu kalian ndaki seperti gurun sahara, atau berjalan di padang pasir seperti unta? Enggak kan,, mari bersyukur, ALLOHUMMA SHOYYIBAN NAAFI’AAN

Perjalanan dari lembah kidang dimulai bersama rintik hujan yg turun perlahan. Tanjakan yg semakin curam dengan di dominasi trek yg sesekali di halangi oleh pohon tumbang dan kenangan mantan, eh genangan air. Membuat trek lebih menyebalkan, aku berjalan sendiri di barisan belakang. Aku butuh aklimatisasi yg lebih intensif dengan semesta. Beberapa kali harus menyesuaikan langkah dan beban di keril yg tak berkurang beratnya, mungkin tambah berat karena busa-busa yg dirancang untuk membuat keril nyaman sudah basah oleh air. Ditambah lagi pergerakan kontraksi paru-paru yg seperti pengap, duh gustiii, aku benar-benar harus mengatur ulang kinerja sistem ku. Kayak Iron Man, yg mengatur ulang Jarvis nya..  hahahhaa

Setelah mensetting ulang keril, dan melepas beberapa atribut yg menyebalkan tubuhku kembali ke performa terbaiknya. Yeeaaa,, Iron Man is come back brooo, tapi tetep aja aku berjalan di barisan belakang, kali ini bukan karena aku mengalami kondisi tadi, tapi karena aku ingin lebih menikmati cumbuan kabut gelap, yg sesekali membelai pipi, membuat merinding hingga telinga dingin.

Sesekali ku lihat teman-teman yg berjalan di depan mulai samar-samar tertutup kabut. Aku tersenyum, sambil mengatakn “the lost world, Assalamualikum semesta” syahdu bgt rasanya. Sambil pelan-pelan nyanyi lagunya D’cinamons, atau Banda Neira kan asikkk..  Beberapa kali mereka berteriak memanggil nama ku, dari balik kabut. Mungkin mereka kwatir sama aku, yg tak terlihat. Tenang gaess I am fine. Ehh ternyata sekali kabut membuka tirainya, mereka sedang bersandar di batu besar, atau duduk cantik di batang pohon yg tumbang. Hahaha, capekk??

Night never come to late, perlahan tapi pasti mentari meninggalkan peraduan siang, berselimut kabut yg mengantarkanya kembali ke langit barat. Bersamaan dengan itu jingga senja  gemulai menunjukan kecantikanya yg sementara, sore tersyahdu yg pernah ku lihat selama pendakian ini. 3 hari dan sudah 2 kali senja ku nikmati, tapi tak pernah ku lihat jingga. Baru lah senja hari ini, ketika kami berjalan  mendaki ke puncak arjuno, aku menikmati jingga memamerkan pesonanya, membalut puncak welirang yg menghembuskan sulvatara.

Malam perlahan menutup sementara semesta, berganti drama dengan peran sang bintang dan rembulan. Pupil mata membesar menyesuaikan keadaaan yg minim cahaya. Tapi mata ini bukan mata si owl, yg dapat melihat dalam gelap, mata kami mata manusia biasa yg tetap membutuhkan bantuan cahaya untuk dapat berjalan dalam gelap. Senter kepala menyala terang, mengiringi perjalanan menanjak yg semakin curam. Tim depan sudah tak terlihat lagi rupanya, entah sudah sampai dimana, sementara aku, arif, asep, syura dan sri berjalan di kelompok belakang. Sesekali harus menyemangati Sri yg lagi entah pada pendakian kali ini. Ini bukan performa terbaik Sri dalam aktifitas mendaki. Tapi untung ada arif yg setia menemani Sri di barisan paling belakang, menemani setiap langkah meskipun lebih sering diomelin sama sri yg gak mau di istimewakan. Ckckckc

Entah seberapa jauh lagi kami harus berjalan meniti tanah lembab yg licin, bersama rerumputan yg mulai berselimut embun malam, di belai angin yg dingin. Lampu kota kelap-kelip, sepertinya lebih meriah dari pada bintang di langit yg shy shy cat di balik awan kelabu. Dari jauh ku liat cahaya senter yg ku kenal, ciri khas yg sangat melekat pada semut summit, ahh mungkin ini sangking dekatnya aku dan eddy sampai dari cahaya headlamp nya saja aku tau kalau itu Eddy. Hahaha

Dari kegelapan Eddy bergerak turun, mendekat ke arah kami yg berjalan teratih pelan. Setelah dekat, ia langsung ke barisan barisan belakang, menemui ku. Mengabarkan berita yg sudah ku perkirakan,. Setengah berbisik ia bercerita, bahwa teman-teman yg di depan sudah sampai di pasar dieng, tadi Oji duluan dan untunglah dia berhenti di situ dekat camp anak SMK yg ada api unggun. Nanda juga sudah sampai, yg lain dalam perjalanan ke sana. Begitu kata Eddy yg ngoceh sajaa, ku tawarkan air minum di dalam botol. Kami berjalan beriringan, aku tau Eddy nunggu keputusan ku, aku masih berpikir sambil jalan. Sesakali bercanda bego sama teman yg sudah telalu lama bersama ku.

Kamu mau naik lagi,? Tanya ku sama eddy.

“Iyaa” jawan Eddy singkat.

Kalau kuat naik lagi bawa keril si Sri naik, sampaikan sama Nanda dan temen-teman yg sudah sampai, untuk stay di Pasar Dieng, bikin tenda, dan masak air hangat, bikin minuman. Aku di sini backup Arif, Asep, Sri dan Syura.

Cuma kata “oke, siap” yg keluar dari mulut Eddy, sangking perhatian nya, dia sempat menanyakan keadaan ku.. “kamu gpp? Masih kuat.?” Kata Eddy, hahaha soswit banget dah temen ku satu ini. Sudah, aku gpp kok, kayak gak tau aku ajaa lu.. hahaha. Eddy bergerak cepat mengangkut keril Sri ke camp area Pasar Dieng. Sebelum ia beranjak, ia memperingatkan kalau treknya aduhai, hati-hati jalan licin.. Begitu katanya. Ku bilang, Iya, gak ada yg mudah digunung. Yg lebih susah pernah kita lewati kok. Hihi.

Bukan sombong apa lagi songong, susah atau mudah dalam menghadapi jalur pendakian itu relatif. Jika dibicarakan dalam kontesk secara umum, tak ada kata mudah dalam sebuah pendakian. Bahkan untuk gunung sekelas Nglanggeran atau Prau sekalipun, semua akan ada kata mudah dan sulit. Kebanyakan sih sulit, dan bukan sugesti itu kenyataanya. Kalau mau mudah sih jalan kaki aja ke mall, itu mudah. Aku tak pernah mengganggap suatu perjalanan pendakian itu mudah, aku selalu mengkategorikan pendakian itu susah. Kenapa? Karena aku ingin teman-teman bersiap untuk hal yg tak terduga. Aku selalu berkata, sudah banyak gunung yg kalian daki, yg kata orang, bahkan kata kalian sendiri itu susah, tapi kalian berhasil melewatinya. Lantas apa yg kalian keluhkan, tentang perjalanan kali ini.? Susah itu karena kita sedang menjalaninya, sedang berproses, dan untuk sebuah proses memang membutuhkan sebuah harga yg harus di bayar, yaitu dengan peluh dan kesah. Ketika kalian sudah melewati proses itu dan menjalani proses yg baru, tentu kalian akan mebandingkanya. Lumrah hal itu kalian lakukan, tapi inget satu hal. Kalian pernah melewati suatu pendakian yg kalian bilang susah, dan kalian berhasil. Harusnya itu jadi motivasi, gak ada yg susah jika di jalani, toh kita sedang mencoba sesuatu yg baru.

“A person who never made a mistake never tried anything new.” – Albert Einstein  😉

Malam semakin dingin, angin gunung begitu angkuh membelai baju basah yg kami kenakan, dinginnya menembus pori-pori pakaian hingga ke pori-pori kulit menghujam jantung, menggetarkan tubuh hingga menggigil. Sinar sentar Led dengan balutan frame orang kembali bertengger di puncak bukit. Lah si Eddy balik lagii, kurang kerjaan nih orang. Aku bergegas mendahului yg lain menyusul Eddy, sebab aku tau jika Eddy sudah balik lagi untuk kedua kali nya, ada sesuatu hal yg urgent yg perlu ia sampaikan kepadaku.

Kenapa lu balik lagi? Tendanya sudah jadi? Tanya ku sama Eddy.

“Belum” jawabnya singkat

Lah kenapa?

Nanda dan yang lain bingung harus ndirikan tenda dimana, katanya nunggu kamu aja. Diatas gak ada tempat luas soalnya. ah, sana lihat sendiri lah. Nanda nunggu di pasar dieng.

Hadehh.. aku geleng geleng kepala, disaat seperti ini harusnya mereka bisa mengambil keputusan sendiri, seperti yg sudah di bicarakan pada saat evaluasi. Toh mereka sudah bisa mengambil keputusan untuk berhenti di pasar dieng, dan untuk masalah mendirikan tenda harusnya keputusan yg kecil lah. Kenapa musti nunggu aku. -_____-!!

Ya sudah aku kesana, ed. Kamu masih kuat bawa keril.? Tanya ku sama Eddy.

“kenapa?” jawab Eddy.

Kamu bawa keril si arif, biar Arif bawa keril si syura, biar lebih cepet mereka jalanya.

“okeee.” Jawab Eddy,

Setelah Arif, Syura, Asep, dan Sri sampai aku meninggalkan Eddy dan mereka berjalan ke pasar dieng yg tak begitu jauh dari patok perbatasan Malang dan Probolinggo. Perjalan kepasar dieng melewati punggungan bukit, yg kiri kanan hanya di batasi gudukan tanah dan pohon cantigi mati. Treknya lumayan datar hingga aku bisa berjalan cepat. Aku hampir terjatuh tersandung tumpukan ranting, yg sepertinya sengaja dikumpulkan untuk kayu bakar. Rating itu tergeletak begitu saja di tengah jalur, ku pikir ulah Eddy dan Nanda. Tapi aku tak menghiraukan, segera aku bergerak mendaki nanda.

Mas Tir..?? teriak Nanda menyambut ku.

Nand,, gimana?

Mau ndirikan tenda dimana mas?  Nanda bertanya pada ku yg mencoba meraba area sekitar dengan sinar headlamp

Lah itu tempat datar banyak, jawab ku sambil menunjuk tempat datar dengan cahaya headlamp..

“itu makam mas,” Nanda bicara pelan,

Ouhh..

Lantas aku turun lagi, Nanda berjalan mengikuti ku dari belakang,..

“nah ini tempat datar lagi. Cukup lah 5 tenda.” Ucap ku lagi

“Itu juga makan mas, adanya di bawah sana tempat datar, tapi masih dekat sama makan.” Jawab Nanda.

“Kenapa gak bilang dari td… ” Kata ku sama Nanda.

“Assalamuaikum ya Ahli kubur, kita berteman yaah malam ini, numpang tidur sebentar” aku berkata dalam hati, ketika berjalan melewati petilasan yg serupa makan.

“Disini mas, ini tempat lapang, didepan sana sudah gak ada, sudah di cek semua sama mas Eddy td. Bisa nya Cuma disini diriin tenda, tapi gak bisa berkelompok ” Nanda menjelaskan situasi area kepada ku..

“Oke ya sudah di sini aja, diriin ajaa disini. Gak berkelompok gpp, yg penting tenda bisa buat istirahat.”

“siap ndan.” Nanda bergegas membongkar keril, mencari tenda, dan mendirikan tenda bersama rekan-rekan yg lain.

Aku milihat kondisi tim yg lainya, yg mencari kehangatan dari api unggun tenda tetangga. Selain kelompok ku ada sekelompok anak SMA yg dengan berani mendirikan tenda di Pasar Dieng, 400Meter dari puncak Arjuno. Setelah melihat kondisi teman yg masih aman, aku kembali ke Nanda, mendiri kan tenda bersama mereka.

Beberapa tenda di bangun diatas lahan yg keras dan berbatu. Terpisah beberapa meter antara tenda satu dengan tenda yg lainya. Untuk membangun tenda di tempat yg berbatu dan di atas punggungan bukit dibutuhkan ketepatan dan teknik. Memperhitungkan kondisi arah datangnya angin, dan membuat patok-patok tenda yg kuat agar tenda dapat berdiri tegar meski di hempas angin kencang.

Kaum adam berjibaku mendirikan tenda, sementara Sofi dan beberapa kaum hawa sibuk membuat kan kami makan malam, meskipun beberapa di antara mereka sudah tidak kuat menghadapi dinginya malam dan memilih bersembunyi di dalam tenda. Hanya sofi si pendekar yg masih kuat menghadi serangan angin malam, berlarian kesana kemari, meskipun dengan emosi yg sedikit naik. Ihiiy..

“mas. Ira kedingan,..” Teriak Nanda kepada ku.

Ku sururuh Ira masuk kedalam tenda yg sudah jadi. Ku minta ia mengganti semua pakaian yg di kenakan. Awalnya ia males-malesan karena dingin dan sudah merasa nyaman di dalam sleeping bag, tapi aku berkeras memintanya menganti pakaian dengan pakaian yg kering. Mau gak mau Ira menuruti perintah ku, meskipun dengan wajah cemberut.

Perlu diinget, kadang kita perlu menegaskan sesuatu hal kepada rekan pendakian kita, bukan bermaksud marah meskipun nada bicara kita lebih tinggi dari biasanya. Dalam beberapa kondisi itu diperlukan, seperti yg ku lakukan dengan ira. Pendaki awam atau pendaki pemula, memang kadang ngeyel kalau di kasi tau sama yg sudah berpengalaman, apa lagi jika itu bertentangan dengan kenyamanan mereka. Please deh, di gunung itu banyak yg mati dalam kenyamanan yg mereka rasakan.

Dalam hal aku dan Ira, kenapa aku berkeras meminta ia mengganti pakaianya. Satu, meskipun ia merasa nyaman dengan apa yg sudah ia kenakan, tapi menurut ku itu tidak. Pakaian yg dikenakan selama perjalanan mendaki, sebenarnya itu adalah pakaian basah, terasa sudah kering karena tubuh kita sudah mulai terbiasa dengan lembab. Jadi kadang meskipun kalian memakasi sleeping bag masih terasa dingin, yaa salah satu penyebabnya adalah pakaian yg kalian kenakan itu masih lembab. Fungsi sleeping bag sendiri sebagai isolator panas gak akan berfungsi maksimal, karena panas tubuh kalian terserap oleh pakaian yg lebab tersbut.

Pernah gak nyeletuk “baju ku udah kering kok, padahal tadi basah” nah yg membuat baju kalian kering itu adalah panas tubuh kalian sendiri.

Setelah ira mengganti pakaianya dengan pakaian yg kering, segera ia ku pakaikan Emergency Blanket, lembaran almunium foil yg memang di sediakan untuk keadaan darurat mencegah hippotermia. Setelah memakai Alfol, Ira di bungkus lagi dengan menggunakan Sleeping bag. Kebayang gak luu, gimana panasnya,? Hahaha itu adalah pertololngan pertama ketika meghadapi keadaan darurat akibat kedinginan dan mencegah hippo. Setelah di bungkus begitu, ada baiknya si tersangka di beri minuman hangat, biar tubuh nya merasa hangat. Namun karena si ira keras kepala, teh yg sudah di buatin sofi gak diminum, akhirnya di habisin sama Nanda.

Tapi aku gak ingin marah-marah dalam keadaan seperti ini, percuma batu di lawan dengan batu. Yang penting Ira sudah di isolasi dalam alfol dan sleeping bag, dan sudah beristirahat dalam tenda, aku sudah tenang. Dan kembali bercengkrama di dalam tenda bersama 3 idiot, Nanda dan Eddy satunya aku. Hahaha. Berebut satu Sleeping bag untuk ber3, tumpuk-tumpakan kaki, tarik-tarikan bulu kaki. Hahah pekok tenan..

“Bikin api unggun yukk” kata ku kepada Eddy dan Nanda.

“Itu mas di jalur sebelum makam, tapi ada tumpukan kayu bakar.” Kata Nanda.

“Iyaa,ambil aja itu,” kata Eddy.

“Iya, ayookk ambil.. ” kata ku pula.

“Ogah ah,, takut aku” kata Nanda yg emg penakut, jangan kan sama demit sama cewek aja dia takut. Takut khilaf katanya. Hahahhaa

Akhirnya aku dan Eddy yg keluar dan mengambil kayu bakar tersebut. Sepanjang perjalanan melewati dua area petilasan, kami lebih banyak diam. Membiarkan hati yg permisi pada mereka yg lebih dulu menempati tempat ini. Aku dan Eddy mencoba kembali mengingat-ngingat lokasi kayu bakar tadi, hingga sampai di tugu perbatasn kami tak juga menemukan tumpukan kayu tersebut. Padahal jelas sekali kayu itu berada di tengah jalur pendakian, dan bukan hanya aku yg lihat, Eddy dan Nanda pun melihatnya. Tapi kok gak ada. ?? Kemana perginya, diambil orng,? Ah gak mungkin, kami adalah rombongan terahir dan satu satunya yg naik ke pasar dieng malam itu.

“mana ed kayunya?” aku bertanya sama eddy

“gak atau.. ayoo pulang.” Jawab Eddy.

“halahh, yok lah, pulang sambil nebang cantigi mati yg kering aja” kata ku sembari memperisapkan pisau.

Eddy berjalan di depan, sesekali menunggu ku yg mematahkan cantigi kering di pinggir perjalanan.

“Maaf yaaah, aku minta sedikit buat bikin api unggun, kasian temen-temen kedingian” aku berbicara pada cantigi yg ku patahkan. Bukan pada sesorang yg hatinya patah. Eh.

Eddy ketawa mendengar ku bicara sendiri. “Ayoooo” kata Eddy, antara takut atau sudah kedinginan.

Kami bergegas ke tenda. Eddy segera masuk ke dalam tenda, sementara aku mencoba menyalakan api unggun dengan parafin dan plastik. Beberapa kali percobaan ku gagal, api unggun yg menyala tak bertahan lama di serang dingin malam. Ah syudahlah, mending menyalakan kompor dan bikin minum anget.

Malam itu sofi masak nasi dan sayur yg dicampur konet. Lumayan enak, apa mungkin karena kami yg laper. Hihihii Setelah semua aktifitas malam itu beress, kami beristirahat dalam tenda masing-masing. Mengistirahtkan tubuh yg sudah lelah. Biarlah bintang bercengkrama malam ini, aku tak ingin mendengarnya, aku takut pada angin yg cemburu dan pada cantigi yg menunggu ku..

 

Baca kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

4 thoughts on “Keramat”

  1. Pingback: Air – @Za_prans

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *