Part V

Pendakian Gunung Sumbing Via Desa Butuh, Kaliangkrik

“Tak ada salahnya mengalah, yg salah adalah memaksa melakukan yg salah”

 

 

Pukul 03.30, seperti yg sudah kami sepakati, aku dan Eddy akan Summit subuh ini jika cuaca mendukung. Tapi nyatanya, angin masih angkuh menghempas-hempas tenda kami, sementara sesekali kondesasi awan menciptakan rintik menyerupai gerimis. Beberapa rekan sependakian yg menetap di pos 4 pun mulai buka suara, sepertinya mereka juga punya rencanya yg sama.

Pintu tenda ku buka separuh untuk memberi celah mengintip keadaan diluar. Gelap dan dingin menyambut kepala ku yg menyembul dari dalam tenda. Kabut begitu pekat menutup jarak pandang, dan menutup malam begitu lekat. Harapan untuk menikmati sunrise di puncak sejati Gunung Sumbing memudar, di tiup angin yg membawanya jauh ke angkasa.

Beberapa perbekalan untuk summit kami packing di satu keril, lengkap dengan emergency tools, emergency kits dan raincoat. Aku dan Eddy mempersiapkan diri dengan jaket tebal, buff, baju ganti, tak lupa sepasang kaos kaki dan sepatu basah kami kenakan kembali untuk menemani perjalanan ke puncak pagi ini. Tak banyak yg bisa kami lakukan selain berharap semesta bermurah hati, sebagai manusia tentu tak punya wewenang bagi kami mengaturnya, hanya bersiap menghadapi keadaan mesti itu tak pasti.

Beberapa pendaki sepertinya sudah bersiap di tendanya masing-masing, menanti badai berhenti lantas bergegas mendaki. Tiap detik dan menit yg berlalu tak juga angin mereda, bahkan ketika penantian semakin lama, justru angin dan air semakin semena-mena. Aku dan Eddy kembali harus berpikir ulang untuk mendaki, terlalu beresiko jika memaksakan mendaki dalam keadaan begini. Jika memaksa, mungkin kami bisa menggapai puncak, tapi apalah artinya puncak jika yg ada hanya gelap gulita. Terlalu berharga mempertaruhkan nyawa hanya untuk sebuah foto yg di upload di sosial media.

“kita punya waktu untuk turun lagi ke sini maksimal jam 10 siang, artinya jika sampai pukul 7 badai gak juga reda kita pulang.” Kami berdua membuat kesepakatan yg dilema, meski kami sama-sama tahu badai pasti berlalu tapi kami gak tau harus sampai kapan menunggu.

“Muncak mas..??” tanya dua orang pendaki yg kemarin ku bantuin mendirikan tenda.

“gak tau nih mas, cuacanya kayak gini.. kalian muncak?”

“iya mas, nanti kalau cerah”

Pagi itu kami sama-sama mengamati kondisi cuaca yg masih tak menentu. Angin masih garang membelai tenda, segala sesuatu yg tak berpegangan di bawanya terbang. 3 orang pendaki yg ngecamp persis  disebelah tenda ku bersiap naik. Aku terperangah nyaris tak percaya, ketika mereka mengenakan sepatu dan menggendong keril. Aku dan Eddy yg sejak pukul 04.00 tadi sudah mengenakan sepatu tak  berani  naik. Mungkin mereka punya nyawa double dan tingkat kenekatan 200% kali yakk..

“Muncak mas,?” tanya ku pada mereka..

“ia mas, mas nya gak muncak.?”

“hahaha, gak tau ni mas, ntr aja kalau cuaca reda, kalau gak yaa langsung turun aja nanti.” Jawab ku.

“Oh, kami duluan yaa mas.” Ucap salah satu dari mereka..

“okee mas, hati-hati.. salam sama puncak” jawab ku dan Eddy.

Sepeninggalan mereka ke puncak, angin makin berhembus kencang dan tak lama air seukuran kacang ijo seakan berjatuhan dari langit. Aku dan Eddy yg masih berada di luar melepas kepergian rekan-rekan pendaki tadi, kelimpungan masuk ke dalam tenda. Sementara 3 orang pendaki yg baru saja melangkah 100 meter dari camp, bergegas berlarian turun dan sembunyi di dalam tenda mereka. Ahhh, rupanya tak ada satu orang pun yg diziinkan melangkahkan kaki mendekati puncak hari ini.  Hujan deras turun di sertai angin kencang. Memaksa kami kembali berselimut sleeping bag dan bersemayam didalam tenda. Aku memutuskan untuk membuat sarapan pagi sembari menunggu hujan mereda.

Waktu berganti dan sepertinya badai kembali melewatkan pagi. Hari itu tak ada sunrise di gunung Sumbing, hanya ada deru angin dan rintik air.  Mentari tau tau muncul ketika sudah berada di seperempat hari, hanya sinar terang yg menandakan keberadaanya. Sudah sangat siang untuk melangkah ke puncak meskipun hujan tak lagi turun tapi awan hitam masih menggantung.

Aku dan Eddy memutuskan untuk turun, kami tak punya waktu lama untuk berharap belas kasih sang semesta. Setelah packing dan membersihkan sisa-sisa sampah di sekitar camp area, kami melangkah turun, menghapus asa untuk menikmati katulistiwa dari sabana dan puncak Sejati Sumbing. Next time, kami pasti kembali.

Kami melangkah ringan menuruni perbukitan gunung sumbing, meninggalkan Pohon Tunggal berteman angin, nyaris seluruh pendaki yg berada di pos 4 memutuskan untuk turun. Kami berpapasan dengan beberapa rombongan yg baru akan naik, beberapa dari mereka menanyakan jarak dan lainya menanyakan kondisi cuaca. Sementara diketinggian puncak Sumbing, awan hitam masih menyelimuti, menutupi setiap sudut indah sumbing yg mempesona. Aku dan Eddy, terus berjalan turun dengan langkah ringan tanpa sesal belum berhasil menggapai puncak sejati. Bukan kah tujuan dari mendaki itu adalah pulang, puncak takan pernah pergi, tetaplah ia menjadi nama daerah di Bogor sana. Tapi pulang dengan selamat sehat sentosa itu harus, jika tidak apalah artinya puncak jika hanya namamu yg pulang,? Bukankah mereka ingin mendengar cerita indah tentang puncak, bukan cerita sedih tetang kehilangan mu di puncak.

Sumbing, aku percaya diri mu indah, makanya tak mudah aku menakhlukan mu. Aku akan kembali ke sini, suatu saat nanti. Akan ku buat cerita yg indah bagaimana aku mencapai puncak sejati mu, Next time. In Shaa Allah aku akan kembali mengunjungi mu. Sumbing.

 

Sampai ketemu kembali.. …

Selesai.

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *