Hidup itu bukan sekedar hidup, tapi juga menghidupi hidup.

Alm. Ws. Rendra

 

Sejak seminggu kemarin kami sibuk bermediasi, berkordinasi sana sini. Hilir mudik mempersiapkan segala daya untuk menjadi penunjang kegiatan. Lumarah jika sebelum hari H terlaksana kami harus memastikan tak ada yg terlewat. Begitulah yg selama ini kami pelajari dari pendakian. Kata pepatah, sedia payung sebelum hujan, hindari menjadi manusia kreatif yg mengandalkan rotan ketika tak ada tali. Karena itu hanya alibi bagi mereka yg tak siap dan kurang memperhitungkan keadaan.

Pendaki tidak selalu identik dengan kegiatan mendaki gunung, seperti hanya yg kami lakukan. Mendaki itu sebatas hobi dan aktifitas belajar. Mendaki lebih dari sekedar berbagi tenda ataupun secangkir kopi, tapi juga berbagi kebahagiaan. Saya jadi ingat dialog nabi musa dengan Allah SWT.

Pada suatu saat Nabi Musa as berkomunikasi dengan ALLAH SWT

Nabi Musa as.: “Wahai Allah aku sudah melaksanakan ibadah.Lalu manakah ibadahku yang membuat engkau senang?”

Allah SWT: “Sholat mu itu untukmu sendiri, karena dengan kau mengerjakan sholat, engkau terpelihara dari perbuatan keji dan munkar.

Dzikir? Dzikirmu itu membuat hatimu menjadi tenang.

Puasa ? Puasamu itu melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu”.

Nabi Musa as: “Lalu apa ibadahku yang membuatmu senang ya Allah?

Allah SWT: “Sedekah, infaq, dan Zakat mal mu serta akhlaqul karimah-mu. Itulah yang membuat aku senang, Karena tatkala engkau membahagiakan orang yang sedang susah,

aku hadir disampingnya. Dan aku akan mengganti dengan ganjaran 100 kali”. (Al-Baqarah 261-262).

Langit biru berganti hitam, berbintang kelap kelip dilangit jogja. Sekelompok manusia duduk melingkar beralas tikar di salah satu sudut kota Jogja. Membahas tentang persiapan yg sudah hampir matang bagai buah mangga yg ranum di atas pohon. Acara bakti social dipanti asuhan yg sudah di rencakan sejak jauh jauh hari kini telah sampai di depan gerbang pelaksanaan.

Mas Yudi dan Tim sedang mempersiapkan baliho raksasa buat background foto. | Foto : @za_prans

Bakti social tahun ini diadakan di Panti Asuhan Darul Qolbi, berlokasi di daerah Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. Tempat sederhana ini dihuni anak -anak kecil dari umur 2 tahun hingga SMK. Tak hanya belajar tentang ilmu pengetahuan dan social, tapi juga mereka belajar ilmu agama, menghafal al quran. Anak anak yg dengan senyum polosnya tumbuh di lingkungan tidak terlalu tercemar oleh virus modrenitas dan gadget. Memang seperti itu lah harusnya generasi ini tumbuh, tumbuh Bbersama hal yg pantas diusianya.

Mentari bersinar terik di penghujung bulan puasa, semilir angin sepoi sepoi memberikan kesejukan pada tubuh yg sedikit beradaptasi seperti kaktus di padang pasir. Beberapa rekan sudah mempersiapkan diri sejak pagi, bergotong royong mengumpulkan barang yg harus di bawa. Tak ada yg membuat kami lelah untuk berbagi, kebersamaan adalah pasokan energi untuk terus berkarya.

Games menjinakan bom, untuk melatih kerjasama antar santri dan panitia. |Foto : @za_prans

Hamparan sawah terbentang luas dikanan dan kiri jalan, beberapa kali pula kolam pembesaran ikan nila berjajar dengan penguninya yg sibuk berenang. Pohon nyiur melambai-lambai menarikan tarian selamat datang. Pondok pesantren Darul Qolbi berada di tengah perkampungan, tempat yg tenang untuk merefleksikan diri, menjauh dari hiruk pikuk keramaian kota.

Bangunan dua tingkat, diding pemanen yg belum seluruhnya di plaster semen menjadi tempat berteduh sekitar 15 orang santri dan pengurus. Di depan bangunan utama pondok pesantren terdapat kolam ikan cukup luas, dengan air jernih yg mengalir. Sementara di bagian belakang ada hamparan sawah yg di belah dengan anak sungai. Tak ada unsur arsitektur mewah disini, semua dibangun karena kesederhanaan.

Beberapa teman dari pegiat alam yogyakarta bekerjasama merangkit jemuran. | Foto : @za_prans

Mejelang sore semua tim bergerak mandiri sesuai dengan tugas pokok, serta tanggung jawabnya. Tanpa perlu banyak komando, semua bergerak mengisi slot pekerjaan yg memang harus dikejarkan. Tak ada divisi yg membuka lowongan kerja dadakan, semua slot kosong sudah terisi oleh para relawan sukarela dan suka suka demi tercapainya sebuah tujuan mulia.

Satu persatu kami kerjakan, tanpa adanya kebersamaan pekerjaan ini tak akan selesai sesuai rencana. Jemuran, taman obat keluarga, serta edukasi para santri dalam mendirikan tenda. Beberapa dari kami membagi kebahagiaan dengan mengadakan permainan kekompakan, tujuan sederhana, agar mereka terbiasa untuk saling membantu, saling menguatkan, dan saling mengeratkan, terbiasa bekerja sama dalam musyawarah yg mufakat.

Tim sedang mempraktekan cara mendirikan tenda dome untuk camping kepada para santri pondok pesantren Darul Qolbi. |Foto : @za_prans

Semua kegiatan luar ruang selesai menjelang waktu berbuka puasa. Jemuran baru berdiri kokoh pengganti jemuran anak anak yg mulai rapuh, sepeda sepeda yg berserakan telah rapi sementara yg rusak di sisihkan untuk segera di perbaiki. Gundukan tanah, telah menempati sela-sela perkarangan yg kosong, di atas nya pula tumbuh berbagai jenis tanaman obat keluarga yg di persiapkan oleh teman-teman. Tak ada yg lebih menyenangkan selain melihat orang lain tersenyum senang atas apa yg kita lakukan. Bulir bulir keringat yg tercecer menjadi saksi bahwa tak ada perbuatan yg lebih baik selain berbuat sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain.

Komunitas Pegiat alam saling bekerjasama untuk merakit jemuran. |Foto : @za_prans

Sepertihalnya pendakian, kita akan selalu belajar untuk benyak melihat ke bawah dari pada keatas. Bahkan ketika sedang menuju puncak, sesekali kita menegakan pandangan ke atas untuk memotivasi diri bergerak ke tujuan, selebihnya akan lebih sering menunduk agar kaki tahu tempat berpijak yg mantap. Kita akan lebih sering melihat kebawah untuk bersyukur dan sesekali melihat ke atas selepas turun. Bukan untuk mengucapkan selamat tinggal, tapi mengucapkan rasa syukur atas semua pelajaran yg diraih selama pendakian.

Tim sedang menanam bibit tanaman obat untuk menghiasi lahan kosong di sekitar pondok pesantren. |Foto : @za_prans

Biarkan pohon-pohon itu tumbuh dengan sendirinya menjemput mentari. Jangan dipatahkan harapan mereka yg sedang membuncah, biarkan bunga bunga itu merekah indah di tempatnya, jangan di petik hanya untuk cendramata. Bukan kah kalian mengaku pencinta alam,? Bagaimana wujud pencinta jika ia hanya merusak, membunuh, tanpa bisa menciptakan.

Bermain games bersama santri. |Foto : @za_prans

Hidup ini bukan sekedar untuk dinikmati oleh generasi kita. Ada generasi generasi yg akan mewarisi apa yg kita perbuat hari ini. Pegiat Alam Yogyakarta dalam kesempatan kali ini mengedukasi generasi setelah kami, bagaimana cara mereka memperlakukan lingkungan, menjaga tumbuh-tumbuhan yg kami tanam agar tumbuh. Bagaimana sesuatu yg dikerjakan secara bersama-sama akan lebih baik. Tak ada manusia yg bisa sendiri, kecuali manusia yg rasa egonya paling tinggi.

Pegiat Alam yg mengikuti kegiatan bakti sosial di Pondok Pesantren Darul Qolbi. |Foto : @za_prans

Kebaikan itu tak mengenal nama organisasi, kebaikan adalah milik jiwa jiwa manusia. Kami hanya mendapat kesempatan berbuat lebih, mendapat teman-teman yg memeliki hobi dan kepedulian yg sama. Aku hanya bersyukur berada di antara orang-orang istimewa, tanpa memandang perbedaan, tidak memperdebatkan kepercayaan, tidak mendeskriminasi warna kulit. Semua bersatu menjadi kelompok pegiat kebaikan.

 

 

 

Share This:

One thought on “Kegiatan Sosial Pendaki Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *