Andai aku tau dibawah warna langit mana aku akan terus melangkah,

Mungkin aku akan melangkah pasti.

Tapi awan hitam membayang mengincar langkah ku ketika merasa sepi.

Kalabu,

Seperti langkah yg sering hilang arah.

Sendiri ku bisa melangkah pergi, tapi tanpa tuju hanya seperti cemara yg telah lama rubuh.

Rapuh.

Terimakasih sepasang kaki mu bersusah payah mengimbangi langkah ku.

Meskipun kita sama-sama bimbang arah mana yg akan di tuju.

Ditrotoar jalanan kota kita beriring bersama,

Menikmati bisik-bisik keangkuhan hedonitas yg menindas rasa belas kasih.

Sama-sama kita merindu langit biru,

Meskipun harus berjalanan barbaris tak beringan, tapi kaki ku tak pernah merasa kesepian.

Lelah berjalan kita bisa berhenti, menikmati lelah yg kita ciptakan sendiri.

Menertawakan kekonyolan yg kadang kita lakukan.

Kita bukan siapa-siapa,

Meski perjalanan ini kita lewati bersama,

Aku tak menawarkan lebih, sebab lebih banyak perih yg ku beri.

Jangan memaksa ku melangkah ke tujuan mu, kita sepasang kaki yg berbeda.

Kita hanya teman seperjalanan, yg bertemu di persimpangan.

Melangkah di jalan yg sama dan mungkin tak pernah punya tujuan yg serupa.

Suatu saat mungkin kita akan berjalan berlawanan,

Atau berpisah di persimpangan,

Jangan paksa aku berbalik mengejar mu.

Jika pada akhirnya takdir mengharuskan kita bersama,

Biar jalan yg ku lewati mengarahkan langkah kaki ku kesana,

Ketempat dimana kamu menanti,

Untuk kembali melangkah bersama, menghabiskan hari.

 

-@za_prans, MT. Lawu Cetho, Sewaktu Perayaan Nyepi 2017

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *