Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part IV

A man’s gotta do what a man’s gotta do

12 Jam sebelum keberangkatan.

Siall, handphone yang ku taruh di samping telinga ku berdering keras, bukan alarm tapi panggilan telpon. Bergegas ku angkat, karena hanya panggilan penting yang berani menggangu tidur ku. Eh ternyata, terdengar suara Hanjar mengucap salam. “bangun mas, bangunnn…” begitu kata dia, kayak tau ajaa aku masih tidur, padahal kan sudah bangun, tapi tidur lagi.. haha.  “iyaa sudah bangunnn kok., kenapa njar?”.. “Ini Tim Palanus sudah siap, nanti berangkat ke stasiun, oh iyaa mas, maaf Aku gak jadi ikut karena tanggal 14 Desember itu ada panggilan interview di Jogja, dan ada kerjaan yg gak bisa di tinggal juga.” Begitu kata Hanjar, aku hanya bisa mengiyakan ajah, toh aku sudah tau sejak kemarin-kemarin. Tapi yang aku sesalkan, kenapa baru sekarang dia ngasi tau.. ?? Telpon itu hanya ku tanggapi dengan iyaa dan iyaa sajaa, bukan lagi waktunya untuk berdebat atau berdiskusi panjang.

Hari H menjelang keberangkatan aku masih masuk kerja, karena emang izin ku mulai dari jumat hingga selasa. Ternyata pekerjaan dikantor tak ringan, aku harus naik tower ketika aku sedang harus menghemat energi untuk perjalanan panjang ke Malang dan pendakian. Tapi, semua ku lakukan dengan segera, seperti angkot yang sedang kejar setoran site by site ku selesaikan dengan rapih dan sesuai SOP maintanance yang harus di lakukan. Kembali lagi ke kantor lantas ku kebut  menyelesaikan laporan dan bergegas pulang. Waktunya liburaaannn.

Seketika lagunya Tasya mengumandang di telinga,

libur telah tibaa.. horee horeee.  😀

Sementara di kamar kos yang sedikit eh sudah berantakan, telah berkumpul Tim Semut Summit yang memang aku minta datang lebih awal untuk mengecek kembali apa yang harus di bawa. Seperti yang sudah di janjikan, tinggal beberapa perlengkapan aksesoris dan pendukung yang perlu di packing di tas kecil, seperti kamera dan alat makeup untuk kaum hawa. Tidak ada lagi yang harus dibeli dan dipersiapkan dari Jogja, perlengkapan pendakian dan logistik sudah ready, hanya tinggal sayur-mayur yang akan dibeli ketika sampai di Malang nanti.

Aku berharap ketika aku pulang sudah tidak ada lagi yang harus dibeli di toko, tapi kenyataan berbeda. Si Ira ternyata masih perlu mengambil kacamata nya di toko optik. Aku sempet sedikit rada kezeeeeel, geregetaaaannnn ketika tim siap berangkat dia masih belum siap, aku tau dia sibuk, ah tapi aku juga sibuk, bedanya hanya tentang bagaimana mengatur waktu, agar sekali langkah 4 tempat terlampaui. Begitulah kira-kira. Ya sudah akhirnya ku kasi waktu 30 menit untuk dia mengambil kacamatanya di toko optik. Karena waktu sudah sore, dan butuh paling tidak 30-40 menit perjalanan ke loket bis. Apa lagi waktu pulang kerja begini, jalanan rame.. Sementara saat itu sudah pukul 17.30, dan menurut tiket, bis akan berangkat pukul 18.30.

Perjalanan Jogja – Malang akan di tempuh sekitar 8-9 jam dengan menggunakan bis. Yeaa, naik bus lagi, sama seperti aku dan Eddy lakukan beberapa tahun lalu sewaktu akan ke Semeru. Aku sengaja memilih menggunakan bus dari pada kereta. Sebab menggunakan bis dinilai lebih nyaman, dan timing sampai di Malang lebih bisa di kondisikan dari pada menggunakan kereta ekonomi.  Selain itu aku berharap rekan-rekanya bisa tidur lebih nyaman di dalam bus, karena sesuai rencana, bis akan sampai di Malang pada keesokan hari dan siangnya akan langsung mendaki. Jadi tim akan sangat membutuhkan energi dan stamina yang maksimal agar tidak kalah oleh alam.

Menjelang senja taksi yang di pesan sampai, bergegas gerombolan anak muda kurang piknik meninggalkan ruang kamar yang sempit, menata keril ukuran kulkas dibagasi taksi hingga penuh sesak. Perlahan pak sopir menginjak gas, dan taksi hitam melaju perlahan menuju loket bis di depan bandara. Langit barat kota Jogja merona jingga, sementara mobil melaju membelah keramaian jalanlan kota ke arah timur, membelakangi mentari seolah mengucapkan sampai ketemu lagi Jogja dan Jingga.

Perjalanan Jogja – Malang malam hari sungguh sangat membosankan, hanya bisa memandangai gelap dan kelap kelip lampu, aku tak leluasa bercengkrama pada Lawu yang tampak samar di kejauhan. Baru satu jam perjalanan selepas Solo, teman-teman sudah mengambil posisi untuk mencoba tidur. Mungkin efek kekenyangan makan cemilan yang di bawakan Mami sewaktu menunggu kedatangan bis di loket tadi. Sementara mereka lelap, bus melaju membelah Pulau Jawa lewat jalur tengah, melewati Sragen, Ngawi, Mojokerto lantas akan berakhir di Malang.

Ku pandangi langit memalui jendela, masih gelap tak berbintang. Rasa khawatir  ku bertambah seketika rintik-rintik air mulai berjatuhan menempel di jendela. Pak sopir lantas menyalanan wiper dengan tempo low karena rintik hujan masih bisa di toleransi. Ku pandangi  sekali lagi wajah teman-teman yang sedang tertidur di kursi nya masing-masing, ada yang nyaman dengan bantal lehernya, ada yang teleng menyandarkan kepala di jendela, ada yang menyandarkan kepalanya di kursi, tapi kok gak ada yang menyandarkan kepalanya di bahu ku, (berharap kamu yang disebelahku, dan menyandarkan kepala mu, duh alangkah indahnya perjalanan ini) tapi sayang di sebelah ku Eddy, dan dia tidak tidur melamun bukan melamun, hanya berdiam diri memandangan jalanan yang ramai lancar.

Eddy adalah orang yang paling ku andalkan, tanpa nya aku seperti pendaki yang berjalan di padang pasir, gersang  minim orientasi, mengalir tak tentu arah, ia adalah sisi positif dari ku. Berdua bahu membahu, membelah bentara menyusur rimba Semeru, berpeluh melintas tanjakan penyesalan Rinjani, always togetther melintas gelap gulita hutan Senaru yang terkenal menyeramkan, seperti dua unsur yang tak terpisahkan. Saling melengkapi, saling menjaga, dan saling membutuhkan. Seperti Tom Samchong dan Sun Go Kong. hahahahha

Malam semakin larut, tapi hujan semakin deras. Wiper mobil yang tadi nya low sudah berubah menjadi high, semakin cepat menghibas air yang menghantam jendela dan menganggu jarak pandang. Aku berpikir, ini Jawa Timur, jika tiap hari begini, maka akan menjadi kendala ketika akan sumit.

“Kalau hujan deres kayak gini gimana, ed” Aku bertanya pada Eddy yang masih galau melihat kenangan di depan jalan, eh genangan.

“Ya mau gimana, nambah waktu gak mungkin.” Jawab Eddy singkat.

“Ia sih, tim Palanus juga gak bisa kalau harus nambah satu hari lagi, mau gak mau, hujan gak hujan harus tetap jalan, untuk summit Welirang yang di rencakan malam, tapi kalau malamnya hujan terpaksa kita cancel, dan besok lanjut ke puncak arjuno aja. ” Aku mencoba memberikan opsi pada Eddy

“Ia, lagian gak mungkin jika harus summit dalam keadaan hujan”

“Oke deh, kita lihat juga nanti kondisi di lapangan gimana, lihat kondisi tim juga, dan yang pasti kalau hujannya masih siang ya tetep lanjut perjalanan, tapi kalau malem mau gak mau musti stay. Nanti kita diskusikan lagi sama mereka kalau udah ketemu. ”

“iya, begitu juga bisa ” jawab Eddy, menyudahi diskusi singkat malam ini.

Hujan semakin deras, air menerjang-nerjang mobil dari luar, sementara di dalam perpaduan Ac dan udara malam kompak membuat suhu turun menciptakan dingin. Aku kenakan  slimut mencoba untuk beristirahat, sudah beberapa hari ini kurang tidur, bisa tidur beberapa jam sebelum sampe Malang seperti nya akan lebih baik.

Jajaran penggunangan Wilis menyambut pagi yang mendung dengan sedikit gerimis dari Mojekerto hingga Malang. Jalan menikung nikung, menanjak melewati perbukitan. Satu persatu penumpang bus turun di tujuanya, tinggal beberapa orang masih bertahan dalam bis 24 kursi menuju malang, termasuk lah Aku, Eddy, Nanda dan dua Orang Srikandi Semut Summit Ira dan Sofy. Keduanya bangun dari tidur lelapnya sepanjang perjalanan, lalu si Nanda juga bangun. Ia seperti bara yang di siram air, hingga jadi arang, menghilang amarahnya dengan tidur panjang. Sementara Aku dan Eddy sudah terjaga terlebih dahulu.

“Jam 06.00, ini harusnya sudah sampai di malang,” Aku memulai sarapan pagi dengan diskusi sama Eddy.

“tadi malam macet, jadi agak pelan.” Jawab Eddy yang lebih tau kronologi perjalanan, mungkin ia tidak tidur semalam, karena terbayang-bayang kenangan eh genangan air.

“ini Palanus juga baru ngabari, mereka  baru sampe Mojokerto, paling jam 9 sampe malang, tetap kita lebih dahulu, yaa gpp lah telat sampe Malang, jam 7.30an jg gpp, biar gak terlalu lama nunggu mereka. Nanti sampe Malang kita cari kendaraan untuk ke Tretes, jadi ketika mereka datang bisa langsung berangkat, dan lebih menghemat waktu, kalau bisa sebelum jumatan sudah sampai basecamp” Aku cerita panjang lebar sambil meneruskan chat ku sama Palanus

Tapi cuma dijawab Eddy singkat  “iyah.”  -____-!!

Ada pesan singkat masuk di hape ku, dilihat ternyata dari salah satu anggota Palanus, pesan singkat itu sederhana, mengabarkan bahwa mereka masih perlu belanja logistik terutama air, saat ini mereka bawa air tapi belum air untuk keperluan tim. “Palanus masih perlu belanja air, nanti kita sebelum ke tretes mampir dulu lah.  Buat belanja.”Aku meneruskan pesan yang di handphone ku tadi sama Eddy.

Sampai di Malang ternyata bis yang kami tumpangi tidak berhenti di Terminal Arjosari, tapi di loket Bis yang jaraknya lumayan jauh dari Terminal Arjosari. Bukan salah kami, suerrr deh, kemarin waktu pesan tiket katanya bisa Turun di Arjosari, laahh teruss piyee… ?? bodooo amat.. ngulet sebantar ah, pegel brooo semaleman di bis.

Malang masih di guyur hujan rintik rintik tapi aktivitas pagi di kota malang sudah menggeliat, sopir angkot berkali kali menghentikan kendaraan, menawarkan jasa mengantarkan “Semeru semeru….” Teriak salah satu sopir angot yang dibalas lambaian tangan. Emangnya Semeru doank yang jadi tujuan orang-orang pembawa kulkas gede seperti kami. Basiii ah..

Tak berselang lama sebuah angkot biru berbelok masuk ke halaman parkir bus.

“Kemana mas, semeru?” Tanya sopir angkot tersebut

“Enggak pak, mau ke Arjosari, emm kalau ke Arjosari berapa pak ongkosnya?”Aku jawab sekenanya sambil mencari informasi tarif angkot.

“emm, berlima, lima puluh ribu aja.. rame dan macet kalau kesana itu” sang sopir, mencoba bernego pada keadaan.

“okee, berangkattttt..!!!” tiba-tiba Nanda berteriak menyetujui harga yg di tawarkan si sopir..

Aku pun bengong, dan geleng geleng kepala. Karena sudah begitu dan gak enak sama sopir angkot yang sudah menurunkan penumpangnya, menandakan bahwa angkot sudah di carter untuk ke arjosari. Kami pun bergegas memasukan keril-keril mereka ke dalam angkot butut tersebut.

“jiaahh, okee okee ajaa… kan masih bisa di negoooo. ” Aku berbisik pada Nanda yang hanya tertawa geblek

“Lah keburu kelamaan. Langsung ajaa okee..” jawab Nanda sambil cengengesan tak berdosa.

“yaa Sudah lah.. haha” Aku pun tidak mau memperpanjang persoalan, toh nasi udah menjadi bubur tinggal di kecapin aja, kasi suwiran ayam dan kecap biar jadi bubur ayam

Melajulah angkot biru menuju terminal Arjosari Malang, dari loket bus sebut saja Rosalia Indah ke Terminal Arjosari membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dengan kondisi jalan rame tapi tidak macet. Sepanjang perjalanan bapak sopir angkot bercerita banyak hal, tentang Semeru, tentang sempu. Ia pun menawarkan paket antar jemput ke pulau sempu.  Kami mau ke Arjuno pak bukan ke Sempu, malah ngomongin sempu.. Aku bergumam sendiri dalam hati,  aku tidak terlalu menanggapi tawaran si bapak sopir rese. Agar fokus ku dan tim tetap pada tujuan semua yaitu Arjuno, tujuan lainya nanti dululah. Tapi Pak sopir pun tidak henti menebar racun, dan promosi, seperti kami adalah turis asing dengan waktu liburan yang panjang dan uang yang bergelimang.

“Kalau ke Arjuno lebih enak lewat Batu atau Purwosari, bisa sekalian dua puncak mas, Welirang sama Arjuno, nanti turun di Purwosari. Kebanyakan yang naik Arjuno lewat Purwosari” cerita si bapak supir angkot sembari mengemudikan kendaaraannya, sementara kami menyimak dengan seksama.

“Tapi pak kalau lewat Purwosari, banyak petilasanya,.. ” Aku menimpali cerita bapak sopir, aku sangat menghindari Jalur Purwosari, tempat petilasan adalah salah satu tempat yang sakral, tidak sembarangan untuk beraktifitas di sekitar tempat seperti itu, salah salah malah ketemu arwah mbah mbah kan repot.

“Iya, makanya musti jaga sikap, gak boleh ngeluh dan gak boleh sombong.” Pesan bapak sopir

“iya pak..”

Pembicaraan terhenti ketika mobil angkot berwarna biru itu berhenti di pinggir jalan, tanda bahwa kami sudah sampai di terminal Arjosari, Malang, Jawa Timur.

Keril keril yang kata orang segede kulkas itu di turunkan satu persatu, beberapa mata memandang heran, seolah mereka bertanya “ini anak mana yang habis di usir dari kos-kosan.” dengan tampang sok cuek, Aku berjalan kearah pintu terminal. Beberapa sopir angkot masih saja menawarkan jasa mereka, “semeruu semeruuuuu..,, ” atau “mau kemana mas,.. ”, “surabaya mas… ??” Aku hanya menjawab ramah “tidak pak,. ”

Terminal Arjosari tampak sudah berbenah, beberapa tahun lalu sewaktu aku dan Eddy menginjakan kaki disini, Terminal Arjosari tampak kumuh, masih beralas tanah, dan bangunannya tidak permanen, bus bus pun dengan sesuka sopirnya menaik dan turun kan penumpang. Berbeda dengan saat ini, terminal Arjosari malang lebih bersih, lebih teratata dengan bangunan permanen serasa seperti di bandara, loket angkutan bis berjajar rapi di halaman depan pintu masuk, lokasi kedatangan dan keberangkatan pun lebih teratur dan tertata sesuai jalur.

Cacing dalam perut mulai berisik meminta jatah nutrisi, sejak terakhir berhenti di Ngawi untuk makan malam di rest area bis, Aku dan teman-teman belum makan nasi lagi, hanya makan cemilan dan roti bekal perjalanan. Perut sepertinya sudah rindu sama nasi bungkus yang dibawakan mami. Karena sudah enggan rasanya berjalan jauh mencari ruang tunggu, kami memilih duduk lesehan di tangga pintu masuk, membuka bekal nasi bungkus buatan mami yang sudah dingin. Aku dan Eddy sempat makan beberapa sendok, lantas pergi untuk mencari kendaraan yang akan mengantarkan mereka ke Tretes, Sofy menawarkan diri untuk ikut karena ia juga bosan jika harus berdiam diri.

Sementara langit Malang yang dari tadi pagi angkuh menghalangi mentari, awan mulai merajelala menurunkan bala tentara berupa rintik-rintik gerimis. Tapi  Aku  Eddy dan Sofy  tetap mengkahkan kaki meninggalkan Nanda dan Ira di depan pintu terminal yang sedang menikmati sarapan.

 

 

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

One thought on “Jogja – Malang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *