My Mind

Nyaris saja ku urungkan niat ku menyambanginya waktu itu, kalau saja badai tak tak menerjang nerjang tenda dan memaksa ku turun agar luput dari bahaya, aku mungkin takan beranjak mengejarnya malam itu.

Tarian ilalang dan buaian angin di lembah nestapa, terlalu manis untuk di lupakan..

Aku melewati tahapan aklimatisasi  dengan mudah, mungkin karena aku belum lama turun dari ketinggian, hingga organ tubuh ku  terbiasa untuk berebut oksigen dengan pohon dan mahkluk hidup lainya. Angin kencang dan hujan yg meronta di pendakian sebelumnya memaksa aku dan rekan ku turun lebih awal. Kami harus merelakan parodi tarian suku ilalang dan cantigi gunung ketinggian. Untuk kedua kali kami hanya mencapai ketinggian 2900 MDPL, dari 3371 MDP yg harusnya bisa kami capai.

Perkara di pendakian saat ini bukan tentang pencapaian yg entah keberapa kalinya. Jejak ku mungkin masih belum hilang tergerus waktu. Sementara ingatan ku tentang topography dan jalurnya masih jelas, bahkan setiap meter lubang yg akan dilewati aku pun masih teramat jelas mengingatnya.

Sekonyong-konyong nya bintang malam itu mengingatkan ku kembali tentang bintang-bintang yg ku lihat bersama mu waktu itu. Meskipun berada di tempat berbeda tapi satu bintang yg kau tunjuk telah bersemayam menjadi petunjuk ku tentang keberadaan mu. Kamu akan baik baik saja di sana, aku mencoba mengusir ragu.

Bibit rembulan sahdu meyambut di pelataran tempat ibadah umat hindu yg malam itu sunyi, di balut kabut beratap langit, di hembus dingin angin malam yg membelai pelan. Longlongan anjing penjaga bersahutan, indra mereka teramat peka mengisaratkan sesuatu yg asing sedang mendekat.

Malam beranjak pelan menuju pagi, semburat kabut pelan pelan menghilang ketika langkah kaki memasuki hutan.  Harum rumput yg dihujani embun serta bau tanah basah begitu segar mengisi rongga-rongga penciuman. Semakin dalam merambah hutan, semakin gelap. Tak satupun batang hidung yg di temukan, tak ada saapan, hanya suara nafas yg ngosngosan. Gemercik air di dalam pipa paralon terkadang terdengar seperti suara asing,  tak ada yg lebih baik selain waspada sebab bisa jadi antara suara dan wujud  berbeda.

Aklimatisasi hari kemarin, berpengaruh besar di pendakian malam ini. Tak perlu waktu lama untuk menapak tanah setapak demi setapak, hingga sampai di pos 1 yg masih terbuka tanpa keraguan apa apa. Tak ada siapa siapa yg bersemayam di sana. kami sedikit lega, semua pasti baik baik saja.

Syukurlah semesta hari itu bermurah hati, menghadirkan ribuan bintang di angkasa yg menemani. Tak seperti sehari sebelumnya, angin malam yg dingin ganas memaksa kami bersekutu dengan kantong tidur dan jaket tebal lebih lama. Disini semua terasa damai, perjalanan ini menyenangkan. Hingga jejak jejak kecelakaan itu kembali membayang, tepat dua minggu lalu aku terjatuh hingga tangan ku mati rasa, di tempat ini, di trek ini, dan kini aku kembali melewatinya dengan rasa sakit yg sesekali masih menghantui.

Pohon besar berlalut kain bermotif kotak kotak hitam putih yg lusuh berdiri rapuh di makan usia. Hampir seluruh bagianya tertup lumut hijau yg lebat, menggerogoti batang yg dulu nya perkasa. Dan Sialnya, disini lah kami harus menikmati jeda di malam gelap gulita. Bangku kosong sengaja di buat tepat di depan selter baru pos 2, selter lama telah tak layak guna dimakan ganasnya waktu dan cuaca. Tapi cerita nya tetap masih menggema. Kami pernah bermalam di dalamnya, menghabiskan gelap menunggu cahaya. Kata mereka yg memiliki istimewaan lain, tempat ini salah satu bagian paling mistis, salah satu sudut paling misteri, bisa saja mahkluk tak kasat mata diam diam mengamati kami dari kegelapan.

Bulu kuduk remang remang mulai berdiri, nyali ku ciut, mungkin karena udara yg semakin dingin, atau ada mahkluk lain yg ingin menemani. Udara lembut, tempat kosong, serta bangku kosong, perpaduan khas setting latar film horror, ah aku tak ingin berada dalam sekenario di luar logika ini. Meskipun ini cerita fiktif, tapi please jangan tempatkan aku di dalamnya.

Ku  paksa kaki untuk bergerak melawan gelap, menapaki tanah merah yg basah. Meninggalkan semua yg memang harus di tinggalkan, cukup kami berdua, dua pasang kaki, tak ingin ada sepasang kaki lagi yg turut melangkah, atau aku tak ingin ada suara lagi selain suaraa kami dan suara binatang malam.

Belaian angin lembut menyergap, gemintang semakin banyak bertaburan, sementara udara sudah semakin senyap, sepi. Entah bagaimana keadaan mu disana, bukankah kau paling tidak tahan dengan dingin yg terlalu, dan gelap yg senyap. Aku masih terbayang bagaimana aku harus menghangatkan mu dengan segelas teh panas waktu itu, ah semoga semuanya baik baik saja.

Aku masih menimbang, memperhitungkan dengan logika ku, batas kekuatan dan kemungkinan yg akan kau ambil ketika kau mulai goyah dan melemah. Tapi segala perhitungan patah, salah. Setiap sudut kemungkinan itu tak ku jumpa hasil dari perhitungan ku, aku lega. Kau bisa melampaui semua naluri ku. Keajaiban kah. Atau mungkin aku yg terlalu mengkhawatirkan.

Perjalanan itu seutuhnya milik ku, tak ada orang lain, dan tak ada mahkluk lain. Sepetak tanah lapang yg tak begitu luas, berdiri tenda yg tak bepenerangan, bergoyang di hempas angin malam, sunyi tanpa nada. Mungkin penghuninya telah mendekam erat mimpi indah dimalam yg dingin, membayangkan indomie rebus telor ceplok setengah matang, atau bermimpi gurihnya bakso malang dengan segelas teh panas. Ku amati, ku ingat-ingat lagi tentang segala milik mu, yg pernah kau kenakan, yg sering kau gunakan.

Itu bukan milik mu, itu bukan kamu, dan kamu tak ada di situ..

Hati ku bergumam lega, rasa kwatir ku kembali patah, kau melangkah jauh dari apa yg ku bayangkan dan sampai sejauh ini semesta pun mendukung yg kau lakukan.

Langkah kaki kaki ku lebih ringan mengayun, karena ku tau di depan sana adalah kemungkinan yg paling mungkin. Tapi kantuk lebih berat menggantung di pelupuk mata. Cuma satu tujuan ku, menyakinkan kau baik baik saja, bisa tidur tanpa terjaga.

Warna warni tenda berdiri menyerupai perkampungan kecil di campe area dekat pos mata air. Perkampungan yg hanya ada seminggu sekali, atau ketika musim libur datang. Melihat banyaknya saudara entah dari mana datangnya, meski bukan lahir dari ibu yg sama, tapi kami besar di pangkuan ibu yg sama, bermain di latar, bertemu di ketinggian, bukan kah setiap pendaki itu bersaudara, saudara dari satu ibu, ibu pertiwi.

Aku pun dapat bernafas lega, tentu kau sampai sejauh ini berkat saudara saudara mu, yg membantu mu. Meskipun aku tau betapa keras kepala mu, melebihi batu, dan betapa gengsinya diri mu, hingga bersikeras tak ingin melibatkan ku dalam peluh mu.

Ahh, ini kamu, kamu baik baik saja, bahkan luar bisa. Tenda itu senyap, gelap berselimut embun tipis yg mulai berkondensasi.

Tidur lah, aku tak perlu membangunkan hanya untuk membenahi tenda mu yg ku kira sempoyongan. Khawatir ku patah lagi, entah untuk yg keberapa kali. Bagai pohon tua yg rapuh, rantingnya satu persatu runtuh. Begitulah kawatir ku.

Tapi kuncup kuncup senyum itu bermekaran, mendapati kelopak kenyataan bahwa Semesta mendukung yg kau lakukan, langit berbintang, desir angin tak garang membelai, tidur lah, tidurrr.. biar jingga sang surya membangunkan, sementara aku biar sembunyi di balik gelap malam.

Bersabarlah, sebentar lagi pagi. Sebentar lagi mentari terbit mengusir dingin ini. Sabarlah.. Dalam gelap malam beralas matras, kami terbaring menatap rangkaian gugusan bintang di sela sela pepohonan. Udara dingin menusuk nusuk dengan kejam, bersekongkol dengan pakaian lembab yg kami kenakan. Raincoat serta jaket tak kuasa menahan gempuran lelembut udara dini hari.

Hingga pagi menjelang kau bangun lebih awal, aku dengar semua yg kau katakan, yg kalian perbincangkan. AKu mendengarnya, dan aku tertawa.. Kau masih tak berubah, nyaris tak ada yg berubah dari mu yg ingin berhijrah,. Tapi syukurlah, kau tak sendiri, dan aku tak perlu khawatir lagi..

Bersama mentari yg meninggi, kau pergi, meninggalkan aku yg memang tak ingin kau tau. Cukup melihatmu melangkah pasti, sudah cukup bagi ku. Tergambar jelas kau baik baik saja. Meski tanpa ku.

Berjalanlah, kejarlah apa yg kau ingin, biarkan aku jadi angin, jadi bintang, yg memperhatikan tanpa perlu kau tau dimana aku, tanpa perlu kau dekati ku.

Pada akhirnya kamu tau sebatas mana kemampuan mu, tak perlu terlalu sering ku beri tahu. Percuma, karena kepala mu seperti membatu terhadap segala khawatir ku. Aku pun tak cukup tinggi mengalahkan gensi mu. Biarlah semesta yg menunjukan sejauh mana kau mampu bertahan, dan biarkan pula semesta yg memberikan jalan agar aku dapat mendekati mu dengan scenario yg kebetulan.

Ratusan juta ilalang menari riang bermandi terik mentari yg memanaskan pesta dansa di bawah langit biru semesta. Anak manusia berjalan beringingan silih berganti, setelah menuntaskan hasrat mereka mencumbui setiap lekuk bumi dari puncak gunung tinggi. Tak ada yg istimewa dari semua perjalanan ini, termasuk perjalanan ku, jika puncak itu tujuan ku, entah sudah berapa kali aku mendekatinya, menyentuhnya, meraba setiap keindahan yg ada di sana.

Ku pikir perjalanan ku telah usai, menemukan mu, melihat seutas senyum yg menandakan kau baik baik saja, bahkan lebih baik dari yg ku kira. Aku tau dalam hati kau mencemooh diri ku.

“tuh kan, aku gak apa-apa.. napain sih nyusul segala. Aku bukan anak kecil, aku ingin mandiri tanpa mu, tanpa bayang mu sekalipun.”

Setelah semua nya ku temukan, langkah ku justru semakin berat, begitu letih aku mengejarmu, begitu lelah tubuhku mendekati mu. Sampai tak sadar aku tertidur menunggu mu.

Sekonyong konyong nya angin yg menerbangkan topi komando dari kepala ku, menyadarkan untuk bangun dari mimpi sesaat tentang indah bersama mu. Dan nyatanya puncak itu masih jauh dan harus ku lalui sendiri tanpa mu, tanpa kita.

Puncak tetaplah disana, secepat apapun kau kejar, kapanpun ingin kau gapai, ia akan tetap disana, teronggok setumpuk batuan gunung, yg tak ada apa-apanya.

Sepeninggalan kamu di balik kabut sore, langit mendadak menghitam, kabut kian gelap menutup pandangan ku tentang keindahan. Udara dingin membangkitkan bulu kuduk, meremang semua pori-pori kulit ku, puncak begitu sepi hanya ada aku, yg berdiri mematung menghadap jejak jejak kepergian yg tertutup kabut.

Baru kali itu aku merasa ketakutan berada di tempat yg begitu akrab dengan ku. Entah kenapa hati ini merasa tak biasa, pada bagian yg mana hati ini tak terima. Pada kesepian kah atau pada kepergian..

Gelisah ku sekita rintik air dari balik kabut satu persatu meraba jaket yg ku kenakan. Sang burung jalak mengiba minta belas kasih dari sepotong roti yg kubawa. Bukan kah jalak suatu pertanda baik kata mereka, tapi jalak disini katanya jelmaan seorang petapa, lantas bagaimana mungkin aku menarik logika jika ia pertanda baik, sementara kabut pekat terus turun, menggelap kan sekitar.

Aku terbaring dengan untaian syair dari sebuah benda yg sangat tak ingin ku nyalakan ketika di alam. Handphone. Aku tau, aku sedang memancing perkara yg besar, berada di area terbuka dengan pancaran radiasi tak kasat mata. Tapi hanya itu yg bisa ku lakukan menghindari sepi dari kehilangan.

Turunlah kau selayaknya kabut, pergilah kau selayaknya mentari, sekenanya kau saja, yg penting kau bahagia. Biar aku disini, mengejarmu, menunggu mu, lantas menikmati kepergian mu, bak pendaki yg harus merelakan mentari tenggelam di cakrawala..

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *