Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part XIV

Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak jatuh lagi

 

Eddy berjalan cepat sekali, mungkin karena kaki yg jenjang membuat jangkauan langkahnya lebih jauh. Sementara aku masih berlali-lari mengejarnya, walau sesekali terjatuh.

“ENAMMM, DUAAA !!” Teriak Eddy lantang, seolah menertawakan aku yg lagi harus berjibaku dengan tanah.

“Siaalll” batin ku dalam hati..

Aku dan Eddy memang selalu berkompetisi, saling menghitung seberapa banyak terjatuh selama perjalanan turun. Tapi sayangnya aku lebih sering kalah, aku tipe yg ceroboh dan petakilan, hobinya loncat sana loncat sini, tak heran jika aku lebih sering jatuh karena kurang hati hati, dan lebih kotor dari pada Eddy.

Sudah enam kali pantat ku harus terhempas di tanah basah, celana yg semula berwarna crem kini sudah menjadi lebih coklat, terlihat jelas bekas-bekas tanah yg menempel meskipun gelap. Aku sedikit lunglai, rasa haus membuat aku kurang konsentrasi. #AdaKUA eh..  Apa lagi aku harus memikirkan banyak hal selama perjalanan turun, bertambahlah puyeng kepala ini.

Aku dan Eddy setengah berlari menelusuri jalan setapak yg licin sehabis hujan, sesekali berhenti mengatur nafas yg sudah ngosngosan. “Pertigaan, ke Kiri Atau ke Kanan??” Kata Eddy.

“Wait… ada tendaa gak??” Aku balik bertanya ke Eddy..

“Gak ada, kanan lewat punggungan bukit, kiri turunan curam.”

“yoweess, aku ke kanan, kalau gak ada tanda, kamu turun ke bawah. ” Jawab ku sambil bergerak ke atas punggungan bukit, menerobos ilalang yang menutupi jalan setapak yg samar. Tak ada tanda berarti di jalur yg ku lewati, hanya sisa sisa vandalisme orang-orang bodoh yg mencoret bebatuan besar dengan cat warna-warni. Aku berdiri diatas batu besar dan melihat sekitar, hanya warna hitam yg ku lihat sejauh mata memandang, samar-samar bayangan rerumputan terbentang di atas perbukitan dan aku sadar jalan ku salah. Percuma meneruskan meskipun jalan setapak yg ku lalui memberi harapan. Aku kembali.

“Ada jalan setapak, tapi aku gak yakin, kamu turun, aku nysusul.” Aku setengah berteriak dari ke jauhan ke arah Eddy.

“Oke.” Jawab Eddy yg mulai menuruni perbukitan.

“Fransss.!!! Ini ada tanda, Puncak Arjuno. Ada di bawah tertutup ilalang, sebelah kanan jalur.” Suara Eddy jelas mengabarkan sebuah berita baik. Tapi aku sedikit kwatir dengan tim yg di handle Nanda, dengan kondisi mereka seperti itu, pasti akan sangat sulit menuruni bukit dengan trek bebatuan seperti ini.

“Okee.. waitt.. aku kasi tanda.” Aku mencari cari apa yg bisa ku jadikan tanda, tak ada sesuatu yg cukup mencolok agar dapat terlihat oleh rekan-rekan yg berada di belakang. Akhirnya aku merobek plastik putih pembungkus tas kamera, di segepok ilalang yg tumbuh di pinggir jalur yg benar aku mengikat kuat plastik tersebut, agar  tim yg belakang tak salah arah. Lalu kemudian aku menyusul Eddy dengan setengah berlari.

“Bruukkkkk”

Sepatu ku kehilngan grip pada tanah yg basah, pantat ku pun harus kembali merasakan kerasnya tanah, entah ini jatuh ku yg kebarapa. Bahu kanan yg baru saja pulih dari cidera bermain badminton kemarin kembali terasa nyeri hingga ke sumsum sendi. Jatuh menghepas tanah tak seindah jatuh cinta pada pandangan pertama, suerrr deh.

Dengan susah payah aku mencoba bangkit lagi sambil berpegangan pada ilalang yg mendayu dayu, baru juga berdiri sempurna dan hendak melangkahkan kaki. Pantat yg masih nyeri harus kembali mengehempas tanah. Bruukkkkk.!!!!

“Eddd.. Tungguin.. Lu kok gak jatuh sih lewat sini??” Aku teriak memanggil Eddy.

“lewat jalur yg kirii..” Teriak Eddy yg sudah tak terlihat, di balik tingginya ilalang dan gelap malam.

Aku bangkit lagi, dan mencoba mencari jalur yg Eddy maksud. Ternyata jalur yg sebenarnya hanya sejangkal dari jalur yg ku lewati. Ada dua jalur yg berada di tempat tersebut satu adalah jalaur pendakian satunya lagi adalah jalur air, pantesss licin bgt. Ah,, sudah nemu jalan yg benar, aku kembali tancap gas mengejar Eddy.

Indahnya langit malam yg bertabur bintang dan bulan sabit yg tersenyum indah tak begitu ku nikmati. Sesekali kabut gelap menutup remang-remang sinar rembulan dan gelap kembali menyelimuti perjalanan yg entah kapan sampai ke tujuan. Kabut seperti tak rela kami berjalan melenggang, ia kirimkan rintik-rintik gemiris untuk menambah rintangan perjalanan yg menyedihkan. Kami memang butuh air, tapi jika hujan bukan lah solusi yg baik untuk saat ini. Apa lagi dengan trek tanah liyat serta turunan perbukitan, akan sangat menyedihkan bagi kami yg secara fisik sudah diambang batas kemampuan, hanya  keyakinan untuk bertahan hidup yg kami punya dan membuat kami terus berjalan.

Tenggorokan ku terasa kering, haus. Aku butuh sesuatu untuk membasahi kerongkongan yg entah kapan terakhir meneguk air. Aku tak bisa menampung rintik hujan malam ini, seperti di awal pendakian. Tangan ku sibuk berpegangan pada apapun yg bisa ku gapai agar tak hilang kendali dan terjatuh lagi.

Gimana cara nya agar tenggoran ini bisa merasakan air..?? Menjilati sisa-sisa air di rerumputan dan dedaunan seperti apa yg Eddy lakukan, ahh gak ngefekk..

“Edd, kalau ada genangan air, jangan di injek yaaah. Aku hausss..” Semoga ada rezeki dari sisa-sisa hujan.  Tapi selama perjalanan gak ku temukan genangan-genangan air yg diharapan, malah semakin banyak kenangan yg terbayang, nah lhoooo..

Akhirnya, dengan sedikit mengesamping kan sisi hegenitas, aku menghisap air dari sarung tangan yg ku kenakan. Aku selalu menggunakan sarung tangan sewaktu pendakian, selain untuk melindungi tangan dari benda-benda yg dapat melukai, teranyata sarung tangan ku kali ini beguna untuk menyerap sisa-sisa air hujan yg menempel di rerumputan dan ilalang. Dari  kain yg terdapat di bagian punggung sarung tangan aku mendapat sedikit pasokan air yg lumayan untuk sekedar penghilng dahaga.. Rasanya kayak ada manis-manisnya gitu… hahaha Oh Tuhan harus berapa lama lagi aku melakukan hal ini..?? Aku mengiba pada semesta, semoga berkenan meringankan sedikit beban aku dan teman-teman.

“Franssss… Hujannnn!” Kata Eddy, yg berhenti agak jauh di depan ku.

Eddy behenti di bawah pohon ketika jalur pendakianya di pisahkan oleh sungai yg mengering.

“Ini ada sungai, tapi kering mungkin ada sisa airnya. Mungkin air di Pos 2 dari sungai ini” Begitu kata Eddy.

Sementara aku yg baru sampai dengan terangah-enggah, sedang berpikir bagaimana mengamankan kamera ku dari hujan, plastiknya sudah ku robek untuk tanda di pertiggan tadi.

“Jalanya itu nyebrangi sungai,” Eddy menambahkan penjelasanya yg belum selesai.

“Huft. Aku hauss ed,. Bisa gak yaah temen-temen sampai ke sini. Dengan jalur yg kayak tadi.?” Aku bertanya sama Eddy, aku seperti kehilangan konsentrasi karena minum air dari sarung tangan, bukan air aKUA. Eh

“Semoga aja mereka bisa. Yg penting kita sampai ke Pos 2, dulu cari air, nanti naik lagi nganter air ke mereka. ” Ujar Eddy yakin.

“Okee.. Ayooo.” Jawab ku sambil bersiap berdiri, sementara Eddy sudah menyebrang sungai mati dan mendaki sisi tepi nya yg cukup terjal.

“Bisaaa??” Kata Eddy melihat ku agak kerepotan menaiki tepian sungai..

“bisaaa”

Ku raih akar-akar pohon sebagai bantuan untuk naik ke atas dan keluar dari sungai kering yg menyeramkan. Awan gelap masih bergentayangan diatas, sesekali rembulan mengintip rindu dari celah-celah awan hitam. Rintik air yg tadinya cukup deras kini tak lagi turun, menyisakan basah dibebatuan cadas dan di dedaunan, lantas aku usapkan tangan pada nya untuk ku hisap lagi airnya.  Hihihi..

Eddy masih di depan dengan langkahnya yg jenjang, sementara aku yg setengah berlari kelimpungan entah beberapa kali harus jatuh dan bangun lagi.

“Fransss,, pertigaan lagi, kiri atau kanan?” Teriak Eddy, sambil menunggu ku.

“Gak ada tandanya,?” Aku balik bertanya sama Eddy ketika sampai.

“gak ada?” Jawab Eddy

“yowesss, aku kenanan kamu tunggu sini, kalau gak ada tanda kamu ke kiri.. ntr aku nyusul.” Lantas aku berjalan ke arah kanan, melalui jalan setapak yg di tutupi ilalang liar setinggi 1 meteran.  Setelah berjalan sekitar 30an meter aku baru menemukan petunjuk arah ke puncak Arjuno yg terbuat dari plat alumunium yg di pasang di pohon kecil yg mulai tertutup ilalang.

“Edd, Ini ada tandaaaa.. Lewat sini..” Aku teriak memanggil Eddy yg masih menunggu di pertigaan.

“Okeee.”

Aku melanjutkan langkah kaki di jalan setapak yg tak lebih dari 40cm lebarnya hingga sampailah di sepetak tanah lapang. Ada bekas api unggun dan tumpukan batu menyerupai tungku, mungkin disini pernah di jadikan tempat mendirikan tenda pendaki, pikirku. Aku dan Eddy beristirahat sejenak di tempat itu, berdiskusi sekenanya, mencari opsi yg mungkin di lakukan.

Kami sependapat jika teman-teman di belakang sudah tidak kuat ke pos 2, ini adalah tempat mereka untuk mendirikan tenda. Meskipun mungkin hanya bisa satu tenda. Aku melihat sinar senter berbaris di atas perbukitan, bergerak pelahan beriringan, aku tau teman-teman sedang mengerahkan sisa-sisa tenaganya untuk terus bergerak. Semoga Nanda dan yg lain bisa bertahan, untuk sampai ke tempat ini. Kini aku dan Eddy lah harapan mereka, untuk dapat mengantarkan air buat mereka yg mulai dehidrasi. Tak ingin membuang banyak waktu kami bergegas kembali berdiri dan melangkahkan kaki menuju pos 2 yg dicari.

Langit kembali gelap, awan hitam semena-mena seperti kamu. Datang dan pergi sesukanya tanpa pernah permisi dan tanpa pernah mengerti bagaimana perasaan ku. Ehh. malah curcoll. Haha maksudnya begitu lah.. Intinya malam itu kami berjalan dengan bantuan cahaya senter dan cahaya rembulan yg remang-remang, bisik jangkrik bersaut-sautan, dan cuit burung malam bergatian mengiringi perjalanan kami  mencari kita suci,.. emg sun go kong..

-____-!!

 

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

One thought on “Jatuh”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *