Teh merupakan minuman yg banyak di nikmati di berbagai negara, termasuk Indonesia. Sebenarnya istilah teh sendiri merujuk pada minuman yg dibuat dari buah, rempah atau tanaman obat lainya yg di seduh. Sementara mainset kebanyakan orang, teh adalah minuman yg dibuat dengan cara menyeduh serbuk atau daun tamanan Camellia Sinensis yg telah di keringkan. Kita mengenal beberapa jenis teh yg dihasilkan oleh tanaman teh, seperti teh hijau, teh hitam, teh oolong dan teh putih.

Indonesia mulai mengenal teh sekitar tahun 1600an, bermula dari tamanan teh yg berasal dari jepang dibawa salah orang kebangsaan Jerman yg kemudian menanamnya sebagai tanaman hias di Batavia. Pada masa pemerintahan belanda pula lah teh berkembang pesat berkat dukungan VOC yg mulai mendirikan pabrik-pabrik pengolahan dan perkebunan teh. Setelah sukses dengan perkebunan teh di jawa, terutama di Garut, Purwakarta serta di Lereng Gunung Raung, pada tahun 1910 dimulai pembangunan perkebunan teh di luar jawa yaitu di Simalungun dan Sumatera utara.

Sampai saat ini Indonesia masih menjadi salah satu negara produsen teh yg di ekspor ke berbagai negara. Teh yg menjadi andalan Indonesia di pasar internasional dalah teh hitam lalu kemudian teh hijau. Perkebunan dalam sekala besar di Indonesia sebagian di kelola oleh pemerintah, dalam hal ini Perkebunan Nusantara, dan beberapa lagi di kelola oleh swasta. Sementara itu perkebunan yg dulu di kelola oleh belanda masih menunjukan eksistensinya, meski tak semegah perkebunan teh modern saat ini dengan aneka macam jenis produk dan kemasanya.

Pabrik Teh PT. Rumpun Sari Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar.

Saya beruntung berkesempatan untuk mengunjungi salah satu pabrik teh yg didiran oleh pemerintahan Belanda sekitar tahun 1850an. Pada zamanya dulu pabrik ini bernama NV. Cultur Mascave Kemuning. Meskipun pabrik ini pernah di ambil alih oleh pemerintahan Jepang, namun cirikhas bangunan colonial masih tampak berdiri kokoh dengan warna putihnya yg mencolok. Berada di ketinggian sekitar 900-1500an MDPL, dengan luas mencapai 300an hektar, secara administrasi perkebunan teh ini masuk di Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah, dengan nama PT. Rumpun Sari Kemuning.

Berada di Kaki Gunung Lawu, PT Rumpun Sari Kemuning memproduksi teh siap saji dengan berbagai varian, seperti teh jahe, kopi dan original. Setiap harinya para pekerja memetik pucuk daun teh yg masih muda sejak pukul 6 pagi hingga pukul 9, yg kemudian langsung di proses hingga menjadi teh siap saji dengan peralatan yg masih tergolong semi manual.

Proses pelayuan daun teh, lagar mempermudah proses pencincangan daun teh menjadi bagian kecil.

Asap terlihat mengepul dari cerobong asap pembakaran, pertanda produksi teh masih berlangsung. Meskipun telah beberapa kali berpindah kepemilikan namun tungku-tungku api masih menyala tanda masih adanya kehidupan untuk terus berproduksi. Tampak sekilas perkebunan ini mulai berbenah mengikuti perkembangan kehidupan social masyarakat, dimana perkebunan teh tak semata menjadi area bisnis perkebunan, tapi juga sudah waktunya untuk mejadi argowisata. Animo masyarakat kini tak lagi sekedar menikmati teh sambal berbincang, kini teh lebih banyak di biarkan dingin karena di tinggal pemiliknya selfi di kebun teh yg luas. Harus kita akui dunia kini berubah.

Proses Produksi Teh.

Tumpukan kayu bakar tersusun rapi diarea pabrik, meskipun sudah ratusan tahun berdiri dan telah mencoba berbagai macam teknologi yg di gunakan, pabrik ini akhirnya kembali menggunakan kayu sebagai bahan bakar untuk alat pelayu daun teh agar mudah untuk di cacah. Sementara di dalam pabrik yg tak begitu luas, tumpukan pucuk daun teh terhampar layu. Roda roda besi bak molen berputar-putar mengaduk-ngaduk pucuk daun agar layu merata. Proses semi modern ini berlangsung setiap hari, setelah pucuk-pucuk daun teh yg di petik oleh para pemetik daun teh terkumpul.

Katanya pabrik ini pernah berganti-ganti metode yg di gunakan dalam memproduksi tehnya, mulai dari listrik bahkan gas. Tapi akhirnya kembali lagi menggunakan kayu bakar. Setiap metode yg di gunakan tentu menghasilkan rasa yg berbeda pula. Sepertihalnya menggunakan kayu bakar, konon rasa yg dihasilkan jauh lebih baik jika menggunakan kayu bakar.

Proses pemanasan daun teh agar layu masih menggunakan kayu bakar, konon dengan menggunakan kayu akar cita rasa tehnya akan lebih baik.

Mesin mesin besar terus melaksanakan tugasnya mencincang-cincang daun teh yg layu. Sementara para pekerja mengontrol kualitas yg dihasilkan agar sesuai harapan. Proses akan terus berlanjut hingga proses pengeringan dan penyortiran terberadsarkan ukuran, ada yg berbentuk serbuk, hingga dengan potongan yg agak besar. Nantinya teh-teh ini akan di kirim ke konsumen atau ke prusahaan yg telah menjalin kontrak kerjsama.

Pensortiran daun teh kering berdasarkan ukuran dan kualitas.

Sering kali kita menikmati the sambil berbincang tentang nikmatnya dunia. Harga teh siap saji memang cukup tinggi di pasaran. Di warteg atau di kaki lima saja harga teh beriksar Rp. 2000-3000 rupiah pergelas. Sementara di tempat tempat sekelas cafΓ© yg sudah menggunakan Bahasa Inggris dalam penyajianya, dimana kadang teh hijau berubah menjadi Green Tea, atau lemon tea harganya sudah naik bisa sampai 10x lipat. Tapi hanya sedikit dari kita yg tahu, dalam setiap sajianya ada tangan tangan pekerja yg setiap hari bangun lebih awal untuk memetik daun teh yg belum di jamah ganasnya mentari siang.

Setiap buruh yg bekerja memetik pucuk daun teh di upah sekitara 400-600 rupiah per kilo daun teh yg mereka berhasil petik. Dalam sehari rata-rata pekerja bisa memetik sekitar 30-50 kilogram. Rendahnya upah buruh pemetik daun the ini disebabkan karena rendahnya harga pucuk daun kering yg dijual di pasaran, menurut dapat satistik hanya sekitar Rp. 1250-Rp. 1300/kg.

Daun teh kering yg siap untuk di jual. ataupun di sedu.

Mari kita mensyukuri apa yg telah tumbuh di negeri ibu pertiwi ini, dimana semuanya terasa indah jika kita memahami tujuan dari peciptaan sesuatu.. Mari ngeteh mari bicara. hehe #iklan.

 

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *