Ini pertama kali nya kaki ku bergerak mencari tempat berpijak di daerah yg padat dan super sibuk, Jakarta. Dalam mimpipun tak pernah ada keinginan untuk turut dalam gempita keluah kesah nya ibu kota, tapi entah kenapaΒ  angin melambungkan angan ku jauh dan terdampat di kota yg dulu mereka sebut Batavia.

Jakarta Subuh.

Jogja – Jakarta bukan tentang jarak yg jauh dan terpisah ribuan kilometer, tapi tentang dua kehidupan yg nyaris berbeda. Malam itu setiba di Stasiun Gambir sewaktu adzan subuh berkumandang, Jakarta sudah bergeliat lebih awal, dan urat nadi perekonomian dan kesibukan mulai berdenyut menyambut pagi yg terasa datang lebih awal. Seperti ini lah Jakarta subuh, sopir angkutan sudah berebut penumpang, orang-orang lalu lalang di dalam stasiun menunggu kereta yg tak kan menunggu yg telat. Pedagang sarapan membuka lapak di pinggir2 jalan di bawah gedung gedung besar. Mereka berlomba, bersegeralah sebab jakarta akan lebih kejam jika mentari telah meninggi.

Jakarta pagi itu,

Lalu lalang manusia menuju sibuknya, mengejar pusing di hadapan meja kerja. Jakarta mulai meniup peluit lomba, manusia memburu tiap celah untuk saling salip takut tertinggal waktu. Jakarta itu sibuk, untuk senyum saja tak sempat apa lagi tegur sapa. Jakarta itu kejam, mereka menaruh ransel di depan bukan lagi di punggung, sebab katanya kejahatan ada karena kesempatan.

Pembangunan infrastruktur melaju pesat, tapi mereka berjalan melambat. Mereka tak tertinggal tapi terhambat oleh pesatnya persaingan, pejalan kaki tak lagi dapat menikmati ramahnya trotoar dan pohon pohon menjadi kerdil di hadapan beton beton yg menjulang. Aku benci bunyi klakson bersautan-sautan. Aku risih di tatap curiga padahal aku hanya ingin menambah saudara. Ah ini kota seperti kota asing padahal ini ibu kota negara negara ku, bukan Eropa. Apa begini kota besar.?

Jakarta siang,

Ketika sebagian pejalan di luar lebih sering terjemur dijalanan yg berdesakan, sebagian manusia lain lebih memilih ngadem di mall atau cofee shop menikmati jeda yg mempet. Suasana menyenangkan itu justru ada di bawah basement, ketika para jamaah sholat zuhur meluber sampai ke area parkir, setidaknya mereka tak lupa pada akhiratnya, kajian singkat tentang ihklas membuat hati yg gemuruh di tekan deadline menjadi sedikit coolingdown mengingat betapa banyaknya berkah jika melakukan segalanya dengan rasa syukur dan ihklas.

Jakarta siang menjadi lebih ramah bukan dari kehidupan kota, tapi dari ramah tamah meja makan pedagang kaki lima. Tak semuanya manusia yg hidup ini tujuan nya mengumpulkan harta, ada yg dengan ihklas berbagi meski hanya segelas teh hangat atau roti. Tapi jakarta itu kejam, tak jarang kebaikan berujung petaka. Berkat segelintir manusia yg di desak kebutuhan dunia. Maka tak heran banyak orang yg skiptis dengan niat baik orang lain.

Jakarta Malam

Gegep gempita lampu kota berwarna warni, terang terangan unjuk gigi bersaing dengan ribuan bintang di langit. Gedung gedung pencakar langit bersolek bermandi cahaya. sementara deretan cahaya kendaraan mengular memenuhi jalan ibu kota dan bergerak pelan seperti ular yg perut nya membesar sehabis menyantap bulat bulat babi hutan. Waktu berjalan terlalu cepat atau kendaraan ini yg berjalan terlalu lambat.

Jakarta Oh Jakarta, ini bukan judul puisi atau pun drama. Aku tak pernah merindu hidup lebih lama di tanah mu, meski banyak harapan yang lebih baik kau tawarkan. Jakarta oh jakarta aku Tirta bukan pula Rani, gadis kecil yg beranjak dewasa dan menjadikan mu kota labuan semua mimpinya. Maaf aku belum menemukan sisi indah yg akan membuat ku betah seperti aku rindu pada Yogya. Dimana seetiap sudutnya punya cerita nostalgia.

Jakarta, waktu lalu.

Tirta

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *