Indonesia memang hanya punya dua musim, musim hujan dan musim kemarau. dua musim ini aja sulit untuk di prediksi kapan hujan akan turun atau kapan kemarau akan datang. Bisa jadi kemarau datang lebih cepat atau hujan berakhir lebih lambat. Pilihanya hanya dua, basah atau kepanasan. Kebarakan atau kebanjiran. Tapi bersyukurlah kita tinggal di negeri ini yg hanya ada dua iklim yg berbeda tapi dengan banyak musim buah dan musim tradisi lainya, seperti musim duren, musim rambutan, musim duku, musim nikah. eh..

Seperti biasa ketika para pakar telah mengabarkan bahwasanya puncak musim hujan telah usai, berarti muncul lah musim yg lain, yaitu musim pendakian. Sewaktu memasuki musim penghujan beberapa gunung sengaja di tutup dari aktifitas pendakian, alasanya sederhana untuk memperbaiki kondisi alam, memperbaiki fasilitas pendakian ataupun untuk menghindari kejadian kejadian tak terduga efek dari musim hujan. Bak habis gelap tambah gelap, itu lah yg terjadi pada beberapa gunung populer para pendaki masa kini. tiga bulan tanpa pendakian bukan lah waktu yg cukup untuk rumput tumbuh menjulang, atau pohon-pohon kecil kuat mengakar. Tapi ia kembali di sesaki oleh ribuan langkah kaki, ribuan pasang sepatu dengan grip baru, dan ahh kesenangan tanpa atitud yg membuat saya berpikir, “enak jaman ku too”

Sudah lama rasanya sepatu itu terbaring tak berfaedah di raknya, begitupun carrier yg lebih sering berada di bagasi mobil ataupun di bagasi pesawat. Sudah kering menjadi debu sisa tanah-tanah basah yg menempel di keduanya, maklum jarang sekali di cuci ketika habis mendaki. Ah bukan aku jorok, tanah-tanah itu adalah pengingat bahwa mereka pernah berjibaku bersama ku, bekasnya masih ada, dan setidaknya cerita terakhir itu pun masih teringat baik. Sudah selama itu pula aku rindu, pada bau tanah basah.

Gantung Carrier??

Ku packing semua dalam satu kontainer, sepatu hingga kupluk. Bahkan seragam Abu-abu list merah bertulis “semut summit“itu pun kini terendap di lemari paling bawah. Hanya topi komando dan celana cargo bersimbol pohon cemara yg masih sering ku gunakan untuk kegiatan di luar ruang. Tenda, matras, kompor, nesting, dll kini hanya terbujur kaku di dalam kontainer berlebel “Peralatan Mendaki” , bahkan ketiga Carrier pun terbungkus kantong plastik hitam, tergantung dan berdebu. Aku tau sesekali mereka saling berbisik tentang angin, tentang embun, tentang matahari, tentang hujan, tentang tanah, pohon, dan segala yg pernah mereka jumpai di petualang mereka. Hanya aku yg abai, ah tidak aku tidak abai, hanya tak ingin bulir bening itu mengalir seperti terakhir kali ku paksa mereka pergi dari gelapnya hutan ke terang nya kota, aku tak ingin merasa bersalah telah menjatuhkan harga diri mereka sewaktu tak lagi memanggulnya tapi meletaknya di troli bandara..

“Perjalanan pertama ku adalah yg paling menyeramkan, aku harus berjibaku dengan hujan dan derasnya air di jalur pendakian, hingga aku tak ubahnya seperti kolam lele,” Ujar TowerTrek (sepatu kedua Merk Con*zina)

“ahh, iyaa itu juga perjalanan pertama ku, ketika kamu seperti kolam lele giliran aku yg merasa tak punya air satu tetes pun yg ku bawa.” Ujar si Tendem (carrier 100L)

“Iya, waktu itu kita harus jatuh bangun, berjibaku dengan batu, tanah dan lumpur, luka-luka gores di tubuhku ini adalah saksi bisunya, betapa kerasnya perjalanan waktu itu,. tapi aku kangen bertualang seperti itu lagi, :(” kata TOwerTrek.

“Aku pernah menapaki banyak puncak selama karir ku, Puncak Semeru, bahkan puncak Rinjani, sebelum aku benar-benar tak mampu lagi bertahan pada medan yg semakin keras dan tergantikan oleh mu. Semasa pensiun, aku masih sesekali di bawa ke ketinggian meskipun hanya puluhan meter, tidak lagi ribuan MDPL seperti kalian. Aku pernah menapak jalan panjang argopuro berhari hari, sampai akhirnya aku terbaring di sini tak tersentuh lagi. haha. Aku senang mengenang, setidaknya aku pernah berjaya di masaku, rusak karena manfaatku, bukan rusak karena waktu.. ” Ujar Rey (Sepatu Gunung Pertama)

“diantara kalian semua, aku lah yg paling lama mengabdi pada tuan, Sejak ia belajar bertualang aku lah yg selalu dia gendong, lihatlah tubuhku, sudah penuh dengan jahitan jahitan tangan, sudah banyak bagian bagian tubuhku yg di cangkok ataupun di ganti dengan yg lain. Entah sudah berapa jauh perjalanan yg telah ku tempuh, mulai dari hutan, rawa, hingga gunung yg kalian sebutkan pun aku pernah. Betapa bangganya tuan pada ku, kata nya aku si Carrier Doraemon, bentuk ku kecil, tapi muat ku banyak, apa saja bisa masuk, sampai akhirnya aku tak lagi mampu mengangkut beban berat karena beberapa bagian ku sudah tak asli. Sulit bagi tuan mencari pengganti ku, karena sekarang jaman sudah berubah, semua mengandalkan gengsi, mengurangi fungsi, harga doank yg mahal tapi tak bisa di isi. Sampai akhirnya tuan menemukan mu Tandem, dan tuan menyukai mu. hanya saja kamu lebih gendut katanya. hahaha” Ujar Odessy (carrier pertama kapasitas 80+20)

“hahahahahahha” semua isi Box tertawa

“Kapan kita Betualang lagi tuan?” Salah satu dari mereka bertanya pada ku.

“Entalah,” Jawab ku

Akupun rindu, sama seperti kalian. Aku pun ingin pergi menjelajah, sama seperti kalian. Akupun ingat tentang bagaimana petualangan yg pernah kita ciptakan, sama seperti kalian. Tapi untuk saat ini akupun sama seperti kalian, bertanya dalam diam, kapan kita bertualang.?

Mungkin kini sudah saat nya turun gunung, mengamalkan apa yg telah kita pelajari di atas sana pada kehidupan sesungguhnya. Memang tak sama, tapi filosofinya pasti sama. Kita berlajar bagaimana mengenal tanpa perlu bertanya tentang apa yg sama, kita bercengkrama tanpa perlu saling menghina, kita berjalan pada tujuan yg sama meskipun kita berbeda, berbeda kecepatan, berbeda stamina, tapi di suatu titik kita bergandengan tangan untuk sama sama melewati rintangan. Bukan kah itu indah?

“Apa tuan sudah ingin menggantung dan mengubur kami semua dalam kotak ini?”

Tidak, tidakk ada niatan untuk mengubur kalian semua dalam kotak ini. Aku hanya mengistirahatkan kalian sejenak, sampai bataas waktu yg tak tentu.

“Aku tak lagi punya cerita, jika tak bergerak tuan?”

Aku tau, sama seperti ku.. Jemari ku kaku, tak tau apa yg hendak ku ceritakan di kehidupan yg datar ini. Kita semua tahu, membosankan berada di balik layar dan tak merencakan sebuah perjuangan. Mungkin sudah masanya seperti ini, kita hanya menjadi pengamat, yg berkomentar melihat debat tentang kerusakan alam. Atau tentang mereka yg meninggal kedinginan, tetang mereka yg hilang, tentang mereka yg di temukan tinggal belulang. Kita hanya bisa berkomentar tentang bagaimana baiknya, seharusnya, tapi kita tak bisa memaksa kehendak jaman yg berkembang.

“Aku rindu teman-teman tuan”

Akupun demikian, sudah lama tak ada lagi kopi panas terhidang ataupun obrolan mengungkit kenangan. Sudah lama pula mereka diam berada di zona nyaman, atau mungkin mereka masih berkegiatan hanya untuk mengusir kesepian. hahaha.. Aku pun rindu mereka, sama seperti kalian. Mereka pernah menjadi bagian dari kita, pernah merasakan hal yg sama seperti kita, pernah berbagi dari piring yg sama, pernah minum dari botol yg sama. Pernah mandi dari sumber air yg sama, pernah mandi di kamar mandi yg sama, tapi tidak pernah mandi sama-sama.

Aku tak hanya rindu mereka tapi aku rindu pada embun, pada angin, pada bintang, pada tanah , pohon dan semuanya. Entah sudah berapa kali harus ku tusuk rindu itu agar tak lagi bergentayangan menghantui, tapi semakin ku tusuk ia semakin berubah menjadi hantu dan terus menghantui. Setiap saat ku amati hanya lukisan lukisan masa lampau yg tercipta, cerita masa lalu yg kembali bersuara, nyaris tak ada cerita yg baru. Semua berhenti sejenak untuk beradaptasi pada realita, seperti jalur pendakian yg di tutup untuk memperbaiki kondisi nya. Semua kembali menjadi ada di antara ketiadaan, bersuara tanpa berwujud, seperti rindu tanpa tanpa sua.

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *