Part I

“Ketika Tuhan Tak Pernah Membiarkan mu sendiri”

Sudah hampir satu jam aku berada di puncak sendiran, terlalu cepat kaki ku melangkah hingga mentari tertinggal dan masih terbenam di ufuk timur. Sesekali angin kencang menerpa tubuh ku yg meringkih, menggigil menahan dingin meski sudah berbalut jaket gunung tebal berwarna merah favorit ku. Kabut tipis berseliweran menutupi pandangan, sementara garis cakrawa perlahan terlihat  bersama rona jingga pertanda mentari masih menyala.

Sesekali aku duduk meringkuh di antara ilalang tinggi untuk menghindar dari hempasan angin yang dingin, menggigil, merindu hangat secangkir teh panas yang kau buat. Sabarlah sebentar lagi pagi, sebentar lagi mentari hadir membawa kehangatan, sabarlah. Hanya itu yg bisa ku ucap untuk mensugesti bahwa derita ini akan berakhir.

Kawah Sindoro mengepulkan asap putih, bau belerang masuk kedalam hidung menelusup jauh hingga ke dalam tubuh menciptakan gejolak-gejolak aneh di dalam perut. Teringat beberapa tahun silam di pagi pertama pergantian tahun, 3 orang anak remaja terbujur lemas menghirup Co2 di dasar kawah hanya karena ingin mengambil air di genangan yang terdapat di dasar kawah. Aku menyaksikan bagaimana para relawan maju mundur untuk mengevakuasi remaja yang perlahan meregang nyawa tersebut. Kini aku berada di tepian kawah kematian, mungkin bersama arwah mereka-mereka yang gentayangan menghuni puncak yang sepi.

Sindoro pagi ini.

5,5 tahun setelah kematian 3 remaja SMA tersebut aku kembali menyambangi kawah Sindoro, bukan, aku bukan ingin nyekar atau mengenang kematian mereka. Hanya saja aku sedang tak ingin menjadi bebek, tapi aku ternyata tak setangguh elang yang terbang sendiri. Ya sendiri, aku sedang mencoba mengembara sendiri. Teman-teman ku mana? kok hanya sendiri berada disini,? sengaja sendiri. Kabur? Emm, tidak.. Hanya melarikan diri, lari dari apa?

Setelah kepergian nya, aku merasa bertualang tanpa kompas, berjalan tanpa arah, hidup tanpa tuju. Seperti itu lah aku tanpa kamu, kamu itu seperti angin dingin saat ini, datang memberi rasa, pergi memberi luka. Entah aku yg terlalu lupa berlogika atau mungkin aku yang bodoh menjemput rasa sakit itu kemari. Menjemput rasa yang hampir membawa ku lebih dekat pada kematian, persis seperti tiga remaja yg terbujur kaku di kawah sana.

Aku bergumam dalam hati sebab bibir ku sibuk bergetar menahan pilu dan dingin. Merikuk terbaring, berlindung dari rerumputan yang gemulai menari di tiup angin. Aku tak boleh mati.

Sabar lah sebentar, sebentar lagi terang.

Sabar lah sebentar, sebentar lagi ada kehangatan.

Sabar lah sebentar, sebentar lagi dingin ini hilang..

Sabar lah bersama jingga yang sedikit-sedikit mulai mempesona di horizon timur, pertanda sang surya tidak pernah terlambat untuk menyapa.

Sabarlah..

—-

“mas, mass…. ” sapa seorang sambal menepuk-nepuk bahu ku.

Entah sudah berapa kali ia mencoba menepuk bahu ku selama aku tertidur.

“eh iya,.” Aku membuka mata, setelah ada merasakan sentuhan lembut di pipi ku dan melihat orang-orang telah berkerumun di hadapan ku.

Apakah malaikat juga hobi naik gunung? Ah apa mungkin mereka adalah arwah-arwah pendaki yang pensaran, ah tidak. Mana mungkin ada setan yang punya tangan begitu lembut, selembut bidadari. Whattt..??? ini di surga?? Ah please deh, udahan halu nya,.

“mas gak apa-apa?” tanya gadis berambut pendek berkacamata itu.

Ohhh, tadi itu tanganyaa dia, pantes aja lembut. Hehe.

“em, gak apa-apa kok, ketiduran doank tadi. hehe”

“ooh, kiraain masnya hipo, soalnya kami bangunin dari tadi gak bangun-bangun.” Kata pria yang memakai jersey Arsenal.

“hehehe enggak kok, saya baik baik saja. Nungguin sunrise lama bener sampe ketiduran deh.” Jawab ku sambil cengar cengir.

Aku bangkit dari tidur singkat ku, melihat mentari muncul secuil aku tersenyum, ternyata kematian ku belum tiba, meskipun berjumpa dengan malaikat tanpa sayap. Haha

“kalian baru sampai?” tanya ku

“kira-kira 15 menit yang lalu kami sampai, kaget aja ngeliyat ada orang baring di ilalang, sendirian pula, kami kira mas nya hipo atau kenapa.” Jawab si fans the gunner itu.

“iya padahal kalau 5 menit lagi gak bangun mau di kasi nafas buatan lho mas,. haha” kata si gadis berambut pendek berkacamata itu.

Duhh biyunngg, aku baru sadar pantes dia manis, eh ternyata ada gula di pipinya, eh salah ada lesung pipit di pipinya.

Melihat aku termenung mencerna jawabnya, dia langung klarifikasi ucapanya.

“di kasi nafas buatan sama si uya, td dia yg punya ide. haha”

“haha, tapi untung mas nya udah sadar, jadi gak kena nafas naganya gue hahaa” jawab si uya, salah satu pria dari rombongan mereka yang bertubuh kecil.

Kami tertawa bersama, dan seketika aku kembali terpaku menatap mentari yang perlahan meninggi. Aku sadar kita tidak pernah sendiri, kesendirian itu kita lah menciptakan. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendiri bahkan ketika kita mendekati kematian.

Mentari perlahan mulai menyombongkan diri, mengusir dingin dan gelap. Sepi pun perlahan menghilang terganti hingar bingar para pencandu ketinggian.

Aku duduk di gundukan tanah sambil menikmati teh hangat dari tumbler dan beberapa potong biscuit yang ku bawa di dalam daypack. Sesekali aku mengabadikan pemandangan sekitar yang cukup cerah dan aktifitas para pendaki yang di ada di puncak Sindor dengan kamera yang ku bawa.

“Mas nya sendiran?” tanya si Uya yang menghampiri dan duduk di samping ku.

“iya, sendirian”

“kok berani mas, mas dari mana?”

“aku dari Jogja.”

“sudah sering kesini ya?”

“enggak juga, ini yang ke 5 kalinya, dan baru pertama kali sendiri ke sini, biasanya bareng tim, tapi lagi pengen ndaki sendiri aja.. ”

“Mau biscuit?” aku menawarkan biscuit kepada uya.

“makasi mas,” Jawab uya sambil mengambil sepotong biscuit dari ku.

“kalian dari mana?”

“kami dari Jakarta, ada 8 orang itu. Baru pertama kali sih ke SIndoro”

Ohhh pendaki Jakarta pikir ku.

“payah lu ya, makan gak bagi-bagi” kata si Gadis berambut pendek.

“ini aja gue di kasi mas nya,.” Kata Uya

“Bagi ya mas,” kata si Gadis sambil nyengir kuda.

“haha iya ambil aja, bagi ke yang lain juga..” kata ku

“wahhh parah lu, gue yang di kasi, kok elu yang ngerampok sih,?”

Aku hanya tersenyum melihat mereka bercanda, seakan dejavu pada masa lalu di tempat yg sama. Rindu pada senyum yang entah dimana lagi dapat ku jumpa. Hidup itu seakan mengulang hal yang sama, hanya saja kita tak lagi sebagai pelaku tapi penonton layar nyata. Mungkin hal yang sama sedang terulang kembali, tapi hal itu tak mengubah kehidupan, hanya menimbulkan kerinduan.

Ku tatap jauh ke depan, mengingat kembali setiap keeping kenangan yg tercipta di tempat ini. Tempat yg sama ketika ku saksikan kematian, tempat yang sama ketika ku menemukan, tempat yang sama ketika aku harus kehilangan, tempat yang sama aku kembali ke masa silam.

Pohon pohon cantigi begoyang di hembus angin, mentari kian tinggi naik ke singga sananya. Beberapa pendaki masih asik berfoto, beberapa lagi melangkahkan kaki beranjak pergi.

Setelah berbasa-basi pada rombongan gadis berambut pendek, aku pamit untuk turun lebih dulu.

“kita gak foto bareng dulu mas,” kata si Gadis

“haha, enggak lah kalian aja yang foto-foto, saya turun duluan, kalau ada kesempatan bertemu lagi nanti kita foto foto” ujar ku

“oke deh mas photographer”

“makasi ya mas biskuitnya, maaf lho kita habisin. ahahha” ucap si fans arsenal.

“iya, gak apa apa, ini kalau mau lagi” aku mengambil satu bungkus biscuit dari dalam tas ku,

“gak lah mas, buat bekal mas turun aja. Cemilan kami masih ada kok, nanti kalau ada kesempatan bertemu lagi baru deh saya minta biskuitnya mas” ucap si Rambut Pendek

Aku tersenyum tanpa sepatah kata untuk membalas candaan si rambut pendek. Lantas pergi meninggalkan puncak Sindoro. Ku tapaki jalanan turun itu dengan langkah pelan dan sesekali berhenti untuk mengenang.

Mungkin aku memang berjalan sendiri tapi tidak dengan pikiran ku. Pikiran ku bermain dengan masa lalu nya, menimbulkan sosok-sosok imajiner dari rangkaian masa lalu untuk menemani ku di perjalanan. Adapun  kedatangan ku kali ini bukan untuk menetap, aku hanya ingin mengihklaskan.

Sampai akhir nanti Gunung Sindoro akan tetap kokoh berdiri, sebagai pendamping Gunung Sumbing. Namun akan selalu ada kisah dari mereka yang pernah menjejakan kaki dan melangkahkanya ke puncak, entah hanya untuk di kenang atau di ceritakan.

Aku terus turun menuju pos 3, dimana aku mendirikan tenda. Selagi masih ada waktu aku akan berkemas dan segera turun dan melanjutkan perjalanan.

Tiba – tiba

“ngokkkk ngroookk ngroookk” terdengar suara di sekitar tempat ku mendirikan tenda.

 

..Bersambung..

 

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *