Aku berada di Jogja hampir sepertiga usia ku, Jogja sudah seperti kampung halaman ku sendiri. Jogja lah kota tujuan ku pulang selain kota kelahiran ku. Banyak hal yg sudah ku alami di Kota yg Istimewa, aku jatuh cinta pada hal unik dan baru ku ketemui disini, seperti halnya  menyukai tempe ketimbang tahu. Akupun bukan pencinta seni, itu sebabnya semasa sekolah pelajaran seni budaya ku tak pernah mendapatkan nilai sempurna. Apa lagi kalau ada praktik nari. Duhh  mungkin aku orang pertama yg bakal bolos sekolah waktu itu.

Tapi Jogja, membuat aku memandang dari sisi berbeda untuk semua hal yg sering kali ku lewatkan. Dan hari ini, ku tunjukan kenapa Jogja dapat menghidupi sesuatu yg mati, dan menyuarakan sesuatu yg selama ini membisu.

Mungkin hari ini aku sedang melankolis, entah bagaimana aku haus dengan sesuatu yg sudah lama tak kunikmati. Berdiri di barisan paling belakang dari sebuah gedung pertunjukan, membidik momen menarik dari orang-orang yg sedang bersandiwara di panggung sana. Ahhh.. kita semua sebenarnya juga sedang bersandiwara.

PAGELARAN PUBLIKASI PANTOMIM “DOKU-MUME” pesan berantai itu viral menyebar memalui broadcast message media social ku. Rasanya sudah lama aku tak melihat pertunjukan Pantomime, ahh aku rindu menyaksikan Charlie Caplinnya Yogyakarta. Terakhir aku menyaksiskan para actor “bisu” ini pentas mungkin setahun atau beberapa tahun lalu, ketika sedang ada Festival Pantomime Jogjakarta. Pagelaran kali ini sukses menarik ku nekad pergi sendiri, biasanya sih juga sendiri, sebab ada Ria Ernes dan Boneka Susanya yg turut memeriahkan pagelaran kali ini .

Ria Ernes dan Boneka Boneka Susan, di Pagelaran Pantomim
Ria Ernes dan Boneka Boneka Susan, di Pagelaran Pantomim

Sepulang dari kantor aku langsung bersiap, mandi biar kece. Kali ajaa nemu kenalan baru, syukur-syukur cewek cakep. #inibecanda. Aku menyiapkan seperangkat kamera berserta dua buah lensa, lensa medium dan lensa tele. Kalau dapat tempat di depan yaa pake lensa medium sudah cukup, kalau di belakang, terpaksa aku menggunakan lensa tele. Setelah semuanya siap, ku ajak sikaris #motor andalan, untuk berbegas menuju Taman Budaya Yogyakarta. Sebuah tempat yg menjadi arena publikasi, pentas dan pameran seni dan budaya nya Yogyakarta. Disini lah para seniman sering kali unjuk kebolehanya, berkarya menghidupi budaya yg mulai meredup termakan modrenitas dan di terhuyung-huyung mencari penerus.

Penampilan Jemek Supardi bersama pantomim difable
Penampilan Jemek Supardi bersama pantomim difable

Doku-Mime sendiri merupakan sebuah pendokumentasian dari pagelaran karya-karya pantomime para pelaku seni pantomime di Yogyakarta. Rangkaian acara ini terdiri dari Workshop  serta penganugrahan Jemek Award kepada pemenang pertunjukan pantomime tunggal dan di akhiri dengan pertunjukan pantomime yg berjudul Pisowanan dan Titanak.

Seperti biasa gedung pertunjukan selalu saja ramai dan penuh sesak, deretan kursi penonton berwarna merah marun tak satupun kosong tanpa penghuni. Pengunjung yg tak kebagian kursi, terpaksa harus rela berselehan di antara kursi, ataupun di depan panggung. Aku tak ingin berebut kursi kosong bersama para pengunjung, aku pun tak memilih duduk lesehan di antara kursi yg berpenghuni,. Diantara cameramen dan photographer yg berada di barisan belakang lah aku menyaksikan pertunjukan.

IMG_0670-min
Barisan Penonton Tuna Rungu.

Acara ini gratis, bahkan tidak di pungut biaya kecuali biaya parkir kendaraan. Tak seperti bioskop yg harus merogoh kocek dalam untuk menyaksikan film yg beberapa bulan kemudian juga bakal tayang di TV atau bisa download gratis di intenet. Aku lebih suka nonton pertunjukan seperti ini, ahh bukan, bukan karena gratisnya.. tapi karena pertunjukan seperti ini tak ada tanyangan ulang, dan takkan pula di siarkan di TV. Kata “Gratis” atau “Free” seakan membawa aneka ragam penonton, tak memulu si kaya, atau si miskin,. Tak perduli yg dapat mendengar ataupun yg tak biasa mendengar, semua punya hak yg sama untuk melihat.

Awalnya ku melihat semua manusia sama, kalau tak wanita ya pria, Tak ada yg istimewa di gedung pertunjukan ini, yg cantik pun ada tapi tak berminat pada ku. Lantas apa yg harus di istimewakan,? Kecuali sekelompok penonton yg berada dibarisan depan, deretan kursi mereka tertulis kata “TULI” pada sebuah kertas warna Putih. Ahhh, aku lupa Ini pertunjukan Pantomin, sandiwara tanpa suara.

Yaa,, pantomime adalah pertunjukan teater yg menggunakna isyarat dalam bentuk mimik wajah atau gerak tubuh sebagai dialog. Kita akan seolah menyaksikan pertunjukan dari teman-teman yg tuna rungu. Aku takan banyak menceritakan jalan cerita dari kedua judul pertunjukan yang akan di mainkan. Sebab banyak hal menarik yg tersirat dari isyarat dan mimik wajah mereka menjelaskan jalan cerita.

Penampilan Pantomim Berjudul Titanak.
Penampilan Pantomim Berjudul Titanak.

AKu seperti menjadi bagian mereka yg Tuli, aku tak terbiasa mengartikan gerak dan eksperesi, yg ku tau hanya ekspresi bahagia, sedih, ataupun senang. Bahkan aku terlalu sulit memahami jalan cerita hanya dari memahami gerak tubuh para pelaku sandiwara. Aku tak tuli, tapi aku mencoba menulikan diri agar aku mengerti. Aku sadar ada sesuatu yg harus di perhatikan tanpa perlu diucapkan, dan ada sesuatu yg harus di pahami tanpa harus di dengar, serta ada sesuatu yg harusnya memang tidak kita dengar. Sepertihalnya Pantomime yg membiarkan penontonya berimajinasi sendiri tentang apa yg actor lakukan.

Kolaborasi Jemek Supardi
Kolaborasi Jemek Supardi

Aku hanya bersyukur tidak terlahir tuli, hingga aku masih bisa mencerna suara. Dunia yg hening itu menyeramkan, membaca mimik wajah dan gerak tak semudah memahami suara. Dentuman backsound pengiring pertunjukan pun seperti tak berdaya mengalahkan kehendak Tuhan yg mencipta keheningan. Begitulah dunia, Tuhan tak pernah menciptakan produk gagal, hanya kadang kita lupa bagaimana memahami ciptaanNya.

Boneka susan yg dimainkan Ria Ernest muncul sebagai pembuka pertunjukan. Suara “susan” yg khas membuat penonton yg lahir disaat Boneka Susan lebih terkenal dari pana Chuky ataupun Anabel bertepuk tangan, seolah kembali kemasa kecil. Tak banyak peran yg dimainkan susan, hanya beberapa patah kata yg ku ingat.

“Kami berpantomim, sebab kata yg di sampaikan kadang tak lagi sesuai maknanya,

Apa yg di ucapkan kadang tak sama lagi dengan apa yg di lakukan.

Ketika kata telah bergeser dari maknanya, maka gerak yg akan menjadi bahasanya.

Sebenarnya kita tak pernah melihat matahari, yg kita lihat hanya cahaya

Sebenarnya kita tak pernah menyentuh udara, kita hanya merasakan.

Dan kalian tak pernah benar-benar melihat susan, yg kalian lihat adalah Boneka Susan ”

Aku tak bisa berpantomim, bahkan aku sulit mengartikan isyarat mereka yg pentas di atas panggung sana. Tapi aku bahagia, ketika melihat anak-anak kecil turut andil dalam perntunjukan ini. Bukti bahwa pantomime Jogja tak hanya tentang Pak Jemek Supardi ataupu Ende Riza, tapi ada jemek dan ende junior yg siap meneruskan pertunjukan bisu ini.

Pantomim Cilik
Pantomim Cilik

Malam membuncah mendekati puncaknya, ketika pertunjukan terakhir memberikan isyarat terakhir mereka. Aku pulang sambil mencerna, merangkai imajinasi ku sendiri dari apa yg mereka isyaratkan. Dari petikan Puisi-puisi yg di lantunkan Ria Ernes, dari mimik di balik wajah putih pantomimers yg baru aku saksikan. Setidaknya, aku menyadari satu hal.

Beruntunglah duniaku tak sepi seperti dunia mereka yg Tuli, setidaknya kita bisa saling berdialog dan saling mendengar agar saling memahami, bukan membisu dan menulikan diri meminta di mengerti..

IMG_0865-min

Lidah kian berlari tanpa henti, Tanpa disadari tak  ada Arti. Bahasa Mu bahas Bahasanya. – ’Bahas Bahasa’ Barasuara

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *