Part I

Pendakian Gunung Sumbing Via Desa Butuh, Kaliangkrik

Jika tak mampu berlari berjalanlah, pelan asal konsisten pasti akan sampai

Sumbing, Gunung yg masuk dalam jajaran “triple S” Jawa Tengah (Slamet, Sumbing, Sindoro) memang sulit sekali di tebak, seperti anak kedua yg selalu berbeda dari anak sulung dan bungsu. Sumbing kerap kali menawarkan kemegahanya, memamerkan keperkasaaanya, apa lagi jika kalian mendaki Sindoro via Garung. Sumbing seakan memanggil “hey kalian, datang lah kepada ku, aku tak kalah indah dari Saudara ku sindoro,” di balik tawaran menarik Sumbing, tetap saja ia seperti selembar kartu remi yg terbalik di atas meja poker. Tak ada yg tau kartu jenis apa, dan angka berapa.

Si karis, motor andalan yg sudah 11 tahun menemani perjalanan ku meraung-raung di tengah perkebunan teh di dalam gelap malam. Rintik air hujan sejak tadi tak henti berjatuhan, memaksa aku dan Eddy harus berteduh di Muntilan agar tidak basah kuyup, sembari berteduh kami mengisi perut dengan makan di angkringan pinggir jalan. Menikmati hujan, dan menerka nerka harus sampai kapan kami menunggu. Hujan tak kunjung memberi pertanda akan berhenti, sementara perjalanan kami masih panjang. Mau tak mau kami harus rela berjalan bersama gerimis hingga ke Kecamatan Kaliangrik dan kembali berteduh di teras warung kelontong sebab hujan yg lebih deras menyambut kami menjelang sampai basecamp.

Diteras sebuah warung kelontong kami berteduh, menikmati dingin dari jaket yg sudah tak lagi mampu menahan hujan serta angin malam yg sepoi-sepoi membelai. Kami harus berpikir kembali tentang rencana melakukan pendakian malam, sebab hujan sepertinya sedang tak main-main. Bahkan mulai bersekutu dengan gundala putra petir. Ah, ini bukan komik marvels gaess, gak ada Thor di sini. Ini hanya cerita dari dua anak muda yg mencari sepi dari keramaian.. heleehh

Hujan pasti berhenti tapi entah kapan, sementara malam sudah di pertengahan. Harapan yg tersisa adalah menanti hujan agar sedikit berbaik hati memberi jeda supaya kami bisa kembali tancap gas menuju basecamp Sumbing di Desa Butuh, Kecamatan Kaliangkrik yg ku rasa tak begitu jauh.

Sebuah sepeda motor melaju membelah jalanan desa yg sepi di tinggal penghuninya bersemayam, menghangat di dalam rumah atau di balik selimut tebal. Tas besar ukuran 60L jelas mengisaratkan bahwa pengendaranya adalah pendaki gunung, mungkin mereka juga sedang menuju Basecamp, pikir ku. Setelah menimbang-nimbang keadaan, akhirnya aku dan eddy pun bergegas meninggalkan warung kelontong, tak lupa mengucapkan terimakasih pada ibu pemilik warung yg telah mengizinkan kami singgah.

Karis kembali ku geber, suaranya jelas nyaring terdengar dimalam yg sepi seperti ini. Tak ada kendaraan lain seperti di kota, hanya ada motor ku dan motor eddy yg berpacu mengejar motor pendaki yg tadi lebih dahulu. Jalanan ke Desa Butuh memang tak semulus jalanan kota, hanya ada jalanan berukuran 5 meter yg menjadi penghubung antar desa dan seperti nya sudah lama tak dapat perhatian dari Pemerintah, dibeberapa bagian terdapat banyak lobang jalanan yg cukup dalam seperti habis kejatuhan meteor dari angkasa.

Karis tak dapat ku geber lebih cepat, sebab kabut turun begitu pekat menutupi jalan yg berlobang. Beberapa kali kami terpaksa harus menyicipi sakitnya lobang jalanan. Kombinasi jalan yg jelek dan kabut yg mengahalangi pandang membuat rider dan motornya tidak dapat berkolaborasi sempurna. Tanjakan tinggi yg menghadang di depan tak dapat di elakan, sementara rider belum siap untuk ancang-ancang, dan akhirnya  pendaki yg  lebih dahulu tadi terpaksa harus menurunkan penumpang agar motornya kuat menanjak. Aku dan eddy sedikit beruntung karena kondisi motor sedang prima, dan tidak berboncengan.

Basecamp biasanya berada di desa paling tinggi di suatu gunung, tidak heran jika untuk sampai kesana membutuhkan transportasi yg cukup prima, baik transportasi umum atau kendaraan pribadi. Kendaraan yg prima diharap mampu melibas jalanan menanjak, dan berliku-liku, bahkan di beberapa tempat tanjakan nyaris 35derajat. Jalanan seperti ini biasanya akan menyulitkan bagi pendaki yg berboncengan menggunakan sepeda motor, sebab pasti yg di bonceng bakal lebih dahulu melakukan pemanasan, alias berjalan kaki ke basecamp jika motornya gak kuat ndaki.

Memasuki Desa Butuh, tak ada satu pun orang yg berada di luar rumah, mungkin karena memang sudah tengah malam dan udara sedang dingin-dinginnya. Aku dan Eddy sampai lebih dahulu menjadi Juara dan Runner Up di race Sirkuit Kaliangkrik ini, pesaing kami terpaksa harus menuntun motornya yg menyerah di tanjakan.

Basecampnya mana?? Clingak clinguk kami mencari tanda-tanda Basecamp, yg kami pun tak tau tandanya  bagaimana. Pokoknya cari aja tulisan BASECAMP SUMBING. .

OMG,.. Hanya ada plang penunjuk arah, plang tersebut ada dua petujuk yg sama-sama mengarah ke basecamp. Bedanya plang satunya terdapat simbol pejalan kaki, dan plang satunya terdapat simbol sepeda motor.

Buseeettt dah, basecampnya masih di atas rupanya. Lah jalanya lewat mana.?

Eddy berbelok ke arah plang dengan simbol pejalan kaki.

Ammpunnn dah, aku harus mikir dua kali untuk lewat jalan itu. Jalan super menanjak dengan kemiringan 40derajat, beralas coneblok yg di susun, berbatasan dengan dinding rumah penduduk dan ….  Jurang. Aku tak ingin mengambil resiko panjang, sebab ban motor ku tak di desain untuk melewati jalanan model itu, apa lagi sehabis hujan seperti ini pasti lah akan sangat licin. Sementara Eddy terus memaksa motornya melewati tanjakan yg jelas-jelas pendaki aja bakal tarik nafas dulu sebelum melewatinya., meskipun sudah digasss polll, motornya eddy  tak lebih cepat  dari orng yg berjalan. #edisi nyiksa motor. Ahahah

Aku memilih untuk melewati jalan yg terdapat petujuk sepeda motornya. Yaa lumayan lah, si karis bisa di geber agak cepat, meskipun melewati jalanan, eh lebih tepatnya halaman rumah orang. Emmm kalian pernah nonton film2 balapan di Rio Djanero Brazil.. nah persis begitu.. Jalanan di desa butuh ini adalah halaman bagian depan rumah orang,.. Pokok e kerenn dahh, udah kayak aktor Fast and Furios guee. Hahaha…

Basecamp Sumbing Via Desa Butuh, Kaliangkrik
Basecamp Sumbing Via Desa Butuh, Kaliangkrik

Akhirnya aku ketemu Eddy di tanjakan terakhir menjelang basecamp. Eddy sampai lebih dahulu, karena gak tau lagi harus kemana. Akupun demikian, ku parkirkan motor ku lantas mencari petunjuk, karena tak ada orang yg dapat kami tanyai. Aku memilih untuk berjalan kaki, biar kondisi motor ku tak overead akibat perjalanan ekstrim seperti ini. Setelah jalan  agak jauh aku menemukan petunjuk arah ke basecamp. Sialnya kami harus melewati satu tanjakan yg cukup tinggi (sama seperti tanjakan yg di lalui Eddy) meski tak begitu panjang..

Ya sudah, mau gak mau kami harus memaksa kendaraan kami bekerja lebih keras sekali lagi.

Dengan sisa-sisa tenaga akhirnya kami berhasil melewati tanjakan yg lumayan “asyudalahh” seperti tanjakan Pendakian Arjuno tempo lalu, menyebalkan tapi harus dilewati.

 

#bersambung …..

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *