Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part XIII

Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali.

 

Sehabis kejadian Sofi, perjalanan dari puncak sedikit lebih konyol. Aku meminta tolong ke teman-teman untuk membackup si Sofi, mengingat kondisi nya yg masih labil. Tapi tetep aja, pendekar mah susah, yg backup malah yg klimpungan ngejagain. Setelah pingsan tadi Sofi memang ku berikan Fatigon untuk menjaga stamina nya, eh malah tambah strong si pendekar dari lereng merapi ini.

Aku dan Eddy kali ini mengamati pergerekan anak manusia yg berjalan mengantri kayak bebek di jalan setapak menurun. Kami sedikit membuat jarak dengan mereka agar punya ancang-ancang buat berlari.  Seperti anak gunung yg kurang mainan, kami turun dengan kecepatan tinggi, lalu kemudian berguling-guling di rerumputan. Eh bukan kami, aku ajaa yg guling guling.. Maklum rem blong. Ckckck Inget dulu waktu turun dari Merbabu hobinya prosotan di rumput untuk motong jalur.

Perjalanan turun dari Puncak Arjuno menuju ke pos 4 ngombes via Lawang.
Perjalanan turun dari Puncak Arjuno menuju ke pos 4 ngombes via Lawang. Foto By Frans

Saat turun kami bertemu dengan beberapa pendaki yg baru naik, ada beberapa orang laki laki dan seorang perempuan.

“dari mana mas?” tanya Mbak nya kepada kami.

“dari atas, mau ke bawah. hahahah” jawab Nanda sekenanya..  kami pun tertawa geli, untung si Nanda gak di jitak pake treking pole mbknya, coba di jitak, pasti pada sakit perut karena ketawanya bakal lebih ngakak.

Perjalanan turun memang lebih menyakitkan kaki dari pada perjalanan naik. Beberapa pendaki malah lebih suka nanjak dari pada turun. Ketika melakukan perjalanan turun, lutut akan menerima beban yg berasal dari atas tubuh, sehingga akan lebih menyebabkan pegel dibagian lutut dan nyeri pada bagian ujung-ujung jari kaki yg menjadi tumpuan berpijak. Hal ini terjadi karena lemahnya otot dan paha yg di akibatkan kurang olah raga. Untuk menghindari rasa nyeri, kita bisa melakukan perjalanan turun dengan jalan mundur. Tapi tetap harus hati-hati, jika tidak tepat saat berpijak bisa mengakibatkan terpeleset dengan kemungkinan cidera yg cukup besar. Jadi, hati hati saat melangkah, Watch your stepp.

Trek Via lawang di dominasi oleh hutan yg di tumbuhi pohon cemara dan sabana yg berbukit-bukit, seperti bukit teletubis. Perjalanan dari Puncak Arjuno ke Cemoro Sewu relatif lebih mudah, trek yg di lalui tidak terlalu licin karena di bantu oleh akar-akar pohon yg membuat sepatu menemukan tambatan berpijak. Sampai disini, tim masih berjalan dengan jarak yg relatif dekat. Aku berada di deretan tengah, di barisan depan ada Oji, yg di backup oleh Cahyo, Nanda, Asep.  Di bagian tengah ada sofi, ira, dhika, dan Eddy. Dibelakang mereka ada aku yg terus mengawsi pergerakan Arif, Sri, Syura, Popy dan Faiz. Mereka lebih sering berhenti dengan waktu yg cukup lama, dan itu tidak baik untuk fisik, dan timing pendakian. Makanya aku mengawasi mereka agar tak terlalu lama beristirahat, sebab hari sudah semakin sore.  Aku tak ingin tim ku masih berada di alas Lali jiwo ketika malam menjelang.

Nanda, Sofi, Syura, Sri, Asep dan Arif sedang menikmati istirahat.. Foto by Frans
Nanda, Sofi, Syura, Sri, Asep dan Arif sedang menikmati istirahat.. Foto by Frans

Ketika mentari mulai beranjak keperaduan malam, tim sudah keluar dari Alas Lali jiwo. Sejenak menanti waktu magrib berlalu di tanah lapang, disamping batu besar. Kami mempersiapkan diri untuk berjalan merayap menembus gelap. Tanah sedikit basah, hujan rintik-rintik meninggalkan jejak nya berupa genangan dan rerumputan basah. Sudah pasti ini akan menghabat perjalanan kami yg sesekali harus rela mengadu pantat dengan tanah.

“15 menit lagi sabana kok mas,, nanti di depan ada pertigaan ambil yg kanan kalau mau lewat sabana.. kalau yg kiri jalur alternatif lebih curam. Kata bapak-bapak tadi gitu.” Begitu kata Ira, yg sempat ngobrol dengan 3 orang pendaki yg berpapasan di jalan dengan kami tadi.

Ira sendiri sudah mengalami cidera kaki, sama seperti Sri. Tapi Ira yg masih minim pengalaman, belum bisa mengendalikan emosinya. Makanya lebih sering mengeluh dan meledak-ledak ucapan nya, berbeda dengan Sri yg sejak dulu paling seneng nyimpan rasa sakitnya sendiri, dan tetep sok humble, memikirkan orang lain terlebih dahulu ketimbang dirinya sendiri.

“Aku masih punya susu nih, siapa yg mau.?” Kata Nanda..

“nci tuh kasih,.” kata ku

“gak ah yg lain aja dulu, iraa,” kata Nci menolak

“udah kalau di kasii abil, jangan nolak-nolakkk.. songong ih” kata yg lain.

Rendah hati boleh tapi tetep safety diri sendiri, jangan pura-pura gak mau padahal mau. Nanti nyeselnya bisa sampe ngilerr lhoo. hahaa

Selepas beristirahat aku mulai membackup Ira, karena si Nanda sepertinya sudah mulai kesal dengan Ira yg lebih sering ngomel dan susah di arahkan. Aturan main dengan ku simple, ajarin, contohkan, praktekan. Kalau masih gak mau nurut, ya sudah, silahkan jalan sendiri dengan teknik sendiri. Ira yg merasa kakinya tidak kuat untuk berpijak ku minta untuk lebih sering prosotan, itu teknik paling cepat untuk turun di tanah licin jika kaki cidera dan takut untuk bertumpu. Ragu-ragu dalam berpijak atau salah dalam mengambil pijakan bisa mengakibatkan cidera yg lebih fatal, makanya lebih baik prosotan.

Setelah berjalan beberapa lama, sampailah kami di pertigaan yg di maksud rombongan pendaki tadi. Tak ada petunjuk permanen, hanya ada kertas lepek yg tergeletak di tanah. Kami mengambil jalur kanan, menuruni perbukitan dengan trek yg curam, basah dan licin, sehingga seringkali aku dan yg lain harus jatuh bangun mengejar mu, namun dirimu tak mau mengertiii… #mencoba All is well meskipun, ya Allah harus lewat sini kah jalanya.?? Trek yg terjal ditambah kombinasi air sisa hujan dan embun menciptakan dingin dan membuat rasa putus asa menghantui.

“kok gak sampe-sampe sampe sabana sih.? Udah 15 menit lewat lhoo. ” kata Ira dengan nada putus asa.

Lagi-lagi Ira kena syindrom Ayu Tingting, harapan palsu, sama seperti di Lawu tempo lalu. Ketika melihat bendera di Hargo Dumilah berkibar, semangatnya tak bisa di kontrol meski sudah di peringatkan jarak antara Gupakan Menjangan ke Puncak itu sekitar 2-3 jam perjalanan. Namun, namanya anak muda yg sedang mencari jati diri, kalau belum merasakan sendiri belum percaya. Akhirnya ia harus tentunduk lelah kehabisan motivasi diri dan kehilangan rasio ekpetasi dan realita. Hingga aku harus mengeluarkan trik, untuk sedikit memaksanya melangkah menuju puncak Hargo Dumilah, yg tinggal 30 menit lagi.

Kali ini 15 menit yg ia harapkan ternyata jauh diluar batas nalar logikanya. Ia tak sadar sudah berkeluuh kesah pada keadaan yg tak nyaman, harus berjalan menahan rasa sakit di kaki yg sudah teramat. Apa lagi jika ia berpikir sabana itu adalah tempat datar yg nyaman, itu hanya akan menambah beban psikis dan pisik nya aja. Aku tak ingin berdebat panjang, menjelaskan kenyataan pada nya. Percuma, Jika seseorang sudah memiliki emosi diambang 75% mending didiemakan saja atau menjauh, menjelaskan kebenaran gak akan berarti apa-apa. Si Nanda yg mencoba menjelaskan bahwa 15 menit bapak nya beda sama 15nya ira, eh malah di semprot..

“ira sudah gak kuat, kaki iraa sakit.. ” rengek anggota paling muda di Pendakian kali ini. Melihat dan mendengar kejadian itu aku hanya bisa diem, berharap teman-teman yg lain mengerti dan dapat memaklumi kelakuan adik ku ini.

Dhika yg sudah sampai di sabana, meminta obat pusing. Berhubung P3K ada di Eddy yg berada di barisan paling belakang. Eddy menyusulku di barisan tengah yg tak begitu jauh untuk menyerahkan P3K.  Setelah sampai ke tempat ku, aku bergegas merangsek ke barisan depan memberikan obat pusing ke Dika. Ini adalah situasi yg mengharuskan kami berkonsentrasi tinggi, terlalu berisiko membiarkan Dika dengan kondisi yg tidak lagi optimal untuk memimpin barisan depan.  Apa lagi sejak perjalanan malam ini, ku perhatikan jarak yg ia buat dengan barisan paling belakang cukup jauh. Untuk pendakian malam sangat tidak aman berpisah terlalu jauh dengan rombongan, apa lagi dengan medan pendakian yg belum pernah di lalui, kemungkinan terpisah atau tersesat bisa saja terjadi.

Aku belajar banyak hal dari pendakian ku jauh sebelum ini, dimana salah seorang rekan ku turun sendirian hingga ke basecamp meninggal aku dan rombongan. Mungkin ia bosan berjalan pelan mengimbangi kami yg tidak memiliki fisik memumpuni sepertinya. Akhirnya kami tiba dibasecamp dengan selisih waktu cukup lama. Sampai di basecamp, mas Aldo yg waktu menjaga basecamp bertanya mengapa kami lama, ia khwatir dengan keadaan kami, sebab sebelum kami turun, ada beberapa pendaki yg kerusupan di jalur yg sama dengan kami lewati.

Mas Aldo lalu bercerita, ia sempat menegur teman ku yg turun lebih dahulu, menasehati tentang apa yg teman ku lakukan itu  salah. Tidak seharusnya ia turun sendiri, meskipun ia memiliki fisik yg masih cukup baik, untung saja tidak terjadi apa-apa,  bayangkan jika sampai ia salah jalur atau terjerumus ke jurang, tentu tak seorang pun tau. Berangkat bareng, pulang bareng, itu baru namanya tim. Jika sampai besok pagi aku dan rombongan tidak sampai dibasecamp, mas aldo sudah menyiapkan beberapa orang rekanya untuk melakukan pencarian dan evakuasi terhadap kami.

Itu lah sebabnya kenapa aku selalu mewanti-wanti untuk menjaga jarak meskipun aku berada di barisan belakang, minimal selang 5 menit kamu tidak melihat teman yg berjalan di belakangmu, berhenti lah. Mendaki bukan tentang adu kekuatan fisik, tapi kamu adalah bagian dari teman mu yg lain.

Aku berada di barisan depan menggantikan Dika, Ira ku titipkan pada Nanda. Jarak ku dengan Eddy yg menjaga di belakang, sekitar 3 menit. Aku sudah berada di sabana dengan jalur yg lebih datar, sementara Nanda, Ira, Sri, Arif, dan Eddy masih berusaha menuruni trek perbukitan yg licin. Hanya dari cahaya lampu senter dan suara saja aku mengetahui kondisi mereka yg masih berjuang.

Aku tak takut pada malam, pada gelap yg menyembunyikan keindahan semesta. Aku sering mengalami hal seperti ini, bahkan ketika harus berjalan menerobos semak belukar tanpa melihat kemana kaki melangkah. Sabana, hutan, jalan setapak itu paket komplit untuk ku mengenang pendakian Argopuro tempo dulu. Aku berjalan dengan mata kaki, meraba jalan setapak yg sembunyi di balik rumput liar. Kali ini aku merasakan hal yg sama, entah aku harus bagaimana menyikapinya.

Aku berhenti di sebuah tanah yg sedikit lapang, memberi kesempatan bagi teman-teman untuk beristirahat sejenak. Tak ada apa-apa yg ingin kami nikmati selain air, airrr dan aiirrr… Sejak sebelum gelap kami sudah mulai krisis air minum, entah dimana salahnya. Mungkin salah ku yg kurang cermat mengatur logistik super penting ini, atau aku yg kurang banyak membawa persediaan air. Sisa air minum terakhir dalam tumbler ku sudah ku berikan pada Ira, dan kini hanya ada 3 botol kosong di dalam keril, 1 di bagian samping, dan 1 buah tumbler kosong tergantung di keril.

Target perjalanan hari ini adalah Pos 2, karena diperkirakan disana ada sumber air yg dapat menyelamatkan kami dari dehidrasi. Tapi nyatanya perjalanan ke Pos 2 itu terasa lama sekali dengan kondisi seperti ini, beberapa teman harus berjalan terseok dengan kaki yg menahan sakit. Beberapa musti berjalan dengan pengelihatan yg terbatas, sementara lainya yg bernasib lebih baik harus mendampingi mereka. Sudah pukul 10 malam, sementara kami masih berada disabana dan entah harus berapa lama untuk sampai di pos 2.

Ditanah sedikit lapang, di atas bukit yg di tumbuhi banyak ilalang, langit gelap setia memanyungi kami. Sesekali kabut lembut membawa bulir-bulir embun membelai mesra kami yg lelah. Nanda yg masih terengah-engah datang menghampiri ku yg sedang menyandarkan diri di keril.

“mas, gmn? Kasi aja teman-teman makanan yg kamu buat tadi, sama beri minum. Aku masih ada setengah botol di dalam keril. Kasian teman-teman sudah laper dan haus.” “habis itu kita turun ke pos dua ngambil air dan naik lagi.”Kata Nanda setengah berbisik kepada ku.

Aku menarik nafas panjang, sebelum menjawab pertanyaan Nanda. Aku tak ingin jawaban ku yg tetap sama seperti sebelumnya bikin Nanda emosi. Aku tahu betul bagaimana menghadapi Nanda, situasi seperti ini pernah kami alami. Aku pernah sampai harus membentak Nanda hanya karena masalah tenda. Pendakian Argopuro memang bukan pendakian biasa, kami harus keluar masuk hutan setiap hari setiap malam hanya untuk menikmati keindahan “gunung seribu” sabana itu. Sampai di titik terlelah kami, di malam ke 6, Cikasur yg kami tuju tak pernah terlihat, sementara kami sudah berjalan 12 jam dari Sabana Lonceng, Sri, Eca, Trika, wanita yg saat itu ikut sudah mulai merasakan kedinginan, bahkan ada yg tertidur sambil berjalan. Eddy cidera engkel karena terjatuh saat meniti pohon di trek lembah taman hidup. Melihat kondisi yg sudah entah lah, dan mungkin Nanda juga sudah lelah. Nanda bicara dengan nanda yg tak ku suka, “mas diriin tenda disini aja, kasian teman-teman sudah capek. Sudah jauh kita jalan” kurang lebih seperti itu dengan emosi yg meledak-ledak.

“Silahkan cari tempat yg bisa buat tenda di sini, kalau ketemu kita istirahat di sini.” Aku tak kalah garang dengan Nanda. Seketika nanda menghempaskan keril ke tanah, bergerak di antara rerumputan sabana, kesana kemari mencari tempat yg memungkinkan tenda beridiri.  Sementara aku, masih mencoba berdiskusi dengan akal sehat, berbicara pada semesta yg saat itu aku tak ingin mengutuki nya.

Nanda berjalan mendekat  bersungut-sungut kesal.

“Ada tempat?” aku bertanya dengan Nanda,.

“enggak” hanya di jawab singkat sambil menundukan kepala,. Aku antara ingin tertawa dengan rasa kesal. Gimana cobaa..

Sebelum Nanda memeriksa kondisi sabana, aku sudah lebih dahulu memeriksanya. Bahkan saat awal kami melintasi sabana pertama, aku mencoba merekam berbagai kontur trek yg aku lewati, bahkan sampai malam hari di tempat itu pun trek kami lewati yg tak jauh berbeda. Hamparan sabana memang terlihat terbentang luas dengan rerumputan yg menguning. Tapi jarang sekali ada tempat datar di bawah rerumputan tersebut. Rumput tumbuh diatas gundukan tanah, bahkan dibeberapa tempat rumput-rumput itu menutupi bekas kubangan hewan liar seperti babi hutan ataupun yg lainya, nyaris tidak mungkin untuk menjadi tempat mendirikan tenda.

Sama halnya di Arjuno saat ini, sabana bukanlah tempat yg tepat untuk kami beristirahat. Selain karena kontur tanah yg tak rata, poisisi nya yg berada di punggungan bukit, menjadi sasaran empuk untuk hempasan angin gunung. Apa lagi dengan kondisi kekurangan air, yg menyebabkan kurangnya konsentrasi. #kayak iklan. Wajar sajaa, jika beberapa teman mulai mencari kebenaran menurut emosi nya masing masing.

“gimana mas,?” tanya Nanda, meminta persetujuan ku untuk membagikan sisa air miliknya.

“Enggak.. !!, huft.. Kasi airnya aja, makananya Nanti.. ” Hanya itu yg bisa ku kuatakan.

“siap ndan.!!’ Jawab Nanda sembari bangkit dan bergegas membongkar kerilnya.

“Hai teman-teman, capek..?? ” begitu kata Nanda sedikit mencoba ngelawak.

“aku punya harta karun, tapi gak tau apa.. mari kita lihat.. tolong dibantu yaaa.. bin salabin jadi apa prok prok prokk” gaya Nanda sok tengil kayak Pak Tarno, mencoba memainkan perasaan lelah teman-teman. Cringgg.. keluarlah botol air mineral dengan air yg masih setengahnya.. “Ini air terakhir yg saya punya, jadi dibagi sama rata, semua harus kebagian, minum secukupnya, dimulai dari yg cewek.” Begitu pesan Nanda.

Eddy yg baru tiba bergegas menyambut air mineral tersebut, memasukanya ke dalam kerongkongan beberapa teguk  lalu menjauh dari kerumunan. Aku mendekat ke Eddy, menceritakan yg terjadi.

“Ed, kita turun duluan ke Pos 2, cari air, kalau sudah dapat kita naik lagi bawa air. Berani?” aku bertanya pada Eddy.

“Ayooook” jawab eddy sambil setengah berlari menjauh.

Sebelum meninggalkan rekan-rekan yg lain. Aku pamit sama Nanda.

“Nand, Aku turun kebawah sama Eddy, cari air. Kamu tolong handle di sini yaahh..” Aku berteriak kepada Nanda, yg tak ku tau dimana posisinya.

“Wokee, siap ndan. 86” Jawab nanda mantap.

Aku meninggalakan Nanda dan rekan yg lain, setengah berlari menyusul Eddy yg sudah melangkah lebih dahulu. Bukan tanpa alasan kenapa aku memilih untuk turun bersama Eddy, serta meninggalkan Nanda di atas untuk menghendle tim. Percayalah, kebersamaan akan menunjukan kamu bagaimana sifat asli dari teman mu, dan aku tau persis bagaimana Eddy dan Nanda, mereka berdua mempunya sifat yg berbeda dan aku pun demikian. Ketika kita mengetahui sifat masing-masing anggota tim, maka kita dapat dengan mudah menempatkan mereka pada situasi dan kondisi dimana mereka bisa mengeksplore diri sesuai dengan sifat dan karakteristik kepribadianya. Situasi seperti ini aku butuh orang yg keras, untuk menahan angin yg berlarian tak tentu arah.

Sekarang aku tak Eddy, ilalang-ilalang tinggi menutupi pandangan jarak pendek, sementara di kejauhan bayang-bayang pepohonan yg menghitam sesekali tak terlihat tertutup kabut. Meskipun tak terlihat wujudnya dimana, tapi ketika ku panggil EDDY masih nyaut, kan berati masih dekat.

“Edd, pelannn.. ” Kata ku.

Ini kedua kalinya aku kehabisan air di pendakian, setelah yg pertama di Merbabu bersama Semut Summit. Waktu itu aku harus menuruni lereng  perbukitan curam di pertingaan Puncak Syarif agar lekas sampai ke kawah Gunung Merbabu. Saat itu mentari sudah beranjak ke peraduan malam, sementara aku dan Yogo masih berusaha menerobos semak, dan menuruni perbukitan untuk mencari air. Hingga sampailah kami di atas kawah, namun sayang perjalan kami sia-sia, untuk turun ke kawah ternyata harus melewati tebing yg sangat curam, terlalu beriko untuk turun tanpa peralatan climbing. Alhasil kami harus naik lagi ke jalur konvensional, untuk menuju ke kawah. Sampainya di kawah, lantas kami mengambil air yg mengalir dari pipa, karena unsur belerangnya lebih sedikit, dari pada air yg mengenang, tapi tetep bau belerang. Mau gak mau, terpaksa aku memenuhi botol air minum yg kami bawa.

Sialnya, ketika akan keluar dari kawah aku dan yogo lupa menandai jalur masuknya. Sedikit panik, karena hari sudah gelap dan suasana kawah Merbabu terasa menyeram menyeramkan. Dengan sedikit keberanian yg di peroleh dari membaca ayat-ayat cinta, eh ayat-ayat suci, kami meyisir semak-semak yg memagari kawah, hingga akhirnya menemukan jalan yg benar dan mendaki lagi melewati jalur konvensional hingga sampai ke tempat camp.

Arjuno adalah pendakian seribu kenangan, banyak pelajaran dari kebodohan masa lalu menjadi pembenaran dimasa  kini. Aku percaya, bisa itu karena biasa, dan pengalaman adalah guru paling jujur mendidik untuk sebuah kebaikan, jika kita mau sedikit menurunkan gengsi untuk tidak membenarkan ego sendiri. Sebab di Gunung bukan cemara yg tinggi dan kuat yg berada di puncak, tapi Eidelweis yg kecil dan rapuh yg mempesona.

 

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

3 thoughts on “Dejavu”

  1. Pingback: Air – @Za_prans

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *