Sudah lama jari ku tak menari pada deretan keyboard dan sudah lama otak ku tak ku ajak berpikir mengolah kata menjadi cerita. Aku bosan, lelah pada datarnya rutinitas yg membuat otak ku sejenak menjadi diorama hitam putih tak berwarna. Hampaa…. Imaji yg mengawang di jalanan sehabis pulang kantor lenyap ketika hendak di tuang ke dalam lembar-lembar kertas putih dan jadilah iya kosong, seketika itu pula tubuh lelah merongrong meminta jatahnya berbaring.

Ku buka file-file lama dari benda yg mereka sebut memory lantas ingin ku ukir cerita tentang Semeru, Ranukumbolo dan Kalimati. Ku yakin ini lah bentuk cerita utuh itu dari sekian banyak paragraf yg ku ketik lalu ku hapus, ku ketik lalu ku hapus, ku ketik lalu ku hapus, ku ketik lalu ku hapus, dan begini lah cerita itu.

SEMERU

Namanya menggema ke penjuru bumi, ke telinga para pendaki dan penyuka ketinggian. Banyak mereka berbondong-bondong menggotong keril berukuran besar dari berbagai wilayah tanah air hanya untuk mengunjungi pesona Gunung yg konon tempat abadi para dewa. Aku kenal Semeru sudah sejak lama, dari cerita mbah ku tentang kisah Gunung yg di pindahkan dari India ke Jawa sebagai paku bumi agar Pulau Jawa tak terombang ambing.

yaa.. Konon Gunung Semeru adalah bagian dari Gunung Mahameru yg berada di India, pada saat itu Dewa Siwa di perintahkan oleh Batera Guru untuk memindahkan Puncak Gunung Mahameru ke Jawa dikarenakan kondisi tanah Pulau Jawa yg tidak stabil, terombang ambing dipermainakn ombak. Bagian gunung yg dibawa oleh Dewa Siwa itu lantas di jatuhkan dibagian barat, yg membuat jawa bagian timur terangkat ke atas. Lantas dipotong lah bagian utama gunung tersebut lalu di pindahkan ke jawa bagian timur hingga pulau jawa menjadi seimbang.

Potongan gunung mahameru yg berada di jawa barat sampai sekarang di kenal sebagai Gunung Penanggungan, di bagian timur terkenal dengan nama Gunung Semeru, tidak hanya semeru, potongan gunung utama  yg di bawa oleh Dewa Siwa juga membentuk gunung-gunung di sekitar Semeru seperti Gunug Wilis, Lawu, Kelud, Arjuno dan Kemukus.

Begitulah Semeru masa lampau, tapi kini anak melinenia lebih mengenal semeru dari cerita novel romansa dan novel jarak pendek yg hanya 5cm. Aku tak begitu kenal dengan Semeru, sama seperti aku tak begitu mengenal diri mu dahulu. Aku mengenalnya ketika menjadi tujuan dari sebuah perjalanan, pencapaian ambisi jiwa muda yg haus akan tantangan. Jiwa yg terombang ambing  pada masa mencari pijakan untuk mengakar ke dalam tanah, agar tak diombang ambing gelombang modrenitas dan hedonitas kebanyakan kaum muda di jaman ku.

Aku pernah hampir menjadi bagian dari tanah semeru karena kecerobohan ku sendiri. Beberapa tahun lalu semasa puncak masih menjadi candu, sewaktu ambisi masa muda ingin eksis di puja media. Siapa yg tak bangga pernah menginjakan kaki nya di gunung Impor dari India itu yg kata orang adalah puncak abadi para dewa? Tapi itu dulu.

Aku kembali ke semeru untuk ke dua kali dengan membawa jiwa-jiwa muda yg sedang kecanduan puncak. Bagi ku itu seperti berkaca pada permukaan ranu kumbolo, melihat mereka seperti melihat ku semasa muda. Kembali ke semeru untuk kedua kali, tak ada ambisi untuk menginjakan kaki di Puncaknya, bukan karena aku tak mampu, tapi disini aku pernah di ajarkan bahwa puncak bukanlah segalanya.  Semeru saat ini tak lebih dari pertaruhan gengsi antar pendaki, ah bukan pendaki tapi mereka yg hobi naik gunung untuk sekedar berfoto selfi dengan sedikit belajar dari pendakian itu sendiri. Namun bagi ku tidak, Semeru tetaplah guru, yg mengajarkan banyak hal tentang kehidupan, kesederhanaan, tentang ramah tamah, tentang kelestarian.

Registrasi Online yg kini di terapkan memang sedang dalam tahap peyesuaian, butuh adaptasi agar sistem itu dapat berjalan sebagaimana yg di harapkan. Percayalah itu adalah salah satu langkah baik agar kelestarian alam ini tak lagi rusak karena keserakahan generasi instan. Meskipun kita harus rela untuk kehilangan keasingan, kesunyian seperti dahulu. Sebab naik gunung saat ini tak ubahnya menghadiri perkemahaan sabtu minggu, yg gegap gempita, ramai, tak lagi liar tak seperti hutan belantara seperti yg mereka dahulu bilang, dengan pantera tigris nya, ataupun hewan-hewan liar, yg konon katanya semeru surganya pendaki. dan kini surga itu tak lagi privasi.

Pemandangan Ranu Kumbolo dari puncak Tanjakan Cinta Gunung Semeru, Lumajang Jawa Timur. | Foto : Tirta Hardi Pranata

Ranu Kumbolo

Jajaran tenda itu beridiri di tepianya, kebanyakan pintu tenda pasti menghap ke arah danau yg mereka sebut Ranu Kumbolo. Ranu yg berarti danau dan Kumbolo yg berarti berkumpul. Disini lah para pendaki itu mendiri kan tenda sebagai camp area pertama ketika mendaki Semeru. Ranu Kumbolo sendiri merupakan danau gunung seluas kurang lebih 15 hektar. Danau ini menjadi kolam raksasa untuk menampung air di Gunung Semeru, baik berupa air hujan atau mata air alami yg terdapat di Gunung Semeru.

Rakum, begitu generasi saat ini menyebutnya. Kisahnya kondang tapi tak terpelihara, sempat menjadi sorotan akibat pencemaran yg terjadi pada kegiatan pendakian masal beberapa waktu lalu, kini rakum mulai kehilangan pesonanya. Sebagai salah satu sumber pasokan air untuk kegiatan pendaki, rakum seolah terus di ekpliotasi, tercemar oleh aktivitas pendaki. Belum lagi ulah mereka yg tak mengindahakan larangan untuk tidak membuang sisa makanan, minuman, sampah, dan tidak berenang di rakum. Membuat rakum seperti menunggu waktu untuk bernasib sama dengan waduk di perkotaan yg amis, berbau, tak layak konsumsi.

Rakum hari itu ramai. Hilir mudik pendaki datang dan pergi dari tepianya, kelap-kelip cahaya dari lampu pendaki dan bintang di langit bergoyang-goyang mengikuti rima riak gelombang air danau. malam itu dingin.. Aku dan teman-teman datang ketika malam sudah hampir larut. Sementara pendaki lain masih sibuk bersahut sahut tawa. Aku termenung sejenak di hadapanya, mengucapkan salam jumpa dari sahabat lama, hanya riak gelombang yg menjawab sapa. Aku rindu kala burung-burung kecil itu bermain air dan blibis-blibis berterbangan sehabis mandi bersama kabut pagi di ranukumbolo. aku cuma rindu itu saja.

Suasana Camp Ground Kalimati Gunung Semeru. Lumajang Jawa Timur, Foto : Tirta Hardi Pranata

Kalimati

Selepas rakum pendaki biasa menikmati tanjakan cinta yg melegenda dengan mitosnya. Percaya lah hanya dari sudut ini rakum terlihat indah, apa lagi tanpa warna warni tenda yg ramai. Jadi sayang sekali rasanya jika percaya sama mitos untuk tidak melihat ke belakang sewaktu melewati tanjakan cinta. kata temen ku, lu mah photographer sah aja kalau liyat belakang, kalau lu gak liyat belakang, gak ada yg motretin gue.. gitu katanya..

Kalimati sendiri merupakan sungai yg dahulu merupakan tempat aliran lahar ketika semeru meletus. Sangking lamanya itu lah yg membuat aliran lahar yg membentuk seperti sungai ini disebut kalimati. Kalimati sendiri merupakan batas camp akhir pendakian semeru. Sebelum sampai ke Kalimati pendaki harus melewati hamparan padang bunga  Verbena Brasiliensis yg berwarna ungu jika sedang musim penghujan, mirip seperti bungalavender. Padang ini di sebut Oro-oro ombo, karena tingginya tumbuhan itu setinggi tubuh manusia dewasa.

Siang itu panas terik nyaris tak ada awan yg melayang menjadi payung kami berjalan, meskipun bukan medan yg menanjak tapi terik mentari berhasil memaksa kami untuk berhenti sejenak mengistirahatkan body. Peluh-peluh keringat itu mengucur pelan di pipi, sementara mentari masih angkuh menunjukan eksistensi.

“gorenganya mas, buah..buah”

Apaa ini,? aku seperti kehilangan kesadaran sejenak tentang pendakian. Aku merasa seperti sedang camping ceria di buper cibubur atau sinolewah kaliurang. Inilah bukti bahwa Semeru bukan lagi tempat menempa kemandirian, kalau spot istirahat saja sudah ada pedangang makanan bagaimana mungkin pendaki kekinian akan belajar bagaimana management logistik.? manegement perjalanan? padahal itu penting, agar mereka tidak lagi berpikir gampang “ah nanti kan disana ada yg jualan gorengan”

Bukan sirik dengan cara mereka mencari rezeki, mereka hanya memanfaatkan keadaan. Aku tetap mengapresiasi para pedagang itu dengan tetap membawa sampah mereka turun, tidak menyalakan api, gorengan yg mereka jajakan pun adalah gorengan yg mereka buat dari bawa sana dari rumah mereka lantas di jual di atas sini. Bayangkan saja mereka harus menempuh jarak paling tidak 5-7 jam untuk sampai di tempat mereka  berjualan. Tapi ini dilema dunia pendakian, sama seperti di gunung lain semakin banyak monyet yg di beri makan, maka semakin liar mereka kepada pengunjung dan melumpuhkan insting berburu nya. Semakin banyak yg berjualan di gunung semakin manja para pendakinya, semakin ramai gunungnya.

Sore itu Kalimati syahdu, gerimis menjelang sore memaksa kami harus segera menyiapkan tempat berteduh dan menyiapkan makan malam. Hingga menjelang malam pun hujan masih mengguyur, tubuh yg lelah memaksa kami untuk segera berbaring sekedar melepas lelah. Ada tanya yg menggantung di dalam benak, mengamati hujan yg tak kunjung reda, langit yg gelap, dan tubuh yg letih. Apakah perjalanan ini di lanjutkan hingga ke puncak sana.?

Bagiku cukuplah sampai disini, di kalimati saja, di tempat ini saja. Sebab ada rasa yg harus kita samakan, ada visi yg harus kita satukan. Ini tentang kebersamaan, tentang satu rasa, bukan tentang rasa mu atau perasaan mu sendiri. Ku sudahi semuanya, sebab waktupun sepertinya enggan bekerja sama, dan aku tak suka segala keterpaksaan. Percayalah, aku pernah menyampingkan arti persahabatan karena bujuk rayu puncak gunung, dan kini aku menyesal. Aku tak ingin penyesalan ini menjadi retak-retak yg perlahan memisahkan.

Bahkan kita masih mendapat pelajaran berharga dari sebuah perjalanan yg tak pernah sampai ke tujuan. Tak selamanya keinginan itu tercapai sesuai harapan, terkadang memilih mundur jauh lebih bijak dari pada harus melangkahi harapan orang lain yg sama tapi tak punya kemampuan menjalaninya.?

Sudah di kalimati saja, menikmati dari kejauhan tentang Mahameru. Bukankah tempat suci itu lebih baik tidak dikunjungi agar tetap suci, biarlah sang dewa bersemayam dengan tenang disana. Tak perlu di usik dengan gaduh nya tawa, mari pulang, pupuk kekecewaan ini bukan untuk mendendam tapi untuk belajar mengihklaskan.

Kalau kau tanya apa aku tak ingin ke sana, Aku akan jawab,, Inginnnn, inginn sekaliii.. Tapi ahh syudahlah, kelak kau akan mengerti.. 🙂

Menatap dari jajuh puncak Mahameru, suatu hari nanti kalian akan beridiri di sana..

 

Semeru, November 2017

Tirta Hardi Pranata

 

 

 

 

 

 

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *