Part III

Pendakian Gunung Sumbing Via Desa Butuh, Kaliangkrik

“Kita hanya perencana dan esekutor kehidupan, semesta punya draf plan nya sendiri”

Dua pasang kaki mengayun ringan menelusuri jalan berbatu Desa Butuh yg terus naik ke arah ladang penduduk. Jalur pendakian gunung sumbing via Butuh dimulai dari gapura selamat datang sebelum ladang penduduk, dari sinilah perjalanan panjang itu dimulai. Jalan Berbatu menanjak menyambut aku dan eddy yg berjalan berbarengan, pagi itu awan masih kelabu, berarak menutupi langin biru seakan menyembunyikan sang surya di balik tebal nya gerombolan awan yg menghitam menggantung di langit Desa Butuh, Kaliangkrik.

Hamparan ladang bawang, kol, dan bermacam palawija setia menjadi pembatas di sisi kanan dan kiri perjalanan. Senyum ramah dan tergur sapa dari para malaikat yg menanaman benih-benih pangan yg di nikamati masyarakat kota, menjadi bagian dari interaksi sosial yg paling sering terjadi pagi ini. Tak seperti di kota pagi seperti ini mereka malah sibuk berlomba untuk sampai ke tempat kerja. Tapi tidak disini, kami berjalanan berbarengan dengan ibu-ibu para petani yg akan menggarap ladang mereka. Sesekali berbincang tentang tanaman, tentang pendakian, dan tentang doa.

“naik mas.??” Tanya dua ibu-ibu paruh baya berpapasan dengan kami di jalur pendakian.

“njih buk..” jawab aku dan eddy berbarengan..

“hati-hati yaa mas, kami doakan semoga selamat sampai tujuan…” ibu itu mendekat, menyalami dan mendokan kami berdua..

Degup jantung ku berdetak kencang, linangan air tertahan di sudut mata, entah kenapa. Mungkin hati ini rindu kesederhanaan tanpa embel-embel. Mungkin jiwa ini rindu bersosial tanpa embel belas kasihan.

Gerbang Sumbing via Kaliangkrik
Gerbang Jalur Sejati Gunung Sumbing. Duh edd, gaya mu kok kaku banget.. -_____-!!

Perjalanan dari basecamp ke Pos 1 memang melewati ladang warga dengan trek berbatu yg menanjak.  Jarak tempuh rata-rata sekitar 1 jam. Aku dan Eddy terakhir kali mendaki pada Desember lalu, kami sedikit memerlukan aklimatisasi hingga lebih sering berhenti untuk sekedar mengatur nafas dan menemukan ritme perjalanan. Belum lagi fisik yg tidak fit sempurna, terutama di bagian kaki yg membuat kami terpaksa menggunakan decker di bagian lutut untuk mengurangi nyeri, terlebih lutut kanan ku. Sejak terjatuh di Arjuno kemarin rasanya lutut ku lebih manja.

Pendakian memang meninggalkan atau menciptakan banyak hal, sampah (ditinggalkan oleh mereka yg mengaku pendaki tapi bermental kuli), kenangan (ditinggalkan oleh mereka yg melankolis #baperan), dan sakit (tercipta karena kita harus belajar banyak hal dari sebuah perjalaan, setiap luka harus punya cerita). Tapi kami menikmati setiap nyeri yg di rasakan, sesekali berhenti dan menikmati keadaan sambil menyandarkan beban. Pelan-pelan kami pasti bisa. Meskipun harus di salip dengan sepasang anak muda yg juga mendaki.

Ah.. mereka masih muda, ini karena faktor U. hahahah

Setau ku ada 3 tim yg akan naik di pagi ini, semua nya dari Jogja. Tim 1 aku dan Eddy, Tim 2 ada 4 orang (3 cowok 1 cewek) dan Tim 3 dari UII dua orang.  Tim yg masih berada di basecamp kemungkinan akan naik pada siang hari, karena katanya mereka masih menunggu rombongan lainya.

Aku dan Eddy berjalan bersama dengan dua orang cowok dari tim 2 yg di tinggalkan temannya. Sepertinya mereka masih SMA atau mahasiswa semester awal. Perjalanan tak terlalu sulit hingga pos 1, kami pun tidak berlama-lama untuk beristirahat, sekedar menempelkan pantat dan meluruskan kaki, meneguk air mineral, lantas beranjak pergi.

Perjalanan ke Pos 2 mulai memasuki hutan yg tidak terlalu lebat, seperempat perjalanan trek masih di dominasi oleh jalanan berbatu. Ketika memasuki hutan trek berubah menjadi trek tanah dengan sedikit bebatuan yg sepertinya sengaja di tata agar trek tidak licin.  Kami masih berjalan dengan tempo dan ritme yg sama, selow but sure. Beberapa tanjakan kami lewati silih berganti, bonus beberapa meter kami manfaatkan untuk mengambil nafas dan bersiap menanjak kembali.

Di pertengahan jalan menuju pos 2 kami berpapasan dengan ibu ibu yg mencari rumput untuk pakan ternaknya. Hitunganya cukup jauh jarak dari desa mereka ke tempat ini, butuh waktu 1,5 jam bagi kami. Sementara ibu-ibu renta itu membawa kayu ataupun rumput yg luar biasa banyak nya. Ada rasa malu pada semangat beliau-beliau ini, di usia senja masih beraktifitas dan berarti bagi keluarga, entah bagaimana tua ku nanti? masih kah aku mendaki, atau malah terbaring dihabisi oleh penyakit-penyakit masa tua,? warisan jaman modren yg instan. Untuk itu lah aku mendaki, jika kelak aku harus terbaring di usia senja, setidaknya aku bisa sambil bercerita, pada anak ku, pada cucu ku, menebar racun idealisme dan keabadian, mendongeng tentang indahnya Indonesia, ahh iyaa mendongeng, sebab mungkin cucu ku kelak, akan naik ke puncak sumbing dengan skyline…  #duh sedih sayah.. .

“Amit njih buk” Ucap ku..

“Monggo mas, ngatos ngatos” ucap itu itu..

Setelah satu jam lebih sedikit melakukan perjalanan, sampailah kami di pos 2 pendakian sumbing via kaliangkrik. luarrr biasa. “Edd, kaki amannn..??” tanya ku pada Eddy, yaa sepertinya inilah pendakian dimana kami sering banget berbicara tentang kaki, dan saling mengingatkan untuk hati-hati.. “Awass lututt kumat..” hahahha

Ada sekitar 20an orang di pos 2, dengan peralatan, tenda, pakaian dll yg di jemur di sekitar pos 2 ataupun di sekitar jalur pendakian. Mereka adalah rombongan dari jakarta, menurut kabar dari penduduk ada beberapa orang yg masuk angin dan mereka sempat kehujanan kemarin sore makanya berteduh di pos 2. Aku kurang menikmati dengan kekacauan seperti ini. Di pos 2 aku Eddy dan satu teman perjalanan kami tak lama beristirahat, kurang dari 5 menit lantas kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

Sepanjang jalan berserakan peralatan kelompok di pos dua, mulai dari jas hujan, celana, baju, hingga tas kamera turut di jemur. Mungkin basah kena hujan kemarin sore hingga malam.  Aku selalu heran dengan rombongan pendaki dalam jumlah besar seperti ini, apa mereka tidak memperhitungkan keadaan lokasi. Misalnya keterbatasan camp area, dan safety anggotanya? Ahhh.. aku tak ingin mencapuri urusan mereka. Toh gak ada yg salah, hanya saja aku kasihan kalau mereka harus bersusah payah ketika ada keadaan darurat seperti ini.

Perjalanan dari pos 2 ke pos 3 kami berbarengan dengan dua orang laki-laki dari tim jakarta yg akan mengambil air. Dari mereka kami tau, bahwa mereka adalah rombongan dari jakarta dan tengerang, ada sekitar 18an orang dan beberapa ada yg gak kuat, kemarin mereka kena hujan deras hingga menyebabkan beberapa harus tumbang. Dan sekarang mereka bingung mau lanjut ke puncak atau turun ke bawah. Aku dan Eddy menyimak dengan seksama cerita mereka, antara miris dan kasihan itu beda tipis ternyata. Hahaha

Akhirnya kami berpisah di sungai pertama setelah pos 2, setelah mengisi satu botol air yg kosong kami pun melanjutkan peralanan ke pos 3 sementara dua orang laki-laki tadi kembali ke pos 2.

Perjalanan ke pos 3 sangat menyenangkan, apa lagi jika kondisi cuaca cerah. Hamparan ilalang di lereng pegunungan Sumbing membentang luas, dan kami seolah seperti ninja hatori, eh persis Ninja Hatori. anak 90an pasti tahu banget nih lagu.. Mendaki gunung Lewati lembah sungai mengalir indah ke samudra.. bersama teman bertualang.. Setidaknya begitulah petikan lirik lagu Ninja Hatori.  Yapp. Perjalanan ke pos 3, memang melipir sisi bukit, dan melewati beberapa aliran sungai. Jadi tak perlu takut kehabisan air, sembari jalan kita bisa mengisi air  tumbler yg kosong di sungai yg memotong jalur pendakian. Yg perlu di khwatirkan adalah pijakan kaki. Apa lagi sehabis hujan kemarin, trek menjadi berlumpur dan bebatuan menjadi licin.

Pos 3 Sumbing Via Kaliangkrik
Perjalanan menuju Pos 3 Gunung Sumbing via Kaliankrik

Beberapa bulan lalu ada kejadian pendaki meninggal di aliran sungai antara pos 2 dan pos 3 gunung sumbing via kaliangkrik, penyebabnya adalah pendaki tersebut terpeleset saat mencoba menyebrangi sungai, kepalanya terbentur batu yg keras yg menyebabkan kehilangan nyawanya. Kejadian serupa nyaris kami alami, dimana salah satu teman perjalanan kami terpeleset pada saat menyebrangi sungai, untung lah ia sempat meraih rerumputan sebagai pegangan, Eddy yg berada di depanya dengan sigap menarik si anak muda tersebut agar keluar dari sungai. Dengan keril yg segede gaban, tentu tak mudah melewati trek seperti ini, salah pijakan bisa glinding sampai ke dasar jurang. Alam selalu menghadirkan resiko di balik ke indahanya, hati hati gaess.. Safe trip.

65%  Trek dari pos 2 ke pos 3 di dominasi oleh trek landai dengan pemandangan hamparan lereng pegunungan berselimut ilalang, sesekali pula kita harus menyebrangi sungai dengan air yg mengalir jernih. Please jangan buka pabrik air mineral disini, pokoknya air nya seger, asli pegunungan ada manis-manisnya gitu. hahaha,

Pos 3 sendiri merupakan area camp, tak begitu luas hanya muat sekitar 3-5 tenda. Pos 3  ditandai dengan plang yg terpasang di atas pipa paralon seperti di pos 1 dan 2, selain itu ada aliran air yg mengalir dari paralon seperti pancuran yg memudakan pendaki untuk mengisi persediaan air mereka. Letak pos 3 berada persis di lereng bukit, dan berhadapan dengan jurang dan tebing. Padaa saat kami sampai di pos 3, saat itu da 2 tenda yg telah berdiri disana. Aku dan Eddy tak berhenti lama, hanya mengisi air dari satu botol kosong dan thumbler ku, lantas melanjutkan perjalan ke Pos 4.

Awan hitam menggelayut diatas penggunungan, sementara sesekali semesta memainkan drum berirama rock yg menggema ke segala penjuru cakrawala. Aku tak ingin berada dalam uforia orkesta semesta dengan guyuran air yg menggila. Sumbing di pukul 13.15 saat it sudah lumayan dingin dan temaram gelap, mentari tak berhasil membujuk awan untuk menyingkir meski sejenak.

Kaki yg mulai merintih ngilu ku paksa untuk terus berjalan, kali ini jalanan mendaki tebing longsor yg curam sudah menanti untuk di lewati. Pos 3 ke Pos 4 kami lewati dengan perjuangan yg sedikit lebih berat. Pernah melewati tebing di Merbabu sewaktu menuju puncak keteng songo via Kopeng Cuntel, kopeng Thekelan ataupun Via wekas?? Nah, di Sumbing via Kaliangkrik pendaki akan melewati trek semacam itu. Tebing batu yg dilewati minim pijakan dan pegangan, di tambah lagi terdapat rembesan air yg menambah licin jalur pendakian. Sangat berhati-hati kami memilih pijakan dan pegangan, salah sedikit saja bisa terpeleset dan terperosok ke dalam jurang berbatu.

Tak sampai di situ. Tanjakan tebing yg seperti nya bekas longsor menjadi rintangan selanjutnya. Lutut kaki yg masih terasa nyeri harus kembali di paksa bekerja sampai batas maksimal, senut senut di kaki menandakan kami tak lagi muda, sesekali harus mengambil jeda di antara belantara hanya untuk meredakan kram. Trek yg lebih sulit pernah kami lewati, tapi trek yg mudah pun akan sangat terasa menyiksa jika di lakukan tanpa persiapan dan kondisi yg prima.

Lereng perbukitan menjadi trek panjang dari Pos 3 ke pos 4. Hanya ada ilalang dan rerumputan setinggi pinggang orang dewasa yg menyelimuti, sesekali pohon cantigi berukuran kecil turut serta menjadi pembatas antara jalur pendakian dan jurang yg dalam. Harusnya sangat menyenangkan berada ditempat yg seperti ini, memandang cakrawala luas, hamparan rerumputan hijau yg mulai menguning atau memandang petak-petak perkebunan warga dari ketingian. Tapi langit tak mengizinkan kami menikmati indahnya hari, awan mulai bergemuruh semesta pun mulai menjelma menjadi photographer maha raksana dengan teknik strobist tingkat dewa. Aku pun bergegas mematikan semua peralatan eletronik, termasuk peralatan navigasi. Sebab tak ingin kelalaian sepele ini menjadi mangsa bagi gelombang listrik maha dasyat untuk meluluh lantakan tubuh ini menjadi daging bakar.

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *