Mungkin aku harus mengadu pada laut yg tak pernah jenuh menampung air mata ku.

Akhir pekan adalah saat fitrahnya tubuh ini pada ketenangan. Rutinitas di hadapan layar monitor dan di balik meja kerja sudah sepantasnya diabaikan terlebih dahulu. Hidup monoton itu harusnya tidak terlalu sering di jalani, dunia ini beraneka ragam warna tentang kehidupan. Seperti halnya mentari, refleksi diri dari bias cahaya tanpa warna hingga menjadikan pelangi indah.

Akhir pekan kali ini aku mencoba menjauh dari hingar bingar keramaian kota. Menjauh dari debu dan deru kendaraan yg berpacu. Lari kehutan atau menyingkir ke pinggir Samudra. Aku bukan rangga bukan pula cinta, aku hanya anak manusia yg mencari ketenangan hati dari jenuhnya rasa.

Aspal hitam berakhir ketika hendak memasuki wilayah pantai. Selanjutnya hanya ada jalan tanah berbatu yg saat itu masih menyisakan genangan dan tanah becek sehabis hujan tadi malam. Aku titipkan kuda besi ku dihalaman rumah penduduk lokal yg biasa dijadikan tempat parkir, lalu berjalan bak pengelana ke tepi lautan.

Serpihan karang dan pasir pantai jungwok.

Pantai Njungwok.

Berkat Keraton yogyakarta serta bangunan tua dan sejarahnya Jogja sendiri sudah terkenal sebagai tujuan liburan wisatawan domestic ataupun international, apa lagi jika berbicara tentang Malioboro semua orang sepakat bahwa Malioboro adalah magnet yg menarik untuk di kunjungi wisatawan bila ke Jogja. Tak perlu menjauh jika hanya sekedar menikmati wisata sejarah dan budaya di jogja, cukup di dalam kota. Namun jika hendak menikmati wisata alam Jogjakarta, maka anda perlu naik ke Jogja lantai 2, ya itu Gunung Kidul.

Katanya Jogja tanpa Gunung Kidul, ibarat makan bakso tanpa saos dan kecapnya, enak sih tapi ada yg kurang. Gunung Kidul sendiri merupakan kabupaten dengan luas 46% dari luas Wilayah Yogyakarta. Pusat pemerintahanya berada di Kecamatan Wonosari. Kabupaten yg sebagian besar wilayahnya berupa perbukitan dan pegunugan kapur ini memiliki potensi wisata alam, kuliner dan budaya yg unik. Jika Kota Yogyakarta menawarkan wisata sejarah dan kearifan lokalnya, maka Gunung Kidul menawarkan pesona alam dan petualanganya.

Gunung kidul memiliki banyak pantai yg langsung menjadi batas antara daratan dan lautan Samudra Hindia. Gempuran ombak yg beradu dengan karang cadas menjadi cirikhas kebanyakan pantai yg dimilikinya. Pasir putih yg terhampar serta bukit karang yg menjulang, selalu berhasil memikat wisatawan untuk berlama lama menikmati keindahan.

Salah satu pantai yg belum lama ngehits di media social adalah Pantai Jungwok. Meskipun Pantai Jungwok bersebelahan dengan Pantai Wediombo, namun nasib pantai Jungwok tak sebaik tetangganya. Jalan aspal utama dari wonosari berakhir tepat di area parkir wisata Pantai Wediombo. Sedangkan jika ingin mengunjungi pantai Jungwok kita mesti melewati jalan tanah berbatu sepanjang kurang lebih 1KM dari parkiran wisata Wediombo. Pantai Jungwok melewati jalan yg sama jika ingin ke Pantai Greweng yg berada di sebelah timur.

Baca juga : Camping di Pantai Greweng

Pantai Jungwok sendiri tak ubahnya seperti sepetak lapangan bola di tengah hutan beton seperti Jakarta. Tak ada yg menyangka ada pantai berpasir putih dengan sungai yg memotong bentanganya. Sebuah bukit karang berdiri kokoh di tengah menahan gempuran kerasanya ombak pantai selatan. Sementara lapisan batuan karang seolah menjadi lantai dansa bagi ikan ikan kecil yg bermain air di tepian antara pasir dan Samudra.

Aku berjalan menelusuri pantai dengan keril besar yg berisi tenda dan peralatan camping. Mencari tempat strategi untuk mendirikan  tenda sebagai tempat untuk berteduh malam ini. Meskipun akses ke pantai ini lumayan sulit, tapi tak menyurutkan tekad wisatawan untuk berdatangan. Seperti kata pepatah, “tak mungkin ada asap jika taka da api.” Semakin banyaknya wisatawan yg datang ke sini, semakin menjamur pula lah pedangan yang mencoba mengais rezeki.

Ketika week end akan di jumpai pemadangan berbeda seperti hari biasanya, jajaran tenda warna warni berdiri disepanjang bibir pantai. Meraka adalah orang orang yg bosan dengan kamar atau sekedar ingin menikmati kesepian seperti ku.

Riak ombak yg pecah mengempas karang nyaring terdengar dari kejauhan. Gemuruh Samudra lantang mengumandang, mengaumkan kekuasaanya. Beberapa orang tak menghiraukan peringatan semesta, mereka sibuk bercengkrama di kejar ombak yg melambat dan menciut ketika mendekat ke bibir pantai karena amarahnya telah di redam oleh karang.

Aku berhenti sejenak di tepat di bawah pohon sejenis pandan, disinilah aku akan mendirikan tenda untuk tempat bermalam. Tak jauh dari tempat ku ada sebuah warung kecil yg menjual makanan ringan, beberapa meter di sebelah warung tersebut mengalir sungai kecil memotong bentangan pasir pantai. Tenda ku berdiri sempurna menghadap ke lautan luas, pasak-pasaknya ku pendam dalam di dasar pasir pantai agar tenda tak goyang di tiup angin laut.

Semilir angin di sore menjelang senja begitu temaram, sementara kilatan cahaya bergantian menari di tengah Samudra. Awan hitam bergerombol seperti akan murka, gelap, nyaris menutup senja. Pantai Jungwok tepat menghadap ke selatan, perginya mentari tak tenggelam di cakrawala lautan luas, tapi tertutup bukit karang yg menjulang, begitu pun ketika mentari terbit.

Camping di pantai Jungwok

Semakin sore menjelang malam, banyak pendatang yg berjalan mencari lokasi mendirikan tenda. Sorotan cahaya senter berjalan bergerombol, mereka adalah rombongan yg juga akan bermalam di pantai. Aku tak dapat melihat dengan pasti warna warni tenda yg telah berdiri. Malam itu ternayata sangat ramai. Disekitar ku berdiri 6 tenda berbagai ukuran, penghuninya riuh bercengkrama satu sama lain. Kelompok anak seumuran SMA rupanya menghabiskan waktu libur dengan mengadakan pesta barbeque di sini.

Jilatan api unggun menari nari dari kelompok tenda di sebalah ku. Mereka bernyanyi, bersenang senang, membakar ayam, menikmati makan malam. Jiwa muda mereka sedang bergejolak menikmati kebersamaan dan kebebasan. Sementara aku, duduk di teras tenda menghadap ke lautan yg gelap bergemuruh.

Malam itu temaram bintang bergantian muncul satu persatu dari kegelapan. kelap -kelipnya bak lampu disko yg menari nari bersama dentuman saura gemuruh dari tengah lautan. Riak ombak sesakali ramai sesekali senyap. Sementara kelompok manusia yg mencari kebebsan bercengkrama dari kerumunanya.

Menjelang pagi rintik rintik air dari langit turun menyatu dengan samudra. Membasahi rerumputan dan pasir putih. Awan kelabu menggelayut di atas samudra yg bergemuruh. Menyisakan sedikit celah untuk sinar surya menembus mesra.

Tak ada warna jingga di ufuk timur, hanya pucat pasi karena angkuh sang awan. Mejelang siang ku bereskan perkakas sarapan, melipat tenda menjadi buntelan lantas mengemasnya dalam keril. sampah sampah yg berserakan ku kumpulkan agar tak berterbangan di tiup angin ke lautan. Biarkan semuanya kembali seperti apa yg alam sajikan. Tanpa perlu di nodai oleh tangan tangan keegoisan. Tak ada retibusi untuk bercamping di Pantai Jungwok. Hanya ada iuran suka rela untuk penjaga pantai yg berdalih sebagai biaya kebersihan.  Sebenarnya jika manusia itu sadar takan ada lagi dalih pungutan untuk bersihan.

Aku tinggalakan karang yg menjulang, gelombang yg menerjang, menjauh dari gemuruh lautan. Aku kembali ke kota, suara gemuruh kini berganti menjadi deru deru bising kendaraan. Karang karang cadas berganti dengan badak badak besi dan mesin mesin panas, semilir angin tak lagi membawa butiran air, tapi debu jalanan.

Aku belajar satu hal dari renungan ku di lautan.

Sejatinya manusia itu mahkluk yg mudah bosan, ia lari dari kenyatan mencari perbedaan, dan akan terus berulang seperti itu sampai ia bosan.

 

Share This:

One thought on “Camping di Pantai Jungwok”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *