Tumpukan debu menyelimuti tenda tanda sudah lama tak di gunakan, sejak turun dari Pendakian Semeru lalu tenda dan segenap peralatan camping itu bersemayam dalam kardus dan tersimpan berantakan di dalam gundang. Hari itu, kembali ku kemasi alat-alat camping yg sudah sejak lama menjadi peralatan tempur ku untuk berpetualang, mengemasnya rapi ke dalam keril. Keril 80L itulah yg akan ku bawa untuk menemani ku pindah kamar malam ini.  Aku sedang tak ingin tidur di kamar, aku sedang ingin menikmati malam bersama bintang.

Jika ada tempat yg paling gampang dicapai untuk sekedar pindah tidur atau camping di Jogja adalah pantai. Karena letaknya berada di Pulau Jawa bagian selatan yg berbatasan langsung dengan laut selatan, maka Jogja adalah salah satu kota dengan banyak pantai yg indah. Pantai di Jogja menurut ku terdiri dari dua jenis, ya itu pantai pasir putih dan pantai pasir hitam (konon pasir hitam yg berada di pantai bagian barat ini akibat adanya kandungan pasir besinya). Pantai pasir hitam sendiri membentang dari perbatasan Yogyakarta dan Purworejo hingga ke pantai parangtritis, sedangkan pantai pasir putih berada di wilayah Kabupaten Gunung Kidul hingga ke perbatasan Wonogiri.

Suasana pagi di pantai Ngrumput, Gunung Kidul Yogyakarta. Foto l Tirta Hardi Pranata

Aku berkemas menuju sebuah pantai yg belum pernah sama sekali ku kunjungi. Pantai Ngrumput namanya, orang-orang lebih mengenal pantai ini dengan tujuan Bukit Kosakora, sebab pantainya sendiri berapada persis di bawah Bukit Kosakora. Akses ke Pantai Ngrumput ini relative mudah di capai dari Yogyakarta, pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda 4 atau roda dua. Cukup mengikuti petunjuk arah ke pantai Drini, sebab pantai Ngrumput bersebelahan dengan pantai Drini.

Libur lebaran sudah usai, harusnya hari minggu sore kami prediksi akan sepi dari wisatawan. Setelah dilema dengan kondangan yg ternyata molor, kami harus kejar tayang dengan hujan sore hari dan bebenah. Akhirnya menjelang sore kami ber enam bergerak menuju Gunung Kidul. Kali ini aku mengajak Istriku, adik ku, Eddy, Nanda dan Ira, ya cukup berenam saja, berbekal dua buah tenda yg biasa kami gunakan untuk naik gunung, beserta peralatan mendaki lainya. Kami konvoi kecil menuju Jogja lantai 2.

Perjalanan kurang lebih 3 jam dari Yogyakarta dengan menggunakan sepeda motor, di tambah istirahat Sholat magrib di pom besin. Jalanan ke qrah pantai ramai lancar, beberapa kali kami berpapasan dengan bus bus besar serta rombongan wisatawan yg mungkin baru saja habis dari pantai. Untung  kami datang sedikit malam, coba kami datang sewaktu pantai sedang ramai menampung para penjalan itu, mungkin suasana di warung tempat kami parkirkan kendaraan takan seramah ini. Kami mengistirahatkan diri sejenak di warung, sembari menunggu si bapak pemilik warung menyipkan kayu bakar pesanan kami. Yaa kayu bakar, kami berencana membakar ayam dan membuat nasi uduk, nanti.

Perjalanan ke pantai pun di mulai dengan melewati jalan setapak beralas batu karang tajam dan pasir pantai, sekitar 10 menit perjalanan, deburan ombak pantai selatan menyapa dari kejauhan. Ada sedikit kecewa yg kurasa ketika pijar-pijar cahaya lampu mulai menerangi warung-warung penduduk di tepi pantai. Ku kira pantai ini akan gelap gulita ketika malam, atau setidaknya minim polusi udara hingga aku dapat melihat jelas galaksi di atas sana. Berbeda hal dengan Pantai Greweng yg jangan kan listrik, untuk masuk kesana saja susahnya minta ampun. Tapi aku suka suasanya yg tenang, gelap, dan hanya ada longlongan anjing penjaga warung ketika malam, bukan music dari tape yg bass ya bikin telinga senat-senut.

Ada beberapa tenda yg sudah berdiri, terbagi menjadi beberapa kelompokk yg berada disisi kanan dan kiri pantai. Pantai Ngerumput tak begitu luas ada sebuah net voly terbentang di tengahnya mungkin untuk pengunjung yg ingin menjajal bermain volly pantai sambil berbikini. hahaha. Pasir putih yg terhampar berbatas langsung dengan tebing tebing karang yg tinggi menjulang, menjadi dinding pemisah dengan pantai di sebelahnya yaitu Pantai Drini. Bukit di sisi sebelah kiri pantai itu lah bukit yg orang-orang sebut sebabai bukit kosakora. Dengan menaiki anak tangga yg tersedia pengunjung bisa menikmati pemandangan pantai ngrumput dan sekitarnya dari ketinggian yg kurang lebih 40meter. Saran ku sih, mendaki ke Bukit Kosakora ketika sore hari menjelang senja, agar dapat melihat mentari tenggelam di peraduan air laut yg tenang.

Rombongan yg camping malam itu di dominasi laki-laki, entah dari mana mereka berasal tak ada tegus sapa, atau basa basi cerita, mereka hanya tampak asik bernyanyi di depan tenda mengelilingi api unggun yg melambai-lambai mesra. Sementara beberapa tenda lain, sudah gelap gulita, mungkin penguninya telah terlelap dalam gelap dan mimpi indah.  Beberapa warung yg berdiri semi permanen di pinggiran pantai masih membuka diri melayani para pelancong yg ingin menyantap sekedar mie instan, kopi, teh ataupun nasi goreng. Kami warga asing yg baru datang bergegas mencari lapak buat hunian. Dengan beberapa pertimbangan sisi sebelah kiri pantai, di bawah bukit kosakora itulah dua tenda kuning list abu-abu berdiri, di depanya ada sebuah tungku untuk membakar kayu dan sebuah bendera Semut Summit yg berkibar di terpa angin laut.

Teman yg setia itu adalah keheningan. Foto l Tirta Hardi Pranata

Suasana semakin hangat dan ramai, kayu yg kami bawa bergemertak di makan api dan menyebarkan pancaran hangat ke tubuh yg tadinya mulai dingin di hembus angin. Potongan-potongan ayam yg sudah kami siapkan malayang ke atas bara, bumbu sederhana berupa kecap dan saos sudah cukup untuk olesanya agar daging ayam tampak berwarna kemerah-kemarahan sedikit hitam. Sementara Nanda sibuk dengan experimentnya membuat nasi uduk dari santan instan dan panci modifikasinya. Yaa namanya experiment kadang perlu sedikit kesalahan. Contohnya saja, beras yg di kukus dengan air santan, setau ku masak nasi uduk itu berasnya di tanak dengan santan. setelah itu baru di kukus. Jadi experiment Nanda, kira berapa lama itu beras akan matang menjadi nasi.. Setelah ngeyel-ngeyelan dengan para emak-emak, akhirnya disitu lah peran wanita itu bekerja. Membenarkan yg salah dari cara laki-laki yg kadang sok jago dalam memasak.

Malam berlalu tanpa nada apa-apa, hanya sekedar duduk bercerita memandang langit yg sesekali gelap dan bintang yg tak begitu banyak. Rembulan pun tak sempurna menampakan diri, laut surut dan angin lembut membelai. Malam syahdu kembali di usik oleh belasan remaja tanggung yg datang menjelang tengah malam. Tak ayal menjadi bahan perhatian kami yg sedang santai tak ada kerjaan. Bertanya-tanya tentang apa yg ada di pikiran mereka, camping seperti tak niat, malah seperti habis mudik dengan membawa kardus-kardus yg mungkin berisi makananan, mendirikan tenda satu untuk belasan orang. Ahh.. untung malam itu tak turun hujang, mungkin jika badai aku adalah orang pertama yg akan tertawa kasian melihat kebohodan mereka.

Menjelang tengah malam, suasana kembali tenang bagai tenda sepasang anak manusia yg berdiri menyendiri di pojokkan pantai dekat batu karang yg sudah gelap gulita tanpa suara. Jangan bayangkan mereka sedang apa, bisa jadi mereka lelah lantas tertidur atau bisa jadiii……………. Ahh syudahlah.. Lihat saja gelombang mejauh dari bibir pantai seperti enggan mengganggu, beberapa remaja turun ke pantai yg surut hingga tersibaklah lantai sang pantai yg berupa karang berlumut, bercekung-cekung yg menjadi perangkap ikan-ikan kecil.

Aku, Eddy, dan Nanda turun kepantai bebekal senter, mencari ikan-ikan laut yg terjebak untuk dibawa pulang dan dimasukan ke aquarium atau memungut batu-batu karang yg unik untuk menghiasi aquarium. Rembulan bergulir pelan mendekati horizon lautan, tanda malam semakin larut. Suara music dan suara-suara musisi abal-abal mulai sayup sayup, sebagian orang mulai larut dalam kantuk. Tidur..

Tenda yg kami dirikann dibiarkan, kosong hanya berfungsi untuk tempat barang-barang. Kami enggan tidur di dalam tenda, teman-teman lebih memilih tidur beralas Flysheet yg membentang diatas pasir, sembari menatap langit, berselimut sleeping bag, di belai angit laut. Hingga pagi menjelang, dan sinar surya perlahan membuat suasana menjadi ramai kembali oleh kesibukan.

Beberapa remaja tanggung langsung menceburkan diri ke laut yg mulai pasang. Beberapa lagi mendaki ke puncak kosakora menjemput sunsire musim kemarau yg sedikit jingga. Aku, duduk menikmati secangkir teh menatap lautan yg bergelombang. Sepengalaman ku camping di pantai, seperti di Greweng, di Pantai Jungwok, di Depok ataupun di pantai Ngrumput ini atau mungkin di sepanjang pantai selatan. Sangat sedikit spot untuk dapat menikmati Sunrise, karena kebanyakan mentari muncul dari balik bukit karang, bukan dari balik horizon laut. Namun jangan ragukan soal sunset, pantai selatan merupakan salah satu spot menikmati sunset yg ciamik, dimanapun pantainya.

Pagi itu beberapa pengujung mulai berdatangan, beberapa orang yg camping tampak mulai bebenah dan sebagian lagi sudah hilang, termasuk mereka yg datang tengah malam lalu mendirikan tenda tapi pagi-pagi buta telah pulang. Ahh.. mungkin mereka di usir dari kosan atau dari rumah karena pulang kemaleman. Hahaha

Satu orang digotong dari arah pantai oleh rekan-rekanya, tampak korban kejang-kejang sehabis bermain air laut. Korban merintih kesakitan pada bagian perut. Kami datang melihat kondisi korban, menurut penuturan rekan-rekanya, temanya biasa mengalami seperti ini. Kondisinya seperti orang step. Ada yg bilang ia punya penyakit jantung, gilaaa.. Ini fital dan Urgent, dan teman-temanya masih bilang biasa????  BODOOOHHH.. pikiir ku dalam hati.

Beberapa pengunjung mencoba memberikan pertolongan pertama, termasuk dari beberapa orang yg camping. Aku tidak mau mendiaknosis si korban, tapi mendengat penuturan rekan-rekan mengenai riwayat penyakitnya. Aku sedikit was-was untuk memberikan pertolongan, Jantung broooohh.. Stop jantungnya lewat orangnya.. Ketika ditanya mengenai apakah temanya membawa obat? Mereka menjawab bawa, tapi ketika di buka, botol obat itu kosong.. Modaarrrrr….. Aku semakin jengkel ketika obat tidak ada, malah kami dapati sebotol minuman keras dari tas mereka. Dan dengan santainya mereka menegak minuman itu di depan kami dan di depan rekanya yg tengah merintih kesakitan.

Beberapa orang yg pertama kali memberikan pertolongan mundur teratur, mungkin enggan berurusan dengan orang-orang bodoh yg merusak dirinya sendiri. Tapi ada rasa kemanusiaan yg bergejolak di hati ku ketika melihat si korban menggigil kegingan dan hanya di balut kain sarung dan jaket oleh rekan-rekanya. Kalau sekedar kedinginan mungkin aku bisa bantu, aku bawakan dua buah sleeping bag tebal milik ku dan milik tim ku + emergency blangket.. Ku arahkan rekan-rekan korban untuk membuka semua pakaian korban yg basah, lantas membungkus si korban kedalam sleeping bag dan emergency blanket. Setidaknya itu bisa membuat ia hangat.

Sangat di sayangkan pemikiran teman-teman yg pendek seperti itu, kejadian emergency tersebut harusnya segera di laporkan dengan petugas sar di lokasi, namun mereka mennunda-nunda dengan alasan sudah biasa menangani teman yg begitu.

Mentari kian terik menyilaukan, ombak kembali menjauh dari bibir pantai kembali kelautan lepas. Pengunjung pantai mulai berdatangan sekedar menikmati suasa pantai ataupun bermain air yg tak bergitu bergelombang. Sementara kami berbenah untuk pulang.

Pemuda yg terkapar tak juga sadarkan diri, hingga akhirnya pasrahlah rekan-rekanya harus berurusan dengan tim sar akibat desakan warga. Dua orang timsar datang membawa tandu. Mengangukut korban ke RS terdekat untuk di rawat. Ahh.. kami tak ingin tau kelanjutan kisahnya, tapi kami tak ingin senasib seperti mereka. Jiwa muda yg merusak diri mereka sendiri.

Seindah-indahnya pantai tetaplah pantai, tempat di mana laut bertemu daratan. Tempat di mana ombak bebas beriak  semauanya, tempat di mana kesabaran karang di uji dan tempat kami kembali adalah rumah, dengan sehat dan selamat.

Biarkan kenangan itu tercipta tanpa banyak yg tahu. Foto l Tirta Hardi Pranata
Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *