Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part XII

Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

 

 

Mentari adalah salah satu ciptaan Tuhan yg tak pernah telat, selalu muncul tepat waktu di ufuk timur dan pulang di ufuk barat, hingga nanti ia ingkar pada takdirnya, terbit di barat yg berarti kiamat. Teman-teman masih larut dalam dekapan sleeping bag, lelah yg teramat dan dingin yg masih mencekal membuat hangat sleeping bag lebih menggoda ketimbang berburu jingga. Aku keluar dari tenda dengan membawa kamera, telaaat, si jingga sudah leyap. Ufuk timur berwarna putih pucat, yaa maklum, senja dan jingga pagi tak pernah menarik sewaktu musim hujan.

Cantigi ungu atau cantigi gunung (Vaccinium varingifolium)
Cantigi ungu atau cantigi gunung (Vaccinium varingifolium)

Ku alihkan kamera ke arah pucuk-pucuk cantigi yg memerah dan edelweiss yg masih kuncup belum merekah. Bulir-bulir embun bergelantungan indah di ujung daun. Pagi adalah lembaran baru yg harus di tulis dengan harapan baru. Jangan terlena dengan keindahan sesaaat, sebab embun pun akan menguap ke udara seiring mentari yg mengahangat.

Nanda memanaskan air, dan menuangkanya ke dalam gelas, air panas dan energen besatu dalam cangkir yg mengepulkan asap putih. Emang lebih enak di pagi yg dingin seperti ini sarapanya yg hangat hangat. Setelah di aduk, energen dalam gelas di bawa melipir ke tenda sebelah.

“Neng popy,, selamat pagi.!!!” ucap Nanda dari luar pintu tenda wanita.

Siaaalll,, Rupaynya energen yg dibuat khusus buat Popy. Pagi ini rezeki ku tak di patuk ayam, tapi dimakan teman. Aku menyesal telah mengikuti si jenggot kambing ini menemui Popy yg duduk sendiri menikmati pemandangan pagi. Aku yang tak ingin jadi orang ketiga pun pergi meninggalkan sepasang anak muda yg mencoba merangkai hati di indahnya pagi. Entah apa yg mereka bicarakan, bodooo amat, kecewa guee..

Muncul pikiran untuk mengecek jalur turun via Lawang. Jalur tersebut berada 300 meter dari pasar dieng, melewati sebuah bukit dan menuruni lereng puncak ogal agil atau sekitar 100meter dari puncak Gunung Arjuno. Aku berjalan pelan, menapak jalur yg di penuhi bebatuan. Meskipun terlihat dekat tetap musti kontrol emosi, kadang mata menciptakan halusinasi dan harapan yg palsu pada kaki, yg terlihat dekat ternyata jauh di jalani, yg terasa mudah ternyata hanya di lihat tidak untuk di pijak.

Semakin jauh semakin terlihat mengecil si Nanda dan Popi di tepi punggungan bukit. Aku berjalan semakin mendaki, semakin tinggi. Setelah menemukan pertigaan menuju Lawang, aku melangkahkan kaki dengan ragu ke Puncak Arjuno. Tak ada niatan, yg ada adalah kebimbangan. Berlutut ku di tanah berbatu, tak perduli pada sekitar yg mengamati, ku hantarkan kedua lutut pada tanah lebab, ku letakan kening dan hidung ku hingga aku bisa mencium wangi tanah yg masih bau embun. Mengucap syukur, atas kesempatan berada di tanah paling tinggi di Gunung Arjuno. Linangan air mata perlahan mengalir membasahi pipi, ketika melihat tenda dan geliat penghuni nya dari kejauhan.

Tak ada yg istimewa selain mereka, bahkan puncak gunung itu sendiri tak lebih indah dari semalam berjuang bersama mereka. Sebuah penyesalan menghujam jatungku, sakit menusuk bagian yg paling dalam atas apa yg ku perbuat pada mereka. Seketika kaki ini tak berdaya, menyesali langkah yg ia perbuat. Aku turun dengan langkah gontai, dengan perasaan entah berantah. Ku tandai pertigaan menuju Lawang dengan plastik kuning hitam. Dijalan aku berpapasan dengan beberapa orang dari tim ku yg bergerak pelan ke puncak. Ku biarkan mereka berlalu, dan aku pun berjalan menuju tenda dengan rasa bersalah.

Sampai di tenda, masih ada Sri, Syura, Eddy dan Arif yg tidak ikut ke puncak. Aku bergabung bersama mereka, membuatkan sarapan untuk teman-teman yg naik ke puncak setelah ku. Hari itu kami masak sedikit banyak, kolaborasi antara koki Semut Summit dan Koki Palanus, terciptalah beberapa termos susu hangat, pecel, spageti, dan mie telor rasa kornet.

Sedang asik makan mampir mbk-mbk yg gak ku tau namanya. Kalau kenalan nanti di katain moduss,. -___- Mbk nya ternyata baru Summit dari lembah kidang ke puncak Arjuno, tapi numpang istirahat dulu di tempat kami sambil nunggu temanya yg masih di bawah. Secangkir susu hangat ku tawarkan pada mbknya, yg disambut dengan suka cita. Ehh mas gondrong dateng, mas yang cool banget dengan gaya khas anak gunungnya, flanel, sepatu boot, celana kargo. Aku teringat dengan senior ku Mas Abu, yg bertahun-tahun jadi senionya Gegama (kelompok Mahasiswa Pecinta Alam Mahasiswa Geogragi UGM), gaya bicaranya persis dengan mas Abu yg suka ngomentari tindakan ku dengan ceplas ceplos, gak pake basa basi. Pekok ya pekok, bagus ya bagus, gak ada kata bagus yg pake tapi.

Tenda kami yg beridiri di pasar dieng.
Tenda kami yg beridiri di pasar dieng.

“Uji nyali kalian ngecamp di sini?” Ujar mas gondrong, dengan gaya sinisnya, satu tangan di saku celana, satunya lagi menghisap rokok kretek. Setelah kepulan asap yg ia hisap di keluarkan lagi, si Gondrong itu kembali berkata “ketemu itu gak,?? Biasa banyak lhooo yg tau tauu munculll.. pake sarungan doank. Minta makan.. kalau ketemu kasi ajaaa. ” nahh lhoooo,, mulai deh.. Aku tau yg dia maksud adalah para petapa-petapa yg sering kali naik gunung berbekal seadanya, dan jika sudah kehabisan makanan, mereka minta ke pendaki.

BTW jadi inget kisah di Merapi beberapa tahun silam. Suatu sore di pasar burbah camp ground Merapi, kabut tebal sudah mulai turun dan mentari sudah tak lagi bersinar terang. Kami bersiap turun, tenda dan peralatan lain sudah di packing, sesi terakhir sebelum melangkah pergi adalah foto-foto bersama. Kebetulan saat itu kami bertemu dengan pendaki asal solo, dan jogja yg sepakat untuk turun bersama. Setelah sesi foto dan hendak melangkah kan kaki, tiba tiba dari balik kabut ada suara yg memanggil-manggil kami. “mass…!!, mbak!!!”  berulang berberapa kali.

Sore itu kami adalah kelompok terakhir yg akan turun, sementara di pasar burbah memang masih ada beberapa tenda pendaki yg mungkin akan bermalam, namun lokasi nya cukup jauh dari kami. Sontak kami ber delapan saat itu kaget, merinding bukan main, mendengar suara tanpa wujud.

Ketika kabut tebal menyingsing, entah dari mana muncul sosok lelaki paruh baya dari belakang ku. Lelaki itu berperawakan kurus, berwajah kucel dan menggunakan sendal jepit, dengan kain sarung menutupi separuh tubuhnya sebagai selimut. Kami kaget, terdiam dan saling pandang, kaki seakan berat untuk berlari sementara mulut seperti membisu untuk teriak.

“mas, boleh minta air, sama makanannyaa..??” ucap bapak itu dengan wajah kusut. Kami bingung apa yg harus kami perbuat. Ingin lari tapi kaki seolah terpaku dengan bumi, ingin teriak seakan bibir tarkatup terkunci. Akhirnya aku berikan sebotol air minum bekal kami buat turun dan sebungkus roti kepada bapak tua tersebut.

“Bapak dari mana?” tanya ku yg akhirnya punya sedikit nyali untuk berkata meski hanya sepatah dua patah kata yg terbata.

“saya sudah 7 hari di sana,” bapak itu menujuk ke salah satu sudut gunung, yang bukan area camp para pendaki. Bapak tersebut tak banyak bicara, hanya mengucap terimakasih. Karena tak punya banyak kepentingan dengan beliau, kami segera pamit  untuk melanjutkan perjalanan pulang, sebab mentari semakin tenggelam dan perjalanan malam akan lebih menakutkan. Seiring kaki kami melangkah, kabut pun kembali menutup pandangan, bapak tua berbalik melangkah membelakangi kami dan menghilang di telan kabut gelap pasar burbah gunung merapi.

Hooaaaa… Sepanjang perjalanan tidak ada yg membahas siapa bapak tua tadi. Kami sangat pensaran tapi akan lebih menakutkan jika cerita seperti ini menjadi topik yg di imajinasikan selama perjalanan turun malam hari. Ini lah gunung, banyak hal yang terjadi belum bisa di cerna oleh logika manusia normal seperti kita.

Sama halnya dengan pembicaraan mas gondrong, yg ingin ku akhiri, supaya teman-teman tidak parno. Tapi ahh, aku mah masak ajaaa, dari pada aku jatuh hati sama pesona si mas gondrong.. hwhwhw Please deh saya masih normal, jatuh hati sama cooling style masnya aja. Haha

Lembah Kidang dari Puncak Gunung Arjuno. Foto : Tirta Hardi Pranata
Lembah Kidang dari Puncak Gunung Arjuno. Foto : Tirta Hardi Pranata

Packing dan sarapan pagi dimulai ketika teman-teman sudah berkumpul semuanya. Sarapan ini seakan menjadi sarapan terakhir kami di sini. Rasa masakan sedikit dibumbui dengan perasaan syahdu dan baper, karena ini adalah tanah tertinggi yg kami pijak, dan berarti kami harus turun dan kembali pulang. Sampaikan salam perpisahan pada cantigi dan edelweiss basah, kami pulang.  Melangkahkan kaki menuju pertigaan ke Arah Lawang.

Sesampai dipertigaan kami berisitirahat sejenak, aku dan Eddy mengantarkan Sri, Syura dan Arif yg belum menginjakan kaki mereka di puncak tertinggi Gunung Arjuno. Sementara teman-teman yg lain berisitirahat menunggu kami di pertigaan jalur pendakian. Tak lama kami di puncak arjuno, hanya beberapa jepretan kamera saja, dan asep menuntaskan keinginanya untuk mengenakan toga di puncak gunung. Sementara  Syura dan Sri, menuntaskan janji mereka pada Boneka Dolly titipan si Qory. Setelah itu kami turun untuk bergegas kembali melanjutkan perjalanan.

Kang Asep yg lagi Eksis wisudaan di puncak
Kang Asep yg lagi Eksis wisudaan di puncak. Foto : Tirta Hardi Pranata

Mentari tepat berada di atas kepala, meski tak seutuhnya memperlihatkan bentuknya yg dihalangi awan kelabu, tapi panasnya masih terasa di kulit. Kami bersiap berangkat, dengan peralatan masing-masing di pundak. Aku potong gula jawa yg berbentuk setelah lingkaran, ku bagikan kepada teman-teman yg ingin, ku tawarkan pula pada sofi dan Ira yg duduk berdua diatas batu.

“mbk sof, mau..?” Aku menawarkan potongan gula jawa pada sofi, tapi ia hanya diam dengan tatapan kosong lalu menangis sambil merebahkan tubuhnya di pelukan ira.

Sofi hilang kesadaran, karena tubuh Sofi yg lebih besar dari pada Ira, Sofi jatuh ke tanah. Bergegas aku hampiri Sofi, menyandarkan kepalanya dipangkuan ku. Memukul-mukul pipinya pake sepatu, ehh enggak enggakk. “soff, soffi…. ” ku goyang-goyangkan kepala nya, gak juga bangun. Ira yg histeris kepanikan, segera ku usir menjauh. Reseek, situasi kayak gini malah panik, pamalik tau. Stay Coll donk, positif thingking.. 😛

Ku periksa denyut nadi di lengan sofi, nadinya lemah, tanganya nya dingin, telinganya juga, wajahnya pucat pasi. Teman-teman yg lain masih bengong, melongo bego, dengan mulut mangap.”Hey tolongin, Sofi pingsan…” Mereka kaget antara percaya atau gak percaya, sebab dimata mereka Sofi adalah wanita yg kuat, memiliki stamina dan kekuatan fisik yg jauh diatas mereka. Tapi mereka mungkin lupa sofi juga wanita, yg lemah hatinya. Eyaaa.. Baru lah ketika dengan wajah serius aku bilang sama mereka kalau sofi pingsan, mereka mendekat memberikan pertolongan. Matras dibuka kembali, sepatu Sofi dilepas. Bersama kami gotong Sofi ke matras. Berat juga nih anak, gak kuat kalau aku harus bopong Sofi sendiri.

Setelah Sofi ditidurkan diatas matras, ku oleskan minyak telon di tangan dan hidung Sofi, lalu Sri mengoles kan minyak angin di perutnya. “Sri oksigen,” aku inget kalau kami membawa oksigen,. Nah ku berikanlah itu oksigen ke Sofi, tadinya mau ku coba ngasi kaos kaki, kali ajaa bangun. Eh tapi gak tegaa sayah, coba nanda yg pingsan mungkin udah ku kasi kaos kaki, hahahahaha

Ku katupkan oksigen ke mulut dan hidung sofi, kemudian ku semprotkan oksigenya. Gak ada reaksi apa-apa dari Sofi, “eh bener gini kan, cara pakai nya.? ” aku bertanyaa kepada yg lain. Eh Oksigenya malah di ambil si Sri, Kemudian katup tabung oksigen di arah ke mulut sofi hingga tertutup semua, sejurus kemudian “maaf ya mbk sofi,” ucap sri sambil mencet hidung sofi. “srrrrrruuuuuuuuttttt” oksigen keluar dari dalam tabung, mengalir deras ke dalam rongga-rongga tenggorokan hingga ke paru-paru si Sofi. Seketika Sofi bangkit dari tidur panjangnya, “uhukk uhukkk” batuk Sof? Hahaha

Allhamdulillah Sofi sadarrrr,, kalau gak sadar mah, mau di kasi nafas buatan sama Cahyo. Kwkw

“Kok pada rame sih? Kenapaa?” tanya Sofi yg gak sadar kalau pingsan,, “gak sadar kalau pingsan” maksudnya gimana yaa?? Ah bodoo lah maksudnya begitu, kalian ngertiikan..

“gpp kok.. ” Kami menjawab serentak bagai kelompok paduan suara.

“air mana?, nih minum dulu.” Kata ku pada sofi.

“gak mau.. ” Jawab sofi.

“lah, maunyaa apa?” Aku tanya lagi, takutnya malah si Sofi minta kopi dan bunga 7 warna, kan repottt…

“Eskriimmm” jawab Sofi sambil cengengesan..

Ahseeeemmb sekali, malah minta es krim, kepiye jal.? Untung ada Cahyo yg langsung mengabulkan permintaan Sofi, tapi nanti tunggu sampai basecamp. Hahaha. Mendengar jawaban Sofi, kami sedikit tenang, berarti Sofi gak kerasukan. Hanya kelelahan batin dan phisikologis, yg memang sudah ku prediksikan sejak di pasar dieng. Dan ini lah puncak nya..

Gaess.. Mendaki itu bukan cuma tentang fisik, tapi juga tentang psikis. Hati itu muara dari segala muara kelakuan manusia, banyak orang kuat mengangkat beban puluhan kilogram, berjalan ratusan kilometer, tapi masih gundah gulana, sering menangis tersedu di tengah keramaian atau bunuh diri di pohon toge hanya kerena kesepian. Mendaki itu adalah proses menyeimbangkan kedua komponen penyusun tubuh manusia itu.

Mendaki itu  membentuk watak pelakunya sendiri, itulah puncak yg sebenarnya dan tujuan yg hakiki dari kegiatan mendaki, menurutku sih begitu. Ketika manusia mampu mengendalikan emosinya, mampu menata hatinya, mengendalikan amarahnya, ia akan lebih mulia. Beban psikis itu jauh lebih berat dari pada beban fisik, sekalipun keril yg di bawa hanya makanan ringan, akan menjadi amat berat jika di pikul dengan hati yg ngedumel, hati yg berkeluh kesah, dan pikiran yg berspekulasi mencari pembenaran terhadap amarah diri sendiri.

Berat yaahh? Santai gaesss.. kita semua berproses menjadi pendaki yg bijak, selama kita mau berbagi pengalaman, berbagi ilmu, mau dinasehati, terbuka dan mau membuka diri terhadap masukan dan koreksi orang lain, in shaa allah kita bisa menjadi lebih baik. Kita tak punya banyak waktu untuk melakukan semua kesalahan lalu kemudian kita belajar darinya. Kesalahan orang lain adalah hikmah bagi kita untuk menjadi benar dan lebih baik tanpa harus melakukan kesalahan tersebut.

Puncak gunung itu bonus, tapi puncak sejati itu seperti puncak bayangan. Sebab kita harus bersabar dan terus belajar menjadi arif bagi hablluminallah, habluminnas, dan habluusemesta. 🙂

 

 

Baca kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

4 thoughts on “Bonus”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *