Saya mengucapkan turut berduka cita untuk para korban yg meninggal akibat efek dari siklon badai cempaka yg menerpa Jawa Timur, DIY dan Jawa Tengah. Semoga arwah para korban di tempatkan di tempat yg terbaik yg telah Tuhan Janjikan. Aamiin.

Masih belum kering lumpur yg menutupi jalan akibat terbawa oleh air yg membanjiri banyak pemukiman. Hujan yg turun dengan sangat deras seolah mengisaratkan murka sang alam pada manusia. Lagu yg dulu mengisaratkan negeri ini damai, dan makmur hanya menyisakan lirik dan kenangan, sebab di tanah yg katanya serpihan surga di khatulistiwa kini porak poranda di terjang badai bernama cempaka.

Tim Evakuasi dari Pendaki Indonesia Korwil Jogjakarta

Hujan deras nyaris tanpa henti selama 3 itu membuat sebagian daerah terpaksa harus berjibaku dengan luapan air. Berjuta-juta liter air turun kebumi tanpa bisa di bendung oleh tanah yg gundul, akar-akar pohon tak lagi kuat mengikat karena satu persatu dari mereka telah lama tumbang tergantikan tiang tiang baja, pondasi rumah, atau bahkan ladang palawija. Hingga tanah menjadi labil tak ada pegangan dan kemudian, longsoor….

Beberapa jiwa terkubur dan kembali ke pelukan sang pencipta, ratusan keluarga mengungsi mencari perlindungan dari murka sang alam. Alam tak salah, hanya saja kita lupa akan peringatanya.

Hujan tak hanya menyebabkan longsor, tapi juga menimbulkan genangan, please bukan kenangan tapi GENANGAN, KORBAN, KEHANCURAN, KERUGIAN, dan ratapan kesedihan. Sungai yg tadinya tenang tiba tiba mengalir deras, meminta hak nya atas tepian yg lebih lebar, dan dengan angkuh merobohkan jembatan, menyeret apapun yg tak kuat berpegangan. Merendam lahan pertanian, merusak jembatan penghubung, merendam pemukiman, hingga merenggut nyawa manusia. Alam sedang murka, dan kita masih saling bertanya ini salah siapa? ini dosa siapa?

Tapi kita percaya badai pasti berlalu, kabar duka itu menyebar keseluruh negeri. Berbagai media mengabarkan derita dalam frame kepentinganya masing-masing. Sebagian dari mereka berbagi peran menyingsingkan lengan baju, bahu membahu menyingkan bongkahan yg menutupi jalan. Gotongroyong menyalurkan bantuan kemanusiaan. Semua bergerak berlandas rasa kemanusiaan. Indah dunia ini tanpa caci maki, tanpa saling menyalahkan, yg ada hanya satu kata, BANGKIT.

Berbagai elemen masyarakat bergerak mendonasikan materi, anak-anak sekolah mengumpulkan bantuan, komunitas siaga bencana turun ke daerah-daerah yg membutuhkan bantuan tenaga, mengevakuasi jiwa dan harta korban yg tenggelam sewaktu banjir datang. Semua mengambil peranya masing masing dengan keahlian masing-masing pula, bencana tak memelulu di selesaikan dengan otot, tapi juga perlu kerja otak. Korban tak melulu butuh uluran tangan, tapi juga hiburan, luka bisa saja sembuh dengan obat-obatan tapi duka dan trouma akan membekas dalam ingatan yg menyedihkan.

Saat ini masyrakat yg kena imbas dari bencana badai cempaka sudah mulai bangkit. Jalan-jalan yg mulai di benahi agar bantuan kemanusiaan bisa menyentuh daerah-daerah yg belum di jangkau. Anak kecil kembali bercengkrama berlarian di sekolah bersama rekanya, orang-orang dewasa membenahi ladang kehidupan nya yg porak poranda. Badai telah berlalu dan kehidupan harus terus berlanjut.

Posko bantuan Korban Banjir, Jragum, Ngeposari, Semanu, Gunung Kidul

Something happen for a reason..Β 

Selalu ada pelajaran yg dapat kita ambil dari kejadian ini. Kali ini kita belajar bahwa kehidupan itu harus seimbang, begitupula cara kita menikmati alam ini. Alam senantiasa mencari kesimbanganya, tanah akan selalu mencari akar untuk ia berpegang agar tak berguguran, air pun demikian begerak mencari resapan agar tak meluber dan menggenang. Tapi kita lebih sering lalai dan itulah kodratnya manusia, kalau kata om Ebiet “Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, yg selalu salah dan bangga dengan dosa dosa.”

Dosa yg kita banggakan memisahkan pohon-pohon yg bercumbu mesra dengan tanah, menutup resapan-resapan air dengan sampah-sampah plastik hingga tanah tak lagi mampu menyerap air dengan baik lantas jenuh dan berguguran.

 

Wonosari, Yk. 2017

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *