Part II

Pendakian Gunung Sumbing Via Desa Butuh, Kaliangkrik

“Kita pernah berada dimasa yg sama dan saling merindukan masa itu”

Kami disambut baik oleh penjaga basecamp yg malam itu berjaga, belum banyak pendaki yg datang hanya ada 4 orang di ruang cukup besar yg disediakan sebagai tempat istirahat. Mungkin karena ini masih jumat malam, dan belum banyak pendaki yg datang.

Basecamp pendakian Gunung Sumbing via Kaliangkrik berupa dua buah rumah dengan model rumah Jawa, yg terdiri dari satu ruangan seperti aula tanpa sekat yg mampu menampung seratus orang. Di bagian utama dari basecamp adalah ruang tamu yg terdapat meja dan kursi tamu, serta meja tempat melakukan pendaftaran pendaki. Disini pula di jual aneka souvenir dan perlengkapan pendakian seperti gas, air mineral, dll. Jika pendaki ingin pesan makan, dapat langsung mengambil sendiri di kantin yg telah disediakan secara prasmanan,  jadi bisa ngambil nasi secukupnya sampe kenyang.

Karena sudah larut malam dan perut kami pun masih kenyang sehabis makan di Muntilan, kami memilih untuk beristirahat, meski cuma bisa guling guling, sebentar-sebentar keluar menikmati malam gelap dingin dan sunyi.

Angin malam masih menyisakan bulir-bulir air dalam bentuk kabut yg pekat. Nyaris tak tampak satu bintang pun di angkasa malam ini bahkan sampai subuh. Semburat jingga sunrise memucat pasi tak semenarik jingga senja di musim panas. Dingin yg sejak malam menyerang tak kunjung reda, hingga memaksa aku dan eddy tidur berkemul flysheet.

Meskipun tanpa mentari, pagi tetap menepati janjinya datang membuka lembar-lembar baru kehidupan yg jauh dari perkotaan. Sehabis sholat subuh aku keluar dari ruang persembunyiam, mencari hangat dari radiasi mentari yg berasil nerobos awan gelap. Beberapa penduduk Desa Butuh memulai pekerjaan pagi sekali, seolah jam kerja mereka di mulai ketika mentari terbit, beda sama masyarakat kota yg memulai kerja setelah mentari berada di seperempat bumi. termasuk sayah.. Hahaha

Sayup-sayup ku dengar alunan senandung Al-quran tak jauh dari basecamp, suara yg keluar bukan dari pita suara orang dew