Berjalanlah nak, ketempat yang jauh dari rumah mu, semakin jauh kamu pergi semakin banyak pesan kehidupan yang kamu dapati, dan akan semakin rindu kamu akan pulang..

 

Kaki ku melangkah jauh, bersama motor kesayangan (si karis) yang sudah 11 tahun ku geber, sebulan sekali atau kadang semingu sekali kami pasti meninggalkan kota tempat di mana sekarang kami bernaung. Jauh hijrah dari kota sebrang, namun tetap dengan identitas yang sama yaitu BH 2522 EJ, kenapa gak dimutasi ke AB? Karena biaya mutasi itu mahal, dan waktu nya lama. Jadi biarlah si Karis tetap menggunakan identitas aslinya, sebab itu yang kadang jadi pertanyaan orang-orang yang melihat kami.

“Aslinya mana mas?, kok plat motornya bukan Plat Jawa” setidaknya begitu yang sering orang bilang, atau “mas kok plat motor e saru (porno)… ” nah kalau ini, jangan tanya saya, tanya aja sama POLISI, toh yang bikin inisial kan mereka.. kadang saya juga bingung, kenapa plat nya BH yaa.. ?? emmm

Agenda touring aku dan karis di awal 2017 adalah Ambarawa, libur minggu senin aku berangkat ke semarang, minikmati Dancing Fountain Indonesia. Lantas paginya meluncur ke Ambarawa, Ambarawa bukan kota asing bagi ku,  sejak dulu SD kota Ambarawa selalu disebut-sebut dalam buku sejarah, buku Ilmu Pengetahuan Sosial dan selalu masuk dalam soal ujian. Kenapa? Karena Ambarawa adalah kota kecamatan yang menjadi saksi sejarah kemerdekaan dan perang memperebutkan kemerdekaan Indonesia.

Benteng Pendhem

Ambarawa adalah lokasi penguburan kamp Jepang semasa sejarah. Hingga saat ini bekas-bekas peninggalan sejarah dan benteng itu masih dapat kita rasakan kengerianya, salah satunya di Benteng Pendhem Ambarawa. Benteng yang terlihat jika kita melakukan perjalanan dari Semarang ke Magelang atau sebaliknya melalui rute rawa pening. Bangunan ini persis berada di sebalah kiri jalan jika kita dari Magelang, memang terlihat seperti bangunan tak berpenguni, rapuh, di tumbuhi rumput dan semak belukar. Aku dan karis sering kali milihat tempat ini seperti gedung angker, tapi waktu itu aku gak tahu kalau sebenarnya itu bangunan bersejarah.

Beberapa waktu lalu aku sempat mengunjungi bangunan tua tersebut. Dengan membayar parkir motor senilai Rp.5000, aku sudah bisa masuk ke dalam area benteng. Kesan pertama masuk ke dalam benteng begitu menyeramkan. Bata-bata dan kayu struktur bangunan tak bisa bohong kalau ini memang bangunan tua, terlihat rapuh dan sebagian telah rusak. Tapi di beberapa sudut aku masih melihat beberapa pakaian yang tergantung se kenanya, katanya sih bangunan ini sebagian masih digunakan orang tempat tinggal, tapi gak tau tempat tinggal siapa.

Bangunan dua lantai ini sebagian besar terdiri dari bata merah, dengan tiang penyangga yang masih berupa kayu. Ketika masuk dari sisi belakang akan ada tangga kayu yang menghubungkan ke lantai dua. Dibagian dalam terkesan tak terawat, rumput hijau meninggi dan dibeberapa bagian terkesan di biarkan menyelimuti bata merah yang kesepian. Sebuah jembatan melintang di atas jalan, untuk menghubungkan bangunan sisi luar dan bangunan sisi dalam, tapi kata petugas parkir nya gak boleh naik jembatan, rapuh serapuh hati mu. Eh..

Aku berjalan menelusuri setiap sisi seram dari benteng, beberapa pengunjung pun tak segan mengabadikan diri. Aku masih mencoba merasuk ke dalam masa silam bangunan ini, mencoba membayangkan betapa menyeramkannya berada di komplek benteng dalam masa perang, apa lagi ini benteng jepang. Tau sendiri jepang itu paling sadis sewaktu menjajah Indonesia.

IMG_9728

Setiap sudut benteng mengambarkan ke suraman, tak ada kesan sejarah yg romantis di tempat ini. Hanya mereka mereka yg berpasangan yg merasa ini tempat paling pas mengahabiskan akhir pekan bersama yg tersayang. Tapi mungkin ada beberapa arwah yang mengintip dan menjerit ketakutan di masa lalunya, meminta-minta dibebaskan dari penjara ambarawa.

Sementara itu dibagian depan gedung ini masih di fungsikan sebagai Lembaga Pemasyarakatan Kelas II, bagian depan memang terlibah lebih kokoh, lebih bagus, mungkin sudah di renovasi. Pengunjung dilarang masuk ke area LP apa lagi untuk sekedar berselfi, ada anjing galak.

Batas akhir dari jam kunjungan adalah pukul 17.00 Wib, gak boleh sampai malam, karena di takutkan banyak arwah arwah mati akibat perang bergentayangan. Kalau mau uji nyali sih gpp di sini, tapi aku ogah mending pulang, karena sudah merinding.

Eh iya, Ambarawa juga tak hanya menjadi kota perang, tapi kota sejarah tentang perkereta apian Indonesia. Mau tau ceritanya… simak terus, blog sayahh.. tapi nanti yaah ceritanya..

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *