Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part x

Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

 

Malam ini bulan bersinar temaram, berpadu syahdu dengan cahaya kemerahan dari api yg menyala. Angin dingin berhembus pelan, membelai lembut dedaunan. Malam tak pernah ingkar pada rembulan, selalu bersedia menjadi gelap agar sang bintang bisa unjuk terang mempercantiknya. Terbaring ku di tanah lembab, bersama angin dan ribuan bintang di angkasa. Bisik angin memainkan musik sendu, dan ranting ranting pohon berdetak pelan, berirama kegundahan.

Malam gelap, seusai berdiskusi dan bercanda tentang apapun yg menjadi keluh kesah dan resah gelisah. Satu persatu dari sebagian anak manusia memilih kembali dalam dekapan tenda, pada pelukan sleeping bag. Dingin itu fana, hanya sugesti bagi mereka yg tak merasakan panas. Terlalu memaksakan sebenarnya kalimat tersebut, tapi  aku selalu mencari pembenaranya meskipun sering kali hanya fatamorgana saja. Bodoo amatttt..

Aku hanya ingin menikmati jeda malam ini dalam dekapan malam berteman bintang. Ku tarik nafas dalam-dalam menyesapi setiap anugrah oksigen yg Tuhan berikan pada setiap mahluknya. Aku rindu saat seperti ini, rinduuuu sekalii ketika aku menghilang dari deru bising kota. Disinilah tempat dimana aku merasa menjadi manusia dan memanusiakan semesta.

Aku rindu ketika kita bisa berbicara sambil bertatap muka, tidak melalui layar kaca dan deretan cerita. Tak ada jeda paling bermakna selain menikmati jeda dari rasa lelah dan gundah. Malam ini cerah dan sayang untuk dilewatkan, andai kau disini, duduk disamping ku menikmati sendu, memandang bintang yg sama, di bawah naungan pohon yg sama, menghangat dari api unggun yg sama pula. Mungkin akan berbeda cerita yg akan ku tulis kali ini, tapi sayang. Engkau kini bagai dingin yg membelai ku, fana. Hanya ada rasa tapi tak berpunya jiwa, sebatas kenangan untuk ku ulang melalui ingatan-ingatan yg entah sampai kapan menjadi bayang-bayang. Malam ini, aku hanya ingin sekedar bercengkrama pada semesta, bercerita tentang rasa yg tak dapat ku wakilkan pada rerumputan atau pun pada angin malam.

Hai bintang,… Apa kabar mu,? Ahh, kamu makin cantik saja di sana, sudah lama rasanya tak ku lihat kelip manja mu di malam ku. Masih seperti dulu, kamu selalu bisa membuat ku kagum, meskipun di malam gelap nan dingin seperti ini. Bibir ku kelu tak mampu merangkai kata ketika melihat mu, banyak kata yg membeku tak bisa ku sampaikan. Maaf aku terlalu merindukan menatap mu seperti ini, berdua saja, ah bukann bukann, aku dan ribuan teman mu di angkasa.. hahahah bego yaah aku.. Kata orang, ketika manusia mulai mencintai ia akan menjadi manusia yg menyampingkan logikanya. Tapi aku tidak sedang jatuh cinta, aku sedang merindu untuk mencintai kembali rasa yg pernah mati seperti ini. Pada mu yg setia menunggu ku mendekat tanpa pernah bisa ku sentuh. 

Sendu jiwa ku, rapuh bagai batang pohon cemara yg telah lama rubuh. Larut bagai gula yg di aduk dalam segelas teh hangat peredam kebekuan, hanya ego ku yg membatu  tidak mengakui rindu. Sekilas bayang mu melintas dalam kabut malam, menghilang lagi dalam gelap dan muncul lagi berbentuk secercah cahaya. Selalu begitu, mempermainkan prasaan yg tak menentu.

Tak banyak yg bisa ku perbuat, hanya terbaring di tanah lembab menatap mu dari kejauhan. Menikmati indah mu dari kegelapan, lirik-lirik lagu sendu berkumandang pelan hampir tak kedengaran, bercerita tentang kerinduan, awan, dan kehidupan perkotaan yg membosankan atau tentang kesunyian hutan dan cahaya rembulan yg temaram. Aku ingin di dekat mu malam ini, ku tak perduli bagaimana kata mereka, yg ku ingin hanya lebih dekat atau merasa dekat. Membohongi jarak dan batas yg tak terlihat, rindu tetap lah rindu tak perduli pada apapun itu.

Semakin malam semakin gelap, semakin nanar mata ku menatap bayang mu. Dibalik samar kabut ku raba dalam nya hati, si jangkrik rese tertawa meledek ku yg seperti keledai dungu berbicara pada rumput. Sementara si angin membelai dingin kulit yg gelap, “bersabarlah” katanya begitu. Dunia Ini fana, jikaa saat ini kau menikmati perjumpaan suatu saat kau akan menangisi perpisahan, jika saat ini engkau meratapi kesedihan suatu saat kau akan menangisi kegembiraan. Lantas untuk apa berlarut dalam hal yg fana sementara siang semakin dekat dan malam akan beranjak,. Kebahagiaan bukan tentang banyak hal yg membuatmu nyaman, melainkan proses untuk sebuah pencapaian.

Mendaki bukan tentang puncak, tapi proses menjejakan kaki di puncak itu sendiri. Cerita mengesankan dari sebuah pendakian terkadang tercipta dari sebuah tangisan, terjerembab dalam kubangan hewan. Tersungkur disemak belukar, atau terperosok pada tanah yg basah. Semua melahirkan cerita yg membekas dalam kenangan, menciptakan rindu saat kamu berada di perjalanan yg nyaman.

Bintang bergulir pelan di malam gelap, semu menciptakan gerak yg hampir tak terlihat. Sementara hidung ku mulai berkompetisi merebutkan oksigen bersama pepohonan.  Kini hanya jangkrik yg berani bersuara lebih keras dari dalam sarang mereka. Tak sadar mata ini semakin sayu menatap mu yg terus bermain di balik kabut. Ahh sudah lah, aku lelah jika harus terus memperhatikan mu yg asik sendiri disana. Aku tidur yaa tang, terimakasih untuk percakapanya malam ini.

Adddduuhhhh…

Sakit itu datang tiba-tiba, membangunkan ku dari tidur lelap didalam buntelan sleeping bag dan flysheet. Rupanya tangan ku baru saja di kecup sama sepatu pendaki yg mau summit. Siaaallll,, sakit sekali rasanya,. Tapi ah syudahlah, malam masih terlalu gelap, tidurr lahhh…

 

Baca kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

2 thoughts on “Aku Rindu”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *