Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part XV

Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan itu baik.

 

“Suara Air, Frans” Kata Eddy,

Telinga ku mencoba menangkap gelombang bunyi dari arah yg Eddy maksud. Dari lembah yg di tumbuhi banyak pohon yg menjulang tinggi memang  terdengar seperti suara air yg mengalir di bawahnya. Tapi aku sedikit ragu, sebab suara tersebut sering tidak konsisten, sebentar ada sebentar menghilang. Tapi setidaknya ada sebuah harapan dari balik kegelapan di depan sana. Aku dan Eddy semakin semangat menuruni bukit yg lumayan curam.

Kami terus bergerak mengikuti jalur yg lebih mirip seperti jalan air, tanah licin dan bebatuan besar sebagai dasarnya. Eddy berjarak 20an meter di depan ku, sementara aku masih berpijak dari satu tumpuan ke tumpuan lainya, pelan tapi pasti namun tetap saja aku terjatuh lagi. Kali ini nyaris kepala ku beradu dengan batu yg sebesar keril, untung masih ada tangan yg sempat menjadi sela di antara batu yg keras dan keras kepalaku. Sementara kaki terasa nyeri di bagian lutut dan pergelangannya, setelah dapat mengendalikan rasa sakit baru aku tahu jika kaki kanan ku terjepit diantara dua batu, sementara batu yg menjadi tersangka yg menabrak lutut ku terdiam membisu. Ingin ku laporkan ke Polisi tapi percuma, ini bukan perkara pidana atau perdata hanya kecerobohan ku sebagai manusia.

“11 Kali.” Teriak eddy dari kejauhan..

“Edd, sakit beneran nih… malah di hitung.. ” Aku kesal sama Eddy, yg bukanya nolongin malah ngitungin.

Aku mencoba bangkit, mencari cara agar kaki ku bisa lepas dari batu yg menjepit. Meskipun aku berhasil melepaskan kaki dari dua batu tersebut, tetap saja rasa sakitnya ngikut di kaki ku gak mau tinggal bersama batu. Sambil meringis manis, ku paksakan kaki untuk melangkah meski tertatih. Mereka yg diatas sana sejak tadi nahan sakit untuk turun, kalau aku nyerah, bagaimana dengan mereka.? Aku menguatkan jiwa, segenap energi ku kerahkan, tanggung jawab menghilangkan rasa sakit. Sampai akhirnya harapan itu semakin dekat.

“Fransss. POS 2.” Teriak Eddy semangat.

Aku tak berkata apa-apa, hanya perjalan menuruni jalan yg licin sambil sesekali menahan sakit di lutut.

POS 2 Pendakian Via Lawang adalah sebuah bangunan yg berukuran kurang lebih 4x 8 meter yg berdinding papan beratap seng. Terdapat beberapa area yg cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda. Sepertinya di tempat ini sering dijadikan tempat camping ground kelompok pecinta alam. Terlihat dari banyaknya sampah yg di kumpulkan di samping selter yg terkesan kumuh, serta adanya beberapa bibit pohon yg baru ditanam beberapa hari lalu.

Eddy sampai di Pos 2 terlebih dahulu dan bergegas mencari petunjuk letak sumber air. Aku yg datang tertatih-tatih langsung mengambil botol air mineral yg berdiri menampung air dari tepian atap selter. Auu minum air yg rasanya seperti ada karat-karatnya gitu, tapi masa bodo lah,yg penting bismillah. Eddy ku tawarkan namun ia menolak. Setelah beristirahat sejak, kami sandarkan keril di dinding dekat pintu masuk selter yg kosong. Tak ada siapapun hanya kami berdua, hanya rerumputan kering sebagai alas lantai selter, dan beberapa tumpukan kayu sisa bakaran teronggok di bagian dalam selter.

Kami berpencar menyisir setiap sudut selter bagai polisi yg sedang mencari barang bukti hasil kejahatan. Setiap plang petunjuk kami baca dengan cermat satu persatu, tapi tak ada plang petunjuk arah sumber air. Satu-satuNya kalimat yg mengandung kata air adalah “DILARANG BUANG AIR BESAR DI DEKAT SUMBER AIR” kalimat itu tertulis besar di depan selter pendakian. Tapi dimana sumber airnya..?

Menurut info yg kami dapat, sumber air di pos 2 terletak di aliran sungai kecil. Pendaki harus melewati tebing yg curam dan licin untuk sampai ke tempat air tersebut. Selama perjalan turun, Aku dan Eddy hanya melihat sungai kering yang tidak ada airnya. Kemungkinan terbesarnya adalah di sungai kering itu pula sumber airnya, namun mengalir kecil dari mata air. Akhinya aku dan Eddy memutuskan untuk berjalan ke arah jalur alternatif menuju Pos 3, yg berada di sebalah kanan shelter. Jalur tersebut juga melewati sungai mati dan mendaki ke punggungan bukit. Sementara aku dan Eddy menelusuri tepian sungainya, namun tak ada juga tanda-tanda air mengalir.

Hujan rintik-rintik turun dari langit yg tak terlalu gelap, setidaknya ada sebuah harapan untuk menampung air hujan. Bergegas aku dan Eddy membuka flysheet untuk menampung air yg turun dari awan, selang beberapa lama hujan tak jadi datang. Mengonggoklah flysheet yg terbentang tadi.

Setelah pencarian pertama di sungai kering yg tak membuahkan hasil kami kembali ke selter, mencoba mencari petunjuk sumber air. Kami berpencar dan entah sudah berapa kali Eddy tawaf mengitari selter, sementara aku mencoba mencari petunjuk ke trek yg lebih bawah. Namun pencarian kami nihil, hanya kehampaan botol kosong yg menggantung di tangan. Pencarian kami lanjutkan dengan area yg lebih luas, kali ini kami menelusuri jalan setapak yg mengarah ke perbukitan sabana di sebelah kiri selter. Sampai di puncak bukit kami tak menemukan apapun, kami raba sekitar dengan pencahayaan seadaanya dari lampu senter dan cahaya remang-remang sang sembulan, hanya perbukitan di selimuti ilalang ilar yg membentang. Kecil kemungkinan ada air di tempat seperti ini, pikir ku. Akhirnya kami memutuskan untuk kembali lagi ke selter untuk ke sekian kalinya pulang dengan tangan hampa.

Sejenak kami berpikir saling bertanya dengan pertanyaan yang tak satupun dari kami tau jawabanyanya.

“Diatas tadi kayaknya ada suara air,? Mungkin disana. Mau coba ke sana?” Eddy membuka percakapan

“Deket pertigaan yg aku jatuh tadi?, tapi gak ada jalan ke bawah, dan gak ada petunjuknya juga.” Jawab ku.

“Coba ke sana?” Tanya Eddy

“Ayooo.. ” Kata ku.

Kami pun berjalan menanjak lagi ke atas, ke arah dimana aku mengalami insiden jatuh cinta pada batuan gunung. Dengan kaki menahan sakit yg ngilu sampai ke jatung, perjalan naik menjadi lebih hati-hati, sesekali rasa nyeri menyengat karena salah pijakan. Eddy di depan sesekali melihat ku kasihan, tapi tenang I am fine kok edd, thanks for care to me.. uluh uluhh. Sampai lah kami ditempat dimana tadi terdengar suara air, namun suara itu kini hilang. Kami seperti orang lilung yg tak punya tujuan?

“Gak ada suara airnya, mungkin itu tadi angin. ” Aku membuka percakapan di malam gelap dan hampir tengah malam.

“Gak ada petunjuk?” Tanya eddy kepada ku

“gak ada, jalanan turun pun gak ada,” menjawab pertanyaan Eddy sambil menyisir lokasi tempat ku berdiri.

Dengan langkah gontai kami susuri kembali jalanan turun ke selter dengan harapan yg hampir pupus. Tak ada kata tak ada suara, hanya sepatu dan musik malam dari perpaduan hewan nokturnal dan bisik angin yg membelai dedaunan. Kami berdiri mematung di tanah lapang di samping selter berdiskusi, kemana lagi harus kami cari. Sementara aku sudah teramat harus dan lemah, begitupun Eddy.

“Edd, kita susur lagi sungai kering tadi, mungkin ada di bagian bawahnya..” Aku memberikan usul kepada Eddy.

“Yakin??” Eddy balik tanya..

“Kita coba. Aku susur sungai dan kamu naik ke jalur alternatif, mungkin ada di sekitar jalur sebelah sana.”

“Oke” Kata Eddy.

Dipertigaan Sungai mati kami berpisah, Eddy naik kearah jalur alternatif, mencoba mencari tanda-tanda air disana. Sementara aku turun ke dasar sungai kering yg berbatu besar. Tak jauh dari tempat kami berpisah, aku menemukan genangan air di atas cekungan batu.

“Edd, ada genangan air nih, tapi ada jentik-jentiknyaa.. haha  mau gak?”

“gak ah” kata Eddy.

Akupun mengurungkan niat ku meminum air dari genangan itu, dan terus turun ke dasar sungai. Semakin jauh ke dasar sungai ternyata semakin menyeramkan, batang-batang kayu mati melintang, bebatuan besar menghalang tak beraturan. Sungai itu memiliki kedalaman 3- 4 meter, cukup sulit aku untuk mencoba memanjat ke tepiannya. Beberapa puluh meter sudah aku menelusuri sungai mati tersebut dan tak menemukan tanda-tanda air. Sementara bulu kuduk ku sudah mulai berdiri, udara lembab di dasar sungai serta suara burung yg menyeramkan membuat nyali ku ciut, hingga akhirnya aku teriak memanggil Eddy.

“Edd.!!!!”

“Iyaaaa..” Jawab Eddy yg ternayta berada di jalur tepat di atas sungai.

“Ketemu?”

“Engggakk” Jawab Eddy

“Okee, disini juga gak ada, aku balik… ” sejurus kemudian aku kembali ke jalur tempat dimana kami berpisah.

“Edd, minta tutup botol mu yg agak Gede, aku mau minum air genangan., kamu mau gak? Tanya ku pada Eddy.

“Enggak ah.. nanti aja.” Jawab Eddy

Aku mengambil air dari genangan yg ada jentik-jentiknya sedang berenang.

“Mbah, jentik-jentik.. Aku minta sedikit yaa airnya, untuk minum. Aku haus bgt., (iyaa ambilah,) Terimakasih” Aku permisi pada si jentik-jentik dan apapun makhluk yg memiliki air tersebut, lalu ku minum air dari genangan itu 2-3 tutup botol, sekedar membasahi tenggorokan. Hasrat ingin menghabiskan semua air itu ada, tapi alangkah serakahnya manusia jika tak tau terimakasih atas pertolongan semesta. Pikir ku dalam hati, toh jentik-jentik butuh hidup juga.

Setelah minum air dari genangan itu aku dan Eddy kembali ke selter, masih mencoba mencari petunjuk tentang sumber air. Kami tak tau udah berapa lap ke berapa kami muterin selter. Sampai di selter eddy minum air dari botol Pocari yg ada di dekat selter,.

“itu di botol pocari ada air, tadi aku minum..” Kata Eddy.

“haa.? Botolnya tertutup? Di bawah tiang?” kata ku.

“iyaa…” jawab Eddy

“itu air apaa ED? kalau botolnya terbuka nadah air sih gpp. ” aku menjelaskan ke Eddy

“gak tau, aku haus ku minum ajaaa” jawab Eddy sambil cengingisan.

Aku dan Eddy tak tau harus bagaimana, harapan kami cuma dua saat itu. Satu, hujan deras agar kami bisa menampung air, kedua ada pendaki lain naik dan memberikan informasi tentang letak sumber air. Hanya itu harapan yg tersisa, sementara rangkaian doa kami panjatkan semoga teman-teman di atas diberi kekuatan untuk terus berjuang. Rasa penyesalan datang menggenang di sudut mata, atas kegagalan ku yg menyebabkan teman-teman tersiksa.

Aku bersimpuh di dalam selter di hadapan rerumputan kering dan kayu sisa api unggun yg ku bakar dengan bantuan api dari kompor. Sekedar menghangatkan lutut ku yg bergetar. Eddy masih bergerak kesana kemari, entah apa yg ia perbuat. Tak ada kata yg kami ucapkan, hanya ungkapan hati dan pikiran yg melayang-layang ke angkasa. Merendahkan diri, mengintropeksi diri, memohon ampun atas kesalahan kami, dan meminta petunjuk atas apa yg harus kami lakukan.

Ya Allah, ku rendahkan serendah-rendahnya diri ku sebagai hamba Mu. Hanya Engkau tempat ku berserah, hanya Engkau yg menjadi penolong kami yg salah. Aku tak tau apa yg harus ku perbuat lagi, segala kemampuan sudah kami kerahkan untuk saling menjaga, kini hamba serahkan semua kembali kepada Mu Sang Pemilik Semesta, dengan segenap kerendahan hati, kami memohon kepada Mu Yang Maha Mengetahui berikan kami petunjuk untuk mengatasi masalah ini. Setidaknya turunkan hujan Mu, atau kirim kan perantara mu  agar kami dapat petunjuk. Kasihanilah mereka yg di bekalang sana, berjalan tertatih dengan penuh harapan kepada kami.

Gemertak kayu kering terbakar api, bising jangkrik dan kicauan burung malam silih berganti mengisi kesunyian. Sementara dua anak manusia entah menanti apa dalam kebimbangan malam, bercengkrama pada hati nya masing-masing.

“Diem, Ada orang.. ” Aku memecah kesunyian diantara aku dan Eddy.

“Mana??” Eddy menjawab

“Mas Pranssss!!!!!” Tiba-tiba teriak Nanda dari jalur pendakian bagian atas.

“Nanda..” Kata Eddy,

“Iyaa di atas Nanda, tapi di bawah ada pendaki lain..” Aku mencoba membuka indra pendengaran ku agar lebih peka.

“bukaaaann!!” Teriak pendaki lain dari bawah..

“Tuh kan ada pendaki lain… ” kali ini aku menyakinkan Eddy.

“Iyaaa”

“Kamu tunggu Nanda di sini, aku kebawah nyusul pendaki lain, mana tau dia tau sumber air. ” Kata ku  kepada Eddy sambil bergegas keluar dari selter dan turun ke jalur pendakian.

Allhamdulillah, tuhan mengirim bantuannya disaat kami sudah hampir putus asa. Batin ku dalam hati. Memang rencana Tuhan jauh lebih indah dari pada harapan kita sendiri sebagai manusia. Entah sudah tak terhitung keajaiban-keajaiban yg Tuhan tunjukan selama aku mendaki, bahkan di saat aku sudah tak berdaya sebagai manusia. Trek pendakian yg licin tak ku hiraukan meski harus menahan rasa sakit dan terjatuh lagi.

“Mas, dari bawah yaaa.. ??” Tanya ku pada pendaki yg baru saja naik.

“Iya mas, gimana?” salah satu dari tiga orang pendaki itu bertanya kepada ku.

“Mas nya tau sumber air, di Pos 2 ini.? Kan katanya ada sumber air di dekat sini. Nah saya sudah muter-muter tapi belum ketemu.” Jawab ku.

“Wah kita kurang tau mas, baru pertama juga naik lewat sini.. ” kata salah satu pendaki.

Duggg…. Seketika secercah harapan yg mulai menyala kembali meredup bersama gelap malam dan kabut lembut. Aku kembali ke selter dengan langkah gontai, ke tiga pendaki tersebut beristirahat sejenak di jalur pendakian sebelum menyusulku.

“Gimana,?” Tanya Eddy

“Mereka pun gak tu sumber air dimana, baru pertama juga lewat sini” Aku berkata sambil kembali bersimpuh di depan api yg masih membara. Tubuh kecil ku kembali harus bergelut melawan kombinasi kompak antara pakaian basah dan angin lembut. Saat seperti ini lah aku butuh peluk hangat mu yg menenangkan, tapi apa daya, imajinasi ku tentang kamu terlalu tinggi hingga membakar harapan ku sendiri, seperti api yg membakar kayu dan menjadikanya abu.

 

Rasanya pengen ngecover video clipnya Sheila On 7 “Seberapa Pantas”

Seberapa hebatkah kau untuk kubanggakan

Cukup tangguhkah dirimu untuk s’lalu kuandalkan

Mampukah kau bertahan dengan hidupku yang malang

Sanggupkah kau meyakinkan disaat aku bimbang

 

 

Intermezo-

 

Selang beberapa lama setelah aku kembali  ke selter, ke tiga pendaki yg baru naik itu datang.

“Berdua aja mas?” Kata salah satu pendaki itu.

“Enggak mas, yg lainya masih di atas” Kata Eddy

“Berapa banyak?” Tanya lagi mereka.

“12 orang” Jawab Eddy.

“Opentrip??” tanya lagi salah satu pendaki, duh mereka kok jadi banyak tanyaa sih. Puyeng kepala berbi.

“Enggak mas, gabungan pendaki dari Jogja dan Bogor. Kami kebisan air, makanya turun duluan mau nyari air, katanya di deket pos 2, tapi sudah dari tadi kami muter gak nemu.” Aku menjelaskan panjang lebar. Jujur aku gak pernah terima jika di katakan pendaki open trip, bagi kalangan pendaki sunyi seperti aku dan Eddy, pendakian Open Trip itu menyebalkan, selain terlalu banyak orang, faktor asal-asalan dan sampah menjadi masalah utama dari open trip.

“Kami juga baru pertama lewat sini mas, jadi gak tau letak sumber air.. eh tapi tadi saya sempat motret peta pendakian di base camp.. ” Ujar salah satu pendaki yg aku lupa menanyakan namanya, perawakanya sedikit jangkung dengan rambuh agak panjang.  Ia bergegas mengambil handphonenya dari dalam tas, dan menunjukan foto peta pendakian Gunung Arjuno via Lawang.

“ini mas..” Kata pendaki itu ..

Aku amati sejenak foto yg di berikan, satu persatu simbol dalam peta ku amati hingga akhirnya mata ku terfokus pada satu simbol air. “nah ini dia.. ” Kata ku..

Ku putar putar handphone mas nya tersebut, ke kiri dan ke kanan, menyamakan orientasi gambar dan realita yg sebenarnya. Hingga akhirnya aku menyimpulkan, bahwa sumber air itu terdapat di dua bukit di sebelah kiri shelter.

“Ed. sumber airnya di itu ada di dua bukit sebelah kiri selter, kita tadi baru sampe bukit yg pertama.” Kata ku pada Eddy.

“yakiinn, tapi kayaknya bukit sabana semua.” Jawab Eddy.

“Nih, menurut petanya sih begitu.. kita coba ajaa. Ntr nunggu Nanda sampai” Ucap ku pada Eddy.

“Tadi sebelum kami naik, saya di kasi tau sama penduduk sekitar. Kalau mau ke sumber air, baiknya itu pagi-pagi atau siang, karena jalanya susah, terjal.. mas.” Kata pendaki yg meminjamkan handphonenya pada ku..

“Iya mas, yg kami tau juga begitu.. ” Kata ku…

Setelah berdiskusi singkat dengan Eddy, kami kembali mengheningkan cipta. Tenggelam bersama dingin malam, meringkuk di depan api unggun. Nanda yg kami tunggu belum juga tiba, sudah 10menit kami menanti.

“mas Pranss..” Teriak Nanda di dekat selter.

“Iyaa, di dalam, masuk ajaa..” Aku membalas panggilan Nanda.

Dengan nafas terangah-enggah nanda memasuki selter, mengehempaskan kerilnya ke tanah lalu bercerita tentang keadaaan tim diatas sebelum ia tinggalkan.

mas, Temen-temen di atas sudah dehidrasi, sekarang mereka ku suruh ngecamp di tempat datar di atas, sekitar 1 jam dari sini. Tadi Dhika, Oji sempat nyasar, Cahyo hampir masuk jurang untung ada sofi. Ira sudah gak kuat jalan, Sri juga. Temen-temen di atas kacauu semua, yg di depan nyasar gak mau balik, Akhirnya ku marahin, Ira juga ngerengek minta kamu jemput. Ku bilang ajaa, edaannn poo kamu, ku marahin sekalian.

Nanda cerita dengan emosi yg meluap-luap, nafas yg terengah-engah tapi hanya ku jawab dengan senyum manis. Tak ayal membuat Nanda yg emang memiliki tempramen tinggi mungkin menjadi kesal. Eddy pun yg turut menyimak cerita Nanda terdiam sambil cengar-cengir. Apa lagi ketiga lelaki yg baru mendaki tadi pun turut terdiam, entah apa yg mereka pikirkan, takut sama Nanda atau gimana.

“iya, sudah istirahat dulu, tarik nafas.” Ujar ku menenangkan Nanda dengan senyum, meskipun tak semanis senyumnya Popy.

Setelah sejenak malam kembali menghening, dan bising jangkrik pun kembali bersaut-sautan di dalam malam gelap. Aku, Eddy dan Nanda keluar dari seleter untuk berdiskusi.

“Ayooo, keluar dulu” Ajak ku pada Eddy dan Nanda. Aku tak enak jika harus berdiskusi di dalam seleter sementara ada pendaki lain yg butuh ketenangan untuk beristirahat.

“Jadi begini Nan, maaf kami belum bisa naik ke atas membawa air, sudah dari tadi kami muter-muter disekitar sini, sudah semua tempat kami cari sampai sudah susur sungai kering di bawah sana, kami gak nemu air, bukanya kami gak mau balik lagi.” Kali ini aku mencoba menjelaskan situasi yg sebenarnya terjadi. Biar gak dikira aku dan Eddy santai-santai di dalam seleter dengan api unggun, sementara teman-teman di belakang sana meringis, merintih berpeluk melewati jalan malam yg menyakitkan dan kehausan.

“Barusan kami juga sudah tanya sama mas-mas yg didalam, tentang letak sumber air. Mas nya juga gak tau karena baru pertama kali sampai disini,  tapi mas nya tadi sempat motret peta jalur pendakian dan sudah ku lihat, mungkin sumber air nya ada di dua bukit sebelah sana, aku dan Eddy baru sampai di bukit pertama.” Penjelasan ku berlanjut, dan semua nya terdiam termasuk Nanda,  tak ada kata yang keluar dari kedua teman ku, hanya tarikan nafas mereka yg terdengar di dalam malam gelap yg dingin.

“terus sekarang gimana? kata rombongan bapak-bapak tadi, mereka nyimpen air di dekat pos 2 di bawah plang. ” Akhirnya Nanda bertanyaa.

“kalau soal itu kami gak tau, karena gak ada yg ngasi tau kami. Coba nanti di cari. Jadi sekarang itu planingya gini. Dari cerita mu tadi, temen-temen di atas itu kelelahan dan dehidrasi. Ira dan Sri pun mereka butuh istirahat. Berhubung tadi sudah kamu suruh bikin tenda, yaa sudah, ide bagus dan Aku terimakasih kamu sudah ngambil keputusan, seperti itu. Sekarang pilihanya ada dua, turun ke bawah minta bantuan evakuasi, atau mencoba cari air sambil menunggu pagi. Karena kemungkinan mereka baru bisa bergerak pagi.” Ujar Ku.

“Ed, turun kebawah sendiri, berani?” tanya ku pada Eddy yg sejak tadi terdiam

“Haa, sendiri.. Emm, engg.. emmm… ” Eddy menjawab setengah berpikir yg berararti ia pun ragu.

“Hahaha yowess kalau gak berani, berarti kita pake opsi ke dua, karena diatas itu ada beberapa anak kehutanan, malu donk kalau sampe harus di evakuasi.” Aku mencoba mencairkan suasana dengan sedikit bercanda.

“Ya sudah, aku dan Eddy balik lagi ke bukit sana untuk cari air, nanti kalau dapat aku minta tolong, kalian anter ke atas yah, kaki ku sudah gak mungkin lagi untuk nanjak, nanti siapa yg masih bisa turun ajak turun, kalau gak yoo gpp ngecamp aja di atas. Nanti aku persiapkan tempat di sini untuk yg turun.” Aku berpesan kepada Nanda dan Eddy.

Setelah semua setuju, aku dan Eddy kembali berkemas membawa beberapa botol air dan jerigen lantas kembali menelusuri jalan setapak yg gelap dan tertutup rerumputan tinggi. Untuk kali keduanya kami melewati jalan ini, jalan yg tadi mengantarkan kami ke puncak bukit safa. Aku teringat kisah Ibunda Ismail, Siti Hajar, yg berlarian kesana kemari mencarikan air untuk anaknya Ismail yg kehausan. Berlari dari puncak bukit ke puncak bukit satunya. Hingga akhirnya sebuah keajaiban dari Semesta muncul, dan sekarang terkenalah dengan air zam zam.

Sampai dipuncak bukit kedua, aku dan Eddy seperti orang bego yg kegirangan menemukan berlian.

“Nah ini dia petunjuk arahnya.” Ujar ku setengah kesal sambil memegang Plang “DiLARANG BUANG AIR BESAR DI DEKAT SUMBER AIR.”

“Wajarlah gak kelihatan, naruhnya di sini…terus jalurnya kemaana?” kata Eddy.

“yaa kebawah.. tuh, panjat tebing kitaa broo… awas licin.. ” Kata ku.

Eddy duluan menuruni tebing yg licin, aku mengikutinya dari belakang.

“Pelan-pelan, cidera nih. ” Ujar ku kepada Eddy

Melihat jalur yg memiliki kemiringan 80drajat, ku lempar kan saja botol yg ku bawa ke bawah biar memudahkan tangan ku untuk beraktifitas.

“Awasss botollll” kata ku kepada Eddy yg dibawah.

Dung dung dungg.. suara botol berparodi menggleundung ke tanah.

Aku lupa untuk membawa webing, seharusnya dengan webing perjalanan ini bisa lebih enak. Tapi berhubung kami tak menyangka perjalanan ke sumber mata airnya begini, ya sudah, dengan bermacam teknik monyet kami kerahkan untuk bisa melewati ujian terahir dalam pencarian air.

Allhamdulillahhhhh…. Aku dan Eddy mengucap syukur bersama ketika sampai di sumber mata air yg mengalir. Sumber mata air di pos 2 ini adalah berupa air yg mengalir dari mata air hingga berbentuk aliran sungai kecil, yg tidak terlalu melimpah. Terdapat kolam permanen yg sepertinya di buat oleh pengelola untuk menampung kucuran air. Pohon bambu dan udara lembab menambah kesan mistis di sekitar sumber air. Aku tak takut hantu atau makhluk gaib, yg aku takut adalah hewan liar. Apa lagi di dekat sumber air seperti ini. Pasti lah sering menjadi tempat persinggahan hewan liar dan manusia liar seperti kami.

“Bersihin botolnya (thumbler ku) aku mau minum” ujar Eddy.

Aku heran, kenapa mesti dari botol ku, toh dia bawa jerigen air. -_____-!!!  Mungkin Eddy kurang konsentrasi, butuh aKUA. Hahaha

Suara burung malam persis peluit berbunyi berkali-kali, suara itu pula yg sempat ku kira peluit dari Nanda. Kami memang membawa beberapa peluit, peluit morse dan peluit tukang parkir (pelut yg ada bola kecil di dalamnya) hehe. Peluit adalah salah satu alat komunikasi yg cukup penting apa lagi saat kondisi genting. Sayangnya, benda mungil ini sering kali diabaikan oleh banyak pendaki, dan tidak masuk dalam salah satu perlengkapan. Padahal jika keadaan darurat meniup peluit jauh lebih mudah dari pada teriak ‘help”, apa lagi dalam kondisi hauss. Gak percaya??? Cobaa deh,…

Inget Film Titanic kan?? Nah, berkat peluit si Rose selamat dan bisa menceritakan kisah romansa dua sejoli beda tahta yg melegenda hingga ke dasar samudra.

Aku dan Eddy segera mengisi penuh botol yg kami bawa dengan air, dan bergegas kembali ke selter pos 2. Aku tak ingin berlama-lama karena udara lembab tak baik bagi perasaan, akan menimbulkan rasa takut, takut kehadiran yg enggak-enggak.. Perjalanan naik jauh lebih susah dari pada perjalanan turun, sebab kami harus menenteng botol air sementara tangan kami harus berpegang pada akar dan rerumputan agar dapat merayap ke puncak bukit.

Setidaknya ada senyum yg mengembang dari raut muka Eddy meskipun samar karena gelap. Rembulan pun kini seolah bersuka cita atas apa yg kami bawa, setidaknya ujian untuk hari ini sudah teratasi meskipun dengan susah payah. “Sabarr yaa teman-teman, kami kirim air buat kalian” Aku bicara lirih pada ilalang liar, semoga angin mengabarkan berita baik ini hingga ke puncak bukit sebelah sana.

Didalam selter Nanda duduk terdiam di depan api yg hampir padam, mungkin seperti harapan Nanda pada Popy dan Ira yg meredup. Ckckckc Setelah meminum beberapa teguk air, dan beristirahat sejenak, kami kembali berbenah menyiapkan makanan, kompor, gas, beberapa minuman hangat untuk teman-teman yg di atas. Perlengkapan ini nanti akan di bawa oleh Nanda dan Eddy naik ke tempat di mana teman-teman berkemah darurat. Semoga belum terlambat.

Sepeninggalan Nanda dan Eddy untuk mengantarkan air ke teman-teman ,aku sendiri menghadap api kompor. Entah kenapa api tak lagi mampu membakar kayu, sementara rerumputan kering sudah tak mungkin lagi di bakar. Aku tak sendiri di dalam selter, ada 3 orang pendaki lainnya yg tengah beristirahat sehabis makan malam dan mendirikan tenda di dalam selter.

Sudah pukul 12.30 lewat, malam menyisakan kesunyian. Bisik jangkrik dan hewan malam bergaduh bersaut-sautan, tak ada bising kendaraan dan riuh manusia, hanya ada gelap dan celoteh semesta. Setelah menyiapkan alas tidur buat teman-teman, aku berbaring sembari menikmati rasa sakit di lutut yg kian senut-senut. Lebih sakit dari pada di gigit semut, No Pain No gain, gitu kata iklan salep penghilang rasa sakit yg ku oleskan ke lutut.

Bivak darurat di Pos Pondokan menanti hujan Reda. Foto : Nanda
Bivak darurat di Pos Pondokan menanti hujan Reda. Foto : Nanda

Dalam gelap malam aku mencoba mengimajinasikan apa yg sedang terjadi di atas sana. Pada mereka yg tengah meringkuk dingin, dan menahan senut-senut. Ku gantungkan harapan yg besar pada kedua man of the match pendakian kali ini Nanda dan Eddy, yg tak kenal lelah dan berusaha hingga melewati batas lelah. Dimalam gelap ini aku hanya bisa bercengkrama dengan semesta dari hati ke hati. Curcol sedikitlah.

Dari kejauhan terdengar suara Ira, Nanda, Sofi dan Eddy yg bercengkrama. “Wehh bisa turun tuh anak,” aku bergumam dalam hati ketika mendengar suara ira, sebab menurut cerita si Nanda, Ira sudah tak sanggup lagi untuk turun. Tapi Sepertinya Tim Jogja turun semua. Hanya tim bogor yg masih ngecamp di atas.

“mas kamu Gpp??” kata Ira bertanya pada ku.

“gpp kok, kaki mu gimana?” aku menjawab dan balik bertanya pada ira

“Sakit, tapi di paksa-paksain turun buat liyat kamu, Ira Khawatir sama mas.” Deg.. ternyata dia khwatir sama aku yg kata Nanda cidera, hahaha rada terharu juga denger nya, tapi harus cool. Hahaha

“Temen-temen yg lain diatas karena gak enak kalau harus ninggalin yg lainya, mereka di atas bangun satu tenda sama flyshet. Udah ku kasi makan dan minum jg tadi. Besok kata mereka mau turun sekitar jam 7 pagi.” Ujar Nanda menceritakan yg terjadi.

“ya sudah kalau itu keputusan mereka, kalian istirahat aja, untuk planing besok pagi, sepertinya kita harus batalin tiket kereta, dan pulang pake bus.. Kita bisa turun duluan untuk ngejar kereta ke Surabaya, tapi kita gak gitu. Kita turun bareng sama mereka, nungguin mereka, berangkat bareng, pulang bareng walaupun harus mengiklaskan tiket kereta, yg penting kita semua pulang dengan selamat. ” Aku mencoba memberikan penjelasan kepada teman-teman ku..

Ada harga yg harus dibayar untuk sebuah pengalaman berharga. Persahabatan itu di bangun dengan rasa saling percaya, rasa rela berkorban yg tidak tumbuh seperti sulap, bin salabim abra katabra, tapi rasa itu tumbuh dari banyak peristiwa, termasuk peristiwa yg kami alami. Uang selalu datang dan pergi, tapi jika hidup hanya berorientasi atas materi kapan kita mau belajar untuk berempati.? Aku tak ingin tim ku besar karena rasa arogan, aku tak mengajarkan mereka untuk tumbuh diatas tubuh lelah temannya. Alam mengajarkan kita arti keseimbangan, tanah yg labil di kuat kan oleh akar pohon yg keras, batu yg keras takan pernah bisa menghentikan air yg mengalir. Lantas apa yg harus di banggakan dari sebuah foto selfi di puncak gunung tetapi meninggalkan teman diantara hidup dan mati nya sendiri di jalur pendakian.

Setelah berusaha nyaman dengan jaket dan kantong tidur, kami berlima mencoba memejakan mata. Tapi kok ada bau-bau yg tidak sedap yaa?? ah, rupanyaa oleh-oleh dari Ira yg terkena ranjau darat dari hewan liar. hiii…. Setelah membersihkan diri dengan tisu basah, lantas kami mengistirahatkan lelah yg menjajah ujung rambut sampai ujung kaki. Dalam dekapan dingin malam, kami mengangkasa ke alam bawah sadar, mengimajinasikan kehangatan di malam yg dingin. Merindukan mentari yg kami yakin never come to late esok pagi. Semoga semesta bekerja sama.

 

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

One thought on “Air”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *