Air Terjun Jumog bersumber dari mata air yg berada di kaki gunung lawu.

Menurut ku hanya ada dua suara yg tak pernah bohong, yaitu suara hati dan suara alam. Suara hati adalah intiusi manusia untuk selalu berpikir menggunakan akal dan logika serta perasaan nya. Makanya ketika seseorang sudah bertindak di luar akalnya, sering di bilang gak punya hati.. hahaha. Nah kalau suara alam adalah suara yg di timbulkan dari sesuatu yg ada di dalam, bisa jadi itu suara angin, suara dedaunan yg bergesekan karena di goyang oleh angin, suara gelombang yg menghempas karang, ataupun suara gemercik air terjun atau air hujan.

Air yg jatuh dari tebing tinggi tak hanya terlihat indah namun juga terdengar merdu. Bukan karena nyanyianya tapi karena gemercik ke syahduanya, sering kali air yg terjun itu berada di dalam hutan belantara, atau di lembah antara dua bukit. Namun tetap saja suara gemerciknya mendakan ada kehidupan di hulunya dan ia akan terus mengaliri harapan hidup bagi mahkluk di hilirnya.

Orang-orang menyebutnya dengan air terjun Jumog, atau gerojogan jumog. Grojogan adalah Bahasa jawa yg berarti air yg jatuh dari bawah. Jika di telaah ke dalam Bahasa Indonesia dapat di artikan sebagai air terjun. Β Air terjun Jumog berada di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Timur, sekitar 40 Km ke timur dari kota solo kea rah tawangmangu.

Air yg bersumber dari gunung lawu ini mengalir dengan sangat deras dan jatuh dari ketinggian 30an meter. Air jatuh bebas menghempas bebatuan gunung di bawah yg lambat laun menjadi cekungan dan berbentuk kolam, lalu mengalir melalui celah celah batu besar hingga membentuk aliran sungai kecil yg indah. Letak nya yg berada di lembah kaki Gunung Lawu membuat perjalanan ke air terjun jumog cukup mengasikan, teduh dengan pemandangan perbukitan kebun teh yg hijau.

Akses transportasi ke ke Air Terjun Jumog cukup mudah, melewati jalan aspal yg berliku hingga mendekati perkampungan penduduk. Ada dua area parkir yg di sediakan, pengunjung yg parkir di parkiran atas harus melalui 116 anak tangga sebelum tiba di area wisata air terjun. Sementara untuk pengunjung yg parkir di area bawah bisa langsung berjalan menuju area air terjun.

Akses Jalan menuju air terjun dengan melewati 116 anak tangga.

Air yg jernih mengalir pelan di antara bebatuan gunung yg besar, dua buah jembatan melintang di atasnya. Bebarapa keluarga tengah asik menikmati bekal makanan yg sepertinya mereka bawa dari rumah, duduk di atas tikar besar bersama keluarga. Pengunjung lain tampak pula tengah duduk di tepian aliran sungai dengan beralas tikar dengan meja kotak kecil di tengahnya, Beberapa pegadang kuliner sibuk hilir mudik mengantar pesanan dan menaruhnya di atas meja kotak. Aku berjalan menaiki anak tangga, melintas di depan warung kuliner yg menyediakan aneka rupa makanan.

Sate Kelinci, itu lah menu yg paling familiar ditemui ketika berkunjung ke Karanganyar, Tawangmangu. Daging kelinci sendiri dikenal memiliki banyak khasiat, terutama baik dikonsumsi oleh pengidap penyakit asma. Selain itu juga dapat meningkatkan vitalitas pria. Satu porsi sate kelinci di sekitaran tawangmangu dihargai sekitar 12 – 20 ribu rupiah. Jadi tak ada salah nya mencoba menikmati wisata alam sambil menikmati kulineran enak. Hahaha

Piknik di air terjun jumog adalah salah satu cara menghabiskan akhir pekan bersama keluarga.

Aku terus berjalan mendekat ke arah air terjun, menyebarangi jembatan dan sesekali mengabadikan aktifitas pengunjung yg tengah menikmati pemandangan sambil berfoto cantik. Pepohonan yg tinggi disekitar air terjun membuat sinar mentari tak begitu menyengat menyentuh kulit. Lumut tumbuh di tanah yg lembab dan basah terkena cipratan air terjun yg di bawa tiupan angin. Gemercik air melalui celah celah batu dan terjun ke tempat yg lebih rendah, menciptakan air terjun kecil dengan riak yg tak kalah meriah.

Jembatan yg dulunya hanya terbuat dari pohon bambu kini telah dibuat permanen. Semakin siang semakin ramai pengunjung yg datang, silih berganti mengabadikan diri di berbagai sudut lokasi wisata air terjun. Sesekali pula hembusan angin meniup bulir bulir air yg terjun terpisah dari gerombolanya, menciptakan hujan gerimis yg lembut tapi membahasi.

Baca juga : River Tubing Kali Pring Kuning, Karanganyar.

Aku termenung memandangi cahaya mentari yg menembus celah celah pepohonan hijau. Sementara pengunjung lain becengkrama mesra di bawahnya, di samping air yg mengalir ke hilir. Mungkinkah mereka sedang menikmati secuil surga di garis katulistiwa, yg di kenal dengan nama Indonesia? Atau ini hanya fatamorgana seperti oase di tengah gurun sahara? Lantas bergumam hati yg luluh ini. β€œNikmat mana lagi yg kau dustakan.”

Wisatawan sedang menikmati air terjun jumog.

Air terjun ini tak akan mengalir jika di hulu sana pohon pohon tak lagi tumbuh subur atau di matikan oleh tangan tangan serakah untuk kepentingan sesaat. Hutan lah yg menyimpan cadangan air melimpah, menghidupi dan menghidupkan suasana, sementara angkuh pabrik dan kepulan asap produksinya lah yg mematikan dan merusak kehidupan. Hutan kini tinggal menunggu waktu untuk menghilang, jika lebih banyak tangan yg dengan ringanya memetik, menebang, membakar, dari pada tangan yg dengan tulus menanam, merawat dan menjaga kelestarian hutan.

 

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *