Kami harus melewati jalan tanah berbatu yg di bangun oleh perusahaan explorasi migas sejauh 7 km dari ruas jalan nasional Jambi – Kuala Tungkal untuk sampai ke lokasi tujuan atau sekitar 20 menit perjalanan. Untung lah cuaca hari itu cerah, hingga jalan yg kami lalui tidak becek, namun sebagai gantinya kami di sambut oleh debu-debu yang berterbangan,  seolah sedang memacu kendaraan di trek off road.

Jalan tanah berbatu ini tak hanya menjadi akses ke daerah operasi perusahaan tapi juga menjadi akses ke banyak desa, bahkan menjadi akses penghubung ke beberapa kecamatan lain di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Jadi tak perlu heran jika di sisi jalan terdapat pipa pipa besar, daerah pengeboran minyak, serta truk truk ukuran gaban yg hilir mudik berkecepatan tinggi membuat debu debu di tanah kering berterbangan.

Plang Desa Pematang Buluh.

Tujuan kami sore itu adalah Desa Pematang Buluh, yang terletak di Kec. Betara, Kab, Tanjung Jabung Barat. Prov. Jambi, atau tepatnya sekitar 48 km dari kota Kuala Tungkal atau 85 km dari Jambi. Desa ini menjadi salah satu desa yang dapat di akses melaui jalan tanah berbatu tersebut. Jalan yg di bangun oleh perusahaan migas sebut saja Pertocina, Mandala Energy, Mitra Lestari ini tak hanya menjadi akses keluar masuk kendaraan masyarakat desa tapi juga menjadi akses kendaraan operasional perusahaan ke jalan nasional. Jadi ya wajar saja jika banyak jalan yang berlobang seukuran anak gajah atau jalan yang bergelombang seperti gelombang di lautan. Karena kekuatan jalan tidak sebanding dengan muatan yang diangkut  truk segede gaban. Tapi apa boleh buat, dengan jalan seperti itu dan bisa dilalui  sepeda motor aja sudah cukup dari pada harus berjalan kaki. Ya begitulah setidaknya gambaran Tanjung Jabung Barat yg kaya raya.

Ada banyak hal menarik di Desa Pematang Buluh yg berhasil membuat ribuan orang berbondong-bondong mengunjungi desa yg tersembunyi di dalam hutan perkebunan sawit dan di balik debu jalanan tanah berbatu ini. Beberapa tahun lalu desa ini menjadi heboh karena munculnya air panas dari lobang pengeboran sumur pompa, air panas alami ini lah yg perlahan mengangkat popularitas desa pematang buluh.

Berbeda dengan pemandian air panas lainnya, seperti pemandian air panas Baturaden yg airnya langsung bersumber dari gunung slamet, pemandian air panas Guci di Tegal yg juga bersumber dari Gunung Slamet, Maribaya di Bandung, pemandian air panas Gedong Songo di  Semarang, atau pemandian air panas Gunung Pancar di Bogor yg semua nya berada di kawasan pegunungan. Topografi desa Pematang Buluh tidak berada di kawasan pegunungan, bahkan Gunung Kerinci yg terkenal di Jambi saja jaraknya ratusan km. Maka tak heran jika kemunculan sumber air panas di desa ini menjadi buah bibir masyarat.

Pengukuran Suhu Air Panas Desa Pematang Buluh.

Kemunculan sumber air panas di Desa Pematang Buluh  berawal dari aktifitas pengeboran sumur pompa di sekitar perkarangan Mesjid Baiturrahman pada akhir akhir tahun 2012. Air panas yg muncul dari pengeboran ini sontak membuat ramai warga sekitar hingga sampailah ke telinga saya yg saat itu sedang tinggal di Jogja. Konon katanya, air bersuhu sekitar 42-45° celcius ini mampu mengobati beberapa penyakit, kalau kata masyarakat sekitar, air panas ini bertuah.

Pemandian air panas desa pematang buluh.

Namun sayang, selama 6 tahun mengalir dan di harapkan menjadi salah satu pelepas dahaga wisata masyarakat Tanjab Barat, pemandian air panas ini terkesan tidak serius di kelola. Berbeda dengan beberapa pemandian air panas di daerah lain yg bersolek memanjakan pengunjung dengan kolam kolam besar yg di tata rapi dengan ornamen alami serta privasi room yg membuat pengunjung serasa berada di bathup kamar mandi pribadinya. Pemandian air panas Desa Pematang Buluh ini hanya terdapat satu ruangan menyerupai tempat wudhu mesjid yg di sekat tengah untuk memisahkan ruangan wanita dan pria, berkapasitas kurang lebih 15 orang itupun hanya untuk sekedar merendam kaki, jika kosong baru lah bisa berenang di bak penampung, tidak ada pintu penutup ataupun petugas penjaga hinga sangat di sayangkan masih ada pengunjung yg nyelonong memakai sendal sewaktu masuk ke pemandian. Ada pula pengunjung yg membawa sabun mandi dan pasta gigi ke dalam kolam, tentu hal ini mengurangi kenyamanan pengunjung terutama pengunjung wanita yg terkenal labih kritis dan menjaga privasinya.

Anak-anak sedang bermain di pemandian air panas desa pematang buluh.

Seolah tak ingin kehilangan pesona, Desa Pematang Buluh pun kembali bersolek mempercantik diri dengan menawarkan objek wisata baru berupa Jembatan Rawa Karindangan.

Jembatan Rawa Karindangan Desa Pematang Buluh.

Kata “Karindangan” menurut kamus bahasa Banjar memiliki arti “teringat ingat” atau “kerinduan”. Jadi jika di terjemahkan menurut versi milenial, Jembatan Rawa Karindangan adalah jembatan yg di bangun di atas rawa kerinduan.

Rawa Karindangan yg berarti rawa kerinduan;

Yap, jembatan ini di bangun di atas Rawa Desa Pematang Buluh. Rawa yg sebelum ngehits hanya menjadi tempat ikan snakehead seperti gabus dan toman berkembang biak serta rumput-rumput rawa tak terawat. Kini rawa desa itu di sulap agar tak lagi teronggok kosong atau hanya menjadi lokasi pelepas rindu antara ikan dan kail. Rawa itu kini berdenyut lebih kencang sebagai magnet baru pariwisata Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Jembatan rawa karindangan di bangun di atas rawa yg berada di belakang perumahan warga desa pematang buluh.

Ratusan pengunjung datang silih berganti setiap harinya untuk menikmati eksotisme rawa dari atas jembatan yg di cat warna warni. Di beberapa sisi jembatan turut pula di bangun saung sebagai tempat berteduh atau sekedar tempat santai melepas lelah sambil melihat aktifitas warga sekitar.

Jembatan Rawa Karindangan di bangun di atas rawa yg sebelumnya di dominasi oleh rumput rawa.

Jika ingin merasakan sensasi berpetualang di rawa pengunjung bisa menyewa perahu ataupun kapal klotok milik warga seharga Rp. 5000/ orang, nantinya pengunjung akan di bawa mengelingi rawa yg masih di dominasi oleh semak semak. Objek wisata Jembatan Rawa Karindangan akan terus bersolek memanjakan pengunjung, dalam waktu dekat kabar nya akan ada wisata bebek air berkat bantuan dari perusahaan swasta yg beroperasi di sekitar desa.

Sunset di Jembatan Rawa Karindangan

Siang menjelang sore merupakan waktu yg tepat untuk mengunjungi Jembatan Rawa Karindangan, sebab cuaca akan lebih teduh serta pengunjung dapat menikmati nuansa sunset jingga dari atas rawa. Namun perlu dipertimbangkan lagi jika hendak pulang malam dari lokasi ini. Tidak ada nya lampu penerangan dan petunju jalan yg jelas, bisa menjadi penghambat perjalanan malam.

Pengunjung dapat mengilingi rawa karindangan dengan menggunakan perahu.

Jika terus bersolek bukan tidak mungkin Jembatan Rawa Karindangan akan bersanding dengan objek wisata Kampung Rawa , Rawa Pening di Ambarawa. Tentu banyak yg hal yg perlu di benahi, tak hanya inisiatif warga desa untuk mempercantik kawasan, tapi juga perlu adanya suport dari pemerintah membuat akses transportasi dan akomodasi yg baik, mengedukasi warga sekitar tentang pentingnya membuka diri terhadap industri pariwisata, menjaga ke arifan lokal sebagai indentitas dan ke khassan desa, membuat fasiltas pendukung pariwisata serta yang paling penting adalah tetap menjaga kelestarian alam.

Aktifitas anak-anak Desa Pematang Buluh yg terbiasa dengan perahu dan rawa karindangan.

Akan ada masanya manusia itu rindu akan gemercik air mengalir, hembusan angin segar yg menggoyangkan ilalang, sekedar duduk menatap langit biru tanpa kepulan asap. Suatu saat manusia akan kembali sadar bahwa Alam memberi banyak manfaat bagi manusia tapi sedikit sekali manusia yg peduli terhadap kelestarian alam.

Jadilah wisatawan bijak dengan tidak membuang sampah sembarangan.

 

Kuala Tungkal,

Tirta Hardi Pranata

 

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *