Cerita Pendakian Gunung Arjuno, Part VIII

3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

 

Rimbun pepohonan mengiringi perjalanan kami sore itu, udara dingin menambah kesan asri dan ketenangan yg tak kami dapatkan di kota. Jalan menuju pos 1 sepertinya sengaja di tata dengan bebatuan untuk memudahkan perjalanan, tapi sayang  aku kurang suka dengan trek berbatu seperti ini. Kerasnya batu terasa menghujam hingga ke dalam sepatu, trek seperti ini akan membuat pijakan terasa lebih keras tapi justru lebih baik ketimbang trek tanah yg licin. Aku berjalan di barisan belakang, beriringan dengan Eddy yg masih mencoba mengatur ritme pernafasan dan pijakan.

Aku selalu suka berada di barisan belakang, bukan karena aku tak mampu berjalan lebih cepat, tapi lebih karena aku tak ingin cepat-cepat meninggalkan keindahan. Dari belakang, aku bisa  memperhatikan rekan-rekan yang berada di depan, serta menjadi batas akhir agar tak ada yg ketingalan. Mendampingi yg lemah, menjadi bagian paling menarik, sebab tak harus bekerja keras melangkah kan kaki, justru aku bisa lebih sering menikmati saat- saat berhenti. Menikmati daun-daun yg berbisik, ranting yg berdetak dan angin yg berdesir, sembari menanti mereka mengumpulkan tenaga dan kembali melangkahkan kaki.

Perjalanan 500 meter dari basecamp. Foto : Nanda
Perjalanan 500 meter dari basecamp. Foto : Nanda

Naik gunung bukan perlombaan siapa cepat sampai puncak ia yg menang, naik gunung itu adalah proses. Dimana setiap langkah adalah pelajaran untuk percaya pada yg akan di tumpu, setiap peganggan adalah keyakinan memilih dahan yg kuat untuk menjadi pegangan. Setiap helaian nafas adalah pelajaran management, agar jumlah oksigen yg di hirup cukup untuk sistem peredaran darah agar tidak kesulitan bernafas. Semesta selalu punya cara untuk kita belajar, bahkan dari daun yg jatuh sekalipun.

Aku terus melangkahkan kaki mengikuti jalur bebatuan yg tersusun rapi, terus menanjak, semakin tinggi dan semakin menjauh dari basecamp. Beberapa teman yg tadi lebih dulu melangkah mulai ku dekati, namun sepertinya mereka yg menurunkan tempo nya. Ira dan Sofi semakin melangkah pelan, sebelum akhirnya Ira menyerah kelelahan, baru juga berjalan 500 meter dari basecamp pendakian. Anggota paling muda di pendakian ini mengeluh tidak kuat membawa keril, aku mengingat ingat apa saja yg ada di dalam kerilnya itu. Hanya satu buah matras, 1,5 L air mineral, makanan ringan, 2 tabung gas kecil, sleeping bag, peralatan makan, hanya itu dan tidak ada yg berat.

Sofi dan aku mencoba menenangkan Ira yg memang belum punya banyak pengalaman mendaki. Tapi setidaknya dia sudah pernah ke Lawu bareng aku dan Eddy, yaa meskipun saat itu dia hanya mengenakan Daypack. Tapi toh karilnya kali ini tak lebih dari 10kg beratnya, kurang dari 1/3 berat tubuhnya, dan masih dalam berat yg aman. Tapi sekali lagi, pengalaman akan berbicara banyak, di medan seperti ini, dan naik gunung bukan tentang hanya “ingin” tapi juga harus siap.

Apa boleh buat, terpaksa aku harus memindahkan air yg Ira bawa ke keril ku dan matrasnya ke keril sofi. Sebenarnya ini bukan pilihan bijak tapi ini pilihan yg lebih baik. Sejatinya isi dalam keril pendaki adalah bermacam peralatan dan logistik penunjang kehidupan mereka selama melakukan pendakian. Sangat besar resikonya tidak ada air dalam keril seorang pendaki, untuk makan mungkin bisa sesekali ngemil rumput liar buat ganjal perut, tapi tidak ada yg bisa menggantikan air sebagai unsur utama kehidupan. Miliyaran dolar dihabisakan hanya untuk melakukan penelitian di mars mencari bekas-bekas air. Bayangkan betapa berharganya air untuk kehidupan.

Ketika air dan matras sudah di pindahkan, baru lah ira merasa lebih baik meskipun masih mengeluh bahunya gak kuat mengangkat keril yg mungkin setara dengan daypack kerja ku yg berisi laptop, perangkat jaringan serta kabel2 dll.

Aku mencoba bernegosiasi pada ira, ku katakan apa yg sebenarnya sudah sering aku peringatkan. Naik gunung itu akan terasa capek di 3 jam pertama, itu lah waktu paling menentukan dari sebuah pendakian. 3 Jam pertama adalah waktu bagi tubuh untuk beradaptasi. Seperti, membuat nyaman bahu dengan ransel yg berat, menyamankan sepatu dengan kaki, mengatur hirupan oksigen dengan paru-paru, semuanya butuh penyesuaian. Makanya lebih baik santai-santai dahulu, beberapa langkah berhenti. Buat pemula sangat tidak disarankan tergesa-gesar karena otot-otot kaki yg tak terbiasa bekerja lebih keras akan sangat mungkin terjadi kram jika langsung dipaksa kerja keras.

Aku sedikit khawatir sama keadaan ira yg tanpa air, dan aku pun sedikit tak enak kepada Sofi yg terpaksa di repotkan. Aku tau Sofi tangguh, tapi jika aku bisa, akan ku bawa sendiri beban keril ira. Keril ku sendiri sudah tak ada tempat sisa, bagian luar keril ku  sudah berisi tripod, dan di sebelah lagi ada air mineral 1,5 liter, total aku membawa 6 Liter air dalam keril ku, di tambah 0,6 Liter air di tumbler yg ku gantung di depan. Untunglah teman-teman pengertian, bergantian mereka membackup Ira, menjaga nya selayaknya adik mereka sendiri atau karena mereka segan sama aku.. hahaha entahlah.

Perjalanan dilanjutkan dengan trek berbatu dan terus menanjak tanpa henti. Rimbun pepohonan masih menjadi teman seperjalanan yg senantiasa menemani. Aku masih di barisan paling belakang, Ira dan Sofi melangkahkan kaki mereka lebih cepat, mungkin sudah menemukan ritme nya. Ku biarkan saja mereka, selama masih dalam tahap aman dan dalam pengawasan. Sesekali awan kelabu menyingkirkan diri membuka tabir jendela, memperlihatkan Tretes dari ketinggian. Aku pun sesekali menikmati jeda perjalanan, sekedar mengambil nafas panjang, berbalik badan melihat kebelakang apa yg di suguhkan semesta.

1,5 jam perjalanan, Ku lihat teman-teman sudah pada leyeh-leyeh di tempat lapang, beberapa dari mereka duduk di kursi pajang yg disediakan siempunya warung untuk sekedar beristirahat. Tadinya ku pikir itu pos 1, ternyata itu warung milik penduduk sekitar. Warung sederhana beratapkan rumbia itu berdiri di kanan jalan, menyajikan cemilan, makanan ringan serta minuman untuk pera pendaki lapar seperti teman-teman ku. Aku yg datang paling akhir tersenyum melihat mereka yg menutupi lelah dengan becanda. Aku memilih duduk di tanah lapang, melepas keril dan memperhatikan satu persatu kondisi anggota tim, dengan raut muka yg tampak bahagia ku anggap mereka masih bisa melajutkan perjalanan, begitupun Ira.

Warung Penduduk yg berjarak 1,5 jam perjalanan dari basecamp Tretes Gunung Arjuno. Foto : Nanda
Warung Penduduk yg berjarak 1,5 jam perjalanan dari basecamp Tretes Gunung Arjuno. Foto : Nanda

 

Ehh ternyata ada yg diam diam merasa kram, ini adalah korban kedua sebelum sampai di pos 1. Ojhi menjadi korban dari trek berbatu dan menanjak Gunung Arjuno. Ku berikan ia counterpaint untuk meredakan kaki nya yg kram, Dhika dengan sigap menekuk telapak kaki Oji sebagai pertolongan pertama untuk meredakan kram. Oji pun berkali kali minta maaf karena kejadian itu, ia merasa bersalah karena sudah merepotkan.. Halaaah.. Aku hanya tersenyum dan tertawa, “gpp kok santai ajaaa” jawab ku.

Dalam situasi seperti ini tak ada yang namanya direpotkan ataupun merepotkan. Sudah menjadi kewajiban untuk saling membahu, membantu, menolong, dan untuk saling bekerja sama dalam keadaan apapun. Situasi seperti ini lah kita harus menjadi selayaknya manusia, yg tidak bisa lepas dari status sosialnya. Melupakan ego dan ambisi pribadi, sebab tak ada orang lain yg lebih dekat yg dapat membantu selain rekan kita sendiri, begitupun sebaliknya.

Sementara di tempat yg sama, anak-anak manusia yg lain tampak semringah bercanda, saling meledek, bercanda melepas lelah bersama dengan tawa. Beberapa kali sempat ku abadikan mereka melalui kamera , I always miss this moment, dimana semua bisa bicara sambil bertatap, bisa saling memukul dan meninggalkan rasa sakit. Tanpa dendam, tanpa amarah, tak ada lagi sekat yg membatasi, tak ada lagi quota yg membayangi.

Tak ingin berlama-lama baper dalam keadaan yg nyaman seperti ini, aku minta mereka bergegas menyiapkan diri dan beranjak. Satu persatu dari mereka berdiri memperiapkan keril, bersama itu pula awan bersiap menurunkan air. Kami berteduh di warung yg kecil, menyiapkan diri dari serangan dadakan sang hujan. Satu persatu dari kami mengenakan jubah pelindung dan berubah menjadi batman ataupun power ranger dalam balutan pakaian hujan warna warni, merah, kuning, biru, hijau dan hitam. Kami bersiap menghadapi hujan yg semakin merajalela menerjang nerjang.

HUjan

Trek pendakian berubah menjadi jalur air, paduan tanjakan dan susunan batu yg tak rata membuat air meluncur seperti undakan-undakan air terjun mini. Dan sialnya adalah, kami harus melewati jalur tersebut. Entah kenapa aku bukan sedih, malah pengen tertawa. Mereka kira aku gila, bodoh dan aneh, tapi bodo amat. Aku menikmati itu semua, bagi ku suatu keseruan yg tak pernah ku dapati di kota. Nikmati kekonyolan itu menyenangkan kawan, setidaknya, sesaat kamu akan lupa bahwa hidup itu tak harus nyaman dan berjalan tanpa rintangan. Bukankah kehidupan yang sempurna itu kadang membosankan.?

Kaki yg sudah berteman dengan sepatu basah harus terus melangkah. Beberapa teman merasa sepatunya sudah seperti kolam, penampungan air. Aku pun merasa demikian, bisa kali kalau sambil ternak lele di dalam sepatu. Hahahah. Sebenarnya ada keuntungan ketika pendakian hujan seperti ini, kita tak terlalu banyak menguras persediaan air, jika haus tinggal mangap aja ke langit. Hihih. Tapi percuma, hanya bikin pegel leher gaess.. mending ikutin cara saya, ambil platik bersih lalu buka lah plastik tersebut untuk menadah air hujan selama perjalanan. Hasilnya lumayan untuk pelepas dahaga. 😀 #saya sudah cobaa

Untunglah jalur pendakian Arjuno Via Tretes ditata dengan batu-batu, jadi ketika hujan turun dengan sangat deras pun tidak terlalu sulit untuk di daki. Beda halnya dengan trek tanah, jika hujan sangat deras, akan sangat menyulitkan, jalur akan menjadi berlumpur dan licin. Bisa main prosotan, sambil nyanyi lagu “jatuh bangun aku jatuhh lagiiii”

Menjelang petang hujan berhenti datang, perginya meninggalkan kenangan sepatu basah dan pakaian dingin. Perjalanan malam di lanjutkan karena memang belum sampai ke tujuan. Kali ini kami harus bergelut dengan gelap, bersenjata lampu senter. Menerobos gelap belantara, mencoba bersahabat dengan dingin dan angin. Melangkahkan kaki mendaki ke pos dua yg sedari tadi di pertanyakan kehadiranya.

Oji kembali harus terduduk tak berdaya, kram kakinya kembali kumat. Dhika, Cahyo, Aku dan Faiz, yg membackup tim belakang menemani Oji menikmati cidera, sementara yg lain sudah lebih dahulu berjalan di depan. Tak lama cahyo menyusul mereka, tinggalah kami bertiga, menuntun Oji mengatur kaki nya yg kurang bersahabat. Ini pendakian pertama Ojhi, jadi maklum saja jika ia belum bisa mengatasi keadaan seperti ini.

Oji berjalan tertatih, aku dan Dhika mengawasi nya dari belakang. Menyarankan agar tidak menggunakan langkah yg panjang, karena akan menambah beban otot yg kram tadi. Jika merasa kram berhentilah tidak memaksakan untuk melangkah. Jika sudah mendingingan, melangkahlah dengan langkah kecil, jika trek yg akan di lalui berupa tanjakan, aku biasanya menggunakan teknik ujung sepatu. Dimana langkah ku tak lebih dari ujung sepatu ku satunya. Selama ini berhasil untuk mengantisipasi kram, makanyaa aku selalu ketinggalan di belakang, karena langkah ku kecil-kecil. 😀 Faiz berinisiatif membawa keril Oji, biar beban Oji lebih ringan dan bisa berjalan lebih cepat. Faiz berpamitan untuk berjalan lebih dahulu, meninggalakan aku, dhika dan Oji, mengejar mereka yg di depan.

Ira yg diawal juga mengalami hal yang sama, lebih bisa beradaptasi dan berjalan lebih dahulu bersama rombongan di depan. Aku dapat menyusul mereka setelah Oji bisa beradaptasi dengan kakinya. Aku berjalan berdampingan dengan Ira, dan menanyakan kondisinya. Rupanya ia masih merasakan kurang nyaman dan sakit di bagian bahu, mungkin karena kerilnya yg kegedean. Ku semangati Ira agar tak banyak mengeluh, percuma mengeluh toh hanya menambah beban pikiran, dan tak meringankan beban keril.

Sayup sayup ku dengar keramaian dari atas, Eddy, Nanda dan yg lain sudah sampai ke pos dua terlebih dahulu. Beberapa tengah mendirikan tenda. Ketika aku datang sudah ada beberapa tim lain yg juga bermalam di kop-kopan. Kop-kopan sendiri merupakan area terbuka yg lumayan luas, ada bangunan shelter atau semacam warung di sisi sebelah kanan dekat pohon besar. Sementara di sisi lain ada sumber air yg mengalir dari pancuran pipa seadanya.

Kami bergegas mendirikan tenda, agar segera bisa di tempati. Sebab malam sudah semakin dingin, dan tubuh sudah tidak lagi berdaya melawanya. Sembari menanti kaum adam mendirikan tenda, kaum hawa menanak nasi, memanaskan air untuk sekedar bikin minuman hangat. Kesemrawutan pun  dimulai, aku risih jika banyak barang-barang yg berserakan di sekitar ku.  Entah apapun itu bentuknya, dan milik siapa.

Ira yg sudah tidak tahan bertarung dengan dingin segera masuk kedalam tenda dan berbuntel sleeping bag. Sementara Nanda dengan santai melepas pakaianya yg basah, menantang angin yang dingin. Ketika tenda sudah berdiri sempurna, kami merapikan semua perkakas yg berserakan di luar, kompor dan perkakas masak ku pindahkan ke hadapan tenda, agar sofi bisa menggoreng ayam dari teras tenda.

Selamat Makan

Malam semakin larut, bintang sesekali bermunculan, kelap kelip lampu kota terlihat terang di bawah sana. Malam itu kami menikmati makan bersama di bawah langit gelap. Sementara di dalam termos sudah terisi wedang uwuh, teh dan susu sebagai minuman penghangat. Beriring dengan habisnya makan malam tersebut, tuntas pula tugas kami hari ini. Waktunya mengistirahatkan kaki dan tubuh yg letih, karena perjalanan masih panjang untuk di lalui.

Ku tutup malam di hadapan Pecipta, mengucap syukur atas segala kesempatan dan pengalaman hari ini. Serta memohon dengan permintaan yg tidak muluk-muluk untuk esok hari, agar esok lebih baik dari hari ini.  Selamat menempuh hidup baru buat kamu yg bertambah usia hari itu, dari ku yang tak sempat mengucapkanya.

Perlahan sangat pelan hingga terang kan menjelang,

Cahaya kota kelam mesra menyambut sang petang,

Disini ku berdiskusi dengan alam yg lirih,

Kenapa matahari terbit menghangatkan bumi.

Aku orang malam yg membicarakan terang

Aku orang tenang yg menentang kemenangan oleh pedang.

 

Lirik lagi Cahaya Bulan berkumandang lirih mengajak ku berdiskusi tentang arti malam. Kemanakah langkah ini akan ku tujukan, pada puncak yg tinggi atau pada basecamp tempat ku kembali.?

 

 

Baca Kelanjutanya di sini yaahhh :

Part 1.   Drarf must Be Print and We have to go

Part 2.  Manusia hanya bisa berencana, pada Akhirnya Tuhan yang menentukan

Part 3.  Do or Do Not, there is no try – Yoda-

Part 4.  A man’s gotta do what a man’s gotta do

Part 5.  Sebab teman tak pernah membedakan bentuk, rupa, dan agama

Part 6. Teman itu bukan tentang sama bendera, tapi sama rasa

Part 7. Sejauh apapun tujuan kita tak pernah mendekat jika enggan melangkah.

Part 8. 3 Jam pertama mendaki adalah tahap adaptasi, bertahanlah.

Part 9. Rintangan itu dibuat agar kita menjadi tangguh, bukan untuk menjadi rapuh.

Part 10. Tak perlu bicara, biar semesta yg mengartikan rindu yg sebenarnya.

Part 11. Kematian itu adalah peringatan untuk yg hidup.

Part 12. Puncak itu bonus, selamat sampai rumah itu harus

Part 13. Ketika kenangan memaksa untuk di ingat kembali

Part 14. Seberapa sering kamu terjatuh,  bangkit lah hingga kamu tau caranya untuk tidak terjatuh.

Part 15. Jadilah seperti air, jika kamu baik maka lingkungan mu pun akan baik. _ Habibi Ainun

Part 16. Turun itu sepaket dengan naik, jadi nikmati lah.

Part 17.  Awal dari segala kerinduan dari sebuah perjalanan adalah ketika kita memutuskan untuk pulang

-Selesai –

Share This:

One thought on “6 Jam Pertama”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *